
Budayakan Like Sebelum Baca😘
The Last Mission Love (Kisah Rednan)
****
Kring.... Kring... Kring...
Dering ponsel yang menggema tidak membuat mata hitam legam itu terbuka. Hari minggu adalah hari pas untuk bermalas-malasan.
Seperti Sinta saat ini. Karna hari minggu Sinta akan bertugas sore. Pagi sampai siang akan ia gunakan bermalas-malasan.
Kring.... Kring... Kring....
Ponsel Sinta terus berbunyi, namun sang pemilik masih setia kepada mimpinya.
tok.... tok.... tok.
“Sinta...! bangun, Nak!” dari luar Tari sudah memanggil-manggil putrinya tersebut.
Ceklek
Tari langsung masuk ke kamar putrinya. Tari geleng-geleng kepala melihat putrinya yang masih enggan membuka mata.
Tari langsung membuka gorden kamar. Cahaya sang surya langsung membuat tidur Sinta terusik.
“Anak gadis jam segini belum bangun!” Tari langsung menggeret selimut tebal Sinta. Sinta masih saja lemas.
“Apa sih, Ma? Sinta mau tidur, Sinta nanti ke rumah sakitnya sore.” Dengan muka bantalnya Sinta menjawab.
Tari geleng-geleng kepala melihatnya.
Kring.... kring.... kring
Dering ponsel mengalihkan perhatian Sinta. Dengan lemas Sinta meraih ponselnya, Sinta lalu mengangkat panggilan dari Rama.
“Hoammmm... Ya hallo Rama?”
Sinta bisa mendengar Rama berdecak. “Ck. Anak gadis jam segini baru bangun. Cepat mandi, aku tunggu di bawah ini. Pakai pakaiaan olahraga, aku mau ajak kamu Jogging!”
Tutt.... Tutt... Tutt
“APA....!!??” Sinta spontan berteriak terkejut. “Ma, Rama ada disini?”
Tari tidak menjawab dan langsung pergi dari kamar Sinta. Sinta langsung meloncat dari ranjangnya. Secepat kilat Sinta membersihkan badannya, Sinta langsung menggunakan pakaiannya. Celana training panjang hitam, dan hoddie merah muda.
Sinta pun langsung turun ke bawah. Matanya mendapati Rama yang duduk di sofa bersama Tari.
Sinta sangat malu karn ketahuan bangun terlambat oleh pacarnya. Tidak! sebenarnya ini masih sangatlah pagi, ini masih pukul 06.40 pagi.
“Pagi....!” sapa Sinta yang langsung duduk di samping Rama.
“Pules banget tidurnya, sampai aku telponin dari tadi gak di angkat.” sindir Rama.
Sinta hanya bisa nyengir mendengarnya. “Hehehe Maaf ihh, jangan marah!”
Rama hanya memalingkan wajahnya. Tentu Rama kesal, Rama sudah setengah jam berada di rumah Sinta. Bahkan Rama semalam sudah mengirim pesan Sinta.
“Aku udah nunggu kamu dari jam 6. Gimana sih? semalam kan kita udah janjian,” ketus Rama yang masih memalingkan wajahnya.
Sinta mengerutuki dirinya yang terlupa. “Ihhh, Iya aku minta maaf. Yaudah ayok katanya mau Jogging?”
__ADS_1
Rama pun menghela napas. Setelah berpamitan dengan Tari. Rama dan Sinta langsung pergi untuk berlari pagi.
Tujuan mereka adalah Taman kota yang tidak jauh dari komplek militer Sinta.
“Rama.... Kamu gak marah lagi kan?”
“Hmm...”
“Ishhh, Kok cuek banget sih!” Sinta langsung menghentikan larinya. Karna Rama yang masih cuek saja.
Rama menghela napas, Rama lalu berbalik badan dan menghampiri Sinta yang cemberut.
“Iya aku udah maafin kamu!” Lagi dan lagi Rama harus mau mengalah.
Senyum licik tersirat di wajah Sinta. “Udah gak minat Jogging aku!” Sinta berbalik badan hendak pergi.
“Eh! Mau kemana sih?” Rama langsung mencekal pergelangan tangan Sinta.
“Males, ngapain Jogging? kalau yang di ajak Jogging aja nyuekin aku.”
Setelah mengatakannya Sinta berlari kecil untuk kembali. Rama melongo melihnya, Rama hanya bisa menghela napas kasar.
Rama berlari menuyusul Sinta.
Hap
Rama langsung membawa Sinta ke gendongannya. Sinta sangat terkejut dengan apa yang di lakukan Rama.
“Eh... Rama turunin gak?”
“Kamu jangan ngambek lagi makanya. Nanti aku turunin, asalkan kamu mau ikut aku Jogging!”
Sinta tersenyum kecil melihatnya. “Oke, tapi aku harus kamu gendong di punggung!”
Sinta langsung meloncat di gendongan Rama. Rama pun tanpa keberatan langsung meluncur.
“Kamu gak capek?” tanya Sinta.
