
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.
****
Burung-burung berterbangan dengan kelompoknya, hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan daun-daun kering.
Rambut Sinta bergoyang karna hembusan angin sore. Duduk di batu besar, di atas tebing di sore hari mungkin adalah hal biasa. Namun, jika duduknya dengan orang yang istimewa pasti akan berbeda.
Rama dan Sinta bercanda ria, sembari menatap derasnya air terjun yang sangat tinggi. Bercengkrama dengan alam yang damai, adalah hal yang luar biasa !
"Rama..."
"Ya?" Rama menoleh ke kiri, menghadap kekasihnya.
"Maafin aku ya, aku sudah cemburu buta tadi" ujar Sinta pelan.
Rama hanya tersenyum mendengarnya, dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. "Gakpapa, aku ngerti kok. Aku yang seharusnya minta maaf karna tidak jujur,"
Sinta tersenyum mendengarnya, sembari menunggu tenggelemanya matahari. Rama dan Sinta saling memadu kasih.
"Aku tantang kamu!"
Rama langsung menghadap Sinta. "Apa?"
"Kalau kamu bisa panjat air terjun itu, kamu boleh cium aku,"
Rama langsung berbinar mendengar tantangan, Sinta. "Siap!! Akan aku lakukan," dengan semangat Rama langsung bangkit.
Sinta hanya terkekeh melihat tingkah, Rama. Rama berjalan ke arah mobil jeep yang dirinya bawa. Ternyata Rama mengambil peralatan memanjat.
Sinta melotot, karna Rama benar-benar akan melakukannya. "Eh, Ra--Rama. Aku cuma bercanda kamu mau manjat air terjun itu beneran?"
Rama tersenyum miring mendengar ujaran kekasihnya. "Kamu kasih aku tantangan, Tentu aku akan taklukan air terjun itu"
Glek
Sinta menelan salivanya. Padahal air terjun itu sangat tinggi, bisa dipastikan jika itu berbahaya. Kecuali, jika sudah menggunakan alat khusus.
"Ayo naik!" Rama sudah duduk di kursi kemudi mobil, dia bersiap akan turun kedasaran.
Sinta menggigit bibir bawahnya, Sinta mengkhawatirkan dua hal. Takut jika Rama terluka, atau kecelakaan. Dan takut di cium. Lucu memang, gadis berusia 20 tahun yang menginjak dewasa itu belum pernah berciuman, selama 2 tahun bersama Bima pun, Bima tidak pernah mencium Sinta.
Mobil yang di kendarai Rama lalu melesat melewati jalanan terjal. Rama memilih melewati jalanan warga, agar tidak terlalu terjal. Sinta diam-diam memprotret Rama yang sedang fokus menyetir.
1 jam perjalanan Rama dan Sinta, sampai di di sungai yang dangkal. Ternyata, tempat itu bukan pertama untuk Rama. Ada anak-anak kecil yang sedang mandi di sungai.
Rama tersenyum melihat anak-anak itu bermain air. Rama pun turun dari mobil, mengeluarkan alat-alat untuk memanjat tebing tinggi tersebut.
Sinta ragu-ragu mendekat. "Ra--Rama..."
__ADS_1
"Ya?"
"Aku ikut manjat," cicitnya lirih
Rama menatap Sinta, Rama terdiam lama membuat Sinta khawatir tidak di bolehkan. "Oke, pakai pengamanmu" di luar dugaan Rama justru memperbolehkan Sinta.
Memanjat bukan hal yang pertama bagi, Sinta. Dulu di kampus Sinta sering mengikuti olahraga tersebut.
Pengaman sudah terpasang di tubuh mereka. Saat ini Rama dan Sinta tepat di bawah derasnya air terjun.
"Rama.."
"Ya?"
"Aku mau tepat di saat senja datang, dan tepat di saat kita sampai di atas kamu teriak I Love you untuk aku"
Rama tersenyum mendengar penuturan Sinta. "Gak perlu nunggu senja pun, aku tetap I Love you untukmu Sinta"
Sinta tidak menjawab, dan lebih memilih memanjat dahulu. Rama terkesima karna Sinta begitu handal.
Aksi Rama dan Sinta, di jadikan tontonan anak-anak yang saat itu sedang mandi sungai. mereka bersorak menyemangati Rama dan Sinta.
Rama tersenyum melihat ke gigihan Sinta. Mereka terus memanjat dengan santai. "Nanti kamu tepatin ucapan kamu tadi,"
Sinta tidak menjawab, dan malah tersenyum penuh arti.
Rama dan Sinta tetap berusaha untuk menaklukan, tantangan alam.
"Sinta..."
"Ya?"
"Kamu tahu apa persamaan mu dengan senja?"
