RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 7


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Tekan tombol Like, Vote, dan komentar kalian sangat berharga. Ikuti terus kisah kucing-kucingan Rama & Sinta


****


"Ihh, Lepasin !"


"Diam!" Rama menutup mulut Sinta menggunakan tangannya, mereka bersembunyi di balik pohon besar, yang menutupi tubuh mereka


Sinta, mematung. Kali ini dia sangat dekat dengan Rama. Rama berada tepat di depannya, Sinta dapat merasakan hembusan nafas, Rama


Saat, Rama memastikan keadaan aman. Rama pun menjauhkan tubuhnya. "Sepertinya mereka udah gak ngejar"


Rama dan Sinta kini tampak canggung. "He, Tentara songong! Gue mau balik," rengek Sinta memecah kecanggungan


"Lo, bisa diem gak?!"


Sinta hanya bisa mendengus kesal, "Yaudah anterin gue balik ke barak sekarang!!!"


Rama, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue lupa jalanan disini"


Shit, jawaban Rama membuat, Sinta melebarkan matanya. "Seriously? Terus gue mau balik gimana? Lo kan Tentara udah biasa ke hutan, masa lupa sih"


"Gue lupa! Gue udah lama gak masuk kehutan ini,"


Sinta, hanya bisa menepuk jidatnya. "Terus gimana sama Rednan dan Meyga?"


"Mereka udah gede"


Sinta, tetap cemas dirinya bingung, Lalu dirinya teringat dengan obat. Sinta menghembuskan nafas lega, karna dia membawa tas ranselnya yang berisi seluruh stock obat yang dirinya bawa


"Kita harus segera keluar dari hutan ini, obat-obat ini harus segera di kasih warga" Rama menghembuskan napas kasar mendengar celoteh Sinta


"Lo, bisa diem gak? Gue juga lagi mikir ini"


Sinta, pun hanya bisa memanyunkan bibirnya. Rama mencoba mengingat, "Ah iya kita lewat sana tadi !"


"Yakin lo?" Rama berdecak melihat Sinta yang tampak ragu


"Terserah, kalo gue sih mau lewat sana. Gue bisa denger aliran sungai, barak kita ada di dekat sungai, kalo kita menurut dengan aliran sungai kemungkinan kita bisa sampai ke barak" Sinta mencerna penuturan Rama


Karna, Sinta tak kunjung bicara. Rama pun melangkah terlebih dahulu, Sinta yang sadar telah di tinggal Rama langsung berlari menyusul


"Eh!! Tentara songong! Tungguin" Sinta berlari kecil menyusul Rama.


Dug


Karna gelap, membuat Sinta tersandung batu. Sinta, hanya bisa meringis menahan sakit. Hanya luka kecil gakpapa, pikir Sinta

__ADS_1


Rama, tidak mengetahui jika Sinta tersandung, dia hanya santai saja. "Tungguin dong, bolot ya telinga lo!"


Rama, hanya menatap jengah Sinta. "Bawel amat lo!"


Rama dan Sinta melanjutkan perjalanan, berbekalkan senter yang dipunyai Rama. Yang kebetulan berada di tas selempangnya


Sinta, hanya bisa menahan sakit saat kakinya mulai nyeri. Sinta menghentikan langkahnya, membuat Rama ikut menghentikan langkahnya


"Awhhh!" Sinta meringis sembari mengelus kaki kanannya


"Lo kenapa?" Rama berjongkok menatap Sinta yang tengah terduduk mengelus kakinya


"Kaki gue sakit banget!" Rama pikir itu hanya karna Sinta lelah berjalan, Rama masih tampak cuek. Lalu, Rama melihat kaki Sinta dengan senternya


Di sebelah mata kaki Sinta ada memar berwarna ungu kemerahan, "Kok bisa kaya gini?"


"Awhhh!! Jangan di pegang!" pekik Sinta karna kesakitan saat Rama menyentuhnya


Rama, hanya bisa mengacak rambutnya bingung. "Kita emang harus cepet sampai ke barak


Rama, pun berjongkok membelakangi, Sinta. Membuat, Sinta bingung


"Naik !" Rama bersuara menyuruh Sinta untuk naik di gendongannya


Karna tidak ada pilihan lain, akhirnya Sinta naik ke gendongan Rama. Sinta memeluk erat leher Rama, punggung Rama yang lebar memudahkan Sinta


Karna, Tentara memiliki badan atletis bukan masalah bagi Rama jika hanya menggendong tubuh Sinta. Toh, Rama pernah mengangkat beban yang mungkin dua kali lipat lebih berat dari, Sinta


"Itu salah lo, lo malah ninggalin gue. Lo gak tahu apa kalo ini gelap banget!" balas Sinta tak mau kalah


"Udah diem jangan banyak ngomong, lo itu berat !"


