
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan action dan romantis Rama & Sinta
****
"Rama ta--tangan lo terluka!!"
Sinta kini kian panik karna lengan kiri Rama terkena tembakan, tembakan yang seharunya mengarah Sinta, malah di gantikan oleh Rama
"Gue gakpapa, kita harus cepet dari hutan. Ada yang memperhatikan kita"
Sinta kini bertambah panik karna darah yang terus mengucur, dengan segera Sinta menyobek kemejanya. Lalu, di talikan tepat di luka Rama
"Biar darahnya gak keluar terus" Rama mengangguk, baru beberapa melangkah
Dor
Dor
Dor
Rama, langsung mendekap Sinta agar menunduk. Mereka berjalan merangkak, dengan satu tangan Rama mengeluarkan pistolnya di sakunya, Rama kini kian waspada menatap sekeliling
Dor
Tembakan, Rama mengenai seseorang yang bersembunyi di balik pohon, "Keluar siapa kalian!!!" teriak Rama lantang
Sinta hanya diam, jujur saat ini jantungnya berpacu karna ketakutan. "Dimana mereka"
Sinta dapat mendengar Rama bergumam. "Ayo cepat, Sinta!"
Rama dan Sinta berjalan merangkak, dengan Sinta di dekapan Rama. Rama kini harus melindungi dirinya dan Sinta
Dor
Terdengar tembakan kembali, dan hampir saja mengenai kepala Sinta. Namun, dengan segara Rama menyembunyikan kepala Sinta di dekapannya
"Brengsek! Keluar kalian, jika ingin bertarung jangan menjadi pecundang!!!" Rahang, Rama mengeras, Tatapannya tajam, keringat pun bercucuran
"Gue bakal amanin jalan buat lo, Cepet lo pergi dari sini cari pertolongan" Sinta melotot mendengar perintah, Rama
"Lo gila? Gue gak bisa ninggalin lo disini, mereka berbahaya bahkan lo sendiri gak melihat mereka!"
"Karna mereka berbahaya dan tidak terlihat itu akan berbahaya buat lo! Kayanya mereka ngincar lo, cepet gue amanin jalan buat lo. Cepat Sinta!!!!" tegas Rama
Sinta menggeleng kuat, "Enggak kita harus pergi sama-sama"
"Kalo gue pergi bareng lo, kita bisa mati bersama, Sinta. Gue harus lindungin diri gue dan lo!"
Sinta, tertegun menatap nanar Rama. Rama mengangguk meyakinkan, Sinta. "Lo harus janji sama gue, kalo lo bakal selamat?"
Rama, terdiam lalu mengangguk. "Gue bakal balik, sekarang yang terpenting lo sampe ke barak"
Sinta, masih enggan bergerak
Dor
"Cepat, Sinta!!!"
Sinta, pun merangkak untuk keluar dari hutan. Dengan lengan yang masih terluka, Rama berusaha menggagalkan tembakan-tembakan
Sinta, terus berdoa bahkan Sinta tidak berani melirik kebelakang
Dor
__ADS_1
Dor
Dor
Sinta, terus merangkak hingga dirinya tidak mendengar suara tembakan. Sinta berlari kencang menuju barak, tidak memperdulikan bagaimana sulitnya jalanan, Sinta terus berlari
Napas, Sinta memburu. Meyga yang melihat Sinta baru tiba buru-buru mendekat, "Astaga Sinta. Lo dari mana aja?"
Sinta tidak menjawab, Sinta berlari ke ruangan Satria. Saat itu Satria dan Rednan tengah berbincang terkejut dengan keadaan Sinta
"Sinta, kamu kenapa?" Satria langsung panik dan mendekat ke Sinta
Sinta, masih mengatur napasnya. Lalu, berbicara. "Ra--Rama, Rama di serang!!!"
"Apa!!!"
"Dimana, Rama sekarang sin?" tanya Rednan panik
"Di--Di hutan menuju tebing!"
"Gue tahu tempatnya, Cepet sat kita harus selamatkan Satria" Rednan langsung mengambil senjatanya
"Kalian harus cepat, lengan Rama terluka" Rednan bertambah panik mendengar ujaran Sinta
"Dari, J1 Komandan Satria. Siapkan pasukan 1, keadaan Darurat!" Satria langsung menghubungi lewat benda seperti handset kepada anak buahnya
Tak lama pasukan 1 sudah siap, pasukan yang di tugaskan 24 jam. Pasukan yang di pimpin Satria langsung bergerak. Sinta, hendak ikut. Namun, di cegah oleh Satria
Satria dan pasukannya, berlari kencang menuju TKP. Terdengar baku tembak
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Rednan langsung menolong Rama, "Rama lo gakpapa?"
Rama, hanya mengangguk menahan nyeri di kedua lengannya. "Gue gakpapa, Sinta gakpapa?"
