RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 32


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta.


****


Hari ini adalah hari kedua, Tes kemiliteran. Rama sudah berdiri di hadapan calon prajurit baru, dengan wajah datar dan tegas ala Tentara, tentu itu menambah kharismatik.


"LARI 20×, SETELAH ITU PUSH UP 70 ×"


"SIAP PAK!!"


Rama dan Temannya hanya memperhatikan, bagaimana semangat calon prajurit baru tersebut. Mereka berlari tanpa mengeluh, Pagi ini padahal sudah pukul 09.00. Matahari sudah hampir naik. Namun, tidak mematahkan semangat pejuang baru Indonesia


"AYO SEMANGAT-SEMANGAT!!!" Rama sesekali meneriaki, memberikan semangat.


"Kalo ngelihat junior pada, Tes gini jadi inget waktu dulu awal masuk jadi TNI," celetuk Ryan yang berdiri di samping Rama.


Rama yang mendengar tersenyum tipis. "Perjuangan kita juga tidak sia-sia,"


Ryan hanya menganggukan kepala, Rama kembali memperhatikan calon prajurit baru tersebut. Namun, pandangannya kini beralih kepada seorang gadis berkucir kuda.


Bruk


Rama langsung berlari, melihat gadis itu pingsan. Rama langsung membopongnya, membawanya ke bawah pohon rindang.


"Ada yang punya minyak telon?"


"Saya ada, Ndan!" salah satu Tentara langsung memberikan minyak telon kepada, Rama.


Rama langsung mengusapkan minyak itu, di bawah hidung gadis tersebut. Tak lama gadis itu mulai membuka matanya, pandangan yang pertama dirinya tangkap adalah sosok tampan, yang berahang tegas.


"P--Pak Rama? Maaf saya merepotkan,"


Rama yang mendengar tersenyum tipis. "Apa kamu belum sarapan, Karina?"


Karina hanya nyengir dan menggeleng. "Maaf, Pak. Tadi saya buru-buru"


"Ryan! Ambilkan bekalku di tas!"


Ryan hanya menurut, lalu mengambilkan apa yang di minta, Rama. Namun, Ryan langsung mengingat, tadi pagi Sinta lah yang memberikan bekal ini terhadap Rama.


"Loh, Pak. Ini belum waktunya Istirahat, sudah mau dimakan bekal pemberian, Ibu Negara?" goda Ryan dengan senyum jahilnya.


Rama hanya tersenyum tipis mendengarnya, "Bukan untuk saya, tapi untuk Karina. Dia belum sarapan,"


Ryan terkejut mendengarnya, padahal dirinya tahu bagaimana perjuangan Sinta masak dari subuh. Dan saat ini dengan mudah Rama memberikan bekal itu kepada muridnya.


"Ini di makan," Rama menyodorkan bekal makanannya kepada, Karina.

__ADS_1


"Tidak usah, Pak. Ini bekal, Bapak"


"Kalau kamu tidak makan, kamu tidak akan bisa mengikuti Tes selanjutnya, dan kamu tidak akan bisa meneruskan cita-citamu"


Mendengar penuturan, Rama akhirnya membuat Karina memakan bekal tersebut. Karina sempat mengernyitkan dahi, karna rasanya yang aneh.


"Kenapa?" tanya Rama yang mengetahui gelagat Karina.


"E--Enggak, Pak"


"Enak kan?,"


Karina hanya mengangguk kaku. "Enak apanya, ini makanan apa garam sih. Tapi gakpapalah, untuk ganjel-ganjel perut," gerutu Karina di dalam hati.


Karina hanya memakan setengah bekal pemberian, Rama. "Terimakasih, Pak. Saya sudah kenyang, saya akan kembali mengikuti, Tes"


"Ini makanannya belum kamu habiskan,"


Karina hanya tersenyum kaku. "Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah kenyang, saya kembali ikut, Tes pak" pamit Karina cepat.


Karina pun kembali mengikuti, Tes. Karina memilih mengganjel perutnya, dari pada menghambiskan makanan yang menurutnya buruk.


Rama merasa heran, karna Karina memakan bekal tersebut seperti terpaksa. Rama mencoba merasakan makanan buatan, Kekasihnya.


**Hap**


Satu suapan di masukan di mulut, Rama. Rama melebarkan matanya saat makanan itu sudah masuk di lidahnya, secara reflek Rama memutahkan makanan yang dia kunyah barusan.


Dirinya pun melanjutkan untuk mengawasi calon prajurit barunya, dirinya juga tidak sadar bahwa sedari tadi ada mata hitam legam mengamatinya dan mendengarkan apa yang Rama ucapkan.


"Aku memang seburuk itu,"


****


Sembari membaca laporan-laporan baru, Sinta pun merenungi apa yang dirinya tadi lihat. Pikirannya menerka-menerka, apa bekal yang dirinya buat tidak enak? seburuk itu kah?


