
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
Jakarta.
Ibu kota negara Indonesia, Kota yang berpadat penduduk. Di tengah keramaiaan kota, seorang pria tampan tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Pria itu adalah Bima Fernandez, penerus Fernandez Group. Mobil, Bima mengarah ke Komplek Militer mewah. Bima tiba di salah satu rumah mewah.
Tak menunggu lama, Bima langsung turun dari mobil. Bima menyapa bodyguard yang sangat dirinya kenal.
"Sore, Pak Yanto"
"Sore, Mas Bima. Lama tidak melihat Mas Bima" sahut Bodyguard yang saat itu berjaga didepan rumah.
"Om sama Tante ada, Pak?"
Bodyguard bernama Yanto itu mengangguk. "Ada, Mas. Bapak baru saja pulang jalan-jalan dengan, Nyonya"
"Baik, Terimakasih Pak. Saya masuk dulu"
"Iya, Silahkan"
Setelah di bukakan pintu, Bima masuk ke rumah Kevin. "Loh, Bima tumben" ucap Tari, yang kebetulan menuruni tangga.
"Sore, Tante" Bima langsung mencium punggung tangan Tari.
"Ada apa ini? Tumben banget kamu, ayo duduk" Tari pun mengajak Bima, untuk duduk di sofa. "Bi, buatkan minuman dingin"
"Iya, Nya..."
Tari pun kembali menatap Bima. "Ada apa, Bim?"
"Sebenarnya saya datang kesini ingin membicarakan sesuatu, Tante" ujarnya pelan.
"Silahkan kamu mau ngomong apa?"
Sebelum mengucapkan, Bima menarik napas terlebih dahulu. "Bima ingin membicarakan soal, Pernikahan Bima dan Clara,"
Tari mengernyitkan dahi saat mendengarnya. "Memang ada apa, Bim?"
"Jadi begini, Tante. Pernikahan Bima dan Clara itu hanya salah paham, Bima juga gak tahu, Tante. Tiba-tiba Bima sudah tidur dengan, Clara. Bima tidak mengingat apapun, Tante."
Tari hanya diam, mencerna ucapan Bima. "Maksud kamu?"
"Maksud saya, saya rasa saya di jebak, Tante. Pernikahan Bima dan Clara itu tidak ada cinta, saya hanya mencintai, Sinta" tutur Bima semakin menggebu-nggebu.
Tari pun mengerti apa yang di maksud, Bima. Tari hanya tersenyum mendengarnya. "Bima, Kamu adalah laki-laki. Di sengaja, atau tidak di sengaja. Kamu harus tetap bertanggung jawab, meskipun tidak ada Cinta. Nasi sudah menjadi bubur. Kamu adalah pria jadilah pria yang bertanggung jawab,"
Bima tertunduk mendengar, penuturan Tari. "Tapi saya tidak mencintai, Clara. Saya hanya cinta dengan, Sinta"
Tari hanya tersenyum, dengan lembut Tari mengusap bahu Bima. "Jodoh dan maut itu ada di tangan Tuhan. Kamu cukup mengikuti saja alurnya, Jika Tuhan tidak menakdirkan kamu dengan, Sinta. Mungkin Tuhan sudah menyiapkan, Clara"
Bima terus tertunduduk, dalam lubuk hatinya merasa tidak terima oleh takdir. Bima sempat mengerutuki kebodohannya karna pergi ke Club malam waktu itu, Bima juga mengerutuki kebodohannya yang meminum alkohol terlalu banyak. Mungkin, Bima pikir Tuhan sedang menghukumnya dengan pagi-pagi sudah tertidur bersama Clara.
Bima pun pamit untuk pulang, sepanjang perjalanan terus memikirkan perkataan Tari. Antara mengikhlaskan Sinta dan menerima Clara, atau terus terpuruk di dalam penyesalan.
Bima langsung masuk ke apartemen miliknya. Mata, Bima menangkap saat itu Clara sedang berada di dapur. Bima menekatkan akan perlahan-lahan menerima, Clara.
Bima mendekat ke arah Clara, yang saat itu sedang memasak. Bima menarik kursi, lalu mengamatinya dari belakang. Terbesit rasa bersalah di diri, Bima. Ini bukan hanya kesalahan, Clara. Ini pun kesalahan Bima.
Saat, Clara membalikan badannya. Dirinya sangat terkejut mendapati, Bima. "Bi--Bima? Aku kira kamu makan di luar,"
"Aku tidak akan makan di luar, aku lapar siapkan makanan"
Clara melongo, mendengar ucapan Bima yang lembut. "Ba--Baiklah"
Clara pun menyiapkan makanan di piring, Bima. Bima memakannya dengan lahap. "Ini enak, besok bawakan aku bekal ke kantor"
__ADS_1
Clara kembali tercenga, dengan perubahan sikap Bima. "I--Iya"
"Clara..."
"Ah---Iya?"
"Maafkan aku..."
Clara lagi-lagi tercenga, mendengar apa yang di ucapkan Bima. "M--Maaf apa?"
"Ini salahku, seharusnya malam itu aku tidak mabuk berat. Disini kamu adalah korbannya, aku memang brengsek!"
Clara menelan ludahnya, saat Bima menyebut dirinya korban. Padahal ini adalah sandiwara Clara.
"Ak--Aku memaafkan mu, Bima"
Bima tersenyum mendengarnya, Bima pun memeluk erat Clara.
