RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 58


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Like😘


.


.


.


.


.


****


“Sinta...!”


“Hmm...” sahut Sinta yang saat ini duduk di Jok belakang Rama, sembari menikmati angin malam Ibukota.


“Kamu marah gak sama, Eve?” tanya Rama sedikit berteriak.


“Kalau aku tahunya dulu, mungkin aku akan marah. Tapi kalau sekarang nggak aja deh, kan aku udah punya kamu!” Sinta lalu melingkarkan tangannya di perut Rama.


Rama tersenyum melihat tingkah kekasihnya. “Masa iya, Anak Pak Jendral naik motor Vespa,” ucap Rama yang mencoba menggoda kekasihnya itu.


Di belakang punggung, Rama. Sinta menggelengkan kepalanya. “Aku gak peduli apa kendaraanmu, apapun kendaraanmu hal itu tidak membuat kurangnya kadar rasa cintaku.”


Rama tertawa keras mendengar ucapan Sinta. “Cie... Sekarang udah pinter gombal!”


“Aku tertular sama kamu! Kamu sih sukanya ngreceh mulu,” ucap Sinta sembari memukul bahu Rama pelan.


Rama semakin tertawa, dan akhirnya momen ini terulang kembali. Sinta mengulanginya, momen saat-saat dia dan Rama berboncengan motor berdua, saling bercanda, dan menikmati angin malam yang menerpa. Sinta bahkan berdiri dan merentangkan kedua tangannya, Sinta berteriak-teriak dan mengucapkan hal yang membuat Rama terus tersenyum.


“RAMA... AKU CINTA SAMA KAMU!!”


Rama yang tak mau kalah pun ikut berteriak. “AKU JUGA CINTA SAMA KAMU, SINTA....!!”


Sinta tertawa dan kembali duduk di Jok belakang dengan semula. “Kamu tahu gak? Aku kangennnnnnnn banget, sama momen ini.”


Rama sedikit menoleh ke belakang mendengar ucapan Sinta. “Kangen? iya aku tahu aku emang ngangenin, Sinta!”


Sinta berdecak kesal mendengar ucapan Rama. “Ck. Bukan kangen sama kamu! Aku kangen pas kita jadiin kota jadi milik berdua,” ucap Sinta dengan senyuman lebarnya.


Rama tertawa tanpa suara, dia pun begitu bahagia jika kembali lagi dengan Sinta. Rama sudah sangat yakin jika, Sintalah takdirnya. Dan keyakinan Rama tidak pernahlah salah!


Namun, Rama tidak tahu jika kedepan akan banyak tantangan yang harus dia lewati.


“Udah nyampe aja,” Sinta berucap sembari melepas helm di kepalanya.


“Goodnight sayang!” goda Rama dengan menoel hidung kekasihnya itu..


Sinta merona mendapat perlakuan manis dari Rama. “Goodnight too! Udah sana kamu pulang, nanti keburu malem.”


“Kok gak ada sayangnya sih?!” Rama tampak berpura-pura cemberut, dan hal itu membuat Sinta memutar bola mata malasnya.


“Udah ihh sana pulang! Kamu mau dimarahin, Papa? Katanya mau jadi calon mantu yang di sayangi mertua,” sindir Sinta yang tujuannya ingin menggoda kekasih tampannya itu.


“Iya-iya!! Aku pulang, jangan lupa bersih-bersih ya sayang—ku!” Dengan gemas Rama mengusap-usap kepala Sinta

__ADS_1


Pipi Sinta selalu saja dibuat memerah oleh Rama, karna tak ingin di goda terus-terusan, Sinta pun menyingkirkan tangan Rama yang berada di kepalanya.


“Harusnya kamu yang harusnya bersih-bersih! Sana ihh cepetan!”


Rama terkekeh dan akhirnya mengalah, Rama lalu menghidupkan mesin motornya. Padahal dia ingin berlama-lama bersama Sinta, Rama ingin melepas rindunya selama 2 minggu ini.


“Hati-hati...!!” Sinta sedikit berteriak, melihat motor Rama yang mulai menjuahi rumahnya.


Sinta langsung masuk ke rumahnya, Sinta terkejut karna Papanya sudah duduk si sofa dengan melipat tangan.


“Kemana saja kamu?!” suara tinggi dari Kevin langsung menggema.


“Tad—”


“Katanya cuma mau ngelayat, kenapa malah keluyuran sama Rama?!” potong Kevin kembali, dan hal itu membuat Sinta semakin tersudut.


“Ma—maaf, Pa. Sinta lupa mengkabari, Papa.”


Sinta saat ini hanya bisa menunduk, jika sudah marah Kevin tidak akan bisa diajak negoisasi.


“Keadaan kamu itu belum pulih sepenuhnya, malah keluyuran sampai malam. Pasti Rama yang sudah mempengaruhi kamu!”


