RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 74


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Rama dan Marcus benar-benar terkejut mendengar pernyataan Jace. Yang paling terkejut pasti adalah Rama, karna Rama mengenal siapa Pak Adji.


“Kami semua orang buangan menciptakan senjata-senjata, kami menjualnya, uangnya kami gunakan untuk membeli senajata anda, Tuan. Kami melakukan itu hanya ingin membasmi organisasi yang di ciptakan, Tara. Mereka harus segera kami musnahkan, keberadaan mereka bisa menjadi ancaman untuk anda, Tuan.”


Marcus menyimak, apa yang setiap Jace ucapkan. Saat ini yang Marcus pikirkan adalah cara membunuh organisasi ciptaan Tara.


“Tunggu aku punya rencana!” ucap Rama tiba-tiba. Marcus dan Jace langsung menatap Rama.


Rama menghela napas dalam sebelum berbicara. “Emmmm... Ini lebih menuju ke sesi curhat, ah tidak! maksudku... Yahhh, kekasihku di jodohkan dengan anak Pak Adji, dan anak Pak Adji itu temanku. Yahhh, kekasihku dan temanku menolak perjodohan itu. Tapi mereka berdua tidak bisa apa-apa dan pernikahan akan tetap berlangsung....”


”Tunggu, bukankah kau kekasih, Nana?” tanya Marcus memotong pembicaraan Rama.


Rama mengkerutkan dahi, mendengar pertanyaan Marcus. “Hah? Apa yang kau bicarakan Marcus? aku tidak punya hubungan apapun dengan, Nana. Meskipun dulu aku pernah di sulitkan Kakeknya itu, tapi Kakek Nana meningal, penembakannya masih menjadi misteri hmmmm....”


Marcus yang mendengar ucapan Rama tersenyum senang, namun juga terbenak rasa bersalah, karna salah mengira.


“Baiklah lanjutkan rencanamu, Rama!”


“Yahhh, pernikahan itu akan di gelar 2 minggu lagi, tempatnya di gedung tengah kota. Kemungkinan besar, bodyguard-bodyguard milik Tara, akan mengawal Pak Adji. Kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk...”


“Membunuh orang-orang, Tara dan membatalkan pernikahan kekasihmu,” potong Marcus kembali, dengan menatap Rama mengejek.


Rama menghela napas mendengarnya. “Ya kau tahu rencanaku.”


“Jace, apa aku boleh meminta bantuan kalian?”


Jace tersenyum mendengar pertanyaan Marcus. “Tentu anda bisa, Tuan. Meskipun kami di buang, sumpah setia kami akan mengalir di darah kami sampai mati.”


Marcus yang mendengar ucapan Jace menjadi sangat terharu. Marcus tidak menyangka, jika dulunya Ayahnya mempunyai Assiten yang begitu setia, tidak seperti Tara yang membunuh atasannya, bahkan saat ini mencoba menghancurkan Marcus secara perlahan.


“Mari, Tuan kita berlatih!” Jace lalu menggiring Rama dan Marcus kesuatu tempat. Tepatnya di Hutan, ternyata di dalam hutan dibuat seperti tempat latihan.


Dan yang lebih mengejutkan, tempat berlatih itu sangat komplit. Dari mulai menembak, memenah, lempar pisau, adu pedang, dan lain-lainnya.


“Kami semua berlatih disini, Tuan. Kami berlatih dan terus berlatih, kami semua berharap bisa kembali di Cosa Nostra, meskipun itu adalah mimpi,” ucap Jace dengan menatap tempat-tempat latihan yang dia dan orang-orang buangan ciptakan.


Marcus begitu terharu mendengarnya, nyatanya orang buangan bahkan lebih setia, meskipun mereka di anggap sampah.


Tak menunggu lama Rama dan Marcus segera bergabun dengan orang-orang buangan. Mereka menunduk hormat kepada Marcus.


“Tidak perlu seperti itu, aku merasa bersalah dengan kalian yang masih memegang teguh janji, dan sumpah kalian. Sedangkan aku malah mempercayai tangan kananku, yang menghianatiku,” tutur Marcus sembari menatap orang-orang buangan. Marcus begitu merasa bersalah dan terharu, meskipun sudah dibuang, namun orang-orang itu tetap menghormati Marcus.


“Cosa Nostra sudah menjadi bagian dari hidupku, Tuan. Aku akan tetap dibawahmu, di bawah Cosa Nostra sampai mati!” sahut salah satu dari mereka dengan lantang.


Marcus tersenyum senang melihatnya. Namun, saat akan berlatih, Marcus mengalami kendala. Kakinya masih terasa sakit, karna bekas gigitan serigala.


Berbeda dengan Rama, meskipun punggung pria itu sakit. Rama tetap berlatih, dia ingin segera pulang dan menemui bidadari hatinya, yang sangat dia rindukan.


Hari demi hari Rama dan Marcus alami, Rama yang seoang militer, menjadi paham tentang kehidupan mafia. Meskipun penjahat, namun organisasi mereka memiliki Solidaritas yang kuat.

__ADS_1


Sedangkan, Marcus menjadi semakin paham tentang menghargai seseorang. Marcus terlalu angkuh, karna kekuasaan, kekayaan, dan ketampanannya. Namun, Marcus belum pernah mendapatkan kebahagiaan dari sebuah kebersamaan.


Marcus menjadi sadar, jika bos bebaur dengan anak buahnya tidak ada salahnya.


****


Hari demi hari Sinta lewati meskipun sulit. Dan sialnya ini sudah hampir 2 minggu, Rama menghilang.


