
Budayakan Like Sebelum Baca
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta****.
****
"Kamu sudah siap, Clara?" tanya Bima yang saat ini memperhatikan istrinya, dari balik kaca.
Clara berdiri, dari kursi di depan meja rias. Lalu Clara berbalik, menatap suaminya yang malam ini sangat tampan.
"Aku sudah siap," Clara tersenyum manis menjawabnya. Clara pun tampak cantik malam ini, Clara menggunakan dress selutut tanpa lengan, berwarna merah muda. Begitupula, Bima. Menggunakan kemeja yang tampak rapi.
"Baiklah ayo kita berangkat!" Bima lalu menggandeng tangan Clara. Tujuan mereka adalah restaurant, karna malam ini Bima mengajak Clara dinner romantis.
Sepanjang perjalanan, Clara tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur. Sikap Bima sudah berangsur membaik, membuat Clara semakin percaya diri untuk mendapatkan hatinya.
25 menit mereka sampai, di Restaurant mewah. Bima membukakan pintu mobil untuk, Clara. Clara tersenyum melihatnya.
"Bima ini hanya sekedar makan malam, kenapa sampai ke restaurant ini. Aku rasa ini terlalu berlebihan," Clara berbicara pelan, takut-takut menyinggung Bima.
Bima justru tersenyum, mendengar ujaran Clara. "Tidak apa-apa, Malam ini spesial untuk kita" Bima meraih tangan Clara. Mereka berjalan beringiran dengan mesra.
Pelayan yang bekerja di restaurant itu langsung berbaris, menyambut kedatangan penerus Fernandez Group. Manager Restaurant itu pun langsung ikut andil menyambut, Bima dan Clara.
"Selamat datang di Restaurant kami. Tuan dan Nyonya Fernandez," manager pria itu membungkuk hormat kepada, Bima.
"Tidak perlu seperti ini, antarkan kami ke tempat pesananku" ujar Bima dengan datar.
Manager itu langsung membawa, Bima dan Clara ke lantai 3. Lantai 3 memiliki tema outdoor dan bisa langsung menikmati keindahan kota di malam hari.
Clara menganga tak percaya. Ini sungguh romantis! Dimana ada meja bundar, dan dua kursi. Dan di meja sudah di penuhi makanan lezat, di samping makanan itu pun terdapat lilin.
"Ayo, Clara!" Bima menarik Clara agar mendekat ke meja yang sudah di sediakan.
Bima menarikan kursi untuk, Clara. Clara lalu duduk di kursi tersebut. Bima pun ikut duduk di kursi miliknya.
Clara tampak senang, matanya terus memandangi keindahan kota di malam hari. Lampu-lampu kota tampak indah, bila berada di ketinggian.
"Kamu suka?" tanya Bima yang sedari tadi memperhatikan, Clara.
Clara langsung menoleh ke Bima. "Suka banget, Bim. Terimakasih ya,"
Bima hanya tersenyum, lalu tanpa di duga Bima meraih tangan Clara. Hal itu membuat Clara terkejut dan gugup.
"Aku bawa kamu kesini untuk menebus kesalahanku, Clara. Maafkan sikapku, padahal disini kamu adalah korban dari kebodohanku, dan malah aku selalu berlaku kasar terdahapmu,"
Clara tercekat mendengar penuturan, Bima. "Ini bukan hanya salahmu, ini salahku. Seharusnya aku tidak datang waktu itu,"
Bima yang menengar jawaban Clara langsung menggelengkan kepala. "Tidak, Clara. Kamu tidak salah! Seharusnya aku berterimakasih kepada mu, kalau saja kamu tidak menjemputku waktu itu, aku sudah tidak tahu bagaimana nasibku. Aku memanglah pria brengsek, sudah di tolong malah aku menodaimu," Bima berbicara dengan sangat-sangat menyesal. Hal itu membuat Clara merasa bersalah.
"Su--Sudah, Ini semua sudah terjadi,"
__ADS_1
Bima kembali menatap sendu, Clara. "Clara mau kah kamu memulai dari awal?"
"M--Maksudnya?"
Bima menghela napas sebelum menjawab. "Aku ingin kita memulai dari awal hubungan ini, aku tahu cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Ya aku tahu pasti kamu akan sulit mencintai pria brengsek sepertiku,"
Clara tersenyum kecut mendengar ucapan, Bima. "Aku sudah mencintaimu selama 3 tahun, Bima! Dan kamu tidak menyadari itu?". batin Clara.
"Kamu mau, Clara?"
lamun Clara buyar mendengar pertanyaan, Bima. Clara menganggukan kepalanya pelan. "I--Iya Bima. Mari kita coba,"
Bima tersenyum, tanpa di duga Bima mengecup punggung tangan, Clara. Lalu mereka menikmati makan malam tersebut.
Saat ini, Clara di liputi kedua keadaan. Di satu sisi dia merasa senang sekarang, Bima mencoba mendekatinya. Namun, Clara juga merasa bersalah, telah memisahkan Bima dan Sahabatnya.
