RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 67


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


.


****


Selepas dari pemakaman, Rama langsung pergi kerumah sakit untuk menemani Aletha. Saat ini, Rama duduk di kursi di samping ranjang tempat Aletha berbaring.


Rama menatap sendu, wanita yang telah melahirkannya. Rama masih sangat berduka, akan kehilangannya sosok Ayah yang selalu menjadi pedoman hidupnya.


Diraihnya tangan Bundanya, Rama mengecup punggung tangan Aletha. “Cepat bangun, Bunda. Jangan buat Rama semakin kesepian!” Rama bergumam dengan air mata mengenang.


“Kalau, Bunda udah sadar. Rama harap, Bunda ikhlas dan tabah atas kepergian Ayah. Rama akan menjadi pengganti, Ayah. Rama akan melindungi, Bunda.”


Tak sadar air mata Rama luruh begitu saja. Air mata kesedihan dan penuh duka.


tok... tok... tok


Pintu ICU tiba-tiba di ketuk, Rama menoleh ke arah pintu.


Ceklek


Pintu ICU dibuka, menampakan seorang perawat yang dulunya bekerja di barak.


“Pak Rama, diluar ada Tuan Adnan mencari anda,” ucapnya sopan.


“Baik, Terimakasih. Tolong jaga, Bunda saya!”


“Baik, Pak Rama.”


Rama pun segera menemui, Adnan. Adnan saat ini sedang duduk dengan Putrinya di ruang tunggu.


“Paman...?”


Adnan dan Michel menoleh ke arah Rama. “Bagaimana keadaan, Aletha?” tanya Adnan dengan khawatir.


Rama menghela napas sebelum menjawab. “Keadaan, Bunda masih sama. Bunda masih dimasa koma,” jawab Rama dengan lesu. “Bagaimana keadaan rumah?”


“Polisi masih menyelidiki. Oh iya, Rednan menyuruhmu pergi ke basecamp!”


“Baiklah, aku akan kesana. Rama, titip Bunda ya!” ucap Rama kepada Pamannya.


Rama pun segera pergi untuk ke base camp rahasia. Base camp tersebut milik Agent-agent berkumpul.

__ADS_1


Sesampainya disana, Rama langsung menuju keruangan bawah tanah. Dimana pada umumnya, ruang bawah tanah adalah tempat gelap untuk barang-barang tidak penting, namun berbeda di base camp tersebut. Tempat itu diisi, alat-alat canggih, dengan berbagai macam komputer.


Rama langsung berjalan mendekati Rednan dan Satria, yang sedang fokus di layar komputer.


“Gimana keadaan, Nyokap?” tanya Satria kepada Rama.


Rama menghela napas, lalu duduk di samping Satria. “Bunda masih sama,” Rama menjawab dengan pelan.


Satria mengusap punggung Rama. “Sabar ya, Bro! suatu saat lo pasti bakal tahu, siapa dalang dari semua masalah lo!” ucap Satria yang berusaha menguatkan Rama.


“Thanks ya, Sat!” Satria hanya menganggukan kepala. Rama lalu mengalihkan perhatiannya kepada Rednan. “Lo udah lacak nomer itu, Red?”


Rednan yang mendengar suara Rama, langsung menoleh ke sumber suara.


“Terkahir kali kartu itu aktif di Danau.”


Rama mengangguk-anggukan kepala mendengarnya. “Tunggu, jam berapa dan kapan?” tanya Rama dengan antusias.


“Kemarin pukul 17:35.” jawab Rednan sembari menatap layar komputer.


“Gue kemarin habis dari Danau, gue balik jam 17:40. Dan anehnya, Danau itu sepi gak ada orang selain gue,” gumam Rama sembari berpikir tentang kejanggalan tersebut.


“Ini rumit! Rumah, Rama aja di Bom perakit, yang bisa memporak poranda rumah sebesar itu. Maksud gue, apa lo gak curiga kalo ini perbuatan Cosa Nostra? Bom yang ditemukan dirumah lo aja, Ram. Itu buatan luar negeri yang benar-benar langka!” Rama dan Satria hanya diam mendengarkan penuturan Rednan. Rama pun juga berpikir, dan sempat mencurigai sekumpulan mafia tersebut.


“Hal ini sangat bersih dan seperti sudah di rencanakan. Keamanan gue aja bisa dibobol dengan mudah, bahkan CCTV dirumah gue diretas. Ini semakin rumit!” gerutu Rama yang mulai merasa pusing dengan teka-teki tersebut. Rednan yang mendengar hanya mengelus dagunya sembari berpikir.


“Yaudah lo gak usah mikirin ini dulu, Ram. Yang terpenting sekarang lo pikirin Nyokap lo aja dulu. Tenang aja, anak-anak bakal urus semuanya,” Satria yang sedari tadi diam pun akhirnya berbicara. Rama pun setuju dengan ucapan Satria.


TING


Satu pesan masuk ke handphone Rama, Rama membuka isi pesan dari Sinta.


