
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
"Kamu sudah mempunyai keputusan, Rama?"
Rama, terdiam dan menunduk, beberapa saat Rama mengangkat kepalanya. "Saya setuju, Ndan!" jawab Rama tegas
Satria tersenyum lalu kembali berpikir. Di ruangan yang gelap tersebut, terdapat tiga abdi negara. Kolonel Satria, Letnan Kolonel Rama, dan Mayor Darwin
"Darwin, Kamu sudah siapkan prajurit?"
"Sudah, Ndan!" jawab Darwin dengan tegas
Satria, menumpu tangannya tampak tengah berpikir keras. "Saya rasa penyerangan kemarin ada hubungannya dengan, Tara"
Rama, terdiam mendengar ujaran Satria. "Tapi, kenapa mereka ingin melukai, Sinta?" tanya Rama
Satria dan Darwin terdiam, mencerna pertanyaan Rama. Lalu, Darwin mengangkat suara
"Apa, Cosa Nostra mengenal, Sinta?"
Rama, mengkerutkan keningnya mendengar pertanyaan, Darwin. "Tidak mungkin, Sinta hanya dokter biasa"
"Dia anak Jendral Kevin" Rama dan Darwin menoleh ke arah Satria yang mengeluarkan suara
"Maksud anda, Pak Jendral mengetahui Cosa Nostra?" Satria hanya mengangguk pelan, menanggapi pertanyaan Rama
"Apa, Sinta sudah tidak aman berada disini?" gumam Satria
Rama dan Darwin terdiam, saling berpikir. "Saya rasa, Sinta akan tetap aman, Ndan. Jika dia berada di kawasan barak dan jika keluar di kawal"
"Apa yang di katakan, Darwin benar" lanjut Rama dengan menggigit bibir bawahnya
"Sangat rumit, baru tangan kanannya yang keluar sudah membuat pusing. Bagimana kalau Marco yang keluar?"
Rama dan Darwin terdiam mendengarkan gerutu, Satria. "Saya rasa itu bukan hal rumit, Jika mereka cerdas kita harus lebih cerdas, Jika mereka licik, kita akan lebih licik"
Satria dan Darwin tersenyum penuh arti mendengar penuturan, Rama. "Kamu memang, Tentara paling pintar Rama. Saya rasa iblis bersemyam di tubuhmu"
Rama yang mendengar ucapan, Darwin terkekeh, "Iblis? Omong kosong apa itu, Apa kalian menganggap saya iblis karna membunuh berutal gangster yang menyerang, Bunda?"
Satria dan Darwin hanya terkekeh. "Kamu memang Devil yang menyamar menjadi Tentara" canda Satria kembali
__ADS_1
Rama hanya tertawa, apa yang di katakan Satria dan Darwin memang benar. Meskipun Ayah dan Bunda, Rama adalah alumni Pondok pesantren. Namun, ketahuilah di diri Rama ada sebuah kepribadian yang akan berubah jika di masa mencekam, seperti saat orang-orang yang dirinya sayang terluka. Maka mata Rama akan berubah menjadi hitam, tidak memperdulikan dosa yang dia tanggung, dia akan menghabisi musuhnya dengan kejam !
Seolah iblis tengah bersemayam di diri, Rama yang siap keluar jika orang yang di sayang, Rama di sakiti.
"Saya jadi penasaran, Apa yang kamu lakukan saat Sinta berlari kemari, Rama? Mereka sangat banyak dan kamu masih hidup"
Rama hanya terkekeh mendengar pertanyaan, Darwin. "Mereka hanya sniper pengecut, bagi saya itu mudah !"
"Hahaha, Baiklah kamu memang hebat, Rama. Jangan lupa, minggu depan kamu siap bertugas,"
"Siap, Ndan!" jawab Rama dengan tegas
"Saya rasa mereka tahu rencana kita, Ndan. Saya yakin mereka sudah menunggu kedatangan kita" Satria terdiam mendengar ucapan, Darwin
"Apa salahnya? Kita hadapi mereka semua, sampah-sampah seperti mereka seharunya beristirahat di balik jeruji" sahut Rama dengan gaya santainya
Itu adalah salah satu sifat, Rama. Saat ada bahaya pun dirinya akan tetap santai, seolah tidak takut dengan kematian. Jika menjalani misi dan dirinya terluka, Rama akan selalu mengatakan 'Gue gak akan mati tanpa seizin, Allah'
Dan, hal itu yang selalu membuat Yusuf dan Aletha cemas dengan putra tunggalnya tersebut, Bagaimana tidak cemas? Jika sudah beberapa kali mendapati, Rama pulang dengan keadaan lebam-lembam, perban, berkas operasi. Seolah tubuh itu sudah tahan banting
Pekerjaan itu pun membuat, Rama kurang begaul. Bukan bergaul bersama pria, Jika hanya teman pria Rama mempunyai banyak. Namun, adalah teman gadis, banyak gadis-gadis yang menggilai Rama. Namun, tak satupun dari mereka yang membuat, Rama tertarik.
