
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
"Itu kenapa sih kok pada sibuk?" tanya Sinta sembari menunjuk banyaknya, Tentara dan tukang masak tampak sibuk.
"Kamu gak tahu?"
Sinta hanya menggelengkan kepala, menanggapi pertanyaan Rama. "Hari ini ulang tahun, Komandan Satria" ucap Rama menjelaskan
"Hah?!" Sepontak Sinta berteriak, karna jujur dirinya pun tidak tahu. Sudah lama Sinta mengenal Satria. Namun, dirinya pun tidak tahu kapan ulang tahunnya.
"Kamu udah kasih selamat ulang tahun belum?"
Rama hanya menggelengkan kepala, "Nanti malam aja"
"Emang nanti ada apa?" tanya Sinta sembari berjalan mengikuti langkah, Rama. Rama berjalan menuju ke dapur barak.
"Nanti malam perayaan ulang tahun, Komandan Satria. Ini sengaja mereka mau masak-masak enak,"
Sinta yang mendengar hanya mangut-manguta. "Kok kamu malah tahu sih? Bukannya kamu di rumah sakit,"
Rama yang mendengar ucapan Sinta, langsung tertawa. Dengan gemas Rama mengacak-acak rambut Sinta.
"Ihhh, Kok ngeselin sih. Jadi berantakan," Sinta langsung mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Hal itu membuat Rama semakin gemas
"Tentu aku tahu, aku kan sudah bersahabat lama. Hari ini adalah hari ulang tahun Komandan Satria yang ke 33 tahun,"
"Oh" Sinta hanya menjawab dengan Ber 'Oh' ria
Rama kembali melajukan jalanannya, Rama saat ini berada di depan tukang masak yang sedang membersihkan daging ayam. Biasanya daging itu akan di bersihkan terlebih dahulu.
"Bu, biar saya aja" Rama mencoba menawarkan bantuan kepada tukang masak yang sudah tua tersebut. Ibu tersebut langsung menggeleng
"Enggak usah, Ndan. Pak Letnan kan masih sakit," tolaknya halus
Sinta langsung maju satu langkah, "Iya kamu kan masih sakit. Udah biar saya aja, Bu"
"Eh, Bu dokter. Nanti kalau tangan, Bu dokter kotor bagaimana? Ini masih bau," ujar Ibu Paruhbaya tersebut.
Sinta yang mendengar hanya tersenyum. "Gakpapa, Bu. Saya bisa kok,"
Sinta pun mengambil alih untuk membersihkan ayam-ayam tersebut, Ibu paruhbaya tersebut mencabuti bulu-bulu ayam, sedangkan Sinta yang mencucinya.
"Bu Dokter, Saya ambil air hangat dulu ya" pamit Ibu paruybaya itu, Sinta hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.
Rama yang merasa bosan itu ikut duduk di depan, Sinta. Rama hanya diam, sibuk memandangi wajah cantik Sinta.
"Kalau kamu masih lihatin aku, aku jadiin kamu ayam bakar," ketus Sinta
Sontak, Rama yang mendengar tertawa dibuatnya. "Hahaha, Kamu kok tega sih sama pacar sendiri juga,"
"Biarin, Biar kamu tambah item!"
"Oh, Jadi menurut kamu aku item," ujar Rama dengan gaya sok kesal. Sinta langsung panik, takut jika perkataannya salah.
"Ehh--- Enggak gitu, Ram. Kamu item manis kok, kamu ganteng"
Rama hanya melipat bibir agar tidak tertawa. Tidak mendapat respon dari Rama, membuat Sinta semakin merasa bersalah.
"Maaf, Ram. Kamu item manis beneran, kamu ganteng aku gak bohong!"
Rama masih diam, dan mencoba menahan tawanya. Sinta menghembuskan napas lesu, "Belum ada 1 bulan udah di ngambekin," batinnya.
"Kok diem?," tanya Rama melirik Sinta sekilas
__ADS_1
"Ngapain juga ngomong, yang di ajak ngomong aja bisu!" jawab Sinta ketus
"Kok jadi kamu yang marah sih?"
Sinta tidak menjawab, dan melanjutkan acara cuci ayamnya. Rama berdecak kesal, padahal tujuannya pura-pura marah, lalu di rayu agar memaafkan.
"Siapa suruh kamu ngambekan, Kalau kamu gak mau ngomong yaudah. Aku juga gak akan ngomong sama kamu,"
Rama menghembuskan napas kasar mendengar jawaban Sinta. "Cewek kenapa sih? Kalau pasangannya marah malah ikutan marah," batin Rama
"Yaudah maafin aku," Rama meraih tangan Sinta, meskipun saat itu tangan Sinta basah.
"Hmmm"
"Kamu maafin aku?"
"Hmm"
"Jangan cuma hem dong,"
"Ck. Iya Rama aku maafin kamu!!"
"Mana sayangnya? Kok cuma Rama," goda Rama
"Iya, Rama S-A-Y-A-N-G" ujar Sinta dengan senyuman paksa.