Sinta langsung mendongakan kepalanya, dan menatap langsung mata Kevin. “Apa maksud, Papa?! Ini bukan salah, Rama! Kenapa, Papa selalu dingin dengan Rama? Rama anak yang baik, bahkan Papa mengenalnya lebih dekat dari pada, Sinta. Tapi sikap, Papa itu membuat Rama bingung!!”


“Ya... KARNA PAPA AKAN MENJODOHKAN KAMU!!”


****


Rama merasa dua mobil tanpa plat di belakangnya saat ini sedang mengikutinya. Padahal malam ini jalanan masih sangat ramai, karna memang ini pun belum larut malam.


Rama menambah kecepatan, dan memilih jalanan yang sediki lenggang. Dan benar saja, dua mobil tanpa plat itu masih mengikuti Rama.


Empat orang berbadan besar keluar dari mobil tersebut. Mereka menggunakan masker wajah agar menutupi wajah mereka.


Rama memincingkan mata menatapnya. Rama bersiap mengambil pistol yang ada di balik Jaket anti peluru itu.


“Apa saya ada masalah dengan kalian?” teriak Rama santai kepada empat pria berbadan besar.


“Ya, masalahnya karna kau tidak kunjung mati! Hya....!!”


Tanpa aba-aba keempat pria itu maju menyerang Rama, Rama dengan sigap menghindari serangan itu. Rama bisa melihat tato naga di lengan pria-pria itu, yang sudah pastinya mereka anggota Cosa Nostra.


Perkelahian terus berlangsung, karna kalah jumlah Rama sampai terjatuh ke aspal jalanan.


Rama mengeluarkan pistolnya, karna dia pun sudah tidak bisa menyerang.


Dor


Dor


Dor


Tanpa di duga Rama menembak kaki ketiga pria tadi, dan hal itu tentu membuat keempat pria berbadan besar terejut.


Pria yang belum terkena tembakan marah melihat temannya terkapar. Pria yang belum tertembak itu mengambil pisau dan siap menikam Rama.


Rama panik dan berusaha mengisi peluru kembali ke pistolnya. Namun...

__ADS_1


Dor


Dor


Dor


Dor


Belum sempat pria tadi menikam Rama, keempat pria tadi sudah kehilangan nyawa dengan tembakan yang tak terduga.


“Marcus?” Rama terkejut melihat pria yang dianggap sahabat itu menyelamatkannya.


“Rama are you okey?” Marcus langsung menghampiri Rama yang terduduk di aspal.


“I'm okey! Thank you, Marcus.”


“Ayo kita ke rumah sakit!” ajak Marcus yang tampak khawatir.


“No no no! It's okay, aku tak apa sungguh! Antar aku pulang saja, sepertinya kaki ku keseleo,” ucap Rama yang memang merasa kakinya sangat nyeri.


Marcus pun membantu Rama untuk ke mobilnya, sedangkan motor Rama di bawa oleh supir Marcus.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah Rama. Marcus membantu Rama untuk masuk ke rumahnya.


Yusuf dan Aletha sangat terkejut melihat keadaan putranya yang lebam-lebam.


“Hmmm... Uncle and aunty aku pamit pulang dulu!” ucap Marcus kepada Yusuf dan Aletha yang sedang mengkompres luka Rama.


“Ah iya, Marcus. Terimakasih banyak ya!” Aletha langsung menyahuti ucapan Marcus.


Setelah Marcus pergi, Aletha langsung memberikan tatapan tajam kepada putranya. Aletha dengan geram menarik telinga putra tunggalnya itu.


“Dasar anak nakal! Bisa tidak sehari tidak membuat, Ayah dan Bunda khawatir?!” Aletha langsung melayangkan omelan kepada Rama.


“Aduh... Aduh... Bunda...telinga Rama nanti ikutan merah, diakan gak salah kok jadi sasaran terus sih. Rama kan kasian sama telinga Rama, dia selalu jadi pelampiasan Bunda terus!”


“Enak saja jadi pelampiasan!”


Dan perdebatan terjadi antara Ibu dan anak yang tidak ingin mengalah itu.


“Udah-udah cukup! Anaknya lagi sakit ini,” ucap Yusuf yang sudah jengah mendengar perdebatan Ibu dan anak yang sangat Yusuf sayangi.


“Loh kok kamu malah nyalahin aku sih, Yah?! Anak kamu nih yang sukanya bikin orang tua khawatir!” sahut Aletha yang merasa tak terima, karna merasa disalahkan suami.


“Aku itu gak nyalahin kamu, Bun—”


“Tuhh, Bunda aja udah ngaku udah tua! Udah deh, Bun jangan marah-marah terus. Kalau udah tua nanti darah tingginya kumat!”


“RAMA!!!! DASAR ANAK DURHAKA YA KAMU!”


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2