RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 5


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Membaca🍻


Ikuti terus kisah kucing-kucingan Rama & Sinta



Visual Rama (Kalo gak sesuai ekspetasi kalian boleh usul visual kalian ke grup chat)



Visual Sinta



Yang penasaran sama Kolonel Satria Bimantara (Kalo gak cocok usulin Visual kalian ke grup chat)


****


Saat ini mungkin Rama melihat sisi berbeda Sinta. Yang dirinya pikir adalah gadis manja, seperti gadis seumurannya. Namun, kini yang di lihatnya adalah gadis cekatan yang cerdas dalam mengurus warga-warga


Sinta, sangat cekatan dalam memeriksa kesehatan penduduk desa. Perbedaan Ras tidak membuat mereka terpecah belah. Orang papua identik dengan kulit gelap, hidung besar, dan mata besar. Sinta, pikir itu adalah hal unik. Bahkan dia sempat berfoto dengan beberapa orang


Kepala desa atau yang mereka sebut Kepala suku pun ikut berfoto dengan, Sinta. Saat ini raut wajah Sinta berubah serius


"Ada apa?" Rednan yang peka pun langsung bertanya


"Kebanyakan warga disini terkena penyakit langka, Apa disini gak ada air bersih?"


Kepala suku yang mendengar mendekat kepada, Sinta. "Apa ada masalah, Bu dokter?"


Sinta, menoleh kepada pria paruhbaya yang berada di sampingnya, "Apa warga mengalami kekurangan air bersih?"


"Itu benar, Bu dokter. Sudah lama pipa menuju desa kami rusak, dan pemerintah pun tidak ada gerakan untuk memperbaiki" Sinta tertegun mendengar cerita kepala suku tersebut


Sinta, menatap anak-anak, lansia, dan beberapa balita yang terkena penyakit. Mulai dari kulit mereka yang bentol-bentol, mata merah, dan batuk serta pilex


"Susi, sini kamu!!" Sinta meneriaki salah satu perawat yang bertugas di perobatan


"Ambilkan, obat-obatan untuk warga-warga ini" Susi terdiam lama, membuat Sinta geram


"Kamu dengar apa yang saya bicarakan?" nada Sinta meninggi


Susi hanya bisa menunduk takut, "Maaf. Obat-obatan sudah habis"


Sinta, melebarkan matanya. "Kok bisa sih?! Terus gunanya kita patroli apa kalo gak dikasih obat?!!"

__ADS_1


"Kadang kami hanya memeriksanya saja, Bu sinta" Susi berbicara lirih dengan bibir gemetar


"Jangan panggil saya Bu saya belum tua" Sinta malah memprotes panggilan Bu nya


"Kalo lo marah-marah, lo bisa cepet jadi ibu-ibu" celetuk Rama menghampiri Sinta


"Udah, lo gak usah nyari masalah. Sekarang bukan waktu yang tepat" Rama mencibikan bibirnya mendengar nada bicara Sinta yang datar


"Terus, gimana ini?" Sinta kembali bertanya


"Biasanya kalo sudah parah, kami akan meminta obat ke klinik dikota" Sinta kembali melebarkan matanya mendengar jawaban Susi


"Nungguin parah?!! Kalian nungguin mereka berada di ambang kematian?! Kalian Tim medis terburuk yang pernah saya temui!!, Seharusnya kalian mikir. Kalau obat-obatan sudah habis, kalian harus usaha membeli. Gimana sih!" Rama dapat melihat kemarahan Sinta kali ini tidak terlihat menggemaskan. Namun, menakutkan


"Santai dong, gak usah marah-marah" Rama mencoba memecah ketegangan


"Diem lo! Lo itu Letnan Kolonel, gimana sih Kolonel lo itu?! Obat-obatan habis dibiarkan saja, dan gue gak habis pikir kalian bilang nungguin parah?!!" Rama terdiam mendengar bentakan Sinta


"Udah cukup, Sinta!" kali ini Nana yang mengangkat suara. "Cukup, lo ngehina kami. Lo gak ngerti gimana kerasnya kehidupan kami, lo cuma dokter baru di sini lo gak ngerti apa-apa" tambah Nana


Sinta, yang mendengar tersenyum miring. "Gue emang orang baru, seorang medis sejati tidak mungkin membiarkan pasiennya sekarat terlebih dahulu baru di tolong. Dimana perikemanusiaan kalian?! Apa kalian pantas disebut Tim medis?" Sinta kini tidak dapat mengontrol emosinya


Nana, hanya terdiam.


"Tolong...!!!" suara bocah kecil mendekat ke arah Sinta


"Ada apa adik kecil?"


Anak kecil itu malah menangis. "Kakak dokter, tolongin kakak saya. kakak saya sakit"


"Dimana rumah mu?"