Sebentar lagi adalah pernikahannya dengan Satria. Pak Adji benar-benar tidak bisa diajak negoisasi.


Sinta pun hanya bisa pasrah, Sinta pun tidak tahu bagaimana keadaan Rama. Apakah Rama masih hidup? atau bagaimana?


Pertanyaan-pertanyaan terus berputar di otak gadis yang terduduk di mobilnya.


Saat ini Sinta dan Tari akan menuju ketempat fiting gaun pengantin. Sinta harus mencoba gaun pengantin yang akan dia gunakan nantinya.


Hampir 2 minggu tidak ada senyuman yang terbit di wajah cantik Sinta. Hanya Ramalah yang mampu menerbitkan senyuman itu.


“Sinta...”


Sinta menoleh kekiri, menatap Mamanya. “Iya, Ma?”


“Kamu tidak bahagia?”


Sinta tersenyum kecut mendengarnya. “Seperti yang, Mama lihat.”


“Maafkan, Mama!”


“Ini bukan salah, Mama. Ini salah dua orang bau tanah yang mementingkan materi dengan mengorbankan anak-anak mereka!” ucap Sinta tajam, hal itu membua Tari semakin merasa bersalah.


“Maafkan, Papa mu ya, Sin?”


Sinta menoleh sekilas kearah Tari. “Jika pernikahan ini batal, Sinta akan memaafkan Papa.”


Dan, Tari menjadi sedih melihat putrinya menjadi dingin, jauh sekali dengan sifat asli Sinta, yang sangat cerewet dan ceria.


Tanpa sadar mereka tiba di Butik yang sudah Pak Adji pesan. Seorang perancang profesional sudah menjahitkan gaun Sinta.


Gaun, Sinta berwarna merah muda, cukup cantik dan elegan. Namun, gadis itu hanya menatap datar Gaun pernikahannya.


“Kamu mau coba dulu sayang?” tanya Tari kepada putrinya yang masih diam.


“Hmmm.” Sinta hanya menjawab dengan deheman.


Ini benar-benar bukan yang diharapkan, Sinta. Padahal Sinta berharap fiting gaun pengantin dengan Rama, namun kenyataannya sekarang dia harus sendirian dengan, Mamanya.


Gaun itu kini telah melekat pas di tubuh Sinta. Sinta terlihat imut dengan gaun tersebut.


Sinta lalu keluar dari ruangan ganti. “Masyallah, cantiknya anak, Mama!”


Sinta masih memasang wajah datarnya. “Sinta malah ngerasa gak cantik,” ucapnya dingin. Seketika senyum Tari luntur.


“Wihh, kamu cantik banget, Sin. Dijamin deh, Pak Satria tambah klepek-klepek!” ucap Assiten perancang busana yang saat itu menunggu Sinta.


Sinta tersenyum sinis mendengarnya. “Lo bilang gue cantik, karna pengen tip kan?”


Seketika assiten perancang busana itu menelan ludahnya. Pria dengan gaya anggun itu hanya bisa meringis.


Kringgg.... Kringgg... Kringg...


Dering ponsel mengalihkan perhatian Sinta. Sinta lalu mengambil ponselnya yang berada ditas, tertera nama Kak Satria. Tak sengaja pria dengan gaya anggun itu membaca nama yang tertera di layar ponsel Sinta.


“Cie, calon suami telpon tuh!”

__ADS_1


Sinta langsung melempari tatapan tajamnya. Sinta lalu kembali masuk keruang ganti, untuk mengangkat panggilan telpon.


📞 Sinta


“Hallo, Kak?”


📞 Satria


“Sinta, kamu dimana?”


📞 Sinta


“Aku ada di Butik, Kak. Nyobain baju,” Sinta menjawab dengan malas.


📞 Satria


“Aku jemput kamu sekarang! Ada hal penting yang harus kamu tahu, Sinta.”


Sinta mengernyitkan dahinya, mendengar ucapan Satria.


📞 Sinta


“Emang hal penting apa, Kak?”


📞 Satria


“Udah pokoknya kamu tunggu Kakak di depan. Kakak on the way nih, pokoknya ini penting dan kamu harus tahu, Bye!”


Tuttt... Tuttt... Tuttt...


Panggilan pun terputus dari pihak Satria. Sinta menghela napasnya kasar, Sinta pun mengganti pakaiaanya.


Setelah selesai Sinta langsung keluar menemui Mamanya. “Mama pulang dulu aja pakek mobil, Sinta. Sinta mau dijemput, Kak Satria.”


“Oh ya udah deh!”


Tak sengaja assiten perancang busana itu mendengarnya lagi.


“Ciie di jemput nihh, Mbak Sinta jangan pelit-pelit dong! E'ike juga mau lihat calon suaminya situ!”


“Calon suami gue bukan dia! Gue ini pacarnya, Rama!!”


.


.


.


.


.


Haii, Readers kesayangan😍 Mau sedikit info nih, Novel ini akan segera tamat loh.


Untuk mu yang mau bertahan membaca, berkomentarlah, berikan kritik anda yang mungkin anda tahan, berikanlah saran yang mungkin anda ingin sampaikan.


Gak di respon yah gakpapa, ini Novel emang sepi pembaca, karna ceritanya bukan terpaksa, sama ceo-ceonan😞


Meskipun cerita ini sepi pembaca, saya tetap akan berlanjut menulis cerita. Meskipun bayar hanya 2 rb perhari, saya akan tetap menuangkan ide-ide saya.


Terimakasih buat kamu yang masih mau kasih Like, dan membaca ceritanya. Tinggalkan komentar kalian, agar Author tahu kalian ada.


TBC😘

__ADS_1


__ADS_2