
budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
"So, kamu benar-benar di jodohkan, Nana?"
Nana hanya mengangguk menanggapi pertanyaan, Rama. Namun, anehnya Rama tidak merasa sakit hati, jika dia di tolak oleh wanita yang di cintai seharusnya dia merasa kecewa dan sakit. Namun, sekarang? Bahkan dia biasa-biasa saja
"Berarti ini hanya perasaan suka sementara" batin Rama
"Mas Rama boleh aku bertanya?"
"Boleh saja" jawab Rama dengan mata yang tetap fokus menyetir
"Mas Rama suka dengan, Sinta?"
Rama yang mendengar langsung mengkerutkan keningnya. Rama pun tertawa hambar, "Suka? Sama si dokter bar-bar. Ada-ada aja kamu, Na"
"Tapi sorot mata, Mas Rama ke Sinta menunjuk bahwa memang, Mas Rama menyukai Sinta"
Rama yang mendengar masih tertawa garing. "Oke oke secara fisik aku memang suka dengan, Sinta. Dia cantik, cerdas ya idaman banyak pria. Tapi, sikapnya itu membuatku jengkel tidak mungkin aku menyukainya,"
"Mas Rama tidak perlu membohongi perasaan, Mas Rama sendiri"
"Saat ini aku dan Sinta sudah adil, aku tidak mendapatkan Bima, Sinta pun tidak mendapatkan Bima. Baiklah akan aku lepaskan, Mas Rama untuk Sinta**" batin Nana
Perjalanan menjadi hening, Nana hanya menatap luar sedangkan Rama fokus menyetir. Setelah 1 jam mereka baru sampai di bandara
"Terimakasih, Mas. Sampai jumpa"
"Hati-Hati, Na. Semoga kamu dan pasanganmu bahagia"
"Terimakasih" Nana tersenyum lalu turun dari mobil
Setelah itu, Rama kembali melajukan mobilnya. Di perjalanan menuju barak Rama merenung, mencerna perkataan Nana
"Apa gue suka sama, Sinta? Masak iya gue suka sama bocah menjengkelkan itu, bayangin aja ogah. Ya kali dia gue kenalin ke Bunda. Bisa-bisa setiap hari gue uring-uringan"
"Enggak gue gak boleh suka sama, Sinta. Gue harus mencari pasangan yang dewasa dan sayang sama, Bunda"
Rama kembali melakukan perjalanannya, karna tidak ingin lama, Rama melewati jalan pintas. Jalanan dimana dirinya bertemu dengan para pemburu
"Semoga saja mereka tidak ada di sekitar sini"
Dor
Doa, Rama ternyata tidak di kabulkan. Kaca spion mobil terkena tembakan, Di belakang ada dua mobil jeep membuntutinya. Rama mulai menambah kecepatan
Terjadilah kejar-kejaran ektrim, padahal jalanan sangat terjal.
Dor
Rama menembak kaca mobil yang menyerangnya, tangan kanan di gunakan untuk menyetir, tangan kiri di gunakan untuk menembak.
Dor
Dor
Rama dengan segera menghindari tembakan, di depan ada tikungan tajam, Rama mulai memutar otaknya. Saat ini mobil Rama di himpit kedua mobil
Dor
__ADS_1
Dor
Dor
Rama mulai menembaki kedua mobil, tepat di tikungan Rama langsung menambah kecepatan dan membelok ke kiri dengan mulus. Kedua mobil yang mengejar tak siap dan harus merosot ke jurang
"You lose!"
Rama tersenyum kemenangan, lalu kembali menyetir dengan santai, "Gue yakin pasti mereka suruhan, Tara" gumam Rama
Di tempat lain orang-orang yang mengejar, Rama saat ini tengah menyumpah serapah. "Sial! berani sekali dia!!"
"Tentara bayaran itu memang badebah!!"
"Ayo kita kembali, bos pasti akan marah mengetahui kita gagal membunuh, Tentara bayaran itu"
"Baiklah ayo"
Orang-orang itu pun pergi menuju kota, mereka saat ini tengah berada di tengah kota. Menuju Club malam baru yang sangat terkenal, dentuman musik langsung menghiasi telinga. Wanita-wanita cantik menari dan meliuk-liukan tubuhnya, jangan salah kira jika Papua tidak memiliki surga dunia! Ketahuilah semua negeri memiliki surga dunia
4 orang berbadan besar itu langsung pergi ke ruang VIP. Disana sudah ada pria berkepala plontos dan pria tampan yang sangat misterius
"Mr..."
Pria tampan dan pria berkepala plontos itu melihat anak buahnya. "Bagaimana?" tanya pria berkepala plontos
"Tentara bayaran itu berhasil kabur, Mr"
Pyarrr
Tiba-tiba gelas yang di pegang Pria tampan itu pecah.