Sinta menggelengkan kepalanya. "Enggak"
"Kamu dan senja adalah makhluk ciptaan tuhan yang sama. Sama-sama cantik tanpa harus pura-pura. I LOVE YOU SINTA"
****
Prang
Bantingan keras, berasal dari ponsel yang saat ini sudah hancur lembur. Pemilik ponsel itu, mengusap wajah kasar. Matanya menatap tajam ponsel yang saat ini sudah rusak.
"Bima??" Clara mendekat ke arah Bima. Mendengar suara pecahan membuat Clara mengecek ke kamar.
"Bima, kamu kenapa?" tanya Clara kebingungan. Padahal kemarin-kemarin sikap Bima lembut, dan tidak kasar. Namun, tidak tahu untuk hari ini.
Bima tidak menjawab, dan lebih memilih meninggalkan Clara. Clara yang khawatir mengikuti langkah Bima. Clara terus meneriaki Bima sampai di basemant.
__ADS_1
Bima hendak membuka pintu mobil. Namun, langsung di cegah oleh Clara. "Bima, kamu kenapa? ada apa Bima, bilang sama aku!!!"
"Diam!!" bentak Bima.
Clara tertegun mendengar bentakan, Bima. Bima langsung masuk ke mobil, dan melajukan mobilnya. Meninggalkan Clara yang masih mematung.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikirannya sudah penuh dengan amarah, Bima membawa mobilnya ke sebuah jembatan di tengah kota.
Bima menepikan mobilnya. Lalu berdiri menatap lalu lalang kendaraan di malam hari. Di jembatan itu adalah tempat dimana, Bima menyatakan perasaannya kepada Sinta. Namun, kali ini Bima baru saja melihat, postingan Instagram Sinta. Sinta mengepost, foto seorang pria yang Bima kenal, bahkan Bima sudah menganggapnya kakak!
"Arghhhhhhhh!!!!" Bima berteriak frustasi. Air matanya tiba-tiba saja luruh.
Bima tak kuasa menahan air matanya, cintanya begitu besar kepada Sinta. Persetan dengan pernikahannya dengan Clara, membuat Bima harus kehilangan Sinta.
Dengan frustasi Bima menjambak rambutnya sendiri, memukuli kepalanya sendiri. "Arghhhhh!!!! Sinta!!!! Aku cuma cinta sama kamu Sinta!!!! Kenapa!!! kenapa!?? Takdir begitu jahat, Sinta!!"
Bima mengeluarkan seluruh unek-uneknya. Bima naik ke pembatas jembatan itu, pikirannya sudah kosong.
"Jika aku tiba bisa bersama mu, Sinta. Apa gunanya aku hidup? Lebih baik aku mat--"
"Jangan Bima!!! Jangan!!!" Seorang gadis saat ini sedang memeluk Bima dari belakang, gadis yang berstatus Istrinya itu terisak mendengar ucapan Bima. "Jangan pergi, Bima. Kumohon...."
Bima menghela napas, Bima teringat jika dia harus bertanggung jawab dengan Clara. Nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa di putar. Bima harus bisa menerimanya. Namun, jika mengingat foto yang Sinta posting, membuat kepala Bima mendidih
Dengan kasar, Bima menghempaskan Clara. "Lepaskan!! Aku tidak mencintaimu!!"
Clara tersungkur di jalanan, Clara pun mencoba bangkit. "Meskipun kamu tidak mencintaiku....hiks hiks. Sayangilah nyawamu, Bima. Ja--Jangan sepert ini,"
"Aku tidak peduli dengan nyawaku! Karna kebodohan ku aku harus kehilangan, Sinta!!!" dengan keras, Bima menendang bemper mobil miliknya.
Clara yang mendengar menyayat. Tak bisakah, Bima melihat dirinya? Apa cinta Bima hanya untuk Sinta semata? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang di otak Clara.
"Ke--Kenapa? Kenapa Bima? Kenapa kamu tidak bisa melihat aku?!! kenapa kamu tidak bisa menerima aku, Bima!! Aku sadar aku tidak akan mendapat cintamu. Namun, lihatlah aku Bima, lihatlah!!! Aku tulus mencintaimu!!"
Bima terdiam, mendengar ucapan Clara yang berapi-api. Bima menghembuskan napas kasar, lalu berjongkok di depan Clara. Bima lalu membantu Clara bangun.
Bima mendudukan Clara di mobilnya, lalu Bima melajukan mobilnya untuk kembali ke apartemen. Sepanjang perjalanan Bima hanya diam, begitupula Clara.
Clara menangis dalam diam, mengetahui kenyataan yang begitu perih. Kenyataan bahwa memang, Bima tetap akan mencintai Sinta!
Clara terus memandangi jendela luar. Air matanya terus menetes.
"Jika kenyataan bisa membunuh, aku ingin berbohong sepanjang waktu," batin Clara
**TBC😘
Hai Readers!
Jangan lupa kasih dukungan author!
Vote
__ADS_1
Like
Rating 5 nya ya**...