RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 50


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


The Last Mission Love ( Kisah Rednan)


****


Sinta dan Aletha bercanda ria, sembari membantu Bi Marni memasak. Aletha memang tidak terlalu pintar memasak. Kadang masakan Aletha akan terlalu asin, atau hambar, namun suami tercintanya tetap saja menghabiskan makanan buatan Aletha.


Sinta pun sama dia juga tampak kikuk dalam memasak. Namun, Aletha tidak mempermasalahkannya, dia malah mengajak Sinta bercanda.


“Kamu gimana kok bisa suka sama anak nakal itu?” tanya Aletha sembari memotongi wortel yang ukurannya berbeda-beda.


“Panjang ceritanya, Bun.” Sinta menjawab sembari membantu Bi Marni mengupas bawang, meskipun sebagian besar adalah kupasan milik Bi Marni.


“Ceritalah dikit-dikit!”


Sinta tersenyum kecil membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Rama. Pertemuaan yang tidak mempunyai kesan sama sekali!


“Rama ngeselin ya, Bun?”


Aletha langsung anutias dalam hal itu. “Iya emang! Ngeselin banget tuh anak, bingung Bunda. Kok bisa ya, anak Bunda kaya gitu. Dulu Bunda nyidam apa ya pas hamil Rama?” celoteh Aletha sembari melanjutkan memotong wortel.


Sinta tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Hahahah.... Ya gitu, Bun. Kisah Sinta di awali dengan rasa benci, Sinta dulu benci banget sama Rama. Tapi gak tahu kenapa, pertengkaraan Sinta dengan Rama, malah membuat Sinta suka sama Rama.”


Aletha tersenyum mendengarnya. Aletha lalu memeluk Sinta, pelukan hangat yang sangat nyaman.


“Kamu jadi anak Bunda aja deh, Sin. Kalau boleh tuker tambah, Rama mau Bunda tukerin!”


“Ekhm!”


Mendengar suara deheman mengalihkan perhatian Aletha dan Sinta. Di lihatnya Rama yang sudah tampan. Menggunakan kaos hitam polos, dan celana santai, serta rambut yang basah.


Rama langsung menuruni tangga. Menghampiri Bundanya, mengecup kedua pipinya.


“Bunda jahat banget sih! Anak gantengnya kaya begini mau di tukerin.”


Sinta hanya bisa menahan tawa melihatnya, sedangkan Aletha mencibirkan bibirnya mendengar ucapan putranya.


“Gakpapa, dari pada punya anak gesrek. Mendingan Sinta udah cantik gak gesrek kaya kamu!” Aletha langsung memeluk Sinta. Sinta memberikan senyuman kemenangannya kepada Rama.


Rama cemberut melihatnya. “Sinta!! Kamu cuma boleh curi hati aku, kalau penyihir ini jangan Sinta!! Nanti tidak ada yang merapikan tempat tidurku!” rengek Rama yang terlihat lucu.


Tawa Sinta pecah mendengarnya, Aletha terlihat kesal mendengar ucapannya. “Enak saja kamu bilang Bunda penyihir. Mau kamu Bunda kutuk jadi kodok?”


“Ck. Nanti kalau Rama berubah jadi kodok, Sinta harus cium Rama dulu biar jadi pangeran!”


Sinta semakin tertawa mendengarnya, Aletha langsung memberikan jeweran di telinga Rama.

__ADS_1


“Nyari-nyari kesempatan ya kamu?! Berani kamu cium Sinta sebelum halal, Bunda kirim kamu sekalian di medan perang, yang musuhnya Zombie semua!”


Rama meringis karna tarikan Bundanya. “Aduh.... Aduh... Bunda..! Sakit tauk, ya ampun jadi anak cowok kapan benernya sih? Masa iya Rama yang ganteng ini harus secantik kaya Sinta.” celoteh Rama yang seolah mengerutuki takdirnya.


Aletha langsung melepaskan tarikannya.


“Ada apa ini rame-rame?”


Suara yang sangat familiar mengalihkan perhatian Aletha. Dilihatnya sang suami yang baru pulang, Aletha langsung berhambur ke Yusuf.


Rama dan Sinta hanya bisa cekikikan melihat pasangan paruhbaya itu. Setelah Yusuf mandi dan bersih-bersih. mereka semua lalu duduk di meja makan.


Yusuf juga sudah tahu hubungan Rama dan Sinta. Yusuf hanya memberi pesan, agar tidak kelewatan.


“Kabarnya, Papa gimana Sinta?” tanya Yusuf sembari menyuapkan makanan.


“Baik, Om!”


“Kok panggilnya Om sih, Istri saya aja kamu panggil Bunda. Panggi saya Ayah aja!” protes Yusuf dengan senyum tulusnya.


Sinta tersenyum dan mengangguk. Keluarga Rama memang berbeda, dimana Keluarga besar lainnya akan makan dengan hening, disini masih saja ada perdebatan Anak dan Ibu itu.


“Dasar anak nakal! kamu mau Bunda pecat jadi anak?!”


****


Clara sangat terkejut jika dia tadi berakhir di rumah sakit. Dan Bima saat ini menghilang tanpa kabar. Clara sangat khawatir, Clara takut jika Bima mengetahui sebuah fakta besar.


Berkali-kali Clara menghubungi Bima, namun nihil! Nomor Bima sama sekali tidak aktif.


Clara meyakinkan diri!