Sinta memang tidak pernah belajar memasak, dirinya di sibukan dengan belajar dan belajar. Sinta di tuntut untuk menjadi Dokter.


Masa Remajanya pun tidak seperti Remaja pada umumnya. Sinta selalu berada di kamar, bergelut dengan materi dan pembelajaran. Teman, Sinta pun tidak banyak. Untungnya dulu ada Bima, yang selalu ada di sisi Sinta. Namun, tidak lagi untuk sekarang.


Sinta memiliki, Rama. Namun, apakah Sinta pantas dengan Rama? Rama seorang Tentara, jabatannya saja sudah menduduki Letnan Kolonel.


Apa Sinta pantas? Sinta tidak bisa memasak, Sinta jarang mengerjakan pekerjaan rumah.


"Hey!!"


Lamun, Sinta buyar karna suara yang baginya familiar. Sinta tidak menghiraukan dan kembali pada laporannya.


Rama mengkerutkan keningnya, melihat tingkah Sinta yang aneh. Rama menarik kursi lalu duduk di depan Sinta.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Rama. Namun, Sinta tidak menjawab dan memasang wajah datar. Rama menjadi bingung, pasalnya tadi pagi saja Sinta baik-baik saja.


"Sinta kalo ada masalah cerita, jangan diemin aku begini!!"


Sinta berdehem lalu menatap datar, Rama. "Apa yang perlu di ceritakan? Tidak ada apa-apa" jawabnya datar.


"Kamu marah sama aku?"


Sinta hanya menggeleng kepala. Rama pun menjadi bingung, dia tidak tahu dimana titik kesalahannya. Sinta melirik sekilas ke arah Rama.


"Tumben jam sekarang udah balik,"


"Tadi Tesnya cuma sebentar" jawab Rama cepat.


"Ohh" Sinta menjawab dengan nada judes, "Bekal yang aku kasih udah di makan?"


Rama menelan salivanya, dirinya baru teringat bahwa belum memakan bekal pemberian, Sinta.


"Aku lupa memakannya, tapi aku akan memakannya" Rama langsung mengeluarkan bekal pemberian, Sinta dari tasnya. Rama lalu membuka bekal itu, dan makanannya tinggal setengah.


Sinta melirik sinis makanan tersebut. "Belum di makan tapi sudah habis setengah," sindirnya.


Rama menjadi gelagapan, Rama berpikir-pikir. Apakah Sinta tahu jika bekalnya diberikan kepada, Karina? Apa ini yang membuat Sinta marah?


"Hmm. Sinta maaf, tadi ada calon prajurit pingsan aku memberikan bekal ini kepadanya,"


"Oh kenapa gak bilang dari awal? Kenapa harus bohong? Bilang aja kalo bekalnya sudah di makan. Makanannya buruk ya? Kok gak di habisin, iya aku tahu kamu tadi saja memuntahkan makananya,"


Deg!!!


Rama kembali menelan salivanya, matanya melebar mendengar penuturan, Sinta. "Ka--kamu tadi ke sana?"


"Enggak, cuma lewat. Terus nggak sengaja, ngelihat Tentara sama C-A-L-O-N P-R-A-J-U-R-I-T B-A-R-U-N-Y-A ngobrol asik" jawab Sinta dengan penuh penekanan.


"Sinta, Maafin aku. Aku gak bermaksud apa-apa, aku cuma kasihan sama dia," Rama meraih tangan Sinta dan memohon. Namun, Sinta segera menghempaskan tangan Rama.


"Enggak usah minta maaf, kamu gak salah. Aku yang salah karna gak bisa masak, gak bisa apa-apa. Aku kadang mikir, apa aku pantas sama kamu!" Sudut mata Sinta memerah, hal itu membuat Rama ikut sedih.


Rama menggelengkan kepala, lalu meraih tangan Sinta. "Apa yang kamu pikirkan, Sinta? Kamu lebih dari pantas! Aku sudah memilih kamu, jangan berbicara seperti itu. aku tidak peduli bagaimana rasa masakan kamu, aku tidak akan mempermasalahkan itu, Sinta. Yang terpenting adalah bukti cinta kita"


Sinta tertegun mendengar penuturan Rama, Sinta menjadi merasa bersalah karna cemburu buta. Sinta bisa melihat sudut mata Rama pun memerah.


"Jangan diamkan aku, Sinta. Aku tidak bisa, maafkan aku. Aku buktikan besok tidak akan berhubungan dengan Tes militer," Rama kembali berbicara dengan bibir yang bergetar. Sinta tertegun, melihat Rama yang ingin menangis.


"Ka--Kamu berjanji akan selalu bersamaku?" tanya Sinta dengan bibir bergetar.


Rama menghela napas.


"Janji tidak akan berlaku bagi prajurit, Sinta. Tapi aku akan membuktikan aku tetap bersama mu,"

__ADS_1


TBC🍻


__ADS_2