RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 43


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


Baca juga\= The Last Mission Love (Kisah Rednan)


****


Pagi ini, Sinta sudah tampak cantik dengan balutan jaz putihnya. Sinta pun menyemprotkan parfum sakuranya, di kedua ketiak, dada, dan ceruk leher.


Sinta pun turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di meja makan, Kevin dan Tari sudah menunggu putrinya tersebut.


“Morning,” sapa Sinta dengan senyum manisnya.


“Wah, Morning sayang. Kamu udah rapi aja ya,” Tari menjawab sembari menyiapkan lauk untuk suaminya.


Sinta pun ikut serta dalam sarapan pagi itu. “Iya dong, Ma. Masa hukuman, Sintakan sudah berakihir.“


Tari hanya tersenyum mendengarnya. Sesuai tradisi keluarga Winata, mereka sarapan dengan hening.


Setelah acara sarapan usai, Sinta segera untuk ke mobilnya. Ternyata sudah ada Rita yang menunggu di mobil.


“Loh, Mbak Rita? kok gak ikut sarapan?” tanya Sinta yang melihat Rita sudah duduk di kursi kemudi.


“Saya sudah sarapan, Sin. Kalau mau segera berangkat mari.”


Tanpa menjawab, Sinta pun masuk ke mobilnya. Sinta dan Rita pun melesat membelah jalanan Ibu kota yang ramai.


20 menit perjalanan, akhirnya Sinta sampai di Rumah sakit Dharma Nugraha, Jakarta timur. Sinta dan Rita langsung menuju lobi rumah sakit.


“Eh, Mbak Sinta! udah lama gak pernah lihat,” ujar seorang OB wanita yang tampak antusias.


Sinta tersenyum melihatnya. “Hehehe, emang kenapa, Mbak Retno? embak kangen ya sama, Sinta?”


“Hehehe, sedikit mbak”


Sinta hanya geleng-geleng kepala di buatnya. Sinta pun segera pergi ke ruangan kepala Rumah sakit, sedangkan Rita menunggu di ruangan Sinta.


Tok...tok...tok


“Masuk”


Setelah mendapat sahutan, Sinta mendorong pintu tersebut. Tampaklah, Dokter tampan yang sangat berwibawa.


“Selamat pagi, Dokter Eko”


Dokter tampan itu menoleh ke arah, Sinta. “Selamat pagi, Sinta. Loh kamu kapan pulangnya?”


“Kemarin sore, Dok”


“Oh, Silahkan duduk” Pria berusia 40 tahun itu langsung menyuruh, Sinta untuk duduk.


Sinta pun duduk di hadapan, Dokter Eko. “Apa kabar, Dok? Bagaimana Istrinya?”


“Allhamdulilah, kemarin Istri saya hamil lagi,” jawab Dokter Eko dengan senyum manisnya.


“Allhamdulilah, saya turut seneng, Dok. Oh iya saya mau kirimin laporan-laporan, selama saya tugas di Papua, Dok” Sinta pun mengeluarkan berkas-berkas kepada, Dokter Eko.


Dokter Eko menerima dengan semangat, membacanya dengan cermat. “Bagaimana disana? asik?”

__ADS_1


“Awalnya sih gak betah, Dok. Gara-gara hukuman, Papa sih ini. Tapi lama kelamaan asik kok, Dok. Orang-orang disana ramah-ramah,” jawab Sinta dengan cepat.


“Yaudah, ini laporan kamu bagus semua, kamu bisa kembali bertugas seperti biasa.”


“Siap, Dok” Sinta mebungkuk hormat, setelag itu berpamitan untuk undur diri.


Saat menuju ke ruangan, Sinta. Tidak sengaja, Sinta melihat Eve yang hendak masuk ke lift.


“Eve..!!”


Eve yang hendak masuk ke lift itu mengurungkan niatnya. Sinta langsung berlari kecil menuju ke arah, Eve.


“Sinta...!!” Eve langsung membalas pelukan, Sinta.


“Yaampun, Sinta. Gue kangen banget sama lo,” ujar Eve setelah pelukannya terlepas.


Sinta tersenyum mendengarnya. “Iya, gue juga kangen sama lo, Ve. Oh ya lo mau kemana?”


“Gue mau ke atas, mau ngecek-ngecek pasien gue aja sih,” jawab Eve sembari memasukan kedua tangannya di kantung jaz putihnya.


“Oh, Yaudah Ve. Gue ke ruangan dulu ya, jangan lupa nanti di kantin ketemuan, ada banyak hal yang mau gue ceritain”


Eve hanya mengangguk-angguk mendengar penuturan, Sinta. Setelah berpisah di lift, Sinta kembali melanjutkan jalanannya.


Sampailah, Sinta di ruangannya. Sinta pun membukanya, sudah ada Rita yang tampak membersihkan ruangan tersebut.


“Tidak perlu repot-repot, Mbak Rita” Sinta sudah berulang kali menyuruh Assitennya itu untuk berhenti. Namun, Rita tetep kekeh.


Drtt Drtt Drtt


Getaran ponsel mengalihkan perhatian, Sinta. Sinta pun mengambil ponselnya, yang berada di tasnya.


