RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 70


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Jam masih menunjukan pukul 8 malam. Malam ini Rama masih merenung diruangan gelap, karna malam ini adalah malam penyerangan.


Beberapa Tentara sibuk menyiapkan senjata-senjata yang hendak dibawa. Rama pun masih memasukan beberapa peluru mematikan di pistolnya.


“Semua sudah siap, Ndan!”


Rama mengadahkan kepalanya, menatap Ryan. Rama menghela napas sebelum menjawab. “Gue belum yakin, Yan. Ini berbahaya!”


“Ini kesempatan terakhir kita, Ram. Siapa pun nanti yang akan gugur, kita harus tetap membantai mafia-mafia itu!”


Rama menganggukan kepalanya, Rama pun segera menggunakan sepatu botnya. Sebelum menuju ke mobil, Rama menghubungi Sinta terlebih dahulu.


Tak lama sambungan telpon pun terhubung.


📞 Sinta


“Hallo, Rama?”


📞 Rama


“Hallo, Sinta?”


📞 Sinta


”Eh kamu jemput aku dong, aku punya dua tiket nonton nih. Papa sama Mama lagi kerumah, Tante aku.”


📞 Rama


“.....”


📞 Sinta


“Kamu gak mau, Ram?”


📞 Rama


“Maaf, malam ini aku gak bisa jemput kamu, Sin. Aku cuma mau pamit, malam ini aku lagi tugas.”


Sinta yang saat itu sedang rebahan di kasur, langsung bangkit berdiri.


📞 Sinta


“Hah?! Malam-malam begini?”


Rama menghela napas sebelum menjawab.


📞 Rama


“Iya, aku cuma mau pamit.”


📞 Sinta


“Ka...kamu kapan pulangnya?”


📞 Rama


“.....”


📞 Sinta


“Ka...kamu pulangkan besok?” Suara Sinta terdengar bergetar.


Rama menghela napas berat sebelum menjawabnya.


📞 Rama


“Setiap, Tentara yang sudah terima tugas operasi, mereka tidak akan tahu kapan mereka pulang, atau bisa...”


📞 Sinta


“.....”


📞 Rama


“Tidak pulang sama sekali.”


Tuttt.... Tuttt.... Tuttt


Rama langsung mematikan sambungan telpon tersebut. Karna bisa di pastikan, pasti Sinta akan menangis mendengarnya. Dan, Rama tidak ingin mendengar tangisan Sinta.


Rama bahkan saat ini mematikan ponselnya, dia tidak ingin siapapun menghubunginya.


Rama dan Timnya lalu memasuki mobil-mobil yang di gunakan untuk penyerangan. Wajah-wajah mereka terlihat tegang, meskipun bukan pertama kalinya mereka melakukan perang.


Mobil pun melaju menembus kegelapan dan dinginnya malam. Rama masih diam, pikirannya melayang, wajah-wajah Aletha dan Sinta berputar di otaknya, dua wanita yang sampai saat ini Rama cintai, Bundanya dan kekasihnya.


Selama 1.5 jam perjalanan, mereka sampai di ujung kota. Mereka berhenti di gedung tua, yang langsung bersampingan dengan sungai yang arusnya sangat deras.


“Ingat disini kita berdiri sendiri! Jika bisa melindungi maka lindungi, apapun yang terjadi nanti jangan menyerah!!”


“Siap, Ndan!”


Rama dan Timnya langsung menyusup ke gedung tua yang gelap tersebut. Mereka sudah siap dengan senjata berlaras panjang yang siap di gunakan perang.

__ADS_1


Dor


Satu serangan diberikan kepada Tim, Rama. Musuh sudah mulai memperlihatkan diri.


Dor


Dor


Dor


Rama menggelinding di lantai, guna menghindari tembakan. Tembakan-tembakan terus terjadi. Gedung tua tersebut berisi tabung-tabung besar berisi minyak, hal itu digunakan Rama untuk mengendap-endap.


Dor


Dor


Dor


Lengan kanan Rama harus terkena tembakan. Baku tembak terus terjadi, beberapa Tentara pun ada yang gugur.