Rama hanya ingin mencari wanita yang mau. Di nomer duakan oleh Negara!
Dan sampa saat ini pun tidak ada!
****
Angin malam menerpa kulit mulus, Sinta. Sinta hanya menatap kosong api unggun di depannya, Setiap malam para Abdi negara itu akan membakar kayu, di gunakan sebagai penghangat
Mereka duduk bersama-sama, di bebatuan, dan di tikar. Melepas penat dari tugas-tugas yang berat. Bahkan hampir setiap hari Tim medis mengobati para Abdi negara tersebut. Dalam waktu seminggu pun, para Tim medis bisa melakukan operasi berkali-kali.
Sungguh ironis para Abdi negara tersebut, mereka rela tubuhnya menjadi tameng untuk Indonesia. Meninggalkan sanak keluarga, demi mengabdi kepada negerinya. Sama halnya, Rama di usianya yang matang, seharusnya dia sudah bahagia bersama wanita yang akan menjadi istrinya. Namun, sampai saat ini dirinya masih melajang lebih memilih setia kepada negara
Rama, menatap Sinta. Sinta tampak imut dengan piyama biru bergambar doraemon. Gadis berusia 20 tahun itu pun masih menyukai kartun
"Mas Rama" pandangan Rama beralih kepada Nana yang duduk di sampingnya
"Nana, Kok keluar disini dingin, Loh?"
Nana hanya tersenyum kecil mendengarnya, "Kan ada api unggun, Mas. Jadi gakpapa"
Rama hanya tersenyum dan mengangguk, tanpa di sengaja tatapannya bertabrakan dengan mata hitam legam Sinta.
"Sin, Lo ngerasa gak sih, Si Nana gatel banget sama, Letnan Rama?" Sinta hanya diam tidak menggubris bisikan, Meyga
__ADS_1
"Selamat malam, Sinta!" Sinta mengadahkan kepalanya, pria matang yang tampan itu berdiri di depannya
"Iya, Ndan. Kenapa?" Sinta pun hanya berbicara formal dengan, Satria
"Kamu tidak menghubungi, Papahmu? Beliau menanyakan kabarmu,"
Sinta hanya menekuk wajahnya, di mode tidak mood. "Males!"
Satria hanya menghembuskan napas berat, pandangannya beralih kepada Rama yang sedang berbincang dengan, Nana. Satria tahu, jika Rama mencuri padangan dengan, Sinta
Satria mendekati, Rama. "Jangan di lihatin dari jauh, bro. Langsung samperin" bisik Satria di telinga Rama
Rama mendelikan matanya menatap, Komandannya. "Maksud lo apaan sih?"
Satria hanya tertawa, lalu berbisik. "Gue tahu lo dari tadi lihatin, Sinta"
Rama langsung melotot mendengarnya, "What? Gue lihatin dokter bar-bar?! Aduh, Satria. Kaya nya lo salah lihat, Ya kali gue lihatin tuh dokter, bikin sakit mata!"
Satria hanya tertawa kecil mendengar jawaban, Rama. Tak di pungkiri memang Rama sesekali mencuri pandangan kepada, Rama
"Aku pamit ke kamar, Mas" Nana bangkit dari duduknya
"Oh, Iya selamat malam, Na" Nana hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Rama dan Satria
"Lo sebenarnya suka sama, Nana apa Sinta sih?"
Rama mendelikan matanya menatap, Satria. "Lo itu ngomong apa sih, Sat!"
"Udah, Lo sekarang jujur. Lo suka sama, Nana?"
Rama terdiam lama, "Kalo gue gak jawab. Nih orang pasti nanyain terus"
"Gue sih, gak tahu. Ya gue ngerasa nyaman aja ngobrol sama, Nana. Dia orangnya sih tipe gue banget, gadisnya pendiam, polos, cantik lagi"
Satria yang mendengar menyipitkan matanya. "Yakin? Kalo, Sinta?"
"Sinta? Dokter bar-bar itu, Dia gak masuk kekeritia gue! Siapa yang mau sama cewek bawel kaya, Sinta. Cantik sih tapi dia terlalu manja dan bla bla bla bla"
Rama tidak sadar jika orang yang di bicarakan kini berdiri di belakangnya, Sinta hanya bersedekap dada mendengarkan celoteh Rama
"Dia itu, duh bro gue aja gak yakin dia dokter. Kalo cakep sih, cakep banget bro. Dia ngeselin aja bro, apalagi suaranya itu. Aduh cempreng bang--"
"Lo mau bilang suara gue cempreng?"
Deg!!!
__ADS_1
TBC🍻