RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 18


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


Seperti biasa setiap malam Sinta akan duduk di depan api unggun bersama, Meyga. Tak hanya Sinta beberapa abdi negara pun tampak akrab dengannya


Pandangan, Sinta jatuh kepada pria yang melangkah gontai mendekatinya. Dengan membawa boneka beruang kecil yang tampak imut


Tiba-tiba, Rama menyodorkan boneka itu. Sinta mengernyitkan dahinya menatap, Rama. Karna tak ada respon dari Sinta membuat Rama berdecak kesal


"Ambil!"


"Ha--Apa?"


Rama hanya bisa menghembuskan napas kasar, Rama pun duduk di sebelah Sinta. Di raihnya tangan Sinta lalu di taruhnya boneka itu di telapak Sinta


"Maksudnya apaan sih?" Sinta masih bingung dengan perilaku Rama


"Buat lo"


Sinta semakin mengkerutkan keningnya. "Wait, bukannya ini boneka yang seharusnya lo kasih, Nana?"


Rama hanya diam membuat Sinta semakin curiga. "Oh gue tahu! Enggak gue gak mau, lo cuma mau jadiin gue pelampiasan"


Rama berdecek mendengar Sinta menyeloteh, "Ini beda boneka, gue beli dua. Yang satu udah di ambil, Nana ini buat lo"


Sinta yang mendengar langsung melebarkan matanya. "Bu--Buat gue?"


"Iya" jawab Rama malas


"What? Lo kasih gue boneka? Samaan lagi sama, Nana. Enggak gue gak mau!" Sinta langsung mengembalikan boneka itu ke Rama


"Kok lo nolak pemberian gue sih?"


Sinta langsung memasang wajah kesal. "Apa motivasi lo ngasih gue boneka? Dan kenapa sama kaya Nana! Gue gak mau!!"


Rama menghembuskan napas kasar, "Gue juga gak tahu kenapa gue beliin lo boneka" gerutu Rama dalam hati


"Yaudah kalo lo gak mau!" Rama pun mengambil alih bonekanya


Sinta hanya memasang wajah kesal, Rama pun bingung kenapa dirinya menjadi perhatian dengan Sinta? Kenapa juga harus beliin boneka?


"Kenapa lo tiba-tiba beliin gue boneka?" lamun Rama buyar karna pertanyaan Sinta


"Gue sendiri gak tahu," jawaban Rama membuat Sinta mengernyitkan dahinya


"Dasar Tentara aneh!"


"Maaf menganggu, Ndan. Letnan Rama di panggil, Komandan Satria di ruang rapat" celetuk salah satu Tentara menghampiri Rama dan Sinta


"Baik, Terimakasih. Saya akan segera kesana"


Sebelum, Rama pergi Rama menatap Sinta yang masih diam. "Lo simpen aja deh," Rama kembali menyodorkan boneka beruangnya


"Ishh, gue gak suka boneka!"


"Udah lo simpen aja, gak usah di peluk!"


"Siapa juga yang mau meluk-meluk!" ketus Sinta

__ADS_1


Rama hanya terkekeh melihatnya, mau tak mau Sinta mengambil boneka beruang itu. Rama pun berjalan menuju ruang rapat


Ruangan yang sangat gelap, yang sudah ada beberapa perwira. "Maaf, Ndan saya terlambat"


"Tidak apa, Rama silahkan duduk" sahut Satria yang wajahnya tertutup kegelapan


"Jadi kita akan membicarakan hal sama, tentang Cosa Nostra" ujar Satria dengan menopang tangan di dagu


"Jumat besok, Tim saya bisa di mulai, Ndan"


"Baiklah, Darwin. Rama akan membantu kamu" Satria pun menatap, Rama. Rama hanya mengangguk patuh


"Tapi, Ndan. Kita pun juga harus menyiapkan jebakan, mengingat Cosa Nostra selalu menyerang secara tiba-tiba" Satria terdiam mendengar penuturan Rama.


"Biar Tim saya yang mengurus hal itu," sahut Darwin dengan wajah datar


"Penyerangan kemarin adalah bukti jika Cosa Nostra Sisilia memang tidak bisa di ragukan" gumam Rama lirih


"Kita tangkap, Tara. Kita paksa dia agar menjawab dimana keberadaan, Marco"


"Tapi, Ndan. Tara itu juga orang yang cerdas, pasti dia tahu sekarang menjadi buronan kita. Maksud saya, saya tidak yakin Tara akan ikut memburu besok malam" sahut Rama


Satria terdiam tampak berpikir, begitupula yang lain. Sampai, Darwin mengangkat suara, "Saya rasa hal itu bisa terjadi, sudah terlihat bagaimana ambisi Cosa Nostra ingin menghabisi, Rama. Saya yakin mereka akan kembali"


"Baiklah siapkan semuanya untuk besok malam"


"Siap, Ndan!"


