RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 78


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Ceklek


“Dari mana saja kamu?” Suara bariton menghentikan langkah gadis cantik yang masih menggunakan jas putihnya.


Gadis itu menghadap kesumber suara, rumah yang tadinya gelap, kini terang benderang.


“Pa...pa?”


“Dari mana saja kamu, Sinta?” tanya Kevin kembali dengan nada dinginnya.


Sinta hanya bisa meringis, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “I...itu, tadi pasien banyak banget, Pa. Papa kan tahu sekarang lagi dem...”


“Gak usah bohong sama, Papa!”


Glek


Sinta hanya bisa menelan ludahnya kasar, mendengar ucapan Kevin yang terdengar sangat tegas.


“Papa tahu kamu tadi turun kejalankan? Papa sudah bilang, jangan turun kejalan! Demo hari ini itu sangat anarkis!” ucap Kevin dengan penuh rasa kekhawatiran seorang ayah.


“An...anuu....Pa” Sinta pun kembali menggaruk tengkuknya. Sinta sangat bingung bagaimana menjelaskannya?


“Tidak usah mengelak! Rama sendiri yang mengatakan kepada, Papa. Kalau kamu ngeyel ikut turun ke jalanan!”


Sinta melebarkan matanya mendengar penjelasan Kevin. Sinta mengerutuki kekasihnya itu di dalam hatinya.


“Gak usah nyalahin, Rama! Dia udah bener ngasih tahu, Papa. Gak usah ngambekin, Rama. Disini kamu yang salah!”


Glek


Sinta hanya bisa menunduk, diam seribu bahasa. Suasana menjadi hening, hanya suara deting jam yang menggema dirumah tersebut, jam sudah menunjukan pukul 23.30 malam, Ayah mana yang tak khawatir putrinya baru datang?


“Sana kamu kekamar, mandi dan bersih-bersih!” setelah mengucapkannya, Kevin pun berlalu dari hadapan Sinta.


Gadis yang sudah dewasa itu menghembuskan napasnya lega. Berbagi udara dengan, Papanya. Membuat Sinta hampir sesak.


“Ihhh... Rama kenapa sih? kok malah ngomong-ngomong sama, Papa!” gerutu Sinta lirih.


Sinta pun berlari kecil untuk kekamarnya. Sesampainya dikamar, gadis itu langsung membersihkan dirinya


Setelah 15 menit membersihkan diri. Sinta langsung merebahkan tubuhnya diranjang, sembari meraih benda pipih miliknya.


Ditekannya panggilan kepada kekasihnya itu. Lama menunggu, akhirnya panggilan pun tersambung.


Rama📞


“Hallo, Sinta?” Terdengar sapaan, Rama. Beserta suara ricuh di tempat, Rama.


Sinta📞


“Itu suara apa sih? kok ribut-ribut begitu. Kamu lagi dimana?” tanya Sinta dengan nada khawatirnya. Amarah yang tadi ingin meluap, seolah lenyap begitu saja.


Rama📞

__ADS_1


“Aku masih ditempat, Sin. Udah malam kamu tidur ya!”


Sinta📞


“Te..terus kamu kapan pulangnya? Rama... Kamu gakpapakan?” Sinta bertambah khawatir mendengar suara-suara benda-benda terlempar, dan ledakan-ledakan besar.


Rama📞


“Nanti pagi aku pulang, kamu tidur yaa. Besok lusa aku sama, Bunda mau kerumah kamu. Udah dulu ya, Sin. Malam...”


Tutttt... Tuttt... Tutttt...


Rama langsung mematikan panggilan telpon dari Sinta. Pria yang saat ini berlindung dibalik mobil itu menghela napas berat.


Para aksi demo belum juga usai, dan ini sangat-sangat meresahkan warga. Malam ini aksi semakin anarkis, pemicu karna profokator yang ingin mengadu domba mahasiswa dengan Polisi/ Tni.


Rama bangkit dari duduknya, pria itu masuk kedalam mobil. Di dalam terdapat Rednan yang terluka dibagian kepala, karna lemparan batu besar yang tak sengaja mengenainya.


“Red, lo mau gue anter balik?” tanya Rama yang sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya tersebut.


Pria yang masih tiduran itu menggelengkan kepala. “Gue gakpapa, Ram. Ini kan belum selesai!”


“Mereka semakin liar, apa kita harus lemparin gas air mata?”


Rednan langsung merubah posisinya menjadi duduk. “Jangan! Mereka akan semakin brutal dan marah. Mereka pasti akan berpikir jika kita berniat melukai mereka!” ucap Rednan yang merasa khawatir dengan kebrutalan para aksi demo.


“Terus kita harus gimana?” Pertanyaan Rama membuat pria yang kepalanya di perban itu menghela napas lesu.


Suasana hening seketika. Mereka berdua fokus dengan pikiran masing-masing.


“Lo lemparin gas air mata dikit aja, Ram. Supaya mereka jera, jangan banyak-banyak mereka gak sepenuhnya salah!”


Rama menganggukan kepala. Rama pun mengkodekan kepada seluruh tim untuk melempari gas air mata.


Dan benar saja, manusia-manusia yang awalnya seperti semut itu langsung mundur menghindari gas air mata.


“Maafkan saya adik-adik, saya terpaksa melakukan ini!”


****


Pekerjaan dan kegiatan apapun kini berjalan sebagaimana mestinya. Sore yang cerah ini Sinta gunakan untuk berkebun.


Hari ini hari minggu, yang artinya pekerjaan Sinta libur. Gadis itu masih sibuk menanam bunga di pot-pot cantik yang dia beli.


