RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 68


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


.


****


Kring... Kring... Kring...


Dering ponsel yang menggema, membuat tidur seorang pria tampan terusik. Pria itu membuka matanya, dan meraih ponsel yang ada di meja sebelah ranjangnya.


“Hallo, Rama?”


Rama menguap mencoba mencari kesadaran. “Hallo, Paman?”


“Bunda mu sudah sadar!”


Rama langsung melebarkan mata, mendengar kabar gembira itu. Rama langsung bergegas untuk segera kerumah sakit, karna malam tadi Rama tidur dirumah dinasnya, sedangkan Adnan yang menunggu Aletha.


Rama langsung melaju dengan semangat, tak sabar ingin melihat kembali wajah ceria Bundanya.


Selama 25 menit berkendara, akhirnya Rama tiba dirumah sakit. Rama langsung menuju ke kamar inap Bundanya, karna Aletha sudah di pindahkan ke kamar inap VIP.


tok... tok... tok


Rama mengetuk pintu kamar VIP yang berada dilantai paling atas.


Ceklek


Pintu pun dibukakan oleh Kak Hana, istri Adnan. Rama langsung masuk dan menemui Bundanya, Rama tersenyum tipis melihat Aletha yang saat itu sedang makan disuapi oleh Michel.


“Bunda...!” Rama langsung berhambur dipelukan wanita yang dia cintai itu, Aletha yang terkejut hanya mengusap-usap kepala Rama.


“Bunda... Rama khawatir sama, Bunda!” Rama akhirnya menunjukan sisi lemahnya kepada sang Ibunda, Rama menteskan air matanya di pelukan Bundanya.


“Bunda udah gakpapa sayang! Rama...!”


Rama lalu melepaskan pelukannya, dan menatap nanar Aletha. “Ada apa, Bunda?”


“Dimana, Ayahmu?”


Deg!


Rama terdiam, begitupula semua yang ada diruangan itu terdiam. Mereka tidak kuasa menjawab pertanyaam sederhana dari Aletha.


“Rama... Kenapa kamu tidak menjawab? Kak Adnan dan Kak Hana juga tidak mau memberi tahu, Bunda. Kamu anak, Bunda kamu kasih tahu Bunda!” Aletha terus berceloteh yang hal itu membuat hati Rama hancur berkeping-keping.


Rama menghela napas, lalu memeluk Aletha. Air mata yang Rama tahan, langsung menetes begitu memeluk Aletha.


“Tuhan lebih sayang dengan, Ayah.”


Aletha yang paham akan ucapan Rama itu langsung menangis. Aletha menangis histeris mendengar jika suaminya meninggal.

__ADS_1


“Enggak! Enggak, Rama!! Ayah kamu masih hidupkan? jangan bohongi Bunda, Rama...!! Hiks!” Aletha menangis sejadi-jadinya, Hana dan Michel langsung memeluk Aletha. Ruangan itu kini dipenuhi tangisan pilu mereka. Adnan pun meneteskan air mata, melihat Adiknya yang sangat dia sayangi saat ini benar-benar terpukul.


Ceklek.


Pintu ruangan inap itu dibuka. Menampakan Tari dan Kevin yang baru tiba. Tari yang melihat Aletha menangis langsung memeluknya.


Tak hanya Tari, sahabat-sahabat Aletha pun datang menjenguk Aletha. Mereka semua menangis melihat kerapuhan Aletha, mereka memeluk Aletha memberikan kekuatan.


“Tari... Aku gak mau Tari!! Aku gak mau ditinggal, Ustadz Yusuf!!” Tari yang mendengar suara Aletha pun tak kuasa menahan air matanya.


Akhirnya, Aletha pun diantarkan ke makam Yusuf. Disana, Aletha menangis sejadi-jadinya. Aletha tidak peduli jika bajunya kotor terkena tanah.


Rama memilih menjauh, Rama tak kuasa melihat Bundanya yang sangat menderita. Rama teringat akan surat ancaman itu, Rama memejamkan mata sembari mengepalkan tangan.


“Siapa pun kalian yang mengusik Keluargaku, bersiaplah mati! Dan aku bersumpah, hutang nyawa 1 akan dibalas 1000!!”


“Rama...!” Panggilan dan tepukan di bahu Rama, membuyarkan seluruh lamun Rama.


Rama menghadap kesumber suara, mendapati Sinta yang saat ini menatapnya sendu.


“S—Sinta? Kenapa kamu disini? Bagaimana jika, Papa mu melihatmu?” Rama masih berucap dengan dingin, meskipun belum ada kata putus diantara mereka.


“Kita perlu bicara!” Sinta langsung menarik Rama, menjauh dari pemakaman.


Rama meronta karna ditarik oleh Sinta. “Sinta ada apa?!” tanya Rama kembali dengan nada yang mulai tinggi.


“Cukup, Ram!! Aku udah gak kuat kaya gini terus, aku gak mau kamu cuekin, Ram!” Akhirnya, Sinta pun berbicara dengan air mata yang menetes.


Rama menghela napas, dalam lubuk hati yang terdalam pun, Rama sangat merindukan kebersamaannya dengan Sinta. Rama menarik Sinta kedalam pelukannya. Sinta semakin terisak di pelukan Rama, Sinta pun sangat-sangat merindukan kekasihnya itu.


