RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 16


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


Beberapa mobil jeep langsung menuju ke tempat kejadian. Begitupula, Sinta yang langsung ikut andil. Jalanan terjal bahkan di terjang oleh, Rama


Beberapa saat mobil T4 sampai, beberapa rumah terbakar hebat. Seorang anak kecil mendeket ke arah Rama


"Pak, Tentara hiks hiks... Selamatkan adikku, hiks hiks dia ada di dalam!" anak kecil itu menangis sembari menunjuk rumah yang sudah terbakar


Rama, hendak masuk. Namun, tangannya di cekal oleh Rednan. "Jangan nekat, Ram. Pemadam kebakaran sudah dekat"


Rama berusaha berontak, yang dia pikirkan adalah adik kecil ini, "Lepasin gue! Di dalam ada nyawa yang harus di selamatkan!"


"Rama, jangan nekat. Kalo lo masuk lo bisa ikut terbakar" kali ini Sinta yang mengangkat suara


Rama berdecak kesal. "Oke lepasin gue!"


Rednan melepaskan cekalannya, tanpa di duga Rama berlari masuk ke rumah yang terbakar itu


"Rama!!!"


Sinta melotot, Entah apa yang dia rasakan dirinya sangat takut jika Rama terluka. Sinta, hendak menyusul. Namun, langsung di tahan Rednan


"Lo mau apa, Sinta?" suara Rednan kian meninggi


"Rama di dalam sendirian! Apa lo gila? Itu temen lo!!!"


Rednan tetap menahan, Sinta. "Lo jangan bahayain diri lo sendiri!"


"Rama juga dalam bahaya!!" balas Sinta


"Jangan masuk, Sinta. Rama orang yang kuat, saya pastikan dia akan keluar dengan selamat" pandangan Sinta beralih kepada, Satria yang tengah berbicara


"Ta--Tapi ini sangat berbahaya!!" Sinta hanya bisa menggigit bibir bawahnya


Sinta hanya bisa menatap rumah terbakar tersebut, waktu seolah sangat lama. Rama tak kunjung keluar


"Komandan, Rama tidak keluar-keluar. Cepat tolong dia!" Sinta kian panik karna Rama tak kunjung keluar


Satria hanya menggigit bibir bawahnya, dirinya pun merasa khawatir. "Tenangkan dirimu, Sinta. Rama akan keluar"


Sinta tidak memperdulikan ucapan, Satria. Dia terus berusaha berontak dari cekalan Rednan. "Lepasin gue! Rama sendirian disana, kalo dia ken---"


"Itu Rama!"


Sinta mengalihkan pandangannya, seorang pria tampan yang sedang menggendong gadis kecil.


Rama membawa gadis itu ke Tim medis. Sinta lansung berlari ke, Rama. Tanpa di duga dia malah menarik rambut, Rama


"Aduh-aduh, Sinta apaan sih?"


Sinta pun melepaskan tarikan rambutnya. "Lo bodoh banget sih? Udah tahu apinya masih besar, lo nekat masuk!! Lo tahu lo bisa terbakar!" pandangan Sinta beralih di lengan Rama yang terluka, wajah Rama pun terkena angus


Rama hanya memandang, Sinta heran. "Lo lagi khawatirin gue?"


Seketika pipi Sinta berubah merah, "Enggak siapa juga yang khawatir sama lo" Sinta langsung mengalihkan pandangan


Rama hanya terkekeh melihat tingkah, Sinta. "Kenapa buang muka? Lo malu gue ngelihat rona di pipi lo"


"Doubel shit!!!"


Rama pun membalikan badan, Sinta. Saat ini Sinta bertatapan dengan Rama, Rama menyetuh kedua bahu Sinta menatapnya dalam

__ADS_1


"Lo gak perlu khawatir, gue gak akan mati tanpa seizin Allah"


Sinta terdiam mendengar perkataan, Rama. Tatapannya tidak bisa beralih dari mata, Rama


Hal yang tak di duga selanjutnya, Rama mencubit hidung Sinta. "Awwh sakit tahu!!"


Rama hanya terkekeh melihatnya. "Dokter bar-bar, Tolong obatin luka Pak Tentara ganteng"


Sinta mendelikan matanya saat mendengar, dengan segera Sinta membantu Rama. "Tuhkan, Luka tembakannya jadi kebuka lagi"


Rama hanya diam mendengar omelan, Sinta. "Kalo gue gak masuk, mungkin anak kecil tadi akan tiada"


"Dan lo mengorbankan nyawa lo sendiri?"


"Gue ngerasa membantu orang lain itu lebih penting, dia masih kecil masadepannya masih panjang. Gue gak tega dan gue akan berusaha untuk menyelamatkannya"


Sinta hanya diam mendengar penturuan, Rama. Setelah selesai Rama menatap Sinta, membuat gadis itu gugup


"Thanks, Dokter bar-bar"


****


Puk


Puk


Puk


Tak henti-hentinya, Sinta menepuk kedua pipinya. Sinta menatap pantulan dirinya di kaca, bayang-bayang tentang Rama kini kian memutar di otaknya


"Tidak! Tidak!! Tidak!!!"