Sontak saja Sinta tidak terima jika di katakan berat, "Enak aja gue ini bodygoals ya!"


Rama hanya memutar bola matanya jengah


****


"Hah hah hah hah"


Rednan dapat melihat lampu-lampu barak, berarti dia sudah dekat dengan barak. Meyga pun ikut ngos-ngosan, karena harus berlari menjauhi b*bi hutan


"Gila untung gue gak di makan ba*i hutan tadi" Meyga berbicara dengan nafas tersenggal-senggal


Rednan masih diam, mengatur napasnya. Sesaat, Rednan mengingat sesuatu. Seperti ada yang kurang, Puk Rednan hanya bisa menepuk jidatnya


"Rama sama Sinta kemana?" barulah Meyga mengingat karna ujaran Rednan


Meyga langsung melotot panik. "Ya ampun iya!!! Sinta-sinta?!! Sinta kemana???"

__ADS_1


Rednan hanya bisa menghembuskan napas kasar melihat Meyga panik. "Kita balik dulu ke barak, kita minta bantuan, Komandan Satria"


Meyga menurut mereka berjalan ke barak, ada api unggun yang masih menyala. Dan beberapa Tentara yang sedang duduk bersantai, Rednan langsung masuk ke kamar Komandannya


"Lapor ndan !"


Satria yang saat itu sedang memainkan ponselnya, menghentika aktivitasnya. Satria menatap heran Rednan, Rednan berkeringat banyak


"Kenapa lo?"


Rednan masih mengatur napasnya. "Huh huh, Ram--Rama sama Sinta di kejar--- Ba*i hutan"


"Apa!!!!" Satria tidak bisa menyembunyikan keterjutannya. Jujur saja dia baru mendapat pesan dari Jendral Kevin, untuk mengawasi Sinta dan menjaganya


"Kok bisa?" Satria kini kian panik


Rednan menarik napas dalam lalu menceritakan awal mulanya, "Pemburuan liar! Itu sangat di larang. Seharusnya hewan-hewan liar seperti itu tidak boleh di buru" Satria menggeram menahan kesal


Jujur saja dia sudah jengkel, dengan warga sipil tidak tahu diri. Ya, seperti itu mereka memburu hewan-hewan liar yang memang tempat tinggalnya berada di hutan, tidak hanya itu sebagian hutan pun sudah gundul karna penebangan liar. Maka dari itu kawasan itu mudah terserang banjir


Satria langsung mengumpulkan pasukan untuk mencari Rama dan Sinta. Bahkan, Satria turun tangan langsung untuk membantu


Pasukan, Satria pun mulai menyebar di hutan. Tempat berpisahnya Rednan dan Rama. Para abdi negara itu berbekal senter khusus yang memang penerangannya lebih tajam, tidak hanya itu mereka juga berusaha menghubungi Rama


"Disini, J1 Kolonel Satria. Dimana kebaradaanmu, ganti" tidak ada sahutan membuat Satria berdecak


"Ingat, kita harus menemukan Rama dan Sinta malam ini, Jangan sampai Jendral Kevin tahu !" seru Satria lantang


Para prajurit yang mendengar hanya menurut dan melanjutkan pencarian. Kawasan yang di lewati Tim Satria sangat mengenaskan, banyak pohon-pohon yang tandus. Seperti terjadi bekas pembakaran hutan, beberapa pohon pun gundul. Bagaimana, warga sipil merawat kelestarian alam ini? Mereka bahkan melukai alam. Dengan kerusakan hutan ini, membuat hewan-hewan yang memang tinggal disana berkurang, mereka mati perlahan


"Laporkan pemburan liar itu kepada penjaga hutan!" titah Satria kepada salah satu prajurit


"Maaf, ndan. Yang saya dengar, penjaga hutan disini pun tidak bisa berkutik ndan, mereka di ancam" Satria melotot mendengar penjelasan salah satu prajurit


"Keterlaluan, mereka melukai alam dan tidak bertanggung jawab?!! Ini memang harus di bawa ke rana hukum" yang lainnya hanya mengangguk membenarkan ujaran Satria


"Lapor, ndan. Kita menemukan ini" salah satu prajurit memperlihatkan satu sandal berwarna hitam


"Ini milik Sinta!!" Rednan sangat mengingat sandal yang di pakai Sinta


"Berarti mereka melewati jalanan ini, cepat lanjutkan pencarian!!!"


"Siap ndan !"


Mereka melanjutkan pencarian dan entah apa membuat para prajurit itu yakin, Jika Rama pasti akan mengikuti aliran sungai


"Pasti, Rama dan Sinta mencari sungai. Kita harus cepat!!!"


"Siap ndan !"

__ADS_1


TBC🍻


__ADS_2