Clara pun pergi meninggalkan apartemen. Clara memesan taxi online, lalu taxi menuju ke tempat yang Clara minta.


Dan saat sampai di tujuan. Benar saja, Bima berada di jembatan itu. Jembatan kenangannya dengan Sinta.


Clara bisa melihat, Bima menangis. Bima terlihat frustasi, ini bukan Bima yang Clara kenal. Sudah berkali-kali Clara melihat sisi lemah Bima, namun berbeda hari ini, Bima seperti kehilangan sebuah cahaya.


Perlahan Clara mendekat ke arah Bima. Di sentuhnya bahu Bima.


“Apa yang kamu lakukan sialan?!” Dengan kasar Bima menghempas tangan Clara.


Clara begitu terkejut melihatnya. Dia tidak menyanyka Bima akan sekasar ini. Clara menjadi semakin khawatir.


“B–Bima a–pa yang terjadi denganmu?” tanya Clara dengan gemetar.


Sorot mata Bima mengobarkan kebencian. Emosi sudah menguasai Bima. “Kamu pembohong! Kamu sudah menghacurkan ku! Menghancurkan ku! Ya.... Sekarang kamu bahagia bukan? kamu bisa menikah denganku, kamu menghianati sahabatmu sendiri, dasar bodoh! Oh, bukan! Aku yang bodoh karna tidak mengecekmu ke Dokter kandungan dari dulu!”

__ADS_1


Deg!!!


Clara sekarang menyadari. Clara sekarang tahu, tahu jika Bima telah mengetahui fakta!


Air mata Clara sudah tidak tertahan. Bibirnya kelu, Clara menjadi lemas.


“K–kamu tahu Clara? Karna drama menjiikanmu itu, Sinta sudah berpindah hati dasar bodoh!!!!” air mata Bima turut menetes. Bima cinta dengan Sinta, namun takdir berkata lain. Bima tidak tahu jika wanita yang dia caci maki hari ini adalah penentu takdirnya.


“K–Kenapa kamu tidak pernah melihatku Bima? k–kenapa?!! Ak–kku menyukaimu!!! Tapi kamu tidak pernah melihatku!” Clara terisak, dia berteriak. Tidak memperdulikan guratan-guratan di wajah Bima.


“Cih. Dasar rubah licik! Kamu suka denganku? Lalu menghalalkan segala cara? Menjijikan, kamu bahkan menghianati sahabatmu!” Bima berdecih sembari memandang jijik kepada Istri sah nya.


Hati Clara menyayat melihatnya. Jantungnya berdebar kencang!


“Menjijikan? Ya, aku menjijikan! Aku tidak peduli! Aku mencintaimu, aku mencintaimu dengan tulus. Dan kamu? Kamu tidak pernah melihatku!”


Bima sangat muak melihat air mata Clara. Dengan kasar Bima memukul kepalanya, mengusap wajahnya kasar, Bima sudah tidak bisa berakal sehat!


“Bima...! Kenapa kamu tidak bisa melihatku? Apa aku kurang cantik? apa aku kurang pintar? apa aku harus menjadi Dokter seperti Sinta? K–Kenapa?!!!” Clara semaki menggebu-nggebu.


Bima menatap Clara tajam. Bima lalu mendekat ke arah Clara. “Sampai kapan pun kamu gak akan bisa menjadi Sinta!! Dia gak licik kaya kamu!” ucapnya pedas.


“Licik? aku menolongmu, dengan susah payah aku memapah mu. Dan kamu? di saat kamu mabuk saja kamu mengigau Sinta. Hati aku sak–kit Bim!! Aku sudah mencintaimu sejak dulu, dan—” Clara sudah tidak kuat untuk melanjutkan kata-katanya. Bima hanya diam saat mendengarnya.


“Cih. Itu hanya rencana licik mu saja! kamu memang sengaja menolongku, lalu kamu membuat kita tidur bersama dan kamu juga memanggil orang tua kita!”


Clara sangat terkejut mendengar ucapan Bima. Clara tidak menyangka Bima akan menuduhnya seperti ini.


“Memanggil orang tua?”


“Cih. Tidak usah sok polos, aku tahu rubah licik sepertimu ini banyak. Bedanya jika rubah lain akan meminta uang segepok, dan rubah sepertimu akan meminta pernikahan. Aku tidak habis pikir, apa orang tua mu sudah tidak mau memberi uang? sampai anaknya menjadi P*lacur—”


Plak


Tamparan keras mendarat di pipi Bima. Clara sudah tidak bisa menahan emosinya. Matanya menatap tajam Bima.


“Kamu menamparku? seharusnya aku yang menamparmu! Dasar P*elacur!”


“STOP BIMA!! Stop talking! Otakmu memang sudah bodoh, kamu hanya memikirkan Sinta! asal kamu tahu, saat itu aku lah yang menolongmu! dan bagaimana bisa? aku memberi orang tua kita?! Aku saja tidur saat itu. Otakmu memang sudah bodoh!!!”


Bima tertegun mendengar teriakan Clara. Bima pun baru sadar, jika Clara tertidur bersamanya. Bahkan Bima membuat Clara tidur tidak berkutik.


“K–Kamu bukan Bima yang ku kenal!” Clara mundur beberapa langkah. Berusaha menjauhi Bima.


Namun, kepala Clara terasa berat. Clara hampir terhuyung, namun dengan sigap Bima menahannya.


“Do not touch me!”

__ADS_1


TBC😘


__ADS_2