“Kalau pun aku capek gakpapalah. Yang penting kamu gak ngambek, ya walaupun nanti sakit punggung.”
****
“Nih Es krim nya!”
Sinta dengan berbinar menerima es krim pemberian Rama. Es krim cokelat kesukaan Sinta langsung dia lahap.
Rama langsung duduk di bangku taman sebelah Sinta. Rama pun juga memakan Es krim rasa Vanila.
“Eh lihat deh mbak itu! Kaya nya seumuran aku yah, tapi udah punya baby.” Sinta menunjuk gadis muda, yang mendorong troli bayi.
Rama melihat apa yang di maksud Sinta. “Keponakannya kalik!”
“Ck. Lihat deh, kaya anaknya sendiri gituh! Pasti dia nikah muda.“ ujar Sinta semakin menerka-nerka.
“Hmmm.... Ram?”
“Ya?”
“Kamu kapan lamar aku?”
uhuk... uhuk... uhuk
__ADS_1
Pertanyaan sederhana dari Sinta, membuat Rama tiba-tiba terbatuk. Sinta sangat khawatir karna Rama yang terbatuk-batuk.
“Pelan-pelan!” Sinta dengan lembut mengusap punggung Rama.
Rama menelan ludahnya mendengar ucapan Sinta. Menjadikan Sinta pacar saja, ancaman sudah sangat banyak meskipun sudah lama Cosa nostra tidak berulah lagi, pikir Rama.
“Rama kamu denger kan tadi aku tanya apa?”
Rama menghela napas mendengarnya. “Jangan terlalu terburu-buru! Aku saja belum bertemu sama Papa kamu, kamu juga harus menyelesaikan pendidikan kedokteranmu. Aku pun sama, aku harus bisa mendapat pangkat lebih ke atas lagi. Membina keluarga itu bukam hal yang mudah Sinta. Kalau hanya cinta, itu tidak akan membuat kenyang.”
Sinta terdiam mendengar penuturan Rama. “Iya, kamu benar! Aku juga gak mau kerepotan punya anak, besok kalau aku ke rumah sakit anak gak ada yang ngurus,” ujar Sinta sembari menyandarkan kepalanya di bangku.
“Sinta....!”
Sinta menegakan badannya mendengar namanya di panggil. “Nana...?”
“Hay!” sapa Nana dengan senyum manisya.
“Hay!! Oh Hay kakek!” Sinta langsung menyalami kakek Nana yang berada di samping Nana.
Rama pun ikut berdiri dan menyalami kakek Nana. “Hallo Kek, saya Rama temannya Nana.” ujar Rama memperkenalkan dirinya.
“Oh jadi kamu Rama?”
Rama dan Sinta saling pandang. Lalu Rama tersenyum lebar. “Iya kek saya Rama. Kakek mengenal saya?”
“Oh, jadi kamu bener Rama. Ganteng ya aslinya, Nana sering ceritain kamu sama Kakek.”
Nana yang mendengar ucapan kakeknya langsung memerah malu. Sedangkan Rama dan Sinta terkejut mendengarnya. Rama hanya bisa tersenyum tipis.
“Kamu dulu pacarnya, Nana? maaf ya Nana harus saya jodohkan. Kalau tahu pacarnya dulu gantengnya kaya begini, sebelum perjodohan kakek udah restuin kalian.”
Rama dan Sinta semakin melongo mendengarnya. Rama lalu menatap Nana meminta penjelasan. Nana hanya mengkode Rama dengan menganggukan kepala.
“H–Ha? I–Iya kek. Sekarang juga saya sudah punya pacar, ini pacar saya!” Rama lalu merangkul pundak Sinta.
“Oh jadi pacar kamu dokter cantik ini.” ujar Kakek Nana seolah menilai Sinta.
“Emmm. Kakek bukannya kita mau pulang ya?” Nana langsung buru-buru mencegah kakeknya yang hendak bertanya lagi kepada Rama.
“Kakek mau beli bubur dulu!” Kakek Nana langsung berjalan sendiri menuju tukang bubur.
Tinggalah Nana dengan Rama dan Sinta.
“Maksud Kakek lo tadi apa ya?” tanya Sinta yang langsung mengintimidasi.
Nana menghela napas sebelum bicara. “Oke maafin omongan kakek gue. Jadi dulu emang gue sering cerita ke kakek gue, karna selama di barak gue sering Vidio call an sama kakek. Gue cerita tentang kedekatan gue dan Mas Rama. Dan Rama... please! kalau kakek gue ngomong kaya tadi, lo mangut-mangut aja. Kakek gue punya riwayat jantung, kalau dia sampai terkejut kakek gue bisa kehilangan nyawa.”
Rama dan Sinta hanya diam mendengar ucapan Nana yang panjang lebar.
“Oke ini hanya drama!”
*
*
*
*
*
__ADS_1
TBC😘
Maaf seterusnya kaya nya bakal jarang up. Author lagi sibuk PTS ini, doain semoga nilai nya memuaskan. Makasih😘