“Berikan aku waktu, Sinta! Berikan aku waktu untuk memaafkan keadaan.”


****


Rama saat ini kembali disibukan dengan pekerjaannya. Aletha pun sudah mulai membaik, dan berusaha mengikhlaskan suaminya itu. Perusahaan pun sudah diurus oleh Aletha.


“Bun, Rama berangkat dulu ya!” Rama lalu memberikan kecupan di pipi Aletha.


Rama dan Aletha kini tinggal di perumahan Andara. Dan tentu, jaraknya menuju Kantor TNI Ad menjadi jauh.


Rama yang biasanya hanya butuh waktu 25 menit, sekarang membutuhkan waktu 45 menit perjalanan.


Rama sedikit memacu motornya lebih cepat, karna tadi pagi Rama bangun terlambat. Kejadian 6 bulan silam pun juga merubah kebiasaan Rama.


Rama harus bangun lebih awal, harus menyetir motor lebih lama, dan harus menahan rindu kepada perempuan yang sampai saat ini masih dia cintai.


Tak lama Rama pun sampai di Kantor TNI AD. Rama pun sudah naik pangkat menjadi Kolonel, tentu Satria pun naik pangkat ke perwira tinggi.


Satria pun saat ini sedang bertugas diluar kota. Rama bertugas di Kantor sebagaimana mestinya.


Sampai tak terasa jam sudah menunjukan waktu pulang. Rama lalu mengandarai motor yang penuh kenangan itu, membelah jalanan Ibu kota di sore hari.


Rama merindukan saat-saat itu, Rama merindukan menikmati senja di atas motor bersama dia, gadis yang saat ini masih Rama cintai.


Brak


Rama terjatuh ke aspal, tangannya lecet karna tak siap mendapat tabrakan. Tak sengaja, Rama di serempet mobil yang melaju di sampingnya.


Pemilik mobil itu langsung menghampiri, Rama. Seorang perempuan cantik dengan jas putihnya.


“Sinta?”

__ADS_1


“Rama?”


Mereka saling berpandang lama, karna jarak rumah Rama dan Sinta saat ini pun jauh membuat mereka jarang sekali bertemu.


Rama langsung menarik Sinta di pelukannya. Rama pun benar-benar merindukan Sinta, Rama pun sudah memaafkan kejadian masalalu.


Karna kehidupan itu terus berlanjut, jam terus berputar. Apapun yang terjadi terima dan lanjutkan kehidupan.


“Aku rindu kamu!” ucap Sinta pelan sembari menatap Rama nanar.


”Tatapan ini masih sama, mata tajam itu sama, aura dingin itu sama. Takdir menemukan kita kembali, Rama!”


Rama masih diam, dan memeluk gadis yang sangat dia cintai. Sinta pun membantu Rama untuk masuk ke mobilnya, motor Rama di titipkan di toko swalayan.


Sinta dengan telaten membersihkan luka di tangan Rama.


“Kamu apa kabar?” Rama yang sedari tadi diam akhirnya bertanya kepada Sinta.


“Seperti yang kamu lihat, aku masih sama dan aku baik-baik saja!” Sinta menjawab dengan fokus di luka Rama.


“Apa kamu berpikir, Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi, Sinta?” Rama menatap lekat gadis yang sangat dia rindukan.


Sinta pun juga menatap Rama, pandangan mereka terkunci. Tenggelam dengan manik masing-masing.


“Ini adalah ujian selanjutnya untuk hubungan kita. Karna aku yakin, Tuhan menyiapkan tantangan baru untuk kita.”


Rama terdiam dengan ucapan Sinta. Sinta lalu menghidupkan mesin mobilnya untuk mengantar Rama pulang, Rama lalu memberi tahu alamat barunya kepada Sinta.


Tak lama mereka sampai dirumah Rama. “Ayo turun! Bunda selalu menanyakanmu,” ucap Rama sebelum membuka pintu mobil.


Sinta menghela napas sebelum menganggukan kepala. Sinta pun ikut masuk kerumah baru Rama.


“Bunda sekarang sangat sibuk.”


Sinta menatap Rama yang baru saja berbicara. “Sibuk kenapa?”


“Bunda banyak bekerja sekarang, Bunda melanjutkan perusahaan Ayah,” jawab Rama sembari membuka pintu utama.


Rama pun mengajak Sinta untuk duduk di sofa. Rama naik ke lantai atas, Sinta masih diam sembari mengamati interior rumah mewah Rama.


“Sinta...?”


“Bunda...?” Sinta langsung berhambur di pelukan Aletha. Mereka berpelukan melepas rasa rindu.


“Sinta kangen sama, Bunda!”


“Bunda juga kangen sama, Sinta!” mereka berpelukan layaknya Ibu bertemu dengan Putrinya.


Mereka tidak sadar jika Rama sedari tadi mengamatinya dari atas. Rama menghela napas sebelum bergumam.


“Apa yang di katakan Sinta benar, ujian ini belum berakhir. Seperti janjiku, aku akan memperjuangkanmu Sinta!”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2