Rama yang mendengar tersenyum puas.
"Oke, sayangku I love you"
****
"Selamat ulang tahun yang ke 33 tahun, Komandan!"
Satria tersenyum, membalas penghormatan dari Rama. "Terimakasih, Rama. Enggak usah formal, ini sudah selesai jam kerja,"
"Hahaha. Iya deh besok kalau udah nemu, lo enak lo udah ada Sinta," jawab Satria dengan tertawa.
Tak lama Sinta ikut bergabung dengan Meyga. Sinta langsung mendekat ke arah Satria dan Rama yang tengah berbincang.
"Hay. Happy birthday Kak Satria, semoga cepat nikah,"
Satria tersenyum mendengar ucapan Sinta. "Kamu sekarang panggil saya, Kak"
Sinta hanya mengangguk. "Ya"
"Terimakasih, Ayo kita bersenang-senang"
Sinta dan Rama langsung menikmati hidangan-hidangan yang di sediakan. Mulai dari makanan daging-dagingan, seafood, sayuran, kacang-kacangan, manisan, dan kuliner pedas.
"Huh huh huh. Pedes banget sih!" Sinta menggerutu, lantaran sate kambing yang dirinya makan, berhasil membakar lidahnya.
Rama yang melihat langsung memberikan, Teh manis. "Ini di minum,"
Sinta langsung menerimanya, dan meneguknya sampai setengah. "Kamu sih kalau gak bisa makan pedes, jangan deh! Lihat muka kamu sampai merah gitu"
Sinta hanya diam, tidak menanggapi gerutu Rama. Rama lalu beranjak, tak lama Rama kembali membawa beberapa manisan.
"Ini biar gak pedas," Rama menyodorkan permen kapas yang dirinya dapat.
Sinta menerimanya dengan senang hati, "Emmm manis banget!"
"Sinta..."
Sinta menoleh ke sumber suara, mendapati Meyga yang sudah rapi. Meyga membawa tas besar, dan tampak ingin pergi.
"Ya?"
__ADS_1
"Gue pamit ya, pesawat gue sebentar lagi berangkat,"
Sinta yang mendengar, langsung menaruh permen kapasnya. Sinta lalu memeluk Meyga.
"Mey, lo berangkat ke bandara sama siapa?"
Meyga mengusap punggung mantan majikannya. "Gue di jemput temen gue, gue pamit ya, Sin. Besok yang gantiin gue galak, jangan nakal!"
Sinta melepas pelukannya dari Meyga. "Hati-hati ya, Mey. Jangan lupa sering-sering mampir,"
Meyga lalu mengangguk. "Gue pamit,"
Sinta hanya bisa melepas kepergian, Meyga. Rama bisa melihat raut wajah Sinta. Sinta menjadi sedih
"Udah jangan sedih," Rama langsung mengalungkan satu tangannya, di bahu Sinta.
Sinta menoleh ke arah Rama. "Iya"
Rama pun memandang tangan Sinta, Sinta tidak paham dengan maksud Rama. Rama berdecak karna Sinta tak kunjung peka, Rama langsung meraih tangan Sinta dan menggandengnya.
"Gitu aja gak peka,"
Sinta hanya nyengir mendengarnya. Lalu, Rama mengajak Sinta merasakan seluruh makanan, dengan tangan yang setia menggandeng Sinta.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Sinta menoleh ke arah Rama, "Tanya aja"
"Dulu kamu sama, Bima. Gak pernah gandengan ya?" tanya Rama dengan hati-hati.
Rama pikir Sinta akan sedih. Namun, kenyataannya tidak, Sinta justru tersenyum
"Pernah sekali-kali. Tapi gak sering, mungkin Bima bosen pacaran sama aku, kata Papa aku sama Bima harus tahu batasan. Mungkin karna hubungan kami yang monoton Bima jadi memilih sahabatku" tutur Sinta dengan santai, Rama merasa lega di raut Sinta tidak ada lagi kesedihan.
"Terimakasih, Kamu tidak sedih lagi" dengan lembut Rama mengusap kepala Sinta. Sinta hanya terdiam, menyembunyikan pipinya yang merah
"Kamu bisa nyanyi?"
Sinta langsung mengangguk, "Sedikit"
Tanpa menjawab, Rama langsung menarik Sinta. Membawanya ke Band ala Tentara Ad. Rama langsung meminjam gitar
Dengan santai, Rama mulai melantunkan melodi-melodinya. Rama dan Sinta pun membawakan lagu I Love You 3000.
Baby, take my hand
I want you to be my husband
'Cause you're my Iron Man
And I love you 3000
Baby, take a chance
'Cause I want this to be something
Straight out of a Hollywood movie
Prok prok prok
Tepukan riuh lansung terdengar. Rama dan Sinta tersenyum melihatnya.
"Wow, Kalian sudah pantas menjadi suami dan istri!" goda salah satu Tentara dengan senyum jahilnya.
Rama hanya tersenyum tipis melihatnya.
TBC🍻
__ADS_1