RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 13


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


"Bodoh, Sinta! Kenapa sih lo malah mikirin, Rama!!"


"Bodoh, Kenapa gue jadi mikirin, Rama sih?"


Kedua manusia yang belum sadar akan datangnya gelenjar aneh itu hanya diam, saling bergelut dengan pikiran masing-masing. Sinta, sibuk membalut perban di lengan Rama sedangkan Rama hanya diam membuang muka


"Udah, jangan sampe kena air dulu"


Sinta, pun pergi meninggalkan ruang perawatan, Rama. Sinta langsung pergi ke kamar mandi, bahkan dirinya belum sempat mandi. Untung, Sinta cantik mandi gak mandi masih kelihatan cantik


Setelah membersihkan diri selama 15 menit, Sinta menatap wajahnya di pantulan kaca. "Enggak, gak boleh! Inget Sinta lo bukan cewek yang bakal jatuh hati dalam waktu sebentar!!! Itu cuma perasaan sementara, enggak jangan sampai lo jatuh hati sama, Rama!!!"


Dor


"Sial, lo pengen gue jantungan?!!" bentak Sinta kepada pria yang saat ini masih ketawa ngakak


"Aduh, Sinta lo itu pagi-pagi udah marah-marah. Awas nanti cantiknya hilang"


Sinta, tidak memperdulikan dan memasang wajah kesal. "Diem! Mas Rednan kalo masih ketawa gue laporin ke Komandan Satria!"


"Laporin aja, lo mau laporin apa, Ha?" tantang Rednan dengan menjulurkan lidahnya


"Gue bakal laporin apa yang, Mas Rednan lakuin pas tugas di kota. Inget, Mas gue pernah lihat lo di club sama cewek, itu waktu tugas loh"


Deg


Wajah Rednan langsung menegang, sedangkan Sinta cekikikan melihat raut wajah Rednan yang berubah


"Iya gue minta maaf. Tapi jangan di laporin ke Komandan, apalagi sama Rama. Huh, bisa di laporin bapak gue plus di ceramahin Rama"


Sinta yang mendengar rengekan, Rednan malah tersenyum bersorak kemenangan. "Oke, gue gak akan laporin siapa-siapa, Tapi ada syaratnya!"


"Jadi nyesel gue ngagetin, Sinta. Bukannya untung malah buntung!"


"Woy, ngebatin apa lo?" Lamun, Rednan buyar karna sentakan Sinta


"Iya apa syaratnya?" tanya Rednan dengan malas


Sinta tersenyum tipis, lalu berbicara berbisik. "Ceritain ke gue, apa hubungan Nana dan Rama?"


Rednan yang mendengar langsung membulatkan mata, "Ada angin apaan nih kok lo tiba-tiba tanya-tanya soal, Rama dan Nana?. Atau jangan-jangan lo suk--"


"Gak usah bawel, buruan jawab. Atau gue laporin nih?"


"Ehh, Iya-iya!"


Sinta pun kembali tersenyum, lalu menatap sinis Rednan. "Jangan mikir macam-macam, gue gak akan pernah suka sama, Rama. Udah buruan ceritain!!"


Rednan hanya bisa menghembuskan napas kasar, "Nana itu perawat baru disini. Dia baru basuk 2 bulan yang lalu, Nana disini terkenal paling polos, pendiam. Banyak kok Tentara yang suka sama, Nana. Termasuk gue sih hehe, tapi Nana itu kaya nya suka sama, Rama. Rama selalu menjadi hal utama, Nana. Dan, Rama dia wallcome aja sama, Nana. Gue pikir sih mereka saling suka"

__ADS_1


Sinta terdiam mendengar penuturan, Rednan. "Oh"


"Oh?"


"Iya oh!"


Rednan yang mendengar hanya bisa mengusap wajah kasar. "Gue cerita panjang kali lebar lo cuma jawab Oh?"


Dengan santainya, Sinta mengangguk. "Terus gue harus gimana? Gue harus bilang Wow gitu? Gue harus nangis-nangis? Gue harus seneng?"


Rednan yang kesal langsung menjitak kepala Sinta dan langsung masuk ke kamar mandi, meninggalkan Sinta yang sudah di mode ngamuk


"Mas Rednan!!!!!"


****


"Mas Rama?"


Rama, menoleh mendapati Nana yang berdiri di sampingnya. "Nana, ada apa?"


"Mas Rama, udah di obatin sama, Sinta?"


