RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 53


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Malam ini Rama dan Sinta saling terdiam. Mereka berdua duduk di bangku taman bersama.


Entah apa yang kedua insan itu pikirkan. Permintaan kakek Nana yang membuat mereka berdua begitu terkejut.


“Aku tidak akan menikahi, Nana.” ucap Rama memecah keheningan.


Sinta menoleh ke arah Rama. Rama pun sama menatap Sinta. “Mungkin dulu aku tertarik dengan, Nana. Tapi sekarang tidak! aku hanya mencintai kamu!”


Sinta terdiam mendengar ucapan Rama. Sinta menundukan kepalanya, menimang-nimang dengan solusinya. Sinta saat ini sangat bingung dengan keputusannya. Akhirnya, Sinta memilih....


“Menikahlah dengan, Nana...”


Deg!


Rama begitu terkejut mendengar ucapan Sinta. Rama langsung menarik Sinta agar menghadap ke dirinya, ternyata Sinta sudah menangis.


“Apa maksud kamu?!” tanya Rama dengan nada tingginya.


Sinta semakin terisak dengan keadaan. “Ini salah aku! aku sudah membuat Nana gagal menikah. Toh, kita juga lagi pacaran, kamu juga belum punya niat untuk ngelamar aku.”


Rama begitu terkejut mendengar ucapan Sinta. Rama tidak menyangka dengan apa yang di pilih Sinta.


“Sinta...?! Apa yang kamu katakan? aku tidak mau menikahi wanita lain.” ujar Rama berusaha meraih tangan Sinta.


Sinta menepis tangan Rama. Sinta berdiri dari duduknya. “Mungkin kamu bukan takdirku, mungkin ini cara Tuhan memisahkan kita. Menikahlah dengan, Nana. Aku punya tugas untuk menyembuhkan, Richad.” Sinta berbicara dengan membelakangi, Rama. Air mata Sinta sudah tak terbendung lagi.


Rama mematung mendengarnya, dan siapa sangka? mata Rama sudah memerah mendengar ucapan Sinta. Cinta Rama terhadap Sinta telah besar! dan saat ini tiba-tiba kekasihnya menyuruh Rama untuk menikahi gadis lain.


Rama langsung memeluk Sinta. Sinta hanya diam, terisak di pelukan Rama. Mungkin malam ini adalah patah hatinya kedua insan tersebut.


“Lepaskan aku, Rama!” Rama pun melepaskan pelukannya. “Aku mau pulang!”


“Aku antar kamu?”


Sinta hanya menggelengkan kepala. “Tidak perlu, aku bawa mobil.”


Rama hanya bisa menatap punggung Sinta yang menjauh. Tanpa sadar Rama terduduk di rumput, kakinya terasa lemah untuk berdiri. Rama tidak bisa berpisah dengan Sinta!


Satu air mata Rama lolos begitu saja. Hatinya terasa perih mendengar kekasihnya memilih pergi, memilih menyerah, dan memilih mengalah.


Rama lebih memilih pulang ke rumah dinasnya. Kamar rumah dinas Rama sudah di penuhi foto-foto dirinya dan Sinta.


Rama terduduk di ranjang, tangannya meraba di dadanya. “Kenapa sangat perih? k–kenapa ini sangat sakit?!! Apa aku sudah mencintai Sinta begitu besar?” gumam Rama yang terus mengusap dadanya yang terasa perih.

__ADS_1


Drtt... Drttt... Drttt


Getaran di ponsel mengalihkan perhatian Rama. Sebuah pesan terkirim di ponselnya.


Maafkan aku, ini kesalahanku dan aku harus bertanggung jawab. Besok jemput aku, kita diminta Kakek untuk ke rumahnya. Sinta


Rama melempar ponsel mahal miliknya. Pikirannya sudah di penuhi emosi, Rama tidak rela jika harus berpisah dengan Sinta. Baginya ini semua tidak adil!


Kenapa di saat Rama menemukan pelabuhan hatinya, dia malah diberika cobaan hubungan seperti ini?


Rama memang belum memiliki rencana melamar Sinta. Rama hanya ingin pangkatnya naik terlebih dahulu, ekonomi keluarga itu adalah kepentingan utama.


Kring.... Kring... Kring


Ponsel Rama kembali berbunyi, kali ini adalah sebuah panggilan dari Kekasihnya. Ya kekasih! karna belum ada kata putus di antara mereka, tidak tahu besoknya.


“Ya, Hallo?” sapa Rama


Rama bisa mendengar jika Sinta berdehem. “H–Hallo Rama! Kamu belum tidur?”


“Bagaimana aku bisa tidur jika pacarku menyuruhku menikahi gadis lain.”


Glek


Sinta hanya bisa menelan ludahnya kasar. “Emmm, cepatlah tidur! Besok kita akan menemui Kakek Nana.”


“Ya, dan jika pria tua itu memisahkan kita, aku akan melubangi kepalanya.”


****


Rama sudah berdiri di depan gerbang rumah Sinta. Tak lama Sinta datang dengan mata sembab.


Sinta hanya memalingkan wajahnya. “I–ini hanya kelilipan.”