"Maafkan aku, Sinta"
****
Mobil yang di kendarai, Rama melesat membelah jalanan kota Jayapura. Malam ini, Rama, Sinta, dan Rednan akan ke alun-alun Jayapura.
Bukan tanpa alasan mereka pergi ke alun-alun kota. Mereka datang untuk melihat pertunjukan-pertunjukan meriah, memperingati Hari ulang tahun, Kota Jayapura.
Setelah lama perjalanan, mereka sampai di alun-alun kota. Setelah mobil di parkirkan, Rama dan yang lainnya turun dari mobil.
"Ramai banget sih," gumam Sinta yang menatap sekeliling. Memang malam ini sangat ramai, beberapa orang berlalu lalang, ada yang berjualan, dan yang paling di nantikan ada band yang siap menghibur malam ini.
"Ekhm, lo berdua kalau mesra-mesraan lihat tempat dong," sindir Rednan yang berada di belakang, Sinta.
Rednan memang sudah kembali, dan langsung di ajak untuk pergi ke alun-alun kota. Namun, bukannya melihat pertunjukan fantastis malah di pertunjukan kemesraan sahabatnya.
Rama terkekeh mendengar sindiran, Rednan. "Iri aja lo, Red. Makanya cepetan cari pacar,"
Rednan berdecak kesal mendengar ledekan, Rama. Mereka pun berjalan, ke penjual manisan. Sinta berbinar menatap banyaknya permen kapas bergelantungan.
"Bu, Beli 2 ya"
Penjual itu langsung memberikan kedua manisan kepada, Rama. Rama langsung membayarnya.
"Ini" Rama pun langsung menyodorkan 1 permen kapas itu kepada, Sinta.
"Uhh, Makasih" Sinta menerimanya, dan langsung memakannya.
"Ekhm, Ini di belakang ada orang. Masa cuma beli dua sih," Rednan kembali menyindir, sembari menatap sebal Rama dan Sinta.
Rama yang mendengar sindiran, Rednan berdecak kesal. "Ck. Seharusnya kita tadi gak usah ngajak, Rednan. Gangguin aja nih,"
Sinta terkekeh mendengar gerutu, Rama. "Udah gakpapa, itu manisannya kamu kasih ke Mas Rednan. Ini untuk kita," sahut Sinta santai
"Nih baut lo!" Rama pun memberikan permen kapas tersebut untuk, Rednan.
__ADS_1
Rednan pun menerimnya dengan senang hati. "Nah gitu dong,"
"Udah yuk kesana!" ajak Sinta, sembari menunjuk di panggung besar yang berada di lapangan alun-alun tersebut.
Mereka pun berjalan menuju lapangan. Tangan, Rama setia menggenggam tangan Sinta. Sedangkan, Rednan cuek saja, sembari menikmati permen kapasnya.
Rama lalu membawa, Sinta tepat di depan panggung. Badan, Rama yang tinggi senantiasa melindungi, Sinta dari tangan nakal para lelaki hidung belang.
Band malam ini langsung menyanyikan lagu-lagu daerah, Papua. Rama dan Sinta bernyanyi bersama, saat band itu membawakan lagu My Love
Sinta merasa senang dan aman. Rama berada di belakangnya, tangannya menggantung di leher Sinta. Mereka bahkan melupakan, Rednan yang sedang tebar pesona dengan turis-turis luar.
Waktu sudah menunjukan pukul 23:50. 10 detik lagi adalah Hari ulang tahun kota Jayapura. MC pembawa acara itu langsung menyuruh penonton, mengaktifkan lampu flash handphone. Sedangkan lampu panggung di matikan.
"KITA HITUNG BERSAMA-SAMA... 10....9....8....7....6....5......4....3.....2...1"
DOR
DOR
DOR
DOR
Selesai menghitung langsung di susul dengan letusan-letusan kembang api. Sinta menantap langit, petasan itu terbentuk indah.
Rama mencium pucuk kepala, Sinta. "I love you" bisiknya.
Sinta yang mendengar terkekeh di buatnya. "Apaan sih?"
Rama kembali mencium pucuk kepala, Sinta. Tanpa memperdulikan jomblo-jomblo di sekitarnya. Terutama, Rednan yang hanya di jadikan anak kos, karna dunia sudah di milik Rama dan Sinta.
"Buat yang malam ini bersama pacarnya. Saya doakan semoga langgeng, semoga selalu saling mencintai. Di malam yang romantis ini untuk kota kita Jayapura!!"
Dor
Dor
Dor
Suara-suara kembang api kembali bersahutan. Di susul suara terompet yang bersahut-sahutan.
Sinta mengadahkan kepalanya, menatap Rama dalam-dalam.
Cup
Tanpa di duga, Sinta mencium hidung Rama.
"I Love you too, Babe"
TBCđ»
__ADS_1