Rama tersenyum dan mengangguk, "Udah kok"


"Syukurlah" Nana tersenyum manis menatap Rama, sedangkan Rama dirinya pun ikut tersenyum


"Mas Rama mau kemana? Kan masih sakit?" tanya Nana yang langsung menatap perban baru di lengan, Rama


"Aku mau jalan-jalan aja, Na. Juga latihan ini cuma luka biasa, minggu depan kan aku harus tugas" Nana mengangguk mendengar jawaban Nana


Dari kejauhan ada sepasang mata hitam mengamati, dan tanpa sadar dirinya berdecak menatap kedua insan yang tengah berbincang


Sinta pun menarik napas lalu membuangnya, berjalan pelan menghampiri kedua insan yang tengah berbincang. Awalnya sih cuma lewat, Eh---


"Sinta...!" Sinta menghentikan langkahnya mendengar suara, Rama


"Kenapa?"


Rama tersenyum melihat wajah judes, Sinta. "Bisa gak sih tuh wajah di ganti, kalo judes terus gitu gak cantik!"


Saat ini mungkin, Sinta langsung bertambah kesal!


"Suka-suka gue dong mau punya wajah apapun, judes-judes gini gue udah pernah punya pacar!!" Sinta pun hendak pergi. Namun, tangannya di cekal oleh Rama


Sinta, menatap Rama. Rama pun menatap dalam manik hitam legam tersebut, jantung Sinta berdebar kencang, bahkan dirinya merasa gugup


"Makasih!"


"A--Apa?" Sinta tergagap dan langsung melepas cekalan, Rama


"Makasih!"


"Makasih buat apa?" tanya Sinta dengan gugup


"Makasih udah obatin gue,"

__ADS_1


Sinta hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Tak di sadari, saat ini Nana menggeram kesal menatap Sinta


"Oh, ya udah gue balik duluan. Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam"


Saat ini tinggalah, Nana dan Rama. "Emm, Mas Rama ak--"


"Aku pergi dulu ya, Na. Aku mau ngomong sama Komandan Satria. Aku duluan Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam" jawab Nana datar


"Sial!! Gara-gara Sinta, Mas Rama jadi pergi!!"


Nana pun langsung melangkahkan kaki menuju ruangan, Sinta. Di ruang medis nampaklah Sinta yang sedang membaca laporan


Dengan kasar, Nana merayah laporin itu. "Apaan sih lo, Na?" bentak Sinta langsung bangkit dari duduknya


Nana, hanya menatap tajam Sinta. Begitupula, Sinta menatapnya tak kalah tajam. "Gue cum mau peringatkan ke lo! Jangan dekat-dekat, Mas Rama!!"


Sinta hanya mengangkat satu alisnya, "Lo ngomong apa sih? Gak penting!" Sinta pun mengambil laporannya kembali, hendak duduk. Namun, laporannya kembali di rayah, Nana


"Mau lo apa, Hah!?" kali ini Sinta telah kehabisan kesabaran


"Mau gue, lo jauhin Mas Rama!!!"


Sinta menatap tajam, Nana. Lalu menunjuk tepat di wajah, Nana. "Gue peringatkan lo, Nana. Gue gak pernah deketin, Rama. Kalaupun, Rama deketin gue itu adalah hukuman alam buat lo, karna dulu lo udah gangguin hubungan gue sama, Bima!!"


Nana, mematung mendengarnya. Sinta kembali merayah laporannya, lalu duduk di kursi. "Lo gak perlu nutupin jati diri lo sesungguhnya dengan gaya sok polos, gue tahu lo itu gimana" ujar Sinta santai


Brak


Tiba-tiba saja meja, Sinta di gebrak oleh Nana. "Pokoknya, lo jangan deketin, Mas Rama!"


"Gue perlu ngomong berapa kali sih? Gue gak pernah deketin, Rama! Siapa juga yang mau deketin, Tentara songong kaya dia!"


Nana langsung pergi dari ruangan, Sinta. "Arghhh, Sial! Nana udah hancurin mood gue!!!"


Sinta, melempar laporannya asal. Tak lama pintu terbuka, Meyga menatap Sinta. Raut, Sinta tengah tidak bersahabat


"Sin, Lo kenapa?"


Sinta hanya menatap sekilas, Meyga. "Gara-gara, Nana gue jadi inget, Bima lagi!"


Meyga, menarik kursi lalu duduk di depan, Sinta. "Udah lo gak usah dengerin, tuh nenek lampir. Dia mah depannya aja polos, dalemnya ihhh iuhh!"


Sinta tetap diam tidak membalas ucapan, Meyga. "Udah dong, jangan cemberut nanti lo jelek!"


"Diem!"


Meyga langsung tersentak karna bentakan Sinta. "Kenapa sih lo jadi cerewet dan lo jadi nyebelin kaya, Rama?"


Meyga, hanya menelan ludahnya kasar. "Ya--ya-ya Maaf, Sin"


Sinta tidak menjawan dan langsung beranjak dari duduknya

__ADS_1


TBC🍻


Jika suka dengan ceritanya. Silahkan tinggalkan. Like, Vote, Rating bintang 5, koreksi kesalahan author di kolom komentar. Jangan komen pedes, kalo bosen baca cari aja yang lain saya gak maksa !


__ADS_2