"No! Gue gak suka Rama!!!"


Setelah itu, Sinta hendak kembali ke kamar. Namun, di hentikan langkahnya saat melihat Rednan dan Rama tengah berbincang


"Enggak, gue gak boleh ketemu Rama!" Sinta pun pergi meninggalkan kedua pria yang sedang berbincang


Rama hanya diam mendengar celoteh, Rednan. "Lo lihat tadi, Ram? Bagaimana, Sinta mengkhawatirkan lo, dia panik banget bro!"


Rama hanya bisa memutar bola mata jengah. "Itu mulut gak capek bicara apa?,"


"Hehe, terus lo gimana bro? Lo juga suka kan sama Sinta?"


Rama yang mendengar langsung melebarkan matanya. "What suka? sama Sinta?!!"


Rama malah tertawa terbahak-bahak. Rednan hanya bisa menghembuskan napas kasar, "Lo ngaku aja gak usah sok gensi!"


Rama pun menghentikan tawanya, "Gue gak suka sama, Sinta!"


"Terus lo suka sama siapa?"


Rama terdiam, ketertarikannya berada pada, Nana. Namun, pikirannya di penuhi Sinta


"Gue suka sama, Nana!"


"What!!"


Rama hanya menatap jengah, Rednan. "Lo suka sama, Nana?"


Rama hanya mengangguk pelan, "Dia menarik dan gue suka"


"Oke gue akuin, Nana emang cantik. But menurut gue, Sinta lebih menarik"


"Apanya yang menarik? Suaranya itu cempreng! Gak ada lembut-lembutnya jadi cewek" sahut Rama dengan nada mengejek

__ADS_1


"Yaudah, Terserah lo. Tapi lo yakin, Nana suka sama lo?"


Rama tersenyum miring saat mendengar, "Lo gak lihat gimana dia perhatian banget sama gue?"


"Hahaha, Terus lo mau nembak dia kapan?"


Rama terdiam mendengar pertanyaan, Rednan. "Kalo bisa sih secepatnya, Bro. Bunda pasti seneng punya mantu kalem kaya, Nana"


"Kenapa gak, Sinta aja sih bro? Pak Jendral itu kan sahabatnya nyokap lo" ujar Rednan


"Kok jadi Sinta lagi sih?"


Rednan hanya menghembuskan napas kasar. "Yaudah terserah lo, gue cuma mendukung lo aja"


"Gitu dong!"


Rednan hendak pergi. Namun, tangannya di cekal oleh Rama. "Eh bro tunggu"


Rednan pun membalikan badannya, menatap Rama. "Apa?"


"Caranya nembak cewek gimana?"


Rednan yang mendengar hanya mengusap wajah. "Lo emang gak pernah pacaran?"


Dengan lugu, Rama menggeleng. Memang benar, Rama tidak pernah punya pacar. Rama sangat selektif jika memilih pacar, selektif yang di maksud adalah yang termasuk mampu membuat Rama tertarik, tipe nya dia, menerima pekerjaannya, dan sayang sama keluarganya


"Ya lo bilang aja 'Aku cinta sama kamu' gitu"


Rama mangut-mangut mendengar ucapan Rednan. "Kalo bisa lo kasih hadiah, apa aja deh!"


"Hadiah apa tapi bro?"


Rednan tampak berpikir. "Aha! Gue tahu, lo cariin bunga kek, lo beliin cokelat, dan boneka"


"Ribet banget sih mau ngomong suka aja" Rama mulai jengah mendengar jawaban Rednan


"Namanya juga cewek"


"Yaudah gue mau cari bunganya," Rama pun meninggalkan Rednan


Rama pergi ke tempat belakang barak, siapa yang tahu jika tempat itu di penuhi bunga liar yang indah. Harumnya pun alami, hanya beberapa orang yang mengetahui hal tersebut


Rama mulai memetik beberapa bunga, tanpa sadar gerak geriknya di perhatikan sepasang mata hitam legam


Rama masih tidak menyadari dan tetap fokus memetik bunga, warna yang menurutnya bagus akan dia petik. Rama pun duduk di batu, mulai merangkai bunga-bunga tersebut.


Sepasang mata hitam itu sudah bosan melihatnya, Tidak ada yang menarik. Sepasang mata itu memundurkan diri. Namun


Kresek


Sial, sepasang mata itu menginjak kaleng yang menghasilkan suara. Rama menatap sekeliling, pandangannya jatuh kepada seseorang yang berdiri tak jauh dari tempatnya


Rama mendekatinya sembari membawa bunga. "Ngapain lo disini?"


"Suka-suka gue dong!"


"Lo itu pengutit, semua tempat rahasia gue lo jadi tahu!"


"Emang ini punya kakek moyang lo!"


"Dasar, Dokter bar-bar!!"


"Apaan sih Tentara songong!!"


TBC🍻

__ADS_1


__ADS_2