RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 65


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


.


****


CITT


Rama mendarat mulus di parkiran rumahnya, jam sudah menunjukan pukul untuk pekerjaannya usai. Karna, Sinta meminta untuk tidak di jemput, Rama menjadi lebih cepat sampai di rumah.


Rama lalu berjalan menuju pintu utama rumahnya. Namun, langkahnya terhenti karna ada sebuah botol dengan kertas di dalamnya.


Rama mengernyitkan dahinya, menatap botol yang berada di depan rumahnya.


“Bun....!! Bunda...!!” Rama berteriak dari luar rumah, namun ternyata Aletha tidak berada dirumah.


Tak lama pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah Rama, menghampiri Rama.


“Nyonya sedang keluar, Tuan!”


“Ini botol apa ya, Bi?” Rama lalu mengambil botol mencurigakan tersebut.


Pembantu rumah tangga itu menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu, Tuan!”


“Tadi gak ada orang kesini? apa ini orang iseng ya, Bi?” Rama masih bingung dan bertanya-tanya. Pembantu rumah tangga itu pun sama bingungnya.


“Saya gak tahu, Tuan. Saya enggak dengar apa-apa, mendingan Tuan muda buka saja isinya,” ucapnya memberi usulan kepada Rama. “Saya permisi, Tuan. Tadi saya lagi masak!”


“Oh iya, Bi!” Setelah pembantu rumah tangga itu pergi, Rama pun mengeluarkan kertas yang berada di dalam botol itu.


Saat dibuka, ada selembar kertas dengan tulisan bertinta merah darah, yang bertulis.


“Temui aku di Danau XXX, jika kau tak datang maka lihatlah, besok keluargamu akan terkapar tak bernyawa!”


Rama melebarkan matanya, membaca surat yang lebih tepatnya ancaman! Ancaman yang terlihat berbahaya.


Namun, Rama tak percaya begitu saja! Pasti hanyalah orang iseng yang ingin mengerjai, pikir Rama saat itu.


Rama menggelengkan kepalanya, lalu masuk kerumahnya.


Dilain tempat, di balik layar komputer. Seorang pria dengan pakaiaan serba hitam, dan menggunakan tudung hitam sudah mengamati gerak-gerik Rama dari CCTV yang dirinya retas.


Senyum sinis terukir dibibirnya. Pria misterius itu lalu menghubungi Rama.


Lama menunggu, namum Rama berkali-kali menolak panggilan itu, namun pria misterius itu pun tidak menyerah, pria itu tetap terus-terusan menghubungi Rama, sampai Rama pun akhirnya jengah dan mengangkat panggilan itu.


“HALLO?! LO SIAPA SIH?” Terdengar bentakan keras dari ujung telpon.


Pria misterius itu hanya tersenyum sinis mendengarnya. “Kau tidak akan datang ke Danau?” pria misterius itu mulai berbicara dengan suara seraknya.


“Siapa kau?!” Rama pun langsung mengintimidasi pria misterius itu.

__ADS_1


“Datanglah ke Danau, maka kau akan tahu siapa aku. Kau akan tahu segalanya, kau akan tahu kenapa para mafia Sisilia mengejarmu!”


Rama yang berada di ujung telpon hanya diam, mendengarkan penuturan pria misterius itu.


“Aku memberimu waktu 2 jam, ingatlah! Aku tidak main-main dengan ancamanku. Jangan sampai salah pilih, Rama.... Nyawa keluargamu ada di tanganmu,” pria misterius itu kembali berucap karna tak ada sahutan dari Rama.


TUT


TUT


TUT


Panggilan terputus sepihak dari pihak Rama. Pria misterius hanya tersenyum sinis, pria itu lalu menggunakan masker hitamnya. Bersama dengan ajudan-ajudannya, pria misterius itu mengendarai mobil serba hitamnya.


Mobil itu pun melaju kencang, membelah jalanan Ibu kota yang tak terlalu padat sore itu. Mobil itu lalu membawa kesebuah Danau, yang sore itu sepi.


Pria misterius itu lalu keluar dan bersandar di mobil, dengan merokok.


“Bos...!” salah satu anak buahnya memanggilnya.


“Hmmm...?”


“Aku hanya ingin memberi tahu, jika penjualan ganja kita di kota ini menaik dengan melesat,” ucapnya dengan badan sedikit membungkuk.


Pria misterius itu lalu berdehem sebelum menjawab. “Hmm... perluas lagi, aku ingin sedikit lama di Kota ini.”


“Baik, Bos!”


“Bagaimana gadis yang kuculik kemarin?" tanya pria misterius itu kepada anak buahnya.


“Dia berada di mansion, Bos.”


Pria misterius itu menganggukan kepalanya. “Pindah makam kakeknya, jika semua sudah selesai aku ingin pergi ke Belanda.”


“Baik, Bos!”


1 Jam


1,5 jam


2 jam


Dan, Rama memang menganggap ancaman pria misterius itu mainan. Pria misterius itu lalu masuk ke mobilnya, sembari tersenyum sinis.


“Baiklah ini pilihanmu, Rama!”