****


Malam jumat


Malam dimana, Rama akan bertugas. Tim nya akan berangkat pukul 10 malam, saat ini masih pukul 9:40 malam


"He Tentara songong!"


Rama mendongakan kepala mendapati, Sinta yang berdiri di depannya dengan membawa boneka


"hmm?" Rama hanya menyahuti dengan deheman


"Ini gue balikin," Sinta kembali menyodorkan boneka beruang pemberian Rama


"Simpen aja"


Sinta berdecak kesal, di tambah Rama hanya fokus dengan sepatunya. "Lo mau kemana sih?"


"Kepo!"


Sinta kembali berdecak kesal, "Lo mau tugas?"


"hmm"


"Malem-malem gini?"


"Iya bawel" jawab Rama ketus


Rama pun bangkit dari duduknya, berdiri tepat di depan Sinta. Hal itu membuat Sinta sangat gugup


"Ke--Kenapa?"


Rama tersenyum tipis melihat Sinta yang tampak gugup, Rama pun mencubit hidung Sinta. "Gitu aja gugup"

__ADS_1


"Ishhh, Nyebelin banget sih lo!!" Sinta menggeram sembari mengelus hidung yang di cubit Rama


Rama hanya tertawa, lalu mengacak-ngacak rambut Sinta. Membuat gadis itu kembali kesal. "Ishhh, Tentara songong! Rambut gue jadi berantakan"


"Gue pergi dulu, Assalamualaikum" tidak memperdulikan omelan Sinta, Rama langsung pamitan membuat Sinta mematung


"Rama mau kemana?"


Sinta hanya memandang punggung, Rama yang berjalan di arah kegelapan. Sinta kembali menerka-menerka


Pandangannya jatuh kepada pria jangkung yang hendak masuk ke kamar, Sinta langsung mengambil langkah kaki seribu.


"Mas Rednan!!"


Rednan terpenjat kaget karna teriakan, Sinta. "Eitdah bocah, kalo mau nyapa orang itu pake salam, malah teriak-teriak"


"Mas Rednan, tahu Rama mau kemana?" tidak memperdulikan omelan Rednan, Sinta justru bertanya


Rednan hanya diam tidak menjawab, membuat Sinta kesal. "Di tanya malah diem!"


"Rama itu lagi tugas!"


"Tugas apa?" tanya Sinta kembali


Rednan hanya memandang datar, Sinta. "Ini tugas Tentara, rahasia negara. Lo gak boleh tahu!"


"Ishh, kan gue juga anak Tentara. Boleh dong, kasih tahu pliss" rengek Sinta


Rednan tidak memperdulikan rengekan, Sinta dan langsung masuk ke kamarnya. Kamar yang mirip asrama, ada 4 kasur salah satu kasur adalah milik Rednan


Sinta mengikuti Rednan masuk, membuat Rednan berdecak kesal. "Lo ngapain ngikutin gue? Kaya anak ayam aja lo!"


Sinta tidak memperdulikan ledekan, Rednan. "Kasih tahu apa tugasnya Rama malam ini!!"


Rednan hanya memandang datar, Sinta. "Tugas ini gak boleh di ceritain ke siapa pun, Sinta. Sekalipun keluarganya, Rama. Lo juga tumben perhatian sama, Rama?"


Sinta yang mendengar langsung mendelikan matanya. "Idih, Siapa juga yang perhatian sama, Rama" elak Sinta dengan membuang muka


"Terus ngapain juga lo tanya-tanya?"


Sinta hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ragu untuk mengatakan firasatnya. "Gu--gue"


"Apa?" Rednan mengangkat satu alisnya, menunggu jawaban Sinta


"Gue gak tahu, gue cuma punya firasat buruk aja sama, Rama. Gue ngerasa bakal ada hal buruk terjadi sama, Rama"


Rednan yang mendengar hanya menghembuskan napas berat, "Semua orang yang memiliki keluarga, teman, atau pacar seorang Tentara pasti seperti itu. Itu sudah menjadi tugas mereka, lo berdoa aja semoga Rama baik-baik aja"


"Ta--Tapi"


"Udah, Sinta lo balik ke kamar lo, ini sudah malam!" tegas Rednan


Sinta hanya bisa menurut, Sinta pun kembali ke kamarnya. Meyga sudah tertidur pulas di ranjang dekat, Sinta. Sinta pun merebahkan diri di ranjang miliknya


"Kenapa gue merasa, Rama akan dalam bahaya? Sebenarnya perasaan apa ini!?"


Jderrr


Hujan tiba-tiba saja turun, di tambah petir yang menyambar. Sinta langsung memeluk boneka beruang pemberian, Rama. Menarik selimut hingga menutupi kepala


Di luar hujan semakin deras, di tambah petir dan angin. Suhu menjadi sangat dingin

__ADS_1


"Rama lo di mana?"


TBC🍻


__ADS_2