"Maafkan aku, Bima. Aku harap kamu tidak akan pergi setelah mengetahui semuanya,"
****
"Udah lo tutup telponnya"
"Iya gue tutup, Bye"
Tutt
Tutt
Tutt
"Telpon sama siapa?"
Rama terpenjat kaget, mendengar suara Sinta yang tiba-tiba berada di belakangnya. "Kamu bikin kaget aja sih,"
"Kamu telpon sama siapa?" tanya Sinta kembali.
Sinta melipat mulut agar tidak tersenyum, kata terakhir yang di ucapkan Rama, membuat Sinta tersipu.
"Kamu belum tidur?"
Sinta hanya menggelengkan kepala, "Enggak bisa tidur kalau gak ada, Meyga"
Rama hanya tersenyum, dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. "Tidur udah malam, aku temenin kamu di luar kamar,"
Sinta pun mengangguk. Sinta lalu tidur di kamarnya, sedangkan Rama berada di luar kamar menjaga Sinta.
Rama mengintip dari balik jendela, Sinta sudah terlelap. Rama pun tersenyum kecil, melihat wajah imut Sinta.
bugh
"Apa itu?" Rama langsung membalikan badan, mendengar suara seperti batu yang di lempar.
Rama lalu mendekat ke arah hutan, sayup-sayup Rama mendengar seperti suara percakapan.
"Malam ini kita bakar barak itu,"
"Ya. Aku juga ingin, Mantan Tentara bayaran itu segera terbunuh,"
"Bos akan sangat marah jika hari ini gagal,"
Rama mendengar suara 3 pria yang merencanakan hal buruk. Rahang, Rama mengeras mendengarnya.
"Jadi mereka masih mengincarku?"
"Kalian tidak perlu repot-repot membakar barak. Aku yang kalian cari!" Dengan yakin, Rama keluar dari persembunyiannya.
Rama langsung berhadapan, dengan 3 orang pria berbadan besar. Ketiga pria itu terkejut, dengan kedatangan Rama.
"Hahaha. Kau sudah masuk ke kandang macan anak muda," ujar salah satu pria tersebut.
__ADS_1
Rama hanya tersenyum tipis melihatnya. "Mari kita bertarung secara pria!" Rama melemparkan pistolnya ke tanah
Ketiga pria itu tersenyum sinis, mereka melakukan hal yang sama. Saat ini, Rama akan berhadapan dengan ketiga 3 pria tersebut.
Rama pun memasang kuda-kuda, begitupula ketiga pria itu.
"Hya....!!"
Pertarungan pun terjadi, Rama berusaha menghindar dari pukul-pukulan yang di lontarkan pria-pria itu.
Bugh
Bugh****
Rama memukul, wajah kedua pria itu. di susul temannya, Rama memberikan tendangan pada perut. Tidak ingin menyerah, ketiga pria itu bangkit, dan menyerang Rama kembali.
Rama menangkis dan menghindar dengan lihai
Bugh
Bugh
Bugh
Rama memberikan pukulan bertubi-tubi kepada salah satu pria, hingga membuat pria itu tersungkur. Melihat temannya tersungkur, kedua pria itu sangat marah
Mereka mencekal Rama, kedua tangan Rama di cekal kedua pria itu. Pria yang tersungkur itu menyeringai menatap Rama.
Rama tambah memberontak, saat pria yang tersungkur tadi mengeluarkan pisau. Sekuat tenaga Rama mencoba memberontak.
"Ajal mu akan segera tiba..."
Bugh
Dor
Dor
Dor
Rama membulat, mendapati ketiga pria itu sudah tumbang. Rama melihat Sinta melemparkan batang pohon besar, yang sehabis di gunakan untuk memukul pria yang hendak menusuk, Rama. Di tangannya Sinta juga membawa pistol milik Rama.
Rama langsung memeluk, Sinta. "Kamu ngapain ada disini?"
Sinta mengadahkan kepalanya menatap, Rama yang bercucuran keringat. "Aku nolongin kamu"
Rama tidak menjawab, Rama membawa Sinta untuk kembali ke barak. Sinta mengajak Rama ke ruang medis, wajah Rama lebam-lebam membuat Sinta khawatir.
Sinta dengan pelan-pelan mengobati lebam-lebam, Rama menggunakan es batu dari kulkas yang berada di ruang medis tersebut.
"Ceroboh, lain kali jangan keluar sendirian. Kamu hampir saja di tusuk tadi,"
Rama hanya diam, mendengar omelan Sinta. "Maafin, Aku" hanya itu yang Rama ucapkan
Sinta masih kesal, lantaran kekasihnya ini selalu menantang bahaya. "Jangan di ulangin lagi, aku gak mau kamu kenapa-kenapa"
Rama tersenyum mendengarnya. "Aku akan tetap mengulanginya,"
Sinta berdecak kesal mendengarnya. "kalau kamu ulangin, aku akan pergi dari kamu"
"Sinta.... Jika saja kamu itu peluru, aku menembak diriku sendiri agar aku memilikimu di tubuhku,"
Sinta menggeram mendengar gombalan, Rama. Dengan kesal Sinta mencubit paha Rama.
"Ck. Kalo masih gombal aku buang kamu ke lubang buaya!"
**TBC🍻
Follow ig author:
@yesitree**_
__ADS_1