"Sinta, gakpapa. Yang terpenting saat ini lo, ayo kita obati luka lo" Rednan langsung membantu Rama berdiri dan meninggalkan area pertempuran
****
Malam kini berganti, Matahari mulai menyinari. Suara kicauaan burung terdengar berisik, berhasil membangunkan manusia-manusia yang tengah terlelap
Perlahan mata sayu itu terbuka, menatap sekeliling. Mendapati seorang gadis yang tengah menata kasur. Gadis itu mengumpulkan kesadarannya, ingatannya kembali dan
"Rama!!!!"
Meyga terpenjat kaget mendengar teriakan, Sinta. "Sinta ya ampun bisa gak sih gak usah teriak-teriak?"
"Rama, pulangkan mey?" Tidak memperdulikan omelan Meyga, Sinta justru bertanya
"Kalo yang gue denger, Pak Rama pulang dengan keadaan penuh luka"
"Sial!" Sinta berlati tanpa salam, dan hal itu membuat Meyga mendengus kesal
Sinta, langsung keruang medis. Pandangannya terpaku kepada pria yang sedang dudukan di ranjang, pria tampan yang saat ini sedang telanjang dada, memperlihatkan dada bidang dan perut AbSnya. Sinta, sempat terpana lalu menggeleng pelan
__ADS_1
Sinta, mendekati tempat di rawatnya Rama. Di ruangan itu ada perawat Jojo dan Nana
"Selamat pagi, Mbak Sinta"
"Selamat pagi, Mas Jojo" balas Sinta dengan senyuman
Sinta, menatap tajam Nana yang nampak tengah mempersiapkan obat-obatan. "Mas Jojo, Bagaimana keadaan Letnan Rama?"
Jojo menghentikan aktivitasnya, "Tadi malam langsung di operasi, Bu drya dan saya"
"Makasih ya, Mas. Ilmu yang saya ajarkan ternyata berguna!" Sinta sedikit melirik sinis Nana
"Wah, Perawat Nana. Sepertinya semangat sekali, pagi-pagi sudah ada disini" Nana menatap jengah Sinta
"Awas gue mau lewat!"
Sinta langsung menghadang, Nana. "Mau kemana?"
"Gue harus gantiin perban, dan kasih obat buat, Mas Rama!"
"Biar gue aja!" Sinta langsung merayah obat-obatan yang di bawa Nana
"Sinta, ap--"
"Udah, Nana. Ngalah aja, lagian itukan bukan pekerjaan mu" Nana hanya memandang jengah Jojo
Sedangkan, Sinta langsung mendekati, Rama yang tengah memainkan ponselnya. "Orang sakit itu tidur bukan main hp mulu!"
Rama, langsung menghadap ke sumber suara, "Gue udah tidur dari semalem"
Sinta tidak menjawab dan langsung mencuci tangannya. "Ternyata lo, cowok penepat janji ya"
Rama melirik, Sinta lalu tersenyum. "Kalo cowok udah ngomong janji, mereka harus menepati. Kecuali memang tidak mungkin bisa di tepati"
Sinta, hanya diam lalu mendekat ke Rama, "Gimana keadaan lo?" Sinta mengadahkan kepalanya menatap Rama
"Gue fine fine aja!"
"Oh, gue kira lo nangis karna denger suara tembakan!" ledek Rama dengan tawa
Sinta langsung mendelikan matanya. "Siapa bilang gue takut? Gue gak takut sama sekali, yang ada lo udah tahu nyawa ada di ujung tanduk masih aja mau ngelawan"
"Buktinya sekarang gue masih hidup?"
Sinta hanya bisa menatap jengah Rama. "Heh, Tentara songong! Kalo gue gak lari-larian kesini buat laporin itu gue gak yakin lo pulang dengan selamat"
"Oh, jadi lo sampe lari-larian demi gue? Lagian mereka hanya sniper pecundang, gue bisa atasin sendiri. Tapi lo sampe lari-larian, lo takut kehilangan gue?" goda Rama kembali
Sinta, yang kesal mencubit paha Rama. Membuat pria itu meringis, "Gak usah kepedean gue cuma gak mau ada yang mati gara-gara gue!"
Rama masih memegangi pahanya yang di cubit Sinta. "Lo itu jadi cewek gak ada halus-halusnya apa? Gue lagi sakit malah lo cubit!"
"Lo itu nyebelin! Gue cuma gak mau ada yang meninggal hanya demi ngelindungin gue" kini suara Sinta lirih dan bergetar
"Gue gak akan mati tanpa seizin Allah. Meskipun tembakan sekalipun, jika Allah belum berkehendak gue akan tetap hidup"
Sinta hanya menunduk, "Gue cuma takut orang-orang yang berusaha melindungi gue jadi korban"
"Kenapa lo harus takut? Lo lupa gue siapa, gue Tentara. Tugas gue melindungi Indonesia, nyawa sudah menjadi konsekuensinya"
Sinta, hanya bisa menatap sebal Rama
"Haduh, Rama lo tuh tahu gak sih kalo gue takut kehilangan lo!!!"
"Bahkan gue sendiri relain nyawa gue buat ngelindungin lo, Sinta!"
__ADS_1
TBC🍻