RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 54


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Setelah mengantar Sinta ke rumah sakit, Rama segera meluncur menuju Kantor TNI AD. Pikiran Rama masih di penuhi seluruh kata-kata Sinta.


Selama 30 menit berkendara Rama tiba di Kantor TNI AD. Rama hanya ingin menemui Satria, sahabatnya tersebut.


Beberapa staf memberikan hormat kepada Rama, Rama pun membalasnya dengan senyuman tipis.


Rama langsung menuju ruangan sahabatnya tersebut.


tok... tok... tok...


“Masuk!”


Setelah mendapat sahutan, Rama langsung membuka handel pintu. Dilihatnya Satria yang duduk di kursinya.


“Muka lu kusut amat!” sindir Satria yang memperhatikan Rama.


Rama menghela napas lalu duduk di depan Satria. “Gue mau cerita, Sat.” Rama menjatuhkan kepalanya di meja, seolah sudah lemas menghadapi masalahnya.


“Kenapa sih? cerita dong!”


“Sinta, nyuruh gue nikahin, Nana.”


Uhuk... Uhuk... Uhuk


Satria yang saat itu menyeruput kopinya, sontak langsung terbatuk-batuk mendengar ucapan Rama. Satria sangat terkejut tentunya.


“Bercanda lo gak lucu, Bro! Gak mungkinlah, Sinta nyuruh lo nikahin, Nana. Gue tahu kale, Sinta aja posesif banget sama lo,” Satria terus mengoceh, karna merasa di bohongi sahabatnya tersebut.


Rama berdecak kesal mendengar ocehan Satria. “Ck. Gue ngapain bohongin lo sih, Sat? Gue serius!”


“Coba lo ceritain, gimana awal mulanya?” ujar Satria saat menyadari keseriusan di wajah Rama.


Rama pun menceritakan semuanya kepada Satria. Berawal dari Sinta menabrak tunangan Nana, dan permintaan Kakek Nana. Satria yang mendengar tidak bisa menyembunyikan keterjutannya.


“APA??!! Gilak tuh kakek-kakek main bikin keputusan aja. Nggak bisa di biarin, lo sama Sinta kudu tetap bersatu! Enak aja, emang cuma gara-gara nabrak calon mantunya dia, lo yang harus gantiin. Kalau si Nana itu emang cinta sama tunangannya, apapun keadaan cowoknya, kudunya mau lah. Kecuali, kalau mereka cuma mau harta, dan ketenaran doang.”


Satria terus berceloteh, karna merasa tidak terima sahabatnya ini di suruh-suruh. Apalagi ini seperti paksaan, dengan alasan Calon suami Nana kecelakaan karna Sinta, dan riwayat jantung Kakek Nana. udah punya jantung masih aja banyak tingkah

__ADS_1


“Lo harus tegas, Ram!! Jangan mau dong, masa iya orang saling cinta di suruh misahin gitu aja. Sinta juga ngapain sih mau-maunya, dia gak mikir apa? Yang tersakiti kan bukan cuma Sinta, lo juga tersakiti. Segagah-gagahnya pria, setangguh-tangguhnya pria. Kalau masalah ati, mereka juga akan tetap luluh.”


Rama hanya diam mendengar seluruh ocehan Satria yang tanpa henti. Ini pun tidak sebanding dengan Rednan, jika saja Rama menceritakannya kepada Rednan, mungkin prajurit tengil itu akan membakar Kakek Nana. bakar aja deh, kualat pikir keri


“Ya, gue harus gimana, Sat? Sinta maksa gue terus.” akhirnya Rama mengeluarkan suaranya.


Satria menghela napas dan tampak berpikir. “Gue juga gak tahu, Ram. Kalau orang gak mau, Ya jangan di paksa. Kalau Sinta sampai ngancem putus. Ya udah mau gimana lagi? kita punya keputusan masing-masing.”


“Ck. Tapi gue gak mau putus sama, Sinta. Gue rela deh gue yang tersakiti, tapi kalau gue nikah sama, Nana. Gue juga menyakiti Sinta,” sahut Rama yang merasa bimbang. Jika dirinya menerima pernikahaan tersebut, maka akan ada dua hati yang dia sakiti. Hatinya dan hati pujaannya. ralat, hati para readers pun ikut menyayat


Satria pun hanya bisa mengusap bahu sahabatnya tersebut. “Ini pertama kalinya, gue melihat sisi lemah lo, Ram. Lo emang gak boleh pisah sama Sinta!" ujar Satria dalam hati.


“Ck. Apa gue bunuh aja ya Kakeknya Nana?”


****


Setelah pulang dari rumah sakit, Sinta tidak pergi untuk kembali ke rumahnya. Sinta justru pergi ke rumah Rama. Bukan ingin menemui Rama, namun Bundanya.


Sinta tahu, jika Rama masih berada di kantor, karna Sinta sengaja pulang lebih awal.


