RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 59


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


“Loh-loh mau kemana kamu?”


Rama yang saat itu menyisir rambutnya, membalikan badan menghadap pemilik suara.


“Ke kantor lah, Bun!”


Aletha berkacak pinggang menatap putranya yang sudah rapi dengan seragam. “Istirahat di rumah! kamu itu belum pulih, kaki kamu masih sakitkan?”


Rama yang mendengar omelan Bundanya malah santai saja. “Udah sembuh kok, wlekkk!” Dengan santai Rama berjalan menuju ke ranjang, hendak mengambil handphonenya.


Duk


“Awhh... Bunda!!” Rama sepontan berteriak, karna kakinya yang keseleo ditendang oleh Aletha.


Aletha hanya menahan tawa melihat ekpreksi Rama. “Tuh, masih sakitkan?” tanya Aletha tanpa merasa berdosa.


Namun, Rama tetap ngeyel. Rama tetap ingin ke kantor, bukan hanya karna ke kantor saja, Rama pun sudah berjanji mau menjemput Sinta.


Aletha yang memang tahu sifat anaknya super keras kepala pun mengalah.


“Besok beli mobil deh, Ram. Masa iya mau jemput anaknya, Pak Jendral pake motor Vespa,” sindir Aletha sembari mengomentari motor Vespa Rama.


Rama yang mendengar hanya mencibirkan bibirnya. “Gak ah, Bun. Ini motor mahal tau! Bisa sampai puluhan juta!”


Rama pun segera menghidupkan mesinnya. Motor Rama pun membelah jalanan Ibu kota, selama 20 menit, Rama tiba di depan gerbang komplek.


Rama sengaja berhenti di samping Pos, karna Sinta juga yang menyuruh. Memang susah jika tidak mendapat restu, membutuhkan perjuangan yang berat, pikir Rama


“Eh, kamu udah lama?” suara Sinta membuyarkan lamun Rama.


“Baru sampai kok, ini kenapa kok aku cuma disuruh berhenti disini? Papa kamu kenapa lagi?” celoteh Rama kepada Sinta yang tengah menggunakan helm.


“Papa semalem marah, kita pulangnya malam. Katanya kalau kamu kerumah, kamu mau di tembak, Papa. Aku kan gak mau kehilangan kamu jadi aku suruh kamu nunggu disini.”


Rama tertawa keras mendengar ucapan Sinta. “Hahahaha.... Kamu lucu banget sih!” Dengan gemas, Rama mencubit pipi kanan Sinta.


“Aduh sakit tau!”


Rama hanya tertawa, sedangkan Sinta sudah sangat marah.


“Eh, tunggu-tunggu! Itu jidat sama dagu kamu kenapa?” Sinta dengan wajah khawatirnya langsung mengecek luka lebam Rama.


“Gakpapa, cuma masalah prialah.”

__ADS_1


Sinta berdecak kesal mendengar jawaban Rama yang enteng. “Kebiasaan! bisa gak sih, gak usah berantem?! Nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana? kalau kamu mati, siapa yang mau aku marahin?!!” oceh Sinta, yang ocehannya membuat Rama tertawa gemas.


“Hahahaha... Jahat banget sih, masak sama pacar sendiri ngomongin mati. Udah ah jangan marah-marah terus, aku maunya kita menua barengan, kalau kamu marah terus nanti kamu yang tua dul—”


Bugh


“Aduh... Sinta!”


Sinta yang kesal langsung memberikan pukulan di paha Rama, hal itu membuat Rama meringis kesakitan.


Sinta pun dengan wajah cemberut langsung naik ke motor Rama. Rama pun menghidupkan mesin motornya, mereka pun melaju melewati kota.


“Sinta...”


“Hmmm...”


“Maaf ya!” ucap Rama sembari menoleh sekilas kebelakang.


“Iya, udah ihh sana fokus kedepan!”


Rama hanya bisa menelan ludah, karna kekasihnya yang pagi ini sangat jutek. “Kamu lagi PMS ya?” tanya Rama hati-hati.


“Iya!” jawab Sinta ketus.


“Pantesan galak banget!” gumam Rama di dalam hati.


Tiba-tiba saja mesin motor Rama berhenti, Rama pun menepikan motornya.


“Aduh... Kenapa lagi sih ini?” Sinta yang sudah tak mood itu, menjadi bertambah tidak mood.


“Arghh! aku lupa isi bensin lagi,” gerutu Rama yang ikut kesal. “Bentar aku cariin kamu taxi ya, kamu ke rumah sakit aja dulu!” Rama langsung berusaha mencarikan taxi untuk Sinta, karna Rama tahu jika pacarnya itu sedang di mode gak mood.