"Tetap awasi dia, jika ada kesempatan cepat bunuh!!!"
"Yes, Mr"
****
Rama langsung nyosor mendekati, Rednan. Di meja terdapat satu teh hangat, Rama langsung menyeduhnya
"Buatan siapa ini bro? Manisnya pas banget, selera gue nih. Gak pahit banget gak manis banget"
Rednan tidak menjawab dan tetap menikmati Teh miliknya. Tak lama seorang gadis cantik datang, raut wajahnya sudah tidak enak di pandang. Rama yang melihat hanya cuek dan meminum Teh yang entah punya siapa
"Mas Rednan"
"Hmm"
"Teh, Sinta yang disini dimana?" Sinta tampak celingukan mencari Teh hangat yang tadi buatnya. "Masak di tinggal ke kamar mandi langsung hilang sih"
Pandangan, Sinta langsung beralih ke Rama. "Lo yang minum teh gue ya?"
Rama langsung tersedak karna bentakan, Sinta. "Hah, jadi ini Teh yang bikin lo?"
"Iya ini gue yang buat, kok lo ngeselin banget sih!!!"
"Oh pantesan rasanya gak enak nih gue balikin," Sinta melotot mendapati Teh nya sudah habis setengah
"Bilangnya aja gak suka, tapi di habisin" sindir Sinta
Rama hanya cuek, Sinta sudah kesal karna Teh hangatnya di habiskan Rama. Sinta pun membuat kembali, dengan takaran gula selera, Sinta
"Pak, buatkan saya Teh hangat satu!"
__ADS_1
"Siap, Ndan!" jawab Pak Tejo, selaku pengurus dapur di barak
Pak Tejo pun selesai membuatkan, Teh hangat manis untuk Rama. Saat, Rama menyeduhnya rasanya sangat berbeda
"Kok manis banget sih, Pak?"
"Maaf, Ndan. Saya gak tahu selera anda"
"Yaudah gakpapa" Mau tak mau Rama menyeduh Teh hangatnya
Matanya menatap Teh hangat buatan, Sinta. "Bagaimana bisa rasa Teh itu sangat pas dengan kadar gula gue!!"
Sinta tahu jika sedari tadi, Rama memperhatikan Teh hangat buatannya. Namun, dia akan tetap cuek, karna sudah meminum Teh nya tanpa izin
"Sin, gue ke kamar duluan ya. Gue ngantuk"
Sinta hanya mengangguk menanggapi pamitan, Meyga. "Gue juga duluan" Rednan pun ikut-ikutan pergi
Sinta duduk di depan api unggun, Rama yang tidak tahu harus apa akhirnya ikut-ikutan duduk di samping Sinta
Rama hanya diam begitupula, Sinta. Dan Rama terpaksa harus meminum Teh yang sangat kemanisan
"Kalo gak suka jangan di paksa di minum,"
Rama melirik ke Sinta, Rama pun meletakan cangkirnya. Tanpa di duga Sinta memberikan gelasnya kepada, Rama
"Sedikit aja jangan di habisin!"
Rama terkekeh. Namun, menerimanya malahan saat ini mereka seperti anak kecil yang berbagi minuman.
"Terimakasih, Bu dokter" senyum usil terukir di bibir Rama
"Jangan panggil gue Bu gue masih muda!" protes Sinta
Sinta mengambil alih cangkirnya, lalu meminumnya dan mereka malah seperti anak-anak meminum dengan bergantian
"Katanya Teh gue gak enak, kok di habisin" sindir Sinta setelah melihat Rama menghabiskan Teh hangatnya
"Gue kedinginan ini Teh kan hangat"
Sinta hanya mencibikan bibirnya. "Gak usah gensi deh, bilang aja Teh buatan gue emang manis kaya yang buat"
Rama tidak membalas perkataan, Sinta. Rama malah terpana dengan senyuman Sinta, dirinya belum pernah melihat Sinta tersenyum semanis ini
"Gue baru sadar kalo, Sinta cantik banget"
"Woy!!"
Lamun, Rama buyar karna teriakan Sinta di depan wajahnya. Sinta tertawa melihat Rama yang terkejut
"Lo mau bikin gue jantungan?!!" geram Rama
Sinta masih tertawa, menertawai raut wajah Rama.
Ting
Ting
Suara pesan masuk menghentikan tawa, Sinta. Sinta membuka ponselnya melihat foto yang membuat hati nya menyayat
Foto Bima dan Clara
Dirinya tidak tahu nomer siapakah itu? Sinta langsung muram dan pergi meninggalkan, Rama. Rama tampak bingung melihat perubahan Sinta
__ADS_1
"Kenapa dia?"
TBC🍻