
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
.
****
Semua orang dibuat menganga karna, Rama. Bagaimana tidak? Jika kado ulang tahun Sinta adalah kalung yang sangat cantik nan elegan.
Kalung asli buatan Italia, dengan batu safir yang sangat memukau.
“Uhhhh, Thank you so much, Rama!” secara reflek Sinta memeluk Rama, hal itu membuat tamu undangan Sinta memberikan sorakan menggoda.
“Ekhm! kamu buka kado lainnya, Sinta!” celetuk Kevin dengan dingin tanpa ekspreksi.
Sinta dengan sengaja membuka kado pemberian Bima, sebuah gaun musim panas yang sangat mencolok.
“Thank you, Bima!”
Bima hanya mengangguk sembari tersenyum.
“Sin, kok Rama gak bawain lo bunga? Bima yang mantan lo aja bawain bunga.”
Dari arah lain, salah satu tamu undangan Sinta bersuara dengan keras. Senyum kemenangan terukir di bibir Bima.
“Kalau cuma bunga, saya juga bisa belikan lebih,” jawab Rama dengan cepat.
“Kenapa lo gak bawa sekarang? Harusnya lo bawa dong sebagai bukti cinta lo!”
Senyum kemenangan semakin tercetak di wajah Bima, sedangkan Rama hanya tersenyum tipis mendengarnya.
“Gue gak mau buktiin cinta gue lewat bunga, bunga bisa saja layu dan mati. Ngebuktiin cinta itu harusnya dari sikap dan tindakan gue.”
Semua orang menjadi tertegun mendengar ucapan Rama. Ya, cinta itu memang perlu bukti nyata, bukan hanya dari perantara benda mati.
“Apa alasan kamu mencintai anak saya?” tiba-tiba saja Kevin bertanya, dengan aura dinginnya membuat suasana menjadi hening seketika.
Rama dengan percaya diri menatap mata Kevin
“Jika saya mencintai Sinta karna fisik, itu bukanlah cinta. Jika saya mencintai Sinta karna dia kaya, itu juga bukan cinta. Saya tidak tahu, karna saya tidak punya alasan kenapa saya jatuh cinta? Dan saya juga tidak punya alasan untuk tidak jatuh cinta kepada Sinta.”
PROK
PROK
PROK
Lagi dan lagi jawaban Rama yang sangat tepat itu membuat teman-teman Sinta terkagum. Sedangkan Kevin tetap saja menatap tajam Rama.
“Om Kevin... Meski anda mempersulit saya, meski anda memberi saya rintangan, saya akan melewatinya meskipun harus gagal. Namun, karna putri anda pilihan saya, saya akan tetap mencobanya kembali agar berhasil,” ucap Rama kembali, dan ucapannya tersebut membuat Sinta menangis haru.
Sinta pun tak menyangka, seserius inikah Rama? Di usia mereka yang memang telah dewasa, bermain perasaan sudah bukan menjadi hobi mereka.
“Kenapa kamu menangis Sinta?” Rama lalu mengalihkan perhatiaanya, kepada gadis yang dulunya benci namun saat ini sangat dia cintai.
“Ak—ku terharu... Hiks hiks.”
Rama tertawa kecil melihat tingkah Sinta. Dengan memecah ketegangan, Rama lalu menyumbangkan suara merdunya malam itu.
Dan tentu moment itu tidak akan disia-siakan kaum media sosial.
Dengan dihayati, Rama membawakan lagu 'Halalkanmu-Aron Ashab'
“Sejak pertama bertemu....
Ku tau ada yang berbeda dari diri dirimu...
Ku suka pada wajahmu, dan aku tak mau berlama-lama menunggu...
Ku ingin nikahi kamu...
Jadikan kau istriku...
__ADS_1
Ku ingin kau jadi ibu dari anak-anakku
Sebut namamu, Binti Ayahmu
Dan semua wali'kan berkata (Sah)
Ini gila tapi ku mau
Halalkanmu
Halalkanmu
Halalkanmu...”
Sepotong lagu yang bisa author dengarkan dari suara Rama.
Tak sampai disitu, tiba-tiba Rama menggandeng Sinta untuk kepanggung. Rama pun mengajak Sinta untuk cover 'Cinta luar biasa-Andmesh Kamaleng'
“Terimalah lagu ini....
Dari orang biasa...
Tapi cintaku padamu luar biasa..
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta..
Yang kupunya hanyalah hati yang setia..
Tulus padamu”
PROK
PROK
PROK
Pesta itu pun menjadi riuh, karna hal manis yang dibuat Rama. Sinta pun sampai menangis bahagia.
“Sinta....”
“Ya?”
“Maaf jika aku tidak membelikanmu bunga, maaf jika kado ulang tahunmu tidak semewah pasangan pada umumnya,” ucap Rama dengan mata yang terus menatap manik Sinta.
****
Mobil Rama melaju membelah jalanan Ibukota yang lenggang. Jam sudah menunjukan pukul 00.00 malam, pesta ulang tahun Sinta pun baru saja usai
Rama dengan percaya diri menambah kecepatan mobil sport yang baru dirinya beli tadi.
FLASHBACK
“Nanti malam gue kerumah Sinta naik apa ya? masa iya gue naik motor, yakali? Yang ada gue malu-maluin Sinta lagi,” Rama terus menggerutu sembari memainkan PS di tv ruang keluarga.
