
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
Sudah hampir 2 minggu, Rama di rawat di rumah sakit. Saat ini Rama sudah boleh di bawa pulang, karna bulan ini Rama masih berada di masa tugas, maka Rama kembali ke barak.
Selama hampir 2 minggu itupun, Sinta selalu berada di dekat Rama. Membantunya ke kamar mandi, menyuapi makan, dan mengajaknya mengobrol.
Mobil yang di kendarai Ajudan Komandan Satria itu tiba di barak. Para Tentara yang melihat Rama kembali, membungkuk hormat. Rama pun membalas dengan mebungkuk.
Rama langsung di bawa masuk ke ruang medis. Mata Rama terpaku kepada gadis cantik, yang saat ini sedang sibuk membaca laporan.
Rama tersenyum tipis, melihat wajah Sinta yang kala serius. Rama mendekat perlahan, hingga sampai di depan Sinta
"Serius banget, Bu dokter bacanya" dengan jahil Rama menoel dagu Sinta
Sinta tersentak kaget, karna perbuatan Rama. "Ra--Rama? Kamu kapan pulang?"
"Tadi, kamu aja yang gak tahu,"
Sinta berdecak mendengarnya. "Ck. Kamu bilang pulangnya besok,"
Rama terkekeh, lalu menarik kursi duduk di depan Sinta. "Hehe maafin ya, Bu dokter. Pak Tentara tampanmu ini lupa memberi kabar,"
Sinta sedikit geli, dengan apa yang di ucapkan Rama. Namun, Sinta hanya terkekeh mendengarnya.
"Apaansih, Narsis banget!"
"Bu Dokter, luka saya bisa di periksa enggak ya?" ujar Rama dengan memopang tangan di dagu.
Sinta yang baru mengingat, sontak menepuk jidat. "Astaga, aku lupa. Kamu harus aku cek!"
Sinta pun buru-buru menarik Rama untuk berbaring di ranjang, Rama hanya tersenyum melihat tingkah Sinta. Sinta mulai memeriksa, dari suhu badan, tensi, dan bekas-bekas luka yang tertimbun puing-puing.
"Kamu jangan banyak aktivitas dulu, luka kamu masih belum kering. Jangan kena air dulu," tutur Sinta dengan lembut
Rama tersenyum lalu mengusap kepala Sinta. "Siap laksanakan, Bu Dokter!"
"Ck. Bisa gak sih gak usah panggil Bu, aku belum tua tahu!" Decak Sinta kesal
Rama hanya nyengir, memperlihatkan gigi putihnya. "Apa yang kamu rasakan jika aku terluka?"
"Yang aku rasain? Tentu aku akan sedih," jawab Sinta ketus
"Sinta..."
"Ya?"
"Jangan terlalu berharap lebih untuk selalu bersamaku, aku bukanlah pria-pria pada umumnya yang bisa menemani setiap waktu," Rama berucap sembari mengusap kepala Sinta.
Sinta berdecak mendengar ucapan Rama, "Ngomong apa sih? Aku itu terima kamu apa adanya, aku juga akan ngertiin gimana pekerjaan kamu!"
Rama yang mendengar jawaban Sinta, langsung tersenyum manis. "Terimakasih, Kamu sudah mengerti keadaanku, Tapi jika suatu saat kamu tidak menemukan ku. Apa yang akan kamu lakukan, Sinta?"
__ADS_1
"Kamu omong apa sih, Rama!! belum juga 1 bulan pacaran, kamu udah kaya gitu" Sinta memalingkan wajah karna kesal.
Rama terkekeh melihat tingkah Sinta. Rama menarik dagu Sinta, hingga Sinta saat ini menatap Rama.
"Jangan menangis, air matamu berharga." Rama mengusap air mata Sinta yang tiba-tiba terjatuh.
"Kok gue jadi cengeng gini sih," batin Sinta
"Kamu sih ngomongnya begitu, aku gak mau kamu terluka, apalagi sampai kaya kemarin" Sinta berbicara dengan bibir bergetar. Dirinya pun tidak tahu, kenapa menjadi sangat cengeng
"Jika terluka membuat, Ibu Dokter ku bersedih. Maka aku tidak akan terluka. Namun, aku akan siap terluka, jika itu untuk melindungi, Ibu Dokterku"
Sinta hanya diam, pipinya sudah memerah. Sinta merasa berbunga-bunga mendengar perkataan, Rama yang sangat manis.
"Pipi kamu kok merah?" goda Rama dengan mencubit pipi Sinta yang rada gembul.
"Aduh.... sakit, Rama!!!" dengan kesal, Sinta memukul tangan Rama.
"Itu pipi kamu merah," goda Rama kembali dengan tertawa meledek
Sinta hanya menatap sinis kekasihnya, Rama menghentikan tawanya melihat Sinta yang merasa kesal.
"Udah dong jangan ngambek," rengek Rama.
Namun, Sinta tidak menggubrisnya, hingga membuat Rama kembali berceloteh.