Dor


Dor


Dor


Di gelapnya malam, gedung itu menjadi saksi bisu, bagaimana darah tumpah kembali. Rama menggelapkan matanya, Rama menembaki musuhnya tanpa ampun.


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Tembakan-tembakan terus terjadi, Ryan yang berada di belakang Rama harus tertembak.


Rama mengendap-endap mendekati Ryan.


“Ryan...!! Astaga!!” Rama begitu panik melihat temannya yang tertembak di bagian perut.


Rama hendak memapah Ryan, namun Ryan menolak. “Ledakan tempat ini, Rama... uhuk... uhuk... Kita sudah kalah... Pergilah!”


Rama menggelengkan kepalanya kuat. “Selagi bisa melindungi, aku akan melindungi!”


“Tidak, Rama! Aku hanya akan menyusahkanmu. Pergilah, ledakan tempat ini, minyak-minyak disini akan mempermudah luasnya api. Balaskan dendamu, dan.... selesaikan misi ini... akhhh..”


“RYAN...!!!” Rama berteriak, karna melihat Ryan yang telah menghembuskan napas terkahirnya. Hanya tertinggal beberapa Tentara, malam ini Tim Rama banyak yang gugur.


Rama pun bangkit, apa yang dikatakan Ryan benar. Rama harus menyelesaikan ini semua!


Rama mengendap-endap dengan menembak musuh-musuh yang tersisa. Sampai, Rama berhasil di gedung paling atas.


Tempat itu sangat gelap dan sepi, namun Rama tetap waspada. Matanya menatap tajam sekeliling, Rama tidak boleh lengah!


PETT


Tiba-tiba lampu menyala, dan betapa terkejutnya Rama, melihat pria yang dia kenali duduk di kursi menatapnya tajam.


“Ma...Marcus?”


“Hahahaha... Kau masih hidup, Rama? padahal aku berharap kau mati!”


Rama menggeleng tak percaya dengan yang dia lihat. “Ka...u??”


“Aku, Marcus Jarvis! Pemimpin Cosa Nostra, dan kauu... Kau harus mati!”


“Marcus? Kau lupa aku siapa? aku sahabatmu!”


Marcus tersenyum sinis mendengar ucapan Rama. “Cihh, sahabat? sahabat mana yang tega membunuh Ayah sahabatnya, dan aku cukup senang akhirnya kau pun kehilangan, Ayah.”


Rama melotot mendengar ucapan, Marcus. “Ka...uu? Kau yang menghabisi Ayahku?”


“Hahahaha... Bukankah hutang nyawa harus di balas nyawa?”


Rama menggertak menahan emosi yang meluap, Rama pun mengeluarkan sebuah bolpoin dari kantungnya.


“Kau dan Cosa Nostra memang harus mati...!! Hyaaaaa....!!!” Rama berlari kencang menuju Marcus, Rama menubruk Marcus hingga mereka jatuh dari gedung paling atas.


**BOMMMMMMM


Byurr**


Jatuhnya mereka di sungai, disusul dengan ledakan super besar dan terbakarnya gedung tersebut.


****


Sudah berkali-kali Sinta menghubungi Rama, namun lagi dan lagi hanya operator yang membalas telpon Sinta.


Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari, dan Sinta belum bisa tertidur. Perasaan Sinta kacau, malam ini Sinta benar-benar khawatir dengan Rama. Sinta merasa jika hal buruk telah terjadi dengan Rama.


Sinta mendesah pelan, sudah 200 panggilan yang Sinta lakukan, namun nomer telpon Rama tidaklah aktif.


Sinta mencoba menelpon, Rednan. Lama menunggu, namun Rednan belum mengangkat panggilannya.


Dan, setelah panggilan ke 10 akhirnya Rednan mengangkat panggilan telpon tersebut.


📞 Sinta


“Heh soang!! Kemana aja sih lo?!”


📞 Rednan


“Hoammmm... Heh Daki!! Lo gak lihat ini jam berapa? Gue tidur ogeb!!”

__ADS_1


Sinta menghela napas, memang benar ini pukul 2 dini hari. Pasti orang-orang sudah tertidur.