****


Saat ini, Rama dan Sinta tengah makan malam bersama di Caffe. Rama yang sore tadi sebenarnya sudah terpengaruhi, dan ingin ke Danau dia urungkan karna ajakan jalan dari Sinta.


“Kamu kenapa sih dari tadi bengong mulu?” suara Sinta yang terdengar ketus itu membuyarkan lamun, Rama.


Rama mengerjapkan matanya, lalu menatap Sinta yang ada di depannya. “Enggak apa-apa kok, aku gak bengong!”


Sinta pun hanya mencibirkan bibirnya, lalu kembali menikmati makanannya.


“Aku kesel sama, Papa!” ucap Sinta dengan kesal, sembari menekan-nekan garpu dan pisaunya ke daging panggang yang dirinya pesan.


Rama mengadahkan kepala menatap sang kekasih. “Terus aku harus gimana?” tanya Rama dengan polosnya.


Sinta berdecak kesal, mendengar pertanyaan Rama. “Ck. Ayo kita kabur, Rama!! Aku udah gak kuat! Aku udah pusing, aku udah males ketemu, Papa!” gerutu Sinta dengan berapi-api. Rama menghela napas mendengar gerutu Sinta.

__ADS_1


“Kamu berpikir kalau kita kabur, itu semua akan menyelesaikan masalah? kamu pikir kalau aku bawa kamu kabur, Papa kamu akan merestui kita? Yang ada aku udah dihukum mati,” ucap Rama panjang lebar sembari memotong-motong daging panggang milik Sinta. Sinta hanya menyimak ucapan Rama yang memang benar.


“Arghhh!! Tapi aku kesel, Rama! Kak Satria aja udah mulai mogok makan, dia mau lakuin aksi itu supaya gak jadi di jodoh—”


UHUK.... UHUK... UHUK


Mendengar ucapan Sinta, tiba-tiba saja Rama terbatuk-batuk. Sinta yang khawatir langsung memberikan Rama minumannya.


“Pelan-pelan dong!”


Rama lalu menghela napas sebelum bersuara. “Satria mogok makan? jangan percaya! Itu anak gak bakalan bisa mogok makan, di kamarnya pasti udah ada makanan banyak,” ucap Rama yang merasa tak percaya dengan ucapan Sinta.


“Ck. Bodoamatlah! Mau beneran apa enggak, yang penting Kak Satria udah punya rencana 1, sekarang ayo kita mikir biar perjodohan aku batal!”


Rama dan Sinta pun terdiam dan berpikir, sembari memotong-motong daging, Rama pun ikut berpikir dengan rencana-rencana gila.


“Kamu hamilin aku aja, Ram!”


BYUR....


Rama yang saat itu sedang minum, langsung menyemburkan minumannya mendengar ucapan Sinta. Rama langsung melotot menatap Sinta.


“Apa kamu gila? Yang ada gak cuma di tembak mati aku, Sin. Bisa-bisa aku dibakar sama, Bunda!” sahut Rama dengan kesal kepada kekasihnya itu. Sedangkan, Sinta hanya memanyunkan bibirnya.


“Terus gimana? aku gak mau sama, Kak Satria!”


“Kamu pikir aku mau? aku juga gak mau, Sin! Tapi jangan semua hal di halalin gini dong, disaat ini kita itu harus berpikir jernih!!” ucap Rama dengan tegas, dan terdengar mengomeli Sinta. Dan rupanya, Sinta merasa tak terima karna disalahkan.


“Oh jadi menurut kamu, pikiran aku gak jernih? Hah!” Sinta pun langsung mengaktifkan mode ngambeknya.


Rama yang melihat kekasihnya salah paham itu, hanya bisa menghembuskan napasnya kasar.


“Yang bilang kamu gak berpikiran jernih itu siapa, Sinta? jangan bertingkah seperti anak-anak!!” ucap Rama dengan nada yang sedikit tinggi, Hal itu justru membuat Sinta pun semakin kesal.


”Oh... Menurut kamu, aku anak-anak? Iya? aku tahu, umur kamu emang lebih tua dari aku! Tapi asal kamu tahu! Kamu cowok paling gak peka yang pernah aku temuin!” Setelah berucap demikian, Sinta lalu bangkit dari kursinya, dan pergi meninggalkan Rama.


Sedangkan, Rama yang melihat lalu mengusap wajahnya kasar. Rama pun bangkit juga dan mengejar Sinta, sampai depan Caffe.


“Aku antar kamu!” Rama mencoba menarik tangan Sinta, namun Sinta menepis kasar tangan Rama.


“Gak perlu! aku udah gede, aku bisa pulang sendiri!” sahut Sinta ketus sembari celingak-celinguk mencari taxi.


“Ck. Mau kamu apasih, Sin? Kalau kamu bilang kamu bukan anak-anak, gak begini caranya! Ini sama aja kamu egois, dan mementingkan diri kamu sendiri!”


Sinta yang mendengar ucapan Rama, langsung mengahadap Rama.


“Biarin dari pada kamu gak peka!!”


“Oke, aku emang gak peka! Cewek emang ribet!” Setelah mengucapkan hal itu, Rama lalu pergi menuju parkiran dan melaju dengan motornya.


“Arghhh sial!!!”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2