
Budayakan Like Sebelum Bacaš»
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
"Lo aneh banget sih hari ini," Sinta berulang kali salah tingkah, bagaimana tidak? Rama sedari tadi menatapnya dengan intens
"Gue cuma mau membuktikan perasaan gue" jawabnya datar
Sinta berdecak kesal, Sinta hendak melangkah. Namun, terjadi guncangan dahsyat, membuat Sinta dan Rama kehilangan keseimbangan.
Beberapa orang lansung berkeluaran dari kamar-kamar mereka, pohon-pohon sampai ada yang ambruk. Baru saja terjadi gempa bumi berkecepatan (7.8) SR
"Sinta lo gakpapa?" Rama langsung mendekat ke arah Sinta, Sinta diam terduduk
Bunyi sirine tanda bahaya langsung berbunyi, Rama harus pergi untuk melihat warga sekitar.
"Lo cari tempat yang aman dulu, Gue harus pergi" Setelah mengatakan hal itu, Rama pergi bersama Tim nya
Sinta pun ikut serta, di tempat warga lebih mengenaskan. Beberapa rumah warga ambruk, Rama dan Timnya lansung bergerak menyelamatkan korban-korban
Sinta dan Tim medisnya pun langsung bersiap, Tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang. Debu-debu bertebrangan, untung saja Sinta sudah menggunakan masker
Sinta dan Tim medislainnya, membantu korban-korban. Kebanyakan korban adalah, orang-orang yang tertimpa puing-puing bangunan.
"BMKG mengatakan akan ada gempa susulan," ujar Susi yang saat itu mengecek handphone
Sinta langsung melirik ke tempat dimana Rama dan Timnya beraksi. Rama dan Timnya tengah menelusuri bangunan sekolah yang ambruk, padahal sore itu sebagian sedang melakukan kegiatan sekolah.
Sinta merasa khawatir mendengar akan ada gempa susulan. Sedangkan Rama dan Timnya sedang berusaha menyelamatkan korban-korban yang kebanyakan anak-anak
Rama mengangkat puing-puing yang menimpa tubuh-tubuh mungil tersebut, ada yang menangis, bahkan tak sadarkan diri. Rama langsung menggendong salah satu anak yang tak sadarkan diri
Tiba-tiba saja guncangan itu kembali, dan itu lebih kencang dari sebelumnya. Rama bahkan hampir terhuyung saking kencangnya, Rama sudah berada di pintu satu langkah lagi dia keluar dari bangunan sekolah.
Tapi, Teman-temannya ada di dalam. Mereka terjebak!
Rama melihat Sinta menghampirinya. Rama langsung menghadangnya agar tidak mendekat
"Sinta lo ngapain ada disini? ini berbahaya!!" teriak Rama
Sinta malah menggeleng dan tetap mendekat, "Rama ayo pergi dari sini, ini sangat berbahaya"
"Gue gak bisa pergi, Sin. Bawa anak ini, gue harus selamatkan Rednan, Rednan ada di dalam" Rama langsung memberikan anak yang ada di gendongannya kepada Sinta, Sinta mengambil alih gendongan tersebut
"Rama" Rama hendak berbalik. Namun, di urungkan mendengar Sinta memanggil
"Kembalilah dengan selamat," mata Sinta sudah menggenang, bisa di pastikan jika dia mengerjapkan mata maka air matanya akan jatuh
Rama tersenyum dan mengangguk, "Pergilah dari disini!"
Sinta hanya menurut, lalu Rama kembali masuk ke bangunan itu. Guncangan-guncangan ternyata masih terjadi, Hal itu membuat langkah Rama sempoyongan
__ADS_1
Mata, Rama menangkap Rednan yang tertimbun almari. Rama langsung berlari, berusaha mengangkat almari tersebut
"Red, Sadar!!!" Rama menepuk-nepuk pipi Rednan. Namun, pria itu tak sadarkan diri
Kaki Rednan tertimpa Almari, membuat Rednan tidak bisa bergerak. Sekuat tenaga Rama berusaha mengangkat almari itu
"Lapor, dari J1 Komandan Satria. Bagi yang masih berada di bangunan sekolah cepat keluar, dalam waktu 5 menit bangunan itu akan ambruk!" Rama tidak memperdulikan panggilan dari Komadanannya
Rama harus keluar dengan Rednan. Waktu tersisa 2 menit, Rama berhasil menyingkirkan almari itu. Rama langsung memapah Rednan dengan susah payah.
