
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Pagi ini Sinta dan Rednan sudah melaju menuju Kantor TNI AD. Sepanjang perjalanan, perasaan Sinta sudah berkecamuk.
Sinta begitu cemas dengan keadaan, Rama. Nomor telpon Rama yang sangat susah di hubungi membuat Sinta benar-benar hampir gila.
Tak lama mereka pun sampai di Kantor TNI Ad. Betapa terkejutnya Rednan dan Sinta saat melihat banyaknya peti mati.
Jantung Sinta berdebar kencang, pikirannya mulai melayang. Ketakutannya berada di ubun-ubun!
“Mm...Mas Rednan ini ada apa?”
Rednan tidak menjawab, Rednan langsung berjalan menghampiri Satria yang saat itu berdiri di samping peti mati. Sinta pun juga mengikuti Rednan.
Sesampainya disana, Rednan tidak bisa menyembunyikan keterjutannya, melihat Ryan yang sudah tak bernyawa.
“Ryan...!!” Rednan langsung berjongkok menatap Ryan yang sudah ia anggap Kakak.
“Kak Satria, dimana Rama?” Sinta benar-benar takut! kecemasannya tak karuan.
Satria menghela napas sebelum menjawab. “Semalam Tim T4 banyak yang gugur. Dan saat pagi tadi kami kesana, gedung itu terbakar. Bisa di pastikan jika semua yang berada disana meninggal....”
Deg!
Sinta langsung lemas, tubuhnya merosot, kakinya seolah tak mampu menopang dirinya. Satria langsung menenangkan Sinta.
“Rama belum di temukan, Sin...”
Sinta hanya diam, pandangannya kosong. Bahkan Sinta tak mampu untuk terisak, air matanya lolos, bibirnya bergetar.
“Rama menghilang dari gedung itu...”
“Be...berarti masih ada kemungkinan Rama hidupkan?” tanya Rednan yang juga sangat takut.
“Gue juga gak tahu, Red. Gedung itu terbakar habis! Bom buatan Rama dan Timnya begitu luar biasa,” ucap Satria dengan pelan. Rednan hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
Kring... Kring... Kring...
Dering ponsel mengalihkan perhatian Rednan. Rednan pun mengambil ponselnya, di layar tertera nama Bunda Aletha
Dengan ragu-ragu Rednan mengangkat panggilan tersebut.
📞 Rednan
“Hallo. Assalamualaikum, Bunda?”
📞 Aletha
“Waalaikumsallam, Rednan. Bunda mau tanya ini perasaan, Bunda gak enak banget! Kamu tahu gak Rama itu perginya kemana? dia bilang tugasnya cuma sehari, katanya pagi pulang mau ajak Bunda ke makam Ayahnya. Ini dari semalem Bunda telponin gak aktif hpnya.”
📞 Rednan
“.....”
Semua terdiam mendapat pertanyaan dari Aletha. Sinta pun tak mampu untuk sekedar berbicara. Rednan pun begitu, Rednan begitu tak kuasa hanya untuk mengatakan sebenarnya.
📞 Aletha
“Rednan, kok kamu diem aja sih, Nak? Perasaan, Bunda gak enak banget ini!”
Sinta yang sedari tadi diam langsung merayah telpon Rednan. Sinta menarik napas sebelum berbicara.
📞 Sinta
“Ha...hallo, Bunda?”
📞 Aletha
__ADS_1
“Loh, Sinta? Kamu lagi sama Rednan?”
📞 Sinta
“Hiks hiks... hiks..” Sinta yang sedari tadi tidak mampu terisak itu, lansung terisak mendengar suara Aletha.
Sinta begitu kasihan dan sedih. Aletha sudah di tinggal Ayah dan Ibunya, dan kemarin dia baru di tinggal suaminya, dan saat ini? Putranya menghilang. Sinta benar-benar tak tega hanya mendengar pertanyaan sederhana, seorang Ibu yang menanyakan keberadaan putranya.
📞 Aletha
“L...loh, Sinta? kamu kok nangis sih, Sayang? Kamu kenapa, Sinta?”
📞 Sinta
“Bu...bunda lagi dimana?”
📞 Aletha
“Bunda lagi dirumah, nungguin Rama. Bunda sampek belain cuti kerja.”
📞 Sinta
“Sinta kesana sekarang ya, Bun. Assalamualaikum!”
Tutt... tutt.. tutt...
Saat panggilan terputus, tangisan Sinta pecah begitu saja. Rednan yang sudah menganggap Sinta sebagai adik itu memberikan ia pelukan sebagai Kakak.
“Kita kerumah, Bunda!” Rednan lalu membantu Sinta untuk bangkit. “Sat lo urus penguburan ya, gue harus kerumah Bunda.”
”Iya gakpapa lo anter Sinta kesana aja!”
Rednan dan Sinta pun langsung pergi meninggalkan Kantor TNI Ad yang sedang berduka.
Sepanjang perjalanan, Sinta terus menangis. Rednan pun mencoba untuk kuat, sebagai lelaki dia harus tegar!
Tanpa sadar mereka pun akhirnya tiba dirumah Bunda Aletha. Rednan dan Sinta langsung masuk.
