
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
.
****
Banyak yang mengatakan cinta itu memilikk dua rasa. Yang pertama, Cinta memberikan kita rasa, bagaimana menyayangi seseorang, bagaimana rasa saat kita tertawa dengan orang yang kita cintai. Yang kedua, Cinta pun memberikan rasa pedih, rasa bagaimana air mata membasahi pipi karna cinta, rasa bagaimana mata kita sembab karna menangis merindukan seseorang.
Cinta itu manis dan pahit. Disaat kita merasakan rasa manisnya, mungkin anda akan merasa menjadi manusia yang paling bahagia. Jika anda merasakan rasa pahitnya, mungkin anda akan merasa manusia paling menyedihkan di dunia.
Dan, saat ini Sinta merasakan pedihnya cinta. Menangis karna merindukan seseorang, kecemasan dan kekhawatiran terus menghantui Sinta.
tok... tok... tok...
Pintu kamar Sinta terus di ketuk, namun Sinta hanya mengacuhkan saja. Seharian penuh Sinta mengurung dirinya di kamar. Sinta benar-benar merindukan Rama, yang saat ini menghilang.
tok... tok.... tok
“Sin, ini gue Eve!”
Mendengar suara Eve, tangisan Sinta seketika berhenti. Sinta pikir itu, Papanya. Sinta benar-benar tidak ingin menemui Kevin, karna sahabatnyalah yang mengetuk pintu, Sinta pun membukakan pintu.
Ceklek
Eve terkejut melihat keadaan Sinta, mata Sinta sembab, pipinya merah, bibirnya pun pucat.
“Astagfirluloh, Sinta kamu kenapa?” Eve begitu khawatir melihat keadaan Sinta.
Sinta kembali menangis dan memeluk Eve. Dengan sabar, Eve mengusap bahu sahabatnya. “Gu...gue takut, Ev. Gue takut Rama pergi... hiks... hiks...”
“Ya ampun, Sinta. Kamu jangan kaya gini, Sinta!” Eve pun menjadi ikut sedih melihat keadaan Sinta.
Tari yang mendengar suara pintu Sinta dibuka, langsung pergi kekamar Sinta dengan membawa nampan penuh makanan.
“Sayang, kamu makan dulu ya? dari kemarin kamu belum makan.”
Suara Tari seakan hanya angin lalu untuk Sinta. Pandangan, Sinta kini kosong. Eve dan Tari sangat bingung dibuatnya.
“Lo jangan sedih lagi, Sin. Angga bilang Timsar lagi menyebar buat nyariin, Rama. Percaya sama gue!” ucap Eve yang ingin menenangkan sahabatnya itu.
“Iya, Sinta. Rama pasti sedih kalau lihat keadaan kamu.”
Ucapan, Eve dan Tari seakan hanya sebuah angin bagi Sinta. Sinta benar-benar tidak mendengarkannya.
Eve mendekati Tari, dan membisikan sesuatu. Tari yang mendengar pun hanya pasrah.
__ADS_1
Eve kembali duduk diranjang, dekat Sinta. “Sin, lo mau ikut gue ke TKP? Angga lagi disana.”
“Iya gue mau!” jawab Sinta cepat.
“Syaratnya lo harus makan dulu!” Sinta langsung menganggukan kepalanya cepat. Hanya dengan diiming-imingi ke TKP, Sinta langsung menghabiskan makananya dengan cepat, karna tak makan seharian pun akan lapar.
Selepas membersihkan diri, Sinta dan Eve langsung menuju ke tempat kejadian. Sinta begitu antusias, yang Sinta harapkan bisa kembali bertemu dengan Rama, dan melihat senyum manisnya.
Hampir 1.5 jam perjalanan, mereka sampai di Gedung tua yang saat ini hancur lebur. Bom rakitan Rama memang luar biasa.
Dengan semangat Sinta langsung berlari menuju Angga dan Rednan yang saat itu sedang berbincang.
“Loh, Sinta?” Rednan begitu terkejut melihat Sinta. Rednan takut jika Timsar memberikan kabar buruk, dan Sinta harus mendengarnya secara langsung.
“Ngga, gimana pencarian, Rama?” Sinta tidak menggubris Rednan. Sinta langsung bertanya kepada Angga.
Angga hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sembari menatap kekasihnya, namun Eve hanya mengode menganggukan kepala.
“Oh itu, Sin. Allhamdulilah, Timsar nemuin bukti-bukti, kemungkinan Rama selamat,” ucap Angga terpaksa membohongi Sinta. Yang aslinya saja, Timsar benar-benar tidak menemukan bukti apapun dan petunjuk apapun. Rama benar-benar hanyut.
Sinta yang mendengar menerbitkan senyumnya. “Jadi, Rama selamatkan?”
Angga hanya mengangguk kikuk, Rednan dan Eve memilih diam. Eve terpaksa berbohong, agar Sinta tidak terlalu sedih.
Sedangkan, Sinta percaya-percaya saja. Sinta begitu senang, Sinta langsung berdoa agar Rama segera ditemukan.
“Cepat pulang, Rama. Aku rindu kamu.”
****
Marcus menatap pria gempal di hadapannya tersebut. Marcus mengernyitkan dahinya menatap pria yang berada dihadapannya.
“Ja...jace?”