📞 Rednan


“Kenapa sih lo? seneng banget kalo nyusahin hidup gue!”


📞 Sinta


“Yaudah ih gak usah marah-marah!! Mas Rednan tahu gak, Rama tugasnya dimana?”


Rednan yang saat itu masih tiduran, langsung merubah posisinya menjadi duduk.


📞 Rednan


“Ngapain lu nanya-nanya?!”


📞 Sinta


“Pleasee, Mas! Kasih tahu Sinta. Perasaan gue gak enak banget, Mas. Nomer, Rama susah banget di hubungin!”


📞 Rednan


“Sinta... Dengerin gue! Gue gak bisa dengan mudah ngasih tahu lo, palingan besok Rama juga udah ke kantor.”


Sinta yang mendengar jawaban Rednan, merasa belum puas.


📞 Sinta


“Kenapa sih harus nunggu besok? Rama tugasnya berbahaya enggak? soalnya perasaan gue gak enak banget, pokoknya gue pengen denger suara Rama!”


Rednan yang berada di ujung telpon menghela napasnya kasar.


📞 Rednan


“Besok gue cek deh ke kantor, nanti kalo orangnya ada gue telpon lu!”


📞 Sinta


”Gue ikuttt!!” Sinta pun merengek kepada Rednan.


📞 Rednan


“Emang lu nggak ke rumah sakit? Lu mau ninggalin pasien-pasien, Hah?!”


📞 Sinta


“Ya kan cuma bentaran, Mas. Pokoknya gue harus ketemu, Rama. Gue gak akan tenang kalo begini!”


📞 Rednan


“Iya-iya!! Gue mau tidur lagi nih, ganggu aja lo!”


Tutt... tutt... tutt


Sinta pun langsung mematikan panggilan telpon tersebut. Namun, tetap saja Sinta merasa gelisah.


Sinta pun memegang kalung yang ada dilehernya, ditatapnya kalung berinisial R itu dengan lama.


“Semoga kamu baik-baik saja, Ram!”


Sinta pun mencoba untuk tidur, namun sebuah mimpi yang membuat Sinta bertambah khawatir.


(Sinta merasa berada di suatu tempat, tempat yang begitu terang dan sangat bersih. Matanya menangkap sebuah cahaya putih yang sangat-sangat terang. Sinta melihat Rama berada didepan cahaya itu.


Dengan semangat, Sinta menghampiri Rama dan memeluknya. “Huhh... Akhirnya aku ketemu kamu, Rama! Kamu gakpapa kan?”


Rama tersenyum manis menatap Sinta. Pakaiaan Rama benar-benar bersih, tidak memperlihatkan jika ia sehabis berperang, wajahnya pun berseri dengan senyuman manisnya.


“Aku baik-baik saja.”


“Ayo pulang!” Sinta menarik tangan Rama, namun Rama masih diam saja.


“Kenapa?”


“Pulanglah terlebih dahulu, nanti aku menyusul. Aku harus mencari jalan pulang.”


Sinta mengernyitkan dahinya menatap Rama. “Kenapa begitu? Ayo pulanglah bersamaku, Rama!”


Rama hanya menggeleng sembari tersenyum. CUP Rama memberikan kecupan di kening Sinta dengan lama.


“Aku mencintaimu, Sinta. Tunggu aku pulang!”)


“RAMA....!!”


Sinta terbangun dari mimpinya, keringat mengucur deras dari dahinya. Sinta benar-benar cemas!


.


.


.


.


.


TBC😘


Guys yang mau baca cerita Marcus, judulnya Love Villain. Ceritanya ada di akun keduaku Yesi Tree2.


Di cerita itu Marcus akan jatuh cinta dengan, Nana. Pengen aja gitu Nana yang lemah lembut dicintai oleh mafia.


Yang pengen tahu siapa yang nembak kakek Nana, bisa baca di cerita Love Villain. Insyallah ceritanya gak akan Hiatus, untuk cerita The Last Mission Love, ceritanya harus Hiatus, intinya Rednan bakal bahagia sama Jullie.



__ADS_1


Visual, Marcus Jarvis


__ADS_2