Sinta yang melihat Aletha sedang duduk di sofa langsung berhambur ke pelukannya. Aletha begitu kaget karna melihat Sinta menangis.
Aletha pun hanya membelai rambut Sinta, membiarkan Sinta berada di pelukannya.
“Sayang... Kamu kenapa? cerita sama, Bunda! Apa Rama bikin kamu nangis lagi?” Dengan sabar Aletha terus membelai Sinta. Namun, tangisan Sinta malah semakin pecah.
“Rednan tolong ceritakan kepada, Bunda!”
Rednan mengangguk kaku, Rednan manarik napas dalam sebelum bercerita. Akhirnya, Rednan pun menceritakan kejadiannya.
“Ra...Rama belum ditemukan, Bun.”
Deg!
Aletha langsung ling lung tak sadarkan diri
****
Di tempat lain, di sebuah sungai yang memiliki arus deras. Terdapat dua pria yang masih tak sadarkan diri, mereka menyangkut dibatu besar.
Perlahan-lahan salah satu dari mereka membuka matanya. Sinar matahari langsung menerpa penglihatannya, pria tampan itu merasakan kepalanya begitu sakit.
Tiba-tiba sebuah ingatan berputar di kepalanya.
FLASHBACK
Dicamp militer tempat berkumpulnya para Tentara bayaran, saat itu semua terlihat biasa-biasa saja.
Semua orang mengobrol dengan santai.
Dor
Sebuah tembakan mengenai salah satu dari mereka. Seorang remaja pria berwajah tampan begitu panik, dia langsung mengambil senjata berlaras panjangnya, saat menyadari jika Camp mereka diserang.
Perang pun terjadi, terjadi baku tembak!
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
Pria remaja itu bersembunyi di balik pohon, matanya mengawasi sekitar untuk mencari sahabatnya.
“Ayah? jadi Ayah yang menyerang?” gumamnya merasa kesal.
Pria remaja itu menggelinding, melindungi dari tembakan. Pria remaja itu berusaha mencari sahabatnya.
Pandangannya terkunci kepada, sahabatnya yang saat itu sedang menggendong seorang gadis cantik.
Dan, pria remaja itu melihat Ayahnya hendak menembaknya. Pria remaja itu hendak berteriak.
Namun
Dor
Pria remaja itu melotot melihat Ayahnya, di tembak oleh Assiten Ayahnya sendiri.
Pria remaja itu langsung keluar dari persembunyiannya. Pria remaja itu menghampiri Ayahnya, dia menangis sejadi-jadinya.
“Ayah...!!”
Brak
Tiba-tiba pria remaja itu di pukul dari belakang.
FLASHBACK END
Mata Marcus langsung terbuka sempurna!
Ingatannya kembali, Marcus mengingat semuanya! Rama bukanlah yang menembak Ayahnya, melainkan yang menembak Ayahnya adalah Assitenny, Tara.
Marcus langsung menoleh kekiri, mendapati Rama yang masih tak sadarkan diri!
“Tolong...!!”
Marcus berteriak, Marcus pun bangkit. Marcus lalu memapah Rama untuk ketepian. Dengan susah payah akhirnya, Marcus berhasil membawa Rama ketepian.
Tubuh mereka penuh luka, Marcus pun merasakan sakit di kaki, punggung, dan kepalanya. Namun, yang Marcus pikirkan saat ini adalah mencari pertolongan.
Marcus menepuk-nepuk pipi, Rama. Mencoba menyadarkannya, namun Rama masih tak sadarkan diri!
“Rama...!! Please Wake up!!” Marcus mengguncang tubuh, Rama. Namun, semua itu sia-sia.
Marcus menatap sekeliling, dia baru sadar jika dia terdampar di tengah hutan!
“Kita harus keluar dari sini!” Marcus pun memapah kembali tubuh Rama. Marcus tidak memperdulikan meskipun tubuhnya pun sakit.
“Maafkan aku, Rama. Aku terlalu bodoh!” Marcus begitu menyesal dengan perbuatannya kepada sahabatnya itu.
Marcus pun berjalan dengan susah payah. Kaki dan punggungnya terasa sangat menyakitkan!
“Tolong...!! Oh my god, please Help me!!”
Marcus terus berjalan, Marcus mengikuti dimana arah matahari.
Namun, karna tubuh Marcus yang saat itu sedang lemah, membuatnya menjadi cepat lelah.
Marcus lalu berhenti di depan pohon besar. Marcus lalu mendudukan Rama di bawah pohon itu, Marcus lalu duduk di sebalah Rama, Marcus menyandarkan tubuhnya di pohon besar itu.
Napasnya tersenggal-senggal. “Arghhh, kenapa punggungku begitu sakit?”
Marcus mengerang menahan sakit di punggungnya, kakinya pun terasa nyeri sekali.
“Hhhhrrrrrgggg...”
“Suara apa itu?” Marcus yang sudah memejamkan mata, langsung membuka matanya. Marcus langsung waspada saat menyadari itu suara eraman binatang buas.
Marcus lalu kembali memapah Rama, setelah menyadari jika dia diintai.
“Haaarghhhh!!”
Dan, benar saja di hadapannya datang serigala besar yang terlihat kelaparan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC😘