RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 27


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum BacašŸ»


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


"L--Lo gak pingsan?"


Sinta melotot, melihat Rama yang tertawa keras. Hal itu membuat Sinta sangat kesal, lantaran di kerjai dan sudah mengakui perasaannya


"Udah sekarang kita pacaran!" tegas Rama dengan senyum manisnya


Sinta hanya melipat mulutnya, jujur saja hatinya berbunga-bunga. "Ngeselin lo!"


Rama kembali terkekeh melihatnya, "Udah dong gak usah galak-galak, Masak sama pacar sendiri galak banget"


"Dasar pedofil!" Sinta menoyor jidat Rama, membuat pria itu kembali merebahkan diri.


Ceklek (Pintu kamar inap Rama dibuka)


"Wah ada apa ini, kok pada ketawa-ketawa?" Rednan menatap curiga, kedua insan yang nampak bersemu-semu


Dengan santai Rama meraih tangan Sinta, menggenggamnya. Dan dengan santai Rama menunjukannya pada Rednan.


"Kalian jadian?"


Rama mengangguk mantap, sedangkan Sinta hanya menunduk menahan malu. "Iya gue jadian sama dokter bar-bar"


Rednan tersenyum lalu mendekat ke ranjang, Rama. Merangkul sahabatnya dengan hangat. "Selamat ya, Bro. Semoga lo cepet-cepet nikah deh! udah kepala tiga juga, Oh iya Terimakasih banyak, Bro. Berkat lo gue bisa selamat"


Rama membalas pelukan sahabatnya, dengan pelan Rama menepuk punggung Rednan. "Iya sama-sama, Bro. Udah tugas kita untuk saling menolong, besok kalo Sinta udah mau gue juga akan cepet-cepet nikah, Bro!"


Deg


Ucapan Rama yang sangat santai itu membuat pipi Sinta memerah, Rama melirik ke arah gadisnya. Rama bisa melihat jika Sinta tersipu


"Gak usah malu gitu dong, Sin. Cowok lu Tentara, bangga dong!" goda Rednan dengan mengedipkan satu matanya. "Oh iya gue harus balik ke kamar, Papi sama Mami gue udah nungguin. Ayah sama Bunda lo masih di kantin, Ram"


"Iya cepat sehat lo!" balas Rama dengan menepuk bahu Rednan pelan


Rednan pun pergi meninggalkan Rama & Sinta. Tinggalah mereka berdua saat ini, Sinta hanya diam karna canggung


Ceklek (Pintu ruangan terbuka)


Dua perawat membawakan makan siang, Sinta langsung menerimanya dan mengucap, Terimakasih. Sinta kembali duduk lalu membuka satu persatu, makanan tersebut.


Rama hanya menatap datar makan siang yang diberikan rumah sakit, Makanan rumah sakit baginya hambar!


Dan itu memang benar. Terdapat beberapa lauk, seperti bubur, ayam, sup, dan tempe. Sinta mulai menyendokan bubur, lalu mengarahkan ke mulut Rama.


Rama yang tak kunjung membuka mulut, membuat Sinta mengkerutkan dahinya. "Ayo makan!!"


"Enggak ah, makanan rumah sakit gak enak," Sinta berdecak melihat Rama yang menggelengkan kepala


"Lo mau sembuh gak? atau kalo lo gak makan kita putus aja,"

__ADS_1


Hap


Rupanya ancaman Sinta berhasil membuat Rama luluh, Rama pun makan dengan lahap. Sinta tersenyum melihat tingkah Rama


"Lo gak mau ya putus sama gue?" goda Sinta


Rama menghentikan aktivitas makanannya, lalu menatap Sinta. "Gue gak bisa di tinggalin begitu saja sama seseorang yang udah gue jadikan tempat melabuh hati, dan gue juga gak bisa tanpa seseorang yang sudah gue pilih!"


Sinta tertegun mendengar jawaban Rama yang begitu tulus, melihat Rama sudah selesai makan. Sinta lalu memberikan segelas air putih, Rama menerimanya lalu meneguknya.


"Terimakasih,"


"Terimakasih apa?" tanya Sinta kebingungan


"Terimakasih sudah mengakui perasaan lo, Terimakasih sudah menerima gue yang apa adanya ini. Dan gue harap lo bisa lupain mantan kekasih lo, biarlah si brengsek berbahagia dengan si brengsek"


Sinta yang mendengar berkaca-kaca, dirinya tidak menyangka Rama mengetahui semuanya. Mengetahui perasaannya, dan mengetahui tentang Scandal mantan kekasihnya dan sahabatnya


Rama yang melihat Sinta menangis, langsung mengusap air mata tersebut. "Jangan menangis, jika ada orang yang membuat kamu menangis, orang itu tidak akan hidup lama lagi,"


"Apaan sih kok jadi serem," Sinta kembali terkekeh mendengar penuturan Rama. "Jadi sekarang ngomonya aku-kamu?"


"Iya dong kan biar kaya orang pacaran beneran,"


Sinta hanya tersenyum mendengar jawaban Rama.


