
Budayakan Like Sebelum Bacaš»
Ikuti terus adegan Action dan Romantis Rama & Sinta
****
Mobil yang lajukan Rama melesat membelah jalanan di malam hari. Rama melirik ke arah Sinta yang masih diam, menatap laur jendela
"Sin"
"Hmm"
"Lo marah sama gue?,"
"Dikit" jawab Sinta tanpa menoleh ke arah Rama
Rama menghela napas kasar, yang bisa di dengar Sinta. "Sebenarnya gue gak salah, lo harusnya Berterimakasih sama gue, kalo gue gak ada lo udah di makan sama bocah tengil tadi,"
Sinta mengehela napas kasar mendengar celoteh, Rama. "Gue gak minta lo untuk menyelamatkan gue, dan lagi gue gak suka lo ngatur-ngatur gue" balasnya pelan
"Oke, gue gak akan ngatur lo. Tapi..."
"Apa, Tapi apa?"
"Gue khawatir sama lo, gue khawatir lo di godain cowok lain," Sinta bungkam mendengar jawaban Rama yang tegas
"Kh--Khawatir?"
"Iya, gue khawatir. Lo tahu tempat itu gak baik buat cewek kaya lo!" ucapan Rama nyaris tak di dengar. Namun, Pendengaran Sinta sangat tajam, dia masih bisa mendengar ucapan Rama
"Kaya gue? Emang gue cewek kaya apa?" Sinta mengkerutkan keningnya menatap, Rama. Tidak ada jawaban membuat Sinta kembali menerka-nerka. "Lo mau bilang gue cewek gak bener? Kupu-kupu malam? Iya? Terserah lo mau bilang apa, yang pasti ucapan lo gak ak--"
"TEMPAT ITU GAK BAIK BUAT CEWEK SECANTIK LO, SEBAIK LO, DAN SEMANIS LO!!!" potong Rama tegas
Sinta membesarkan bola matanya, pipinya menjadi panas mendengar pengakuan Rama. Rama hanya bisa menghela napas
"Maaf," katanya lirih
Sinta mengernyitkan dahinya, lalu bertanya. "Maaf untuk apa?"
"Maaf, udah ngaku-ngaku menjadi pacar Deswina Sinta Winata," nada suara Rama terdengar pasrah, Rama hanya bisa mengerjapkan matanya
Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibir Sinta. "Lo minta maaf karna ngaku-ngaku jadi cowok gue?"
"Hmm" Rama hanya memutar bola mata malas
Sinta malah tertawa mendengarnya, "Astaga gue baru sadar kalo seorang Letnan Kolonel bisa halu,"
Rama berdecak kesal mendengar ejekan Sinta, "Siapa bilang gue halu?"
"Loh, lo itu emang halu. Karna gue gak akan jadi cewek lo, mungkin di mimpi lo. Wekkk" Sinta menjulurkan lidahnya meledek Rama, karna kesal mengacak rambut Sinta
"Kebiasaan" sungut Sinta kesal dengan bibir manyun, Rama hanya tersenyum tipis matanya kembali fokus ke jalanan
Sesaat mereka hening, sampai Rama menyadari jika mobilnya sedang di ikuti !
Di belakang ada 4 mobil yang mengikutinya, Rama mulai cemas karna malam ini bersama Sinta. Rama menambah kecepatan mobilnya
"Pakai sabuk pengamannya!" Sinta hanya menurut saja dengan perintah Rama
Rama memincingkan matanya menatap kaca spion, mobil itu masih mengikutinya. Bahkan mobilnya saat ini di kepung
"Sial,"
"Ada apa?" Sinta yang mendengar Rama mengumpat langsung menatapnya, "Ada masalah?"
"Lindungi kepala mu" bukannya menjawab Rama justru memerintah, Rama mengeluarkan pistolnya dari balik jaketnya
Dor
__ADS_1
Dor
Dor
Tembakan-tembakan Rama layangkan ke arah mobil yang berada di samping kananya, Sinta saat ini sadar jika sedang di kepung musuh. Rama semakin menambah kecepatan, di susul 4 mobil yang juga melayang tembakan
Dor
Dor
Dor
Tembakan-tembakan itu mengenai kaca spion mobil yang di tumpangi, Rama. Pria itu berdecak, lalu membuka sedikit jendela mobil
Dor
Dor
Tembakan Rama sukses membuat, sopir mobil itu terluka. Hal selanjutnya mobil itu kehilangan kendali
Sinta menatap sekeliling, senyum miring terukir di bibirnya. Lalu, Sinta mengingat setiap mobil Tentara terdapat senjata
Sinta membuka dashboard mobil, mengambil senjata api, yang langsung di isi peluru. Rama bahkan tidak sadar apa yang di lakukan Sinta
Dor
Dor
Rama mengkerutkan keningnya melihat salah satu mobil tertembak, Rama lalu menatap Sinta yang baru saja menembak. Hal itu membuat Rama terkejut
"Astaga, Sinta! Ini berbahaya" Rama berusaha merebut pistol yang di pegang Sinta. Namun, Sinta menolak tegas
"Tidak, Fokuslah menyetir. Arah jam 12 itu milikku, arah jam 9 milikmu. Oh ya buka atapnya!"