****


"Ini sudah sangat parah" gumam Sinta setelah memeriksa seorang wanita berusia 30 tahun. Ditambah, wanita ini tengah mengandung


"Terus, gimana ini?" Rednan kian panik melihat kondisi penududuk yang parah


"Ini kesalahan kalian! Jika obat-obatan habis kalian seharusnya mempunyai stock, bukan Membiarkan PARAH!" sindir Sinta dengan menekan kata terkahir


Nana, yang mendengar geram. "Cukup, Sinta! Lo udah terlalu panjang ngehina Tim medis kami, lo gak ngerti gimana susahnya, dan perjuangan kami agar sampai ke kelinik"


Sinta, tersenyum sinis mendengat bentakan Nana. "Lo itu garda depan, seharusnya lo gak mikirin itu, apapun rintangannya. Garda depan tetap akan melewatinya, kalian ini Abdi negara garda terdepan bangsa Indonesia, dapet rintangan gitu aja kalian udah nyerah" Rama tertegun dengan jawaban Sinta.


"Jangan sok deh lo, sin. Lo itu gak beda sama cewek-cewek manja yang lain, lo gak tahu gimana perjuangan kami mengambil sebutir obat!!!" balas Nana dengan nada meninggi

__ADS_1


"Oke, gue bakal buktiin kalo gue bukan gadis manja yang lo pikir. Gue bakal ke kota buat ambilin obat-obatan, gue gak bisa bayangin kalo sampe Papah gue tahu, gimana Tim medisnya" Nana menggeram menahan kesal, dengan ujaran Sinta


Sinta dan yang lainnya pun keluar dari rumah itu, Rama tengah menghubungi Kolonelnya


"Disini, T4. dengan Rama, lapor ndan. Penduduk desa membutuhkan obat-obatan, ganti"


Tak lama Satria pun membalas. "Disini, J1. dengan Kolonel Satria, Maaf sudah 2 bulan kita tidak mendapat kiriman obat, ganti"


Sinta menganga mendengar ucapan, Kolonel tersebut. "Seriously? dua bulan? ini udah keterlaluan, kita tetap harus ke kota beli obat!"


"Tapi, sin. Jalanan ke kota sangat terjal, dan jaraknya sangat jauh. Jika melewati jalanan umum membutuhkan waktu sehari, jika melewati jalanan terjal hanya membutuhkan waktu 3 jam itupun harus melewati hutan lebat" Sinta terdiam mendengar penjelasan Rednan


"No problem, kita ambil obatnya atau tidak sama sekali?" dengan yakin Sinta mengatakan hal tersebut


Rama, sempat terkesima dengan keyakinan gadis tersebut. Tidak seburuk yang gue pikirin, pikir Rama


"Kenapa kok diem? Bukannya kalian Tentara, udah biasa dong tetanggaan sama ular berbisa" imbuh Sinta karna tidak mendapat sahutan


Rama yang mendengar malah terkekeh, "Oke kali ini lo bener. Gue setuju, banyak nyawa yang harus kita selamatkan"


Sinta, tersenyum lebar. Lalu, menatap Assitennya dan Rednan. "Kalian harus ikut!"


Rednan hanya bisa menghembuskan napas kasar, "Harus ketemu sama uler berbisa lagi nih? gue udah bosen sin"


Sinta, tidak mendengarkan rengekan Rednan. Nana yang sedari tadi diam mendekat ke arah Rama dan Sinta


"Gue ikut!" Sinta memandang jengah Nana


"Apa tadi lo bilang? Ikut? gue gak butuh tim medis lemah kaya lo!" ucapan pedas Sinta membuat Nana geram


"Gue, perawat senior disini gue yang lebih ngerti obat-obatan" Sinta kembali menahan tawanya


Dengan bangga, Sinta memperlihatkan gelar yang berada di Nick name jas putihnya. "Ekhm, Dr. Deswina Sinta Winata gak punya waktu"


Nana, terdiam menahan kesal. Itulah permusuhan Sinta dan Nana, saling menjatuhkan dan saling membuktikan siapa di antara mereka yang paling populer, cantik, dan pintar


"Eh, tunggu-tunggu. Kalo, Nana mau ikut kenapa enggak?" celetuk Rama yang sedari tadi diam


Sinta, hanya menatap jengah Rama. "Lo itu emang pikun ya?! Lo lupa dia tadi bilang gimana, dia baru mau ke kelinik kalo pasiennya udah sekarat"


"Tapi, Nana kan mau mencoba, apa salahnya?" Nana tersenyum karna Rama membelanya


"Udah, Nana gak usah ikut! Kalo lo emang perawat senior, seharusnya lo bisa menyetabilkan mereka selama gue pergi. Buktiin kalo lo emang perawat senior!" tantangan Sinta membuat Nana tertarik


"Baiklah, kalian pergilah"

__ADS_1


Tanpa kata apapun, Sinta. Langsung naik ke mobil


TBC🍻


__ADS_2