“Selamat pagi, Dokter cantik. Semangat kembali kepada pekerjaanmu, tunggu aku pulang ya”


****


Sinta sudah duduk sembari menikmati es jus di kantin Rumah sakit. Namun, rupanya sahabatnya itu belum juga, memunculkan jati dirinya.


“Sin...!!”


Sinta yang hendak mengirimkan pesan kepada sahabatnya itu di urungkan, tak kala Eve sudah datang.


Eve pun duduk di depan, Sinta. “Sorry lama, tadi ke kamar mandi dulu soalnya,” ujar Eve sembari nyengir.


“Iya gakpapa, lu udah makan belum?”


“Belum lah, orang baru nyampe juga”


Sinta terkekeh mendengar jawaban, Eve. “Hahaha, Yaudah buruan sana pesen!”


“Bu, Sotonya 1, sama Es teh manisnya 1”


“Hmm, Ve...”


Eve yang sehabis memesan makanannya itu, langsung menoleh ke arah Sinta yang bersuara.


“Iya, Sin? kenapa ada apa?”

__ADS_1


Sinta menghembuskan napas sebelum berbicara. “Gue pengen cerita banyak nih,” ujar Sinta dengan nada lemas.


“Cerita aja”


“Ve, Gue kesel sama Bima, udah tahu dia udah nikah, masa semalem dia komen story instagram gue, udah gitu kemarin waktu gue pulang, pas banget ada Bima. Tapi lo juga harus tahu kalau gue udah punya pengganti, Bima!”


Eve menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang di ceritakan, Sinta. “Terus, siapa nih cowok baru lo?,” tanya Eve yang justru lebih memfokuskan, pengganti Bima.


Mengingat nama, Rama. Membuat Sinta tersenyum-senyum. “Dia itu Tentara, Ve. Dari awal gue benci banget sama dia, dia super ngeselin! lama kelamaan gue malah jadi suka sama dia,” tutur Sinta sembari tersenyum-senyum.


“Wahhhh, kalau boleh tahu namanya siapa nih? sekalian username ignya?” Eve pun turut menggoda Sinta.


Sinta langsung melempari tatapan tajam kepada, Eve. “Enggak ah, nanti lo jadi stalkernya dia lagi”


“Hahaha, Posesif banget sih jadi pacar,” ledek Eve dengan tawanya.


Sinta hanya mengerucutkan bibirnya. Setelah pesenan Eve tiba, mereka mulai menikmati makan siang.


“Hallo, girl!” seorang pria muda tampan mendekat ke meja, Sinta dan Eve.


“Angga? kamu kok udah kesini?” Eve langsung bangkit dan memeluk kekasihnya tersebut.


“Iya dong kan mau bikin kejutan,” jawab Angga dengan senyum manisnya. “Hay Sinta! apa kabar?” kini Angga berganti menyapa Sinta.


“Baik, Ngga. Gimana bisnis lo di belanda?” Sinta pun menanggapi sapaan pacar Eve tersebut.


“Lancar, Bro” Angga menarik kursi, lalu duduk bersama.


“Sin, gue udah denger tentang pernikahan Bima dan Clara, lo yang sabar ya,” ujar Angga yang merasa perihatin.


Sinta hanya tersenyum mendengarnya. “Santai aja, gue udah lupain Bima kok, dan mungkin dia bukan jodoh gue”


“Iya, Sin. Biarkan badebah seperti Bima dan Clara bersatu,” Angga berbicara dengan nada geram.


“Ekhm, udah Ngga, gakpapa. Mungkin memang Tuhan sudah menakdirkan Bima dan Clara,” ujar Eve sembari mengelus bahu kekasihnya tersebut.


Angga pun menoleh ke arah Eve, di usap lembut kekasihnya tersebut. Sinta yang melihat adegan tersebut menjadi teringat, Rama.


“Biasanya, Rama suka gituin aku” batinnya.


“Udah, Ngga. Disini masih ada, Sinta” Eve langsung memperingatkan, Angga.


Angga terkekeh mendengarnya. “Santuy aja lah, Ev. Sinta juga udah punya pacar sendiri” sahut Angga sembari mengusap-usap kepala Eve.


Sontak Sinta yant mendengar mengerucutkan bibirnya. “Pacar gue lagi tugas, dia belum pulang”


“Emang pacar lo tugasnya apa?” tanya Angga yang langsung menyambar Es teh milik Eve.


Sinta sudah manyun karna mengingat, Rama. “Gue gak tahu, Rama gak pernah ngasih tahu”


“Oh jadi cowok lo namanya, Rama” Eve langsung menyahuti ujaran Sinta.


Sinta baru sadar jika dia sudah menyebut nama kekasihnya. “Aduh keceplosan gue, padahal gue mau kenalin ke kalian pas orangnya udah dateng. Sekarang kalian jadi udah tahu namanya deh,” celoteh Sinta dengan lesu.


Angga dan Eve hanya tertawa. “Santuy gue kenal cowok lo siapa,” sahut Angga santai


“Siapa coba?”

__ADS_1


“Mantan Tentara bayaran di Irak”


TBC❤


__ADS_2