Dengan ragu, Rama membuka atap mobil tersebut. Sinta tersenyum miring lalu menatap tajam mobil-mobil yang berusaha mengejarnya
Dor
Dor
Dor
****
"Rama, di depan lo lawan arah!"
Rama menatap tajam Sinta. "Lo gila? Disana lalu lalang ramai, mana mungkin ini berbahaya"
"Justru itu, disana lebih ramai. Mereka tidak akan bisa menembak," Sinta lalu duduk memasang sabuk pengaman
"Bermain-mainlah, ini menyenangkan" ujarnya
Rama terkekeh mendengar ujaran, Sinta. "Baiklah, Nona cantik. Let's start's this game"
Brum
Rama melesat cepat, dengan kecepatan di atas rata-rata. Bukannya takut Sinta justru bersorak. Rama langsung membanting stir ke kanan, membuatnya melawan arus
Beberapa mobil dan motor langsung memencet klakson mereka. Namun, Rama tidak memperdulikannya, mobil yang tadi pun masih mengejarnya
"Mari kita buat keributan," gumam Rama dengan menyeringai, Rama menurunkan jendela mobilnya. Lalu
Dor
Dor
Dor
Suara tembakan itu membuat orang-orang disana ketakutan, beberapa langsung menelfon polisi.
__ADS_1
"Wow, you crazzy men!" ujar Sinta sembari tertawa
"Yes, gue memang gila"
Sinta tertawa lepas. Namun, tawanya langsung berhenti setelah merasa ada yang tidak nyaman dengan dirinya
"Ram, swalayan depan lo berhenti ya"
"Oke," jawab Rama cepat
Rama langsung menepikan mobil ke sebuah toko swalayan yang masih buka, Sinta ragu-ragu lalu berbicara, "Gue boleh minta tolong gak?"
Rama mengernyitkan dahinya, lalu mengangguk. "Kenapa?"
"Sini, gue bisikin"
Rama pun menurut, Sinta pun berbisik di telinga Rama. Rama yang mendengar perkataan Sinta langsung melotot, pipinya langsung merah
"What?!! enggak gue gak mau!" tolak Rama cepat
"Ih, lo kok gitu sih. Gue udah bantuin lo, lo cuma di suruh gitu aja gak mau. Please Ram sekali aja, gak nyaman banget nih,"
Rama merasa tak tega dengan rengekan, Sinta. Akhirnya Rama pun mengangguk, Rama lalu masuk ke toko swalayan tersebut
Rama langsung menuju dimana barang yang di inginkan, Sinta. Dengan wajah kesalnya Rama mulai mengambil beberapa, bisa di bayangkan seorang Letnan Kolonel harus membeli barang seperti ini? Untung saja Rama hanya memakai baju santai
Rama langsung memberikan barang tersebut kepada kasir, kasir malam itu adalah perempuan. Rama merasa risih karna kasir tersebut cekikikan
"Semua berapa, Mbak?" Rama bersuara dengan dingin
"40 ribu, Mas" Rama langsung menyodorkan uang 50 ribuan, "Masnya perhatian banget sama pacarnya, sampai mau suruh beliin kaya gini"
Rama berdecak langsung mengambil barang tersebut, tanpa menanggapi ledekan sang kasir. Rama langsung membuka pintu mobil, dan melempar pembalut pesanan Sinta ke depan mukanya
"Lain kali jangan suruh gue!"
Sinta terkekeh melihat wajah kesal, Rama. "Uhh, Makasih loh. Andai saja di swalayan itu ada CCTV, pasti muka lo udah terpapang"
Rama mengggeram mendengar ledekan Sinta. "Pokoknya besok-besok jangan minta bantuan gue!!"
Sinta hanya tertawa, kemudian Rama melajukan kembali mobilnya. Namun, Sinta masih gencar untuk meledek Rama
"Eh, tadi yang tunggu kasir cewek ya? Lo gak di godain kan?" ujar Sinta menatap Rama menyelidik
"Kalo emang cewek kenapa? Iya dia godain gue"
"Oh" jawab Sinta dingin
"Cemburu lo?,"
Sontak Sinta yang mendengar langsung mendelikan mata, menatap sinis Rama. "Idih, ngapain gue cemburu sama lo!"
Rama hanya terkekeh melihat raut wajah Sinta. Kemudian suasana menjadi hening, hanya suara deru kendaraan yang berlalu lalang
"Btw, mereka tadi siapa sih?" Sinta mencoba memecah keheningan
"Gue juga gak tahu,"
Sinta hanya mangut-mangut, "Sekali lagi, Thanks. Lo udah bikin gue senang"
"Seneng?" Rama langsung menoleh ke Sinta, sedangkan Sinta hanya mengangguk mantap
"Senang sebelah mananya?" tanya Rama heran
"Ya yang tadi, gue bisa melampiaskan emosi gue dengan menembaki mobil mereka" Sinta menjawab dengan senyum lebar
Hal itu membuat Rama geleng-geleng kepala. "Gue gak nyangka lo bisa main senjata api"
"Bisalaha, lo pikir gue cuma cewek manja yang tahunya cuma galau sama halu"
__ADS_1
Rama hanya tersenyum dan tidak menjawab, "Benar-benar menarik" batinnya
TBCā¤