
Budayakan Like Sebelum Bacaš»
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
Jderr
Di luar perkiraan hujan turun deras malam ini. Para abdi negara itu rela basah, kedinginan di bawah guyuran hujan
Begitupula, Rama tubuhnya terguyur air hujan yang deras. Para abdi negara itu tetap waspada, mekskipun sudah 1 jam di tempat persembunyian tetap tidak ada kedatangan pemburu liar tersebut
Darwin langsung mengode dengan benda di telinganya, "Dari J2 Mayor Darwin. Sudah 1 jam, kita kembali ke markaz!"
Rama merasa tidak setuju dan langsung membalas. "Dari T4 Letnan Rama. Kita tunggu, saya yakin mereka datang"
Mereka tetap menunggu, sampai 30 menit dan hujan bertambah deras. Penglihatan menjadi minim. Petir bergemuruh, angin menjadi kencang.
"Dari J2 Mayor Darwin. Kita kembali!"
Tidak ada pilihan lain, Rama pun menurut. mereka pun keluar dari tempat persembunyian
Dor
Tiba-tiba saja salah satu abdi negara itu tertembak, dari arah berlawanan. Ternyata musuh menanti
Dor
Rama membalas tembakan, satu peluru hampir saja mengenai Rama. Rama langsung bersembunyi di balik pohon
Dor
Dor
Dor
Terjadi baku tembak antara Tentara dan orang yang di yakini anggota Cosa Nostra. Rama langsung menembaki orang-orang tersebut. Namun, matanya tetap waspada mencari keberadaan Tara, hujan deras membuat penglihatan pun menjadi sulit
Dor
Dor
Dor
Dor
Baku tembak kembali terjadi. Di bawah guyuran hujan menjadi saksi, bagaimana mereka saling menembak. Membunuh atau di bunuh!
Dor
Dor
Dor
Darwin pun dengan lihai melumpuhkan beberapa orang. Namun, sayang Tim nya beberapa ada yang terkena tembakan
Dor
Lengan, Darwin tertembak. Namun, tidak membuat pria itu menyerah, Darwin segera membalas tembakan itu
Dor
Dor
Dor
Rama berhasil melubangi kepala beberapa orang tersebut. Matanya tetap waspada, di gelapnya malam mereka bertarung. Siapa yang akan membunuh, atau yang akan terbunuh
Saat ini kuncinya pun satu. Jika tidak membunuh maka kau akan terbunuh!
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Puluhan peluru menghujani Tim Darwin. Beberapa mulai gugur, Darwin tidak akan menyerah begitupula Rama. Dengan sisa anggota mereka mulai pertempurannya
Dor
Dor
Dor
Tim Darwin berhasil melubangi beberapa dari Tim lawan. Rama yang kehabisan peluru langsung mengisinya, Rama menggantikan senjatanya dengan senjata berlaras panjang
__ADS_1
Dor
Dor
Dor
Tembakan-tembakan kembali terjadi. Beberapa orang mulai gugur di pertempuran itu. Namun, tidak ada yang menghentikannya
Dor!
Perut, Darwin tertembak. Rama langsung merangkak mendekat ke Darwin. "Darwin, lo gakpapa?"
Rama kian panik karna darah terus menetes. "Pe--rgi Rama, b--bawa anak buah yang lain. K--kita kalah jumlah"
Rama yang mendengar suara Darwin terputus-putus langsung tidak tega, "Kita pergi sama-sama, Darwin"
"Akhhhh, Lo pergi cepetan gue gakpapa" Darwin mengerang menahan sakit yang luar biasa
"Gue gak mungkin ninggalin lo!"
Rama langsung menghubungi, Satria lewat benda yang ada di telinga. "Lapor dari T4 Letnan Rama, Mayor Darwin terluka. Pasukan kalah jumlah, kirim pertolongan!!!"
Dor
Punggung, Rama tertembak membuat pria itu langsung ambruk. Darwin langsung panik melihat Rama iku tertembak
"Ra--Rama"
Rama berusaha bangkit meski menahan sakit, mengambil pistolnya. Lalu menembak dengan membabi buta
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Tembakan-tembakan terus terjadi, wajah Darwin sudah memucat karna kehabisan banyak darah
Dor
Lengan, Rama harus tertembak kembali. Namun, Rama tidak memperdulikannya, Rama menatap Tim nya beberapa sudah gugur
Pandangannya beralih kepada, Darwin. "Lo harus bertahan!!"
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Rama kembali bertarung. Namun, kepalanya mendadak berat, pandangannya kabur.
Dor
Rama tergelatak dengan mata terpejam. Namun, sayup-sayup dia mendengar tembakan-tembakan
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
"Bawa, Darwin dan Rama!!!"
****
Hujan saat ini gerimis, mata hitam legam selalu setia tidak ingin terpejam. Matanya terus menatap area luar
Sangat sepi! Sinta sangat bimbang sangat ingin menghubungi, Rama. Namun, gengsi
Sinta hanya bisa menghembuskan napas kasar. Ini sudah pukul 1:30 dan tidak ada tanda-tanda, Rama kembali
"Dokter, Sinta!!"