"Udah, Sin. Jangan senyum terus, bisa-bisa detak jantungku tidak bekerja lagi"


****


Ceklek ( Pintu kamar itu terbuka)


Munculan gadis cantik, berwajah kebule-bulean. Gadis itu mendekat ke arah pria yang tengah duduk di ranjang


"Kamu lagi ngapain, Bim?" tanya Clara lalu duduk di sebelah Bima.


Bima hanya memandang datar, perempuan yang saat ini berstatus Istrinya. "Gak ngapa-ngapain," jawabnya datar


Clara hanya bisa menggigit bibir bawahnya, 2 bulan pernikahan mereka. Bima tak kunjung berubah, Bima tetap datar dan dingin.


Karna tidak ada yang bersuara, Bima bangkit dari duduknya. "Mau kemana, Bim?"


Bima menoleh sekilas ke arah Clara, "Bukan urusan, Lo!"


"Sampai kapan kamu mau kaya gini, Bim?"


Ucapan, Clara yang terdengar bergetar itu menghentikan langkah, Bima. Bima berbalik menghadap perempuan yang saat ini sudah menangis


"Sampai kapan pun, karna sampai kapan pun gue tetap cintanya sama Sinta!"


Deg!


Setelah mengucapkan dengan tajam, Bima pergi meninggalkan Clara yang menangis. Clara tahu pernikahan ini hanya sebuah kesalah pahaman, hal itu pun yang membuat dirinya.


"Maafin gue, Sin."

__ADS_1


FLASHBACK


Lampu-lampu kota tampak indah di malam hari, malam itu Clara dan Eve temannya sedang berjalan santai di taman kota.


Clara baru saja pulang dari Mall, Clara dan Eve duduk di salah satu bangku taman. Mereka sibuk memandangi indahnya kota di malam hari.


Mata, Clara menangkap kedua insan di pojokan taman. "Mereka terlihat tidak baik,"


Clara bangkit lalu mendekat, semakin dekat Clara mendengar jelas bagaimana kedua insan itu berdebat. Mereka bertengkar dan tidak memperdulikan sekitar


Clara mengenal kedua manusia itu. "Bima? Sinta?"


Melihat, Bima pergi dengan raut wajah kesal. Clara langsung mengikutinya, bahkan dirinya meninggalkan Eve.


Sudah lama Clara memendam rasa untuk, Bima. Namun, bagi Bima satu-satunya perempuan hanyalah Sinta.


Clara mengikuti mobil Bima dengan Taxi, Mobil Bima berhenti di sebuah Club Malam. Clara mengikuti Bima masuk. Namun, Clara langsung di cegat tukang pukul, Club malam itu hanya khusus untuk yang sudah memiliki KTP.


Setelah menunjukan KTP Clara di perbolehkan masuk, mata Clara melihat sekitar. Matanya terpaku kepada pria yang sedang mabuk-mabukan


Clara membulat mendapati keadaan, Bima. Seorang bar tander mendekat ke arah Clara. "Maaf, Mbak. Mas ini sudah minum banyak sekali, Mas ini juga minum dengan kadar Alkohol yang tinggi,"


"Baik, Terimakasih saya akan membawanya"


"Tunggu, Mbak siapanya?" Clara hendak memapah Bima. Namun, bar tander itu menghalanginya


"Saya, Istrinya!" setelah mengatakan itu, Bar tander itu mengizinkan Clara membawa Bima.


Clara dengan susah payah memapah, Bima. Clara meraba baju Bima, setelah mendapatkan kunci mobil Bima. Clara melesat membawa Bima ke hotel.


Sepanjang jalan, Bima mengigau menyebut-nyebut nama Sinta.


"Sinta...."


"Itu tidak benar Sinta. Aku cuma cinta sama kamu, wa--wanita itu di--dia aku tidak mengenalnya Sinta... Jangan tinggalkan aku, ku mohon.... hiks hiks"


Clara yang mendengar menyayat, Bima bahkan menangis. Jadi, Bima dan Sinta hampir putus, pikir Clara


Clara lalu merebahkan, Bima di ranjang. Bima menarik tangan Clara membuatnya jatuh di pelukan Bima


"Jangan tinggalkan aku.... aku mencintaimu, Sinta.... A--Aku... Aku tidak selingkuh, Ak--u ti--dak mengenal wanita itu"


Tanpa sadar air mata Clara menetes, "Buka mata mu dasar bodoh, Aku Clara bukan Sinta. Aku mempercayaimu, Bima!"


"Aku mencintaimu, Jangan tinggalkan aku... huhuhu.. hiks"


"Diamlah, aku juga mencintaimu!"


Bima dan Clara terlelap bersama. Pagi-paginya mereka sudah di sidang kedua belah keluarga.


Semalam padahal tidak terjadi apa-apa. Namun, Clara menggunakan kesempatan itu untuk menikah dengan Bima


"Maaf, Tapi cinta tidak bisa di bagi"


TBC

__ADS_1


Like dan Vote dulu baru lanjut


__ADS_2