“Ck. Pria tua itu sudah membuat kamu menangis, ayo kita selesaikan drama sialan ini!” Rama langsung menuntun Sinta agar segera duduk di Jok belakangnya.


Sinta menurut saja, sepanjang perjalanan menuju rumah Nana kedua insan itu hanya diam.


Tidak seperti biasa, Rama selalu melontarkan kata-kata gombalan kepada Sinta. Namun, hari ini mereka bungkam dengan pikiran masing-masing.


Tanpa sadar, mereka sampai di rumah Nana. Rumah yang hampir mirip seperti punya Rama.


Mereka lalu turun dan di persilhkan masuk. Di dalam rumah kediaman Nana itu lebih kuno dan tradisional, namun tidak menghilangkan kemewahannya.


“Nak Rama...? Sudah datang ternyata!” Kakek Nana langsung menyambut Rama.


Rama hanya memandang datar Kakek Nana. Mereka lalu duduk di sofa ruang tamu, Nana pun juga duduk di samping Kakeknya. Sedangkan Rama dengan wajah datarnya duduk di samping Sinta yang terus menunduk.


“Jadi begini, Nak Rama. Karna Tunangan cucu saya cacat, saya ingin kamu menggantikan kamu untuk menjadi suami cucu saya.”


Rama menggeram menahan amarah, mendengar ucapan Kakek Nana yang begitu santai membuat darah Rama mendidih.


“Kakek!! Kakek jangan seperti itu. Rama sudah punya kekasih, lihat pacar Rama adalah Dokter Sinta, teman Nana.” ujar Nana


Kakek Nana langsung menatap tajam cucunya itu. “Baru pacaran kan? Putusin aja!”


Brak

__ADS_1


Semua yang berada di ruangan itu terkejut, kecuali Rama yang menggebrak meja dengan keras. Matanya menatap tajam Kakek Nana.


“Maaf kek! Saya rasa, rasa sopan saya cukup disini saja. Saya sudah sangat sabar mendengar permintaan konyol Kakek. Anda tidak bisa mengatur cinta saya, anda bukan siapa-siapa saya! Dan saya tidak akan pernah menikahi cucu anda!!!”


Rama langsung menarik tangan Sinta untuk pergi. Kakek Nana begitu terkejut mendengarnya, entah pura-pura atau nyata. Kakek Nana langsung ambruk memegangi dadanya.


“Kakek.... Kakek..!!” Nana begitu panik melihat Kakeknya yang seperti kesulitan bernapas.


Sinta yang mendengar teriakan Nana, langsung berbalik. Sinta langsung mengecek Kakek Nana.


Pergelangan Sinta di cekal oleh Kakek Nana. “Tinggalkan, Rama! Biarkan cucu ku bahagia. Saya mohon... sa–saya hanya ingin melihat Nana bahagia, sebelum nyawa saya melayang.” ucap Kakek Nana dengan napas tersenggal-senggal.


Sinta tercekat mendengar ucapan Kakek Nana. Sinta tidak sadar jika tangannya sudah di tarik Rama.


“Jangan dengarkan ucapan pria tua bodoh itu!” Rama terus menggerutu, bahkan sekarang dia tidak peduli jika menjadi anak durhaka.


“Rama...”


Rama belum menjawab, dan langsung menyodorkan helm ke Sinta. Lalu mereka melaju untuk kembali bekerja.


“Rama...” panggil Sinta lagi.


“Kenapa? kamu mau menuruti permintaan pria tua gila tadi? jangan bodoh Sinta!”


“Aku salah Rama! Aku mohon... Menikahlah dengan Nana!”


Cittt


Rama tiba-tiba menghentikan motornya. Rama lalu turun dari motor, Rama menatap Sinta tajam.


“Kamu jahat Sinta!!” bentak Rama


Sinta sudah meneteskan air matanya. “Iya aku jahat!! Aku udah bikin Nana gagal menikah!”


“Kamu jahat sudah melukai hati aku Sinta! kamu sadar gak sih? ucapan kamu itu melukai hati aku. Kamu cuma memikirkan cara kamu meminta maaf kepada Kakek sialan itu, kamu cuma mikirin cara agar Nana bahagia. Tapi kamu gak mikirin pria ini!!! Pria yang mencintai kamu. Kamu gak mikirin hati ini!!! Hati ini sakit Sinta!!!” Rama semakin menggebu-nggebu, Sinta yang mendengar hanya terisak.


Rama langsung memeluk Sinta. “Sampai titik darah penghabisan pun. Aku akan tetap memperjuangkanmu Sinta!”


*


*


*


*


*


*


TBC😘


Jujur di part ini author juga jengkel sama Kakeknya Nana dan Sinta.


Ngeselin banget ya Kakeknya Nana, masak iya seenaknya aja nyuruh Rama dan Sinta putus. Emang dia siapa? seluruh keinginannya harus di kabulin. Huhhh manusia udah bau tanah aja bikin kesel.


Sinta juga bikin kesel, ngelawan kek! orang cuma patah tulang juga. Di obatin juga sembuh tuh si Richad. Perjuangin kek cintanya, padahal yang tersakiti bukan cuma dia, Rama juga tersakiti.

__ADS_1


Kesel deh_-


__ADS_2