Aletha yang dari dapur tidak sengaja mendengar gerutu putranya tersebut. Aletha pun duduk disamping Rama.
“Beli ajalah, kaya orang gak punya duit aja!”
Rama menoleh sekilas mendengar ucapan Bundanya. “Bunda pikir nyari mobil yang bener-bener bagus gampang?!”
Aletha bersedak kesal mendengar ucapan putranya itu. “Ck. susah kalo punya anak yang begini nih, kamu gak ingat apa? Uncle mu, Kak Adnan punya sorum mobil,” ucap Aletha sembari memakan camilan yang dirinya buat.
Rama seketika menepuk jidatnya, karna baru mengingat hal itu. “Rama lupa, Bun!” Dengan buru-buru Rama lalu menghubungi Adnan, pamannya tersebut
Dan sangat kebetulan, Adnan baru saja mendapat mobil keluaran terbaru, yang hanya ada 20 di dunia. Dengan bernegoisasi, akhirnya Rama mendapatkan mobil itu setengah harga.
FLASHBACK END
CITT
Tiba-tiba Rama mengerem mobilnya secara mendadak, mobil BMW i8 terparkir jelas di depan mobil Rama.
Rama pun keluar dari mobilnya, dan pemilik mobil BMW i8 itu pun juga menampak dirinya.
“Bima?”
“Gak usah sok baik lo!” Bima yang memang setengah sadar itu mendekat ke arah Rama.
“Maksud lo apaansih? Lo kenapa? Mabuk lo? Baru minum segitu aja dah oleng lu,” celoteh Rama dengan santainya.
“Gu—e cuma mau bilangi ke lu ya! Kata-kata lo tadi gak akan berlaku di kemudian hari, karna... Sinta bakal di jodohin Papanya,” ucap Bima dengan omongan ala-ala orang oleng.
__ADS_1
Rama tersenyum samar mendengar ucapan Bima. “Lu mending balik, mana istri lo? Dari pada ngurusin gue, mending lo urus rumah tangga lo.”
jawaban Rama tersebut menyulut emosi Bima, karna secara langsung Bima menjadi teringat Clara, perempuan yang akhir-akhir ini menjempalikan dunianya.
“Gak usah bawa-bawa istri gue! Kalo lo gak mau mati,” ucap Bima dengan kesadaran yang mulai berkurang.
Rama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Bima. “Lo emang lagi oleng, Bim. Mending lo buruan pulang! Lo gak usah urusin gue sama Sinta,” Rama pun berniat membantu Bima dengan memapahnya, namun Bima menghempaskan tangan Rama dengan kasar.
“Cuih.. Gue udah gak suka sama cewek lo!” setelah mengatakannya, Bima pun pergi dengan mobilnya.
Rama pun masuk ke mobilnya, pikirannya menerawang, persoalan Sinta yang akan di jodohkan.
“Gue sebenarnya kurang apa lagi sih dimata, Om Kevin?” gumam Rama selama di perjalanan.
Selama 20 menit, Rama tiba di rumahnya. Rumah pun sudah gelap, karna beberapa pun sudah tertidur.
Rama langsung menuju kamarnya, seperti biasa Rama akan membersihkan dirinya sebelum tidur. Setelah berganti pakaiaan yang lebih santai, Rama menjatuhkan tubuh kekarnya di ranjang dengan tengkurap.
Rama meraih ponselnya, ribuan notifikasi dari instagram langsung banjir. Ternyata banyak sekali yang langsung menstalk Rama.
Instagram Rama yang memang sengaja dia privat, menjadi banjir dengan notifikasi meminta mengikuti. Namun, Rama tidak memperdulikannya.
TING
Suara notif pesan WhatsaAp dari sang pujangga hati mengalihkan perhatian Rama. Secepat kilat Rama langsung membuka isi pesan dari Sinta.
📩 Sinta
“Sudah sampai?”
📩 Rama
“Ya, 15 menit yang lalu.”
📩 Sinta
“Makasih ya, Ram..”
📩 Rama
“Untuk yang mana?”
📩
“Untuk kehadiranmu, untuk keberadaanmu, untukmu segalanya. Aku hari ini sangat mencintaimu.”
.
.
.
.
.
.
Behind Rama & Author
Rama: Thor..?
Author: Hmm?
Rama: Lu knp jarang up?
Author: Pengennya si crazzy up, tp gw susah nyari pembaca, aku jg sibuk urusan sekolah😭
Rama: Lah thor, kalo lu jarang up, nasib gue gimana?
Author: Lu tenang aja, masih ada yang menantikan kisah lo sama Sinta.
Dan mengucapkan terimakasih bagi readers yang masih mau menunggu dan membaca cerita hasil gabut author🙏
Sinta: Thor lu ngikut contest?
Author: Iya mang knp?
Sinta: Lu yakin kita menang? kisah gue kan bukan perjodohan, terpaksa, sama ceo-ceo thor...
Author: Menang ato kalah gak gue pikirin, Sin. Yang penting percaya diri aja lah, gue cuma pengen bikin cerita yg beda ma yg lain.
__ADS_1
Rama: Oke thor! Jangan lupa bikin gue nikah sama Sinta.
Selesai.