📩 Sinta


“Izinkan aku bicara!”


****


Sinta saat ini duduk di kursi, di samping ranjang tempat Aletha berbaring. Ya, Sinta berada dirumah sakit tempat Aletha di rawat.


Sinta mengobrol-ngobrol ringan dengan Michel. Sinta pun juga menanti, Rama.


“Sin, gue pulang dulu ya! Papi gue WA nih, suruh ke parkiran katanya ada urusan dadakan,” ucap Michel sembari menunjukan isi pesan dari Adnan, yang tadinya pamit ke kamar mandi.


“Oh iya gakpapa, gue aja yang nunggu, Bunda Aletha!” Sinta pun dengan senang hati menunggu Aletha.


Setelah, Michel pergi. Sinta lalu menatap Aletha dalam, Sinta meraih tangan Aletha dan memeluknya.


“Bunda....?”


“Rama marah lagi sama, Sinta...” Tanpa sadar air mata Sinta menetes, setelah menyebut nama Rama. “Sinta bingung, Bunda... hiks hiks... Papa mau jodohin, Sinta... Sinta enggak mau, Sinta cuma mau sama Rama, tapi cara Sinta salah, Bunda....hiks hiks... Mas Rednan bilang, Sinta enggak pernah dewasa. Apa, Sinta pantas untuk Rama?”


Sinta tidak sadar jika pria yang dia cintai, saat ini berdiri di ambang pintu. Melihat dan mendengarkan seluruh ucapan Sinta.

__ADS_1


“Ekhmm!“


Mendengar suara deheman, Sinta langsung membalikan badannya. Sinta terkejut melihat Rama yang ada di pintu.


“Ra—ma?”


Rama menghela napas lalu mendekati Sinta. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Rama dengan dingin.


Sinta langsung bangkit dari duduknya, Sinta menatap Rama dalam. “Kamu masih marah sama aku? Oke, kalau kata maaf buat kamu gak puas. Aku akan lakukan apapun untuk kamu, Rama! Tapi pleasee, jangan minta aku untuk jauhin kamu,” Sinta berbicara dengan bibir bergetar, Sinta pun tak kuasa menahan air matanya.


Rama mengalihkan pandangannya, Rama pun tak tega melihat Sinta yang menangis. “Aku butuh waktu, Sinta. Dan usap air matamu” Rama pun memberikan sapu tangan kepada Sinta, tanpa menatapnya.


Sinta menggelengkan kepalanya sembari menangis. “Aku enggak butuh sapu tangan kamu, Rama! Kalau pun kamu udah enggak mau sama aku. Pleasee, maafin aku Rama!”


“Tolong, Sinta! Ngertiin aku, please!” Sinta menghela napas mendengar ucapan Rama yang seperti penekanan. Sinta pun menanggukan kepalanya.


“Baiklah, Rama. Aku akan kasih kamu waktu, kalau butuh apa-apa jangan sungkan hubungi aku. Aku pamit pulang yaa, Ram!”


Setelah mengucapkan hal tersebut, Sinta lalu pergi dari ruangan ICU. Kini, tinggalah Rama dan Bundanya yang masih tertidur.


Rama menarik kursi, dan duduk di samping ranjang Aletha. Rama meraih tangan, Bundanya. Rama menempelkan tangan Bundanya di pipinya, Rama pun memeluk tangan Bundanya.


“Bundaa... Rama butuh, Bunda!! Rama juga sayang sama Sinta. Tapi apa yang bisa Rama lakukan, Bunda?” Rama pun sama seperti Sinta, Rama mulai berbicara sendiri meski tak ada sahutan dari Bundanya.


Tak ingin larut dari kesedihan, Rama mengambil buku yasin. Rama lalu membacakan surat-surat untuk Bundanya. Rama berharap, Bundanya segera sadar dan pulih seperti semula.


Sekuat-kuatnya seorang lelaki, pasti akan menjadi seekor kucing yang manja jika bersama Bundanya. Seperti, Rama.


Rama yang biasanya selalu menjahili, Bundanya. Hari ini sangat-sangat merindukan, Bundanya. Kepergian, Yusuf pun sudah membuat dunia Rama runtuh begitu saja.


Kehilangan sosok Ayah pun membuat Rama menjadi sangat-sangat terpukul.


Namun, Tuhan itu maha adil!


Apa yang kamu rasakan sekarang, mungkin besok akan diberikan ganti yang lebih indah. Mungkin hari ini, Rama kehilangan Ayahnya, kehilangan rumah yang menjadi saksi bisu suka dan duka keluarganya, namun tak tahulah esok Tuhan memberikan apa untuk Rama.


Rama menutup buku yasinnya, setelah selesai membaca. Rama lalu mengelus kepala Bundanya dengan lembut.


“Rama sayang Bunda!” kata-kata itulah yang jarang Rama ucapkan kepada wanita yang dia panggil penyihir.


.


.


.


.


.


.


TBC😘

__ADS_1


__ADS_2