"Iya, Maafin aku. Pipi kamu gak merah, tapi merah muda, lagi pula kamu cantik kok. Bu dokter!!! Sinta!!! Sayang!!!"
"Ck. Kamu mau aku suntik sapi!"
****
Pagi ini Rednan kembali ke kotanya. Jakarta!
Karna, Rednan sudah tidak ada tugas, Rednan memutuskan untuk kembali ke Ibukota.
Setelah mendarat mulus di kota kelahirannya, Rednan di jemput sopir keluarganya. Mobil melesat membelah jalanan kota. Mobil menuju ke sebuah perumahan.
Perumahan itu di khususkan untuk Tentara. Termasuk, Rednan. Rednan memilih untuk balik ke rumah dinasnya.
Setelah sampai di depan rumah, Rednan membuka pintu rumah itu. Rumah berlantai satu. Namun, luas dan nyaman.
Rumah itu berbentuk L. Dimana di depannya adalah ruang tamu, lalu ada pintu menuju ke ruang tengah, ruang keluarga, dan ada dua kamar, dan yang paling belakang adalah kamar mandi dan dapur.
Rednan menghempaskan tubuhnya ke sofa empuk tersebut. Rednan langsung membuka ponsel untuk menghubungi sahabatnya.
Rednan menghubungi Rama dengan Vidiocall. Tak lama Vidiocall itu tersambung.
"Hallo, Assalamualaikum Pak Letnan" sapa Rednan dengan senyum lebar.
Di sana Rednan melihat, Rama tengah bersama Sinta.
"Waalaikumsallam. Lo udah sampai, Red?"
Rednan mengangguk cepat. "Iya nih baru aja, itu ada Sinta ya?"
__ADS_1
Disana pun Rama mengangguk, lalu Rednan bisa melihat Rama menarik Sinta mendekat ke tubuhnya. Rama nampak mengalungkan satu tanganya di leher Sinta.
"Wah-wah. Mentang-mentang baru jadian, mesra-mesraan, Terosssss!!!" goda Rednan dengan menekan kata-katanya
"Apaansih, Mas. Mentang-mentang udah pulang, Jangan lupa ke rumah Papa gue. Tanyain kabarnya," sahut Sinta dengan kesal
Rednan mengangguk, dengan mengisyaratkan jarinya berbentuk 0. "Oke, lanjutin aja pacarannya, gue tutup."
"Iya lo matiin buruan, ganggu orang pacaran aja lo!" ujar Rama dengan ketus
Rednan terkekeh melihatnya. "Yaudah, Gue tutup"
tuttt
tutt
tutt
Panggilan, Vidiocall itu pun berakhir. Rednan lalu membersihkan diri, setelah semua bersih seperti biasa Rednan akan pergi ke kantor.
Rednan sudah siap dengan seragamnya, Rednan lalu menggunakan motornya melesat menuju kantor.
Kegiatan kantor berlangsung sampai malam. Rednan tak langsung pulang, berada di hutan selama 4 bulan tentu membuat Rednan merasa jenuh.
Rednan melajukan motornya menuju Club malam milik temannya, sebelum itu dirinya berganti baju terlebih dahulu. Rednan tidak munafik, dia memang brengsek! dan tidak akan menutupi kebrengsekannya, dia memang suka dengan dunia malam, sangat suka bermain wanita.
Dentuman musik keras menyambut kedatangan, Rednan. Rednan langsung mendekat ke bar tander
"Wow, lama gue gak lihat lo, Red" seorang gadis cantik penjaga bar itu langsung menyapa Rednan
"Haha, lo tahu sendiri kan apa pekerjaan gue,"
Gadis itu tampak celingukan seperti mencari seseorang. "Rama gak ikut, Red?"
"Aduh, Eliza! Rama itu anaknya Ustadz, dia gak mungkinlah ketempat kaya gini, udah mana pesenan gue!"
Gadis berambut merah, bernama Eliza itu langsung memberikan minuman pesanan Rednan. "Tapi, Rama udah punya cewek belum, Red?"
Rednan sedikit melirik, Eliza yang bertanya dengan berbisik. "Kalo gue jawab belum kenapa, kalo gue jawab udah kenapa?"
"Kalo belum kan gue bisa deketin, Hahaha" jawab Eliza dengan di iringi tawa keras. Eliza memanglah gadis yang suka dunia malam. Eliza bahkan bekerja di tempat itu. Namun, ingatlah jangan menilai seseorang dari penampilan !
"Ealah, El. Lo jangan berharap deh, Rama udah punya pacar!" ujar Rednan setelah meneguk minumannya.
Eliza tersenyum kecut mendengarnya
"Baiklah biarpun gue brengsek, gue gak akan merebut kebahagiaan seseorang!"
TBC🍻
Kalau mau lanjut terus.
Jangan lupa tekan tombol. Like, Vote, Rat bintang 5, dan Kritik sarannya di komentar, jangan komentar pedas hehe.
Follow ig author:
__ADS_1
@yesitree_