“Syukur anda mengingat saya, Tuan.”
Marcus menatap sekitar, Marcus berada di kamar sempit yang pengap. Marcus terbaring di tempat tidur kecil.
“Kau sudah sadar?”
Marcus mengalihkan perhatiannya kepada pria yang berada diambang pintu. “Ra... Rama? astaga apa ini neraka?”
Seketika Jace yang mendengar terkekeh. “Anda belum mati, Tuan. Anda berada di kediaman saya, anda hampir saja menjadi santapan serigala liar.”
Marcus langsung mengingat, kejadi beberapa jam yang lalu. Marcus pun mengingat, ingatan 8 tahu yang lalu. Seketika Marcus langsung menatap Rama.
Tiba-tiba Marcus bersujud di kaki Rama. “Marcus apa yang kau lakukan?” Rama begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Marcus.
“Rama, maafkan aku Rama... Aku bodoh, Rama... Tolong maafkan aku, hukum aku Rama! Hukum aku! Aku pantas mati Rama...”
Rama dan Jace benar-benar tidak menyangka, bos mafia raksasa itu tengah merengek kepada Rama. Rama langsung berjongkok di hadapan Marcus.
“Hei, bung. Aku memaafkanmu, aku tidak akan dendam. Kematian, Ayahmu dan Ayahku adalah garis takdir Tuhan. Mungkin itu cara Tuhan, mengambil hambanya.”
Marcus benar-benar tidak menyangka dengan apa yang di ucapkan Rama. Marcus pikir, dia pasti akan ditembak Rama, atau bahkan disiksa sampai mati.
__ADS_1
“Ke...kenapa kau begitu baik, Rama? kau tidak pernah berdosa kepadaku, tapi jahatnya aku sudah menghancurkan keluargamu. Apa aku pantas hidup, Rama? bahkan Tuhan mungkin tidak menerim...”
“Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, Marcus. Kau percaya jika Tuhan itu ada?”
Marcus hanya diam mendengarnya, selama ini Marcus benar-benar jauh dari Tuhannya. Marcus terlalu sibuk memikirkan balas dendamnya.
“Kau tahu disetiap cobaan yang diberikan, Tuhan. Pasti ada hikmah dibalik semua itu. Dan kau? kau pasti sudah mengingat, ingatanmu 8 tahun yang lalu.”
Seketika Marcus mengepalkan tangannya, Marcus mengingat Tara! Pria itu lah yang sudah mengkhianatinya.
“Baj*ngan brengsek! Pria itu berani membunuh, Ayahku. Aku akan membunuhnya!” Marcus langsung bangkit dari duduknya, namun tangannya dicegah oleh Rama.
“Jangan terburu-buru! Kita gunakan cara pelan, namun mematikan. Mungkin kau harus tahu sesuatu, Jace akan menceritakannya,” ucap Rama sembari melirik Jace. Marcus lalu menatap Jace, seolah meminta penjelasan.
“Hal apa yang dimaksud Rama, Jace?”
Jace menghela napas sebelum berbicara. “Saya hanya ingin mengatakan sejujurnya, Tuan. Saya dulunya adalah Asssiten pribadi, Tuan besar. Namun, karna sebuah tragedi, saya harus digantikan oleh Tara. Posisi saya semakin merosot, saya di pecat oleh Tuan besar. Akhirnya saya berakhir ditempat ini, dan bodyguard Tuan besar yang lainnya pun berakhir di tempat ini.”
Marcus benar-benar terkejut mendengar cerita Jace. Marcus tidak menyangka jika Jace dulunya adalah Assiten pribadi, Ayahnya. Dan, dia pun tidak menyangka jika pengawal-pengawalnya di buang di tempat ini.
“Itu alasan kalian menghormatiku?”
Jace hanya menganggukan kepala. “Saya sudah bersumpah setia kepada Keluarga Jarvis, Tuan. Cosa Nostra sudah menjadi hidup saya, meskipun saya dibuang saya tetap akan mengabdi kepada Cosa Nostra.”
“Lalu kenapa para pengawal bisa dibuang disini?”
Jace kembali menghela napasnya. “Ini semua karna, Tara. Pria itu tiba-tiba datang membuang kami semua. Tara membawa orang-orang baru untuk bergabung di Cosa Nostra, dan anehnya orang-orang yang dibawa Tara, tidak mengikuti tes kita yang sangat ketat.”
Marcus kembali tercenga mendengarnya, Marcus benar-benar tak menyangka dengan Assiten pribadinya tersebut.
“Tara bahkan menyebarkan Cosa Nostra untuk menyamar menjadi bodyguard. Yang aslinya mereka semua adalah pencuri profesional.”
“Tunggu... Jadi maksudmu, Tara mendirikan bisnisnya sendiri?” tanya Rama yang sedaritadi diam.
Jace hanya menganggukan kepala. Marcus pun hanya bisa mengusap wahahnya kasar.
Jace pun kembali berbicara. “Saat ini Tara kembali berulah, Tuan. Dia dan orang-orangnya menyamar menjadi bodyguard Pak Adji, mantan Jendral angkatan darat.”
Deg!
.
.
.
.
.
TBC😘
Datanglah juga kecerita Marcus, dengan kata kunci Love Villain. Temukan kejahatan-kejahatan Cosa Nostra disana.
__ADS_1