"Dokter!!"
Sinta yang hendak merebahkan diri langsung dia urungkan karna teriakan, Tentara yang belumuran darah
__ADS_1
"Astaga apa yang terjadi?"
"Dokter, Pak Rama dan Darwin tertembak!!"
"Apa!!"
Sinta langsung berlari ke ruang medis, Tim medis langsung begerak cepat. Sinta, pun sama dia langsung bergerak cepat
Sinta langsung mendekat ke tubuh, Rama. Air matanya tiba-tiba menetes melihat keadaan Rama. Tubuhnya berlumuran darah
Sinta dan Tim medis lainnya langsung melakukan operasi, Sinta langsung melakukan pertolongan cepat untuk Rama
Begitupula korban yang lain, mereka langsung melakukan pertolongan cepat. 1 jam Sinta berhasil mengeluarkan peluru. Detak jantung, Rama langsung normal membuat Sinta menghembuskan napas lega
"Dokter pasien sebelah sangat kritis!"
Sinta langsung pindah di ruang sebelah, Darwin kehilangan banyak darah. Peluru telah berhasil di keluarkan. Namun, keadaannya sangat lemah
Sinta langsung memacu jantung, Darwin. Berusaha untuk menyelamatkannya
"Keadaannya semakin melemah!!"
Sinta langsung menyuruh perawat untuk menyuntikan obat kembali. Sinta kembali memacu jantung Darwin. Keringat bahkan bercucuran karna panik
Namun
Tutt
Tutt
Tutt
Mayor Darwin tidak dapat di selamatkan
Sinta menghembuskan napas pasrah. Perwira menengah itu sudah kembali ke rahmat allah
"Inalilahi wainalilahi rojiun"
Satria mendekat ke arah Sinta. "Da--Darwin tidak selamat?"
Sinta menoleh ke Satria. "Maafkan saya, saya sudah berusaha"
Satria tidak bisa berkata-kata. Dalam lubuk hatinya pasti merasa kehilangan, mereka sudah lama bersama-sama
"Bagaimana keadaan, Rama?" tanya Satria
Sinta menyeka keringat di keningnya. "Syukurlah, tubuh Rama sangat kuat, dia bisa bertahan"
"Perawat tolong bersihkan jenazah, besok kita kuburkan mereka. Sebagai tanda penghormatan" titah Satria
"Siap, Ndan"
Sinta dan Satria pergi ke ruangan Rama. Rama masih tergeletak tak sadarkan diri, hidungnya di penuhi selang, dan beberapa luka di kening dan pipinya
Sinta hanya bisa menatap sendu, Rama. Tak lama pintu ruangan Rama di buka, Rednan datang dengan napas memburu
"Rama.." Rednan langsung memeluk tubuh Rama yang tidak sadarkan diri
"Wake up brother!!!" bisik Rednan di telinga Rama
Rednan menatap, Sinta yang berdiri di belakangnya. "Bagaimana dengan, Mayor Darwin?"
Sinta hanya bisa menggeleng pelan, "Maaf beliau tidak bisa di selamatkan"
Rednan yang mendengar mengeraskan rahangnya. "Brengsek! Ini semua karna badebah Cosa Nostra!!! Banyak pasukan J2 meninggal, utang nyawa harus di balas dengan nyawa!!!"
Satria langsung mengelus pundak, Rednan. "Sudah, tenanglah ini sudah takdir"
Rednan pun mengatur emosinya, menarik napas lalu membuangnya. Matanya kembali menatap, Rama
"Kapan Rama sadar, sin?"
"Mungkin besok," jawab Sinta lirih
"Cepet sadar, Ram!!"
"Saya pergi dahulu, menyiapkan pemakaman" Satria pun pergi meninggalkan ruangan Rama
"Thanks ya, sin. Lo udah selamatin Rama"
Sinta hanya mengangguk dan tersenyum, "Sama-sama. Ini udah menjadi tugas gue untuk menyelamatkan seseorang, ya meskipun tuhan kadang bekehendak lain. Gue udah semampu mungkin untuk menyelamatkan, Mayor Darwin"
Rednan tersenyum tipis mendengar jawaban, Sinta. "Lo udah hebat, sin. Pekerjaan lo mulia, ya meskipun lo itu kadang cerewet tapi lo hebat!"
Sinta hanya tersenyum, lalu pandangannya kembali jatuh kepada Rama. Matanya terpejam, dan bibirnya tertutup.
"Cepat bangun, Tentara songong!!!!"
Sinta yang sadar dengan pikirannya langsung menggeleng pelan
"Enggak! Gue mikir apaan sih, bagusan juga nih Tentara tidur, kuping gue jadi adem kalo gak denger dia ngeledekin gue!!!"
__ADS_1
TBC