Setelah 30 menit perjalanan. Sinta tiba di rumah Bunda Aletha, setelah di persilahkan masuk. Sinta langsung menangis di pelukan Bunda Aletha.


Aletha hanya diam, membiarkan Sinta menangis terlebih dahulu. Jika sudah seperti ini pasti anak nakal itu yang berulah, pikir Aletha.


”Hiks... hiks.. hiks..” Setelah tangisan Sinta mereda, Sinta pun melepaskan pelukannya.


Aletha membelai lembut rambut Sinta. “Anak, Bunda kenapa? Cerita sama, Bunda. Kalau anak nakal itu bikin kamu nangis, biar Bunda buang aja,” celoteh Aletha berusaha untuk menanyakan hal apa yang terjadi dengan Sinta.


“Hiks... hiks... Rama gak salah, Bunda. Sinta yang jahat hiks... hiks... Sinta jahat, Bunda.”


Flashback


“Lepasin aku!”


Rama pun melepaskan pelukannya terhadap Sinta. “Sebenarnya aku kurang apa dimata kamu, Sinta? aku rela sakit hati, asal kamu bahagia. Tapi, kalau kamu menyuruh aku menikahi, Nana. Itu sama saja menyiksa kita berdua, Sinta!”


“Biarkan saja! biarkan aku tersakiti. Aku yakin setelah kamu menikah dengan, Nana. Kamu pun akan bahagia, cinta datang karna terbiasa, sa–sama seperti kita dahulu.”


Rama masih tak habis pikir dengan jalan pikiran kekasihnya tersebut. Sinta menghela napas sebelum mengangkat suara.


“Menikahlah dengan, Nana!! Kalau kamu mencintaiku, menikahlah dengan Na–”


“AKU GAK MAU!!!” bentak Rama


Sinta terkejut mendengar bentakan Rama. “OKE KALAU KAMU GAK MAU, KITA PUTUS SAJA!”


“SINTA!!” bentak Rama kembali.


Sinta terkejut, dan menyadari apa yang baru saja dia katakan. Rama begitu kecewa dengan ucapan kekasihnya tersebut.


Flashback end

__ADS_1


“Hiks... hiks... hisk. Sinta jahat... Bun–da... Si–sinta udah sakitin Rama... hiks hiks”


Aletha memeluk dan membelai rambut Sinta. Saat ini Aletha paham dengan keadaan Sinta, Sinta di saat ini hanya di selimuti rasa bersalahnya.


“Cup.. cup.. cup. Udah sayang, nanti cantiknya hilang.” Aletha mencoba menghibur Sinta, namun Sinta malah semakin terisak.


“Si–sinta sayang sama, Rama... Bunda... Tapi Sinta udah bilang putus... hiks hiks.”


Sinta semakin mempererat pelukannya kepada Aletha. Aletha pun sama semakin mempererat pelukannya, karna dia tahu Sinta saat ini hanya ingin pelukan dan menangis.


“Nanti supaya, Bunda yang ngomong sama anak nak–”


“Assalamualaikum, Bunda!”


Aletha mengalihkan pandangannya, mendapati putranya yang baru tiba. Sinta pun mengusap air matanya.


Rama mencium punggung tangan Aletha. Saat hendak pergi, tangannya langsung di cekal oleh Aletha.


“Rama, duduk dulu!” ujar Aletha tegas


Rama pun memilih menurut, Rama merasa kasihan melihat Sinta yang terus menangis. Tidak ada senyuman manis, dan tidak ada tawa yang lebar. semua ini karna kakek bau tanah


“Rama... Kamu sudah dewasa, kamu seharusnya kebih dewasa dari, Sinta. Jangan seperti ABG begini dong.”


Rama menghela napas kasar mendengar ucapan Aletha. “Rama udah banyak ngalah, Bun. Saat ini saatnya aku sama Sinta mencari jalan keluar dengan keputusan berdua. Rama juga gak mau egois, TAPI RAMA GAK SUKA DI PAKSA!”


Mendengar ucapan Rama yang penuh penekanan membuat Sinta kembali menangis.


“Rama... Jangan seperti itu, Nak!”


“Udahlah, Bun. Rama lelah, Rama lelah harus memikirkan ini semua. Rama gak bisa, Bun ngalah terus. Kalau ujung-ujungnya aku sama Sinta pisah, ya udah mau gimana lagi!”


“Bunda...hiks hiks” Sinta kembali menangis di pelukan Aletha.


Rama berdiri dari duduknya, hendak beranjak pergi. “Jangan menangis, Sinta! Bukannya ini yang kamu mau?”


Setelah mengatakan hal tersebut, Rama kembali ke kamarnya. Sedangkan, Sinta masih terisak dan menangis di pelukan Aletha.


“Aku gak mau pisah sama kamu, Rama!!”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


“Apa pun akan aku lakukan untukmu, asalkan kamu bahagia, meskipun itu harus perpisahan.” — Ramadhani Asof


TBC😘


__ADS_2