“Cantik banget sih!” Sinta kembali memuji bunga-bunga yang dia tanam.


Mulai dari anggrek, mawar, tulip, dan lain-lain. Hari mulai petang, gadis itu lalu meninggalkan taman, karna lapar yang menyerang.


Sinta berjalan kearah dapur, mendapati Tari dan pembantunya sedang masak.


“Loh, Ma. Masak banyak banget, emang mau ada tamu ya?” tanya Sinta yang baru datang. Gadis itu langsung mencomot buah jeruk yang ada dihadapannya.


“Iya, Sin. Nanti mau ada tamu makan malam bareng kita. Nanti kamu dandan yang cakep ya!”


Sinta mengernyitkan dahinya mendengarnya. “Siapa tamunya, Ma?”


“Temennya, Papa. Udah pokoknya nanti kamu dandan yang cantik, oke?”


Sinta terdiam, Sinta memutar memorinya saat Pak Adji datang dengan Satria. Sinta takut jika Papanya akan menjodohkan dirinya lagi.


“Sana kamu mandi!” perintah Tari dengan menatap sebal putrinya, yang masib terbengong.


Sinta pun dengan tak semangat pergi kekamarnya. Gadis itu lalu membersihkan dirinya, Sinta pun sengaja bersiap dengan sederhana.


“Ngapain juga dandan cantik? Toh, itu temennya, Papa. Rama juga katanya mau main kesini,” gerutu Sinta yang saat ini sedang menyisir rambut di depan kaca riasnya.


Sinta hanya menggunakan dress sederhana, namun elegan. Sinta pun mengikat rambutnya seperti ekor kuda.

__ADS_1


Setelah selesai, gadis itu lalu keluar dari kamarnya. Perasaan was-was menghampiri, Sinta. Dia takut jika nanti Papanya akan menjodohkan dengan teman anaknya.


Kaki Sinta seolah berat untuk melangkah. Satu persatu anak tangga dia turuni dengan pelan, sampailah Sinta diruang tamu.


Terdapat Ibu paruhbaya dengan gamis modern yang terlihat cantik, dengan pria yang menggunakan kemeja hitam yang sedang memunggungi Sinta.


Kedua anak dan ibu itu memunggungi, Sinta. Membuat gadis itu bertambah khawatir jika dia benar akan di Jodohkan.


Sinta melangkah pelan mendekatinya. Dan sampailah Sinta, tepat dibelakang dua anak dan ibu yang masih sibuk mengobrol.


“Loh, Sinta. Kamu kok diem aja?”


Sinta terkejut melihat Ibu paruhbaya yang cantik itu ternyata Bunda Aletha. Dan pria yang menggunakan kemeja hitam adalah, Rama. Rama sangat berbeda, rambutnya dia potong menjadi rapi.


“Bu...bunda? Jadi tamunya, Bunda sama Rama?” tanya Sinta menatap Mamanya. Tari hanya tersenyum dan mengangguk.


Sinta langsung berhambur untuk memeluk Aletha. “Bunda, Sinta kangen sama Bunda!” Sinta langsung memeluk Aletha. Aletha pun membalas pelukan gadis itu.


“Bunda, juga kangen sama kamu, Sinta!”


“Sama aku gak kangen nih?” ucapan Rama membuat semua yang berada diruangan itu terkekeh. Sinta pun hanya bisa menyembunyikan pipinya yang memerah.


“Yaudah ayo kita makan malam!” Ajakan Kevin menghentikan tawa mereka.


Mereka pun langsung keruang makan. Menikmati makan malam bersama-sama. Sesekali, Sinta selalu bercanda dengan Aletha.


“Masakan kamu enak banget, Tari!” ucap Aletha yang berkali-kali memuji masakan sahabatnya tersebut.


Tari pun terkekeh mendengarnya. “Bisa aja kamu, Tha!”


“Sinta sering bantu masak gak, Tante?” Pertanyaan Rama membuat Sinta menelan ludahnya. Gadis itu menjadi khawatir jika Mamanya berkata jujur.


“Aduh mati gue, bisa ancur nih harga diri di depan Rama!”


“Kalo lagi mood, Sinta pasti bantuin Tante kok,” jawab Tari sembari melirik Sinta.


Aletha dan Rama hanya terkekeh mendengarnya. “Ekhm, Kevin. Aku gak mau berbasa-basi nih, jadi aku sama Rama itu datang kesini mau ngomong sama kamu dan Tari,” ucap Aletha dengan wajah yang serius.


“Iya, Tha. Jadi apa maksud kedatangan kamu?” sahut Kevin.


“Kamu tahukan, suamiku udah pergi selamanya. Dan aku sekarang punya anak satu cowok ini! Anakku ini udah ngebet pengen banget lamar anak kamu!”


Deg!


Sinta melotot mendengar penjelasan Aletha. Jantung Sinta tiba-tiba berdebar lebih cepat dari biasanya.


“Jadi begitu... Sinta kamu gimana? kamu mau menikah dengan, Rama?”


Sinta menggigit bibirnya, menahan agar tak berteriak. Kebahagiaan mengalir deras ditubuh Sinta.


Dengan mantap gadis itu menganggukan kepala.


“Iya, Sinta mau!”


“Allhamdulilah.”


.


.


.


.


.


TBC😘

__ADS_1


Hallo teman-teman! Author mau tanya apa kabar semuanya? Maaf lama gak up, hari ini lagi free, gak ada tugas! Jadi author bisa up.


Please jangan bosen nunggu, dan tetap jadikan Rama & Sinta di Favoritmu😘


__ADS_2