Rama berbalik menghadap Sinta, yang berdiri di sebelah motor. “Yaudah, kamu naik aja ke motor, biar aku yang dorong!”


Sinta menggeleng mendengar ucapan Rama. “Biarpun aku lagi PMS, aku tetap akan bantuin kamu!” Sinta pun dengan yakin membantu Rama mendorong motor.


Baru beberapa langkah mereka mendorong, berhenti mobil mewah di samping mereka. Saat kaca mobil di turunkan, pengendara mobil yang berkelamin pria itu menyapa Sinta.


“Mbak mending jadi pacar gue aja, bareng gue aja sini, pake mobil ada AC nih!” seru pengendara mobil itu, yang wajahnya jauh dari Rama.


Sinta tersenyum miring mendengar ucapan pria itu.


“Mendingan pacar gue, meskipun sederhana tapi ganteng. Harta bisa dicari tapi keturunan susah di perbaiki.”


****


Cittt


Motor yang di kendarai Rama berhenti mulus di depan rumah sakit. Sinta pun turun dan melepas helmnya.


“Muka kamu masih sakit gitu, beneran mau ke kantor?” tanya Sinta yang sangat mencemaskan keadaan Rama.


Rama tersenyum tipis mendengar ucapan Sinta. “Aku cuma kerja sebentar, paling cuma 2 jam lagi aku pulang.”


“Ishh kok gak bilang sih? tahu gitu gak usah ke rumah sakit! aku kan udah izin sama pihak rumah sakit kalau masih cuti, udah ayo buruan kita pergi lagi!” Sinta lalu kembali memasang helm di kepalanya, dia pun duduk kembali di Jok belakang motor Rama.


Rama pun menghidupkan mesin motornya, mereka pun melaju meninggalkan bangunan rumah sakit yang belum ramai.

__ADS_1


Selama 30 menit berkendara, Rama membawa Sinta di komplek kemiliteran. Sinta bisa menebak jika dia dibawa ke rumah dinas Rama.


Motor Rama pun berhenti, di depan rumah yang sepi. “Kamu disini dulu ya! Nanti aku balik lagi, nanti kita jalan-jalan deh,” ucap Rama sembari melepas helm di kepalanya.


“Aku sendiri gitu? Ihhh! Gak ah nanti kalau aku bosen gimana?”


Rama menghela napas mendengar gerutu Sinta. “Di dalam ada camilan banyak, ada laptop juga, disini juga free wifi. Udah terserah kamu mau, nonton drama korea kek, atau apalah.”


“Ck. Siapa juga yang suka drama korea, aku lebih suka film Hollywood yah!” protes Sinta yang memang saat ini sangat sensitif.


Rama kembali menghela napas, dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. “Yaudah kamu buruan masuk, ini kuncinya!” Rama lalu memberikan kunci rumah dinasnya itu kepada Sinta.


Sinta menerima kunci tersebut. “Jangan lama-lama!” Sinta berbicara sembari menatap tajam Rama, Rama yang di tatap tajam pun hanya bisa menelan ludahnya.


“Iya gak lama kok, cuma 2 jam. Di depan ada, Mbak Naila, istrinya temen aku, kalau kamu bosen,” ucap Rama sembari menunjuk rumah depan yang terbuka. Sinta yang melihat hanya menganggukan kepala.


“Yaudah aku berangkat! Assalamualaikum calon ibu dari anak-anakku.”


Sinta yang mendengar ucapan Rama mencoba menahan senyuman. “Waalaikumsallam!”


Rama pun melaju meninggalkan Sinta di rumah dinasnya. Rama hanya akan menghadiri rapat pagi ini, tak sampai 15 menit Rama sudah tiba di Kantor TNI AD.


Beberapa staf memberikan hormat dan salam kepada Rama, Rama pun membalasnya dengan ramah.


Kring... Kring... Kring...


Dering ponsel menghentikan langkah, Rama. Rama melihat layar di ponselnya, tertera nama Sinta ❤


“Hallo, Sinta?” Rama pun membuka suara terlebih dahulu.


“Hallo!! Rama..!! perut aku kram, nanti kalau pulang beliin jamu!”


Tutt... tutt... tutt


Panggilan sudah terputus secara sepihak, Rama hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Punya pacar yang lagi PMS, sesusah ini kah?” gumam Rama


Kring... Kring... Kring...


Ponsel Rama kembali berbunyi, namun nomer tersebut tak di kenal. Rama pun dengan ragu-ragu mengangkat panggilan itu.


“Hallo, ini siapa?” Rama membuka suara terlebih dahulu.


“Hallo, Rama! Kau ingat suaraku?”


Deg!


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2