Brukk
Tiba-tiba saja kayu dari atap mengenai punggung, Rama. Membuat pria itu terjatuh. Namun, Rama harus bangkit, waktunya tinggal 2 menit dia harus keluar dengan selamat bersama sahabatnya
Dengan susah payah Rama terus memapah Rednan yang tak sadarkan diri. Hingga terjadi guncangan kembali, Rama terus berdoa di dalam hati. Jika di dalam kondisi seperti ini maka dia akan mengingat, Bunda, Ayah, dan Sinta. Itu yang berada di pikiran Rama saat ini
Penglihatan, Rama mulai kabur. Kepalanya terasa berat, punggungnya mulai nyeri. Dan
Bruk
Rama terjatuh bersamaan dengan runtuhnya bangunan sekolah
****
Sinta terus menangis sesegukan. Melihat bagaimana keadaan Rama saat ini, beberapa korban langsung di bawa kerumah sakit di kota. Begitupula, Rama. Rama saat ini di rawat di rumah sakit di kota itu, Rama di rawat di ICU
"Sabar, Sin" Meyga terus mengelus bahu Sinta.
"Rednan sudah sadarkan diri. Orang tua Rednan sedang menuju kemari,"
Sinta hanya diam tidak menjawab, matanya terus tertuju kepada pria yang saat ini sedang terpejam. Tubuhnya di penuhi kabel-kabel, hidungnya di berikan selang, wajahnya pun tampak pucat.
Tak lama pintu ruangan ICU terbuka. Nampaklah pria setengahbaya berpakiaan putih. Sinta langsung menghampirinya
"Bagaimana keadaan, Rama dok?" tanya Sinta tanpa basa basi
"Keadaan pasien masih lemah, benturan keras di otaknya membuat pasien koma"
Deg
Sinta merasakan benturan keras di dadanya, rasanya sesak saat mendengar apa yang dokter katakan. "Ko-Koma?"
Dokter itu mengangguk. "Benar, Pasien mengalami koma"
"Apa anda istrinya?" tanya Dokter itu kembali
Sinta menggeleng lemah, "Saya temannya, Dok"
"Saya, Bundanya!"
Sinta mengalihkan pandangan, dimana ada seorang Ibu setengah baya dan Pria setengah baya mendekat dengan tergesa-gesa. Bahkan air mata sudah menghiasi wajah cantik Ibu setengahbaya
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Aletha antusias
__ADS_1
Dokter pria itu menghela napas, "Pasien mengalami guncangan yang hebat. Pasien saat ini mengalami koma"
Deg!
Aletha langsung lemas, bahkan dirinya langsung tak sadarkan diri. Sinta langsung membantu Aletha.
"Bapak, Ayahnya? Mari keruangan saya"
Yusuf hanya menurut. Yusuf lalu duduk di ruangan serba putih, duduk berhadapan dengan dokter tersebut
"Kemungkinan berapa lama anak saya koma, Dok?"
Dokter itu tampak menghela napas. "Hal itu tidak bisa di prekdiksi, Pak. Bisa saja satu minggu, bulan, atau bahkan tahun"
Yusuf yang mendengar hanya bisa menghela napas berat. "Apa penyebab anak saya bisa koma, Dok?"
"Hal itu terjadi karna benturan keras terdapat otaknya, dan hal itu membuat cedera pada otaknya,"
Yusuf hanya bisa menghela napas. Hati orang tua mana yang tak menyayat, mendengar hal yang diderita putranya?
Koma? Dimana seseorang akan tertidur dengan jangka waktu yang panjang, matanya akan terus menutup, bahkan pola napasnya tidak teratur.
"Apa anak saya akan sadar, Dok?"
"Kemungkinan bisa, Pak. Namun mengingat keadaan pasien saat ini sangat kritis itu tidak bisa di prekdiksi, Jika pasien menginginkan untuk bangun, pasti pasien akan bangun, Pak. Bapak yang sabar, tetaplah berdoa"
Yusuf yang mendengar hanya bisa mengangguk pelan. "Terimakasih, Dok. Saya permisi"
Yusuf lalu keluar dari ruangan dokter tersebut, matanya menangkap Istrinya yang masih menangis. Yusuf mendekat lalu memeluknya erat
"Sudah tenang, Rama akan kembali kepada kita," dengan lembut Yusuf mengusap kepala Aletha
Sinta merasa menyayat melihatnya, beberapa jam yang lalu. Rama baru saja mengatakan perasaannya, dan sekarang? Rama sedang terbaring tidak sadarkan diri
Sinta bangkit dari duduknya, mengintip dari kaca di pintu tersebut.
"Gue juga suka sama lo, Ram" gumamnya tanpa sadar
"Maaf, Nona. Pasien sebelah ingin menemui anda,"
Sinta langsung berbalik, mendapati perawat wanita di depannya. "Baik, Terimakasih"
Sinta lalu masuk ke ruang dimana Rednan di rawat. Melihat kedatangan Sinta, Rednan langsung berbicara
"Sin, Bagaimana keadaan Rama?"
Sinta menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang, Rednan. "Rama masih tidak sadar, Red" jawabnya pelan
Rednan tak kuasa menahan kesedihannya, dengan emosi Rednan menjambak rambutnya
"Sial ini semua salah gue!!!"
TBC
__ADS_1