RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 42


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


Baca juga kisah Rednan\= The Last Mission Love


****


Rama mencium kening, Sinta lama. Hari ini adalah hari keberangkatan, Sinta untuk kembali ke Jakarta.


“Seminggu lagi, aku besok nyusul ke Jakarta” berulang kali Rama merayu, Sinta agar segera masuk ke pesawat.


Sinta hanya memanyunkan bibirnya, tangannya tetap menggenggam tangan, Rama.


“Penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat 5 menit lagi” ujar Rita yang baru datang.


Rama lalu menatap, Sinta yang enggan melepaskan cekalan tangannya. “Cuma 1 minggu, aku pasti susul kamu”


Air mata Sinta pun telah menggenang. “Jangan lama-lama” cicit Sinta lirih.


Rama hanya tersenyum gemas, “Nanti malam aku telpon kamu, sekarang kamu pulang. Papa dan Mama kamu pasti menunggu,”


Sinta pun menganggukan kepalanya. “Baiklah, jaga diri baik-baik”


Rama pun kembali mencium kening, Sinta. Sinta pun pergi bersama, Rita. Dengan berat hati, Sinta pergi meninggalkan Rama.


Sinta dan Rita pun segera masuk ke Pesawat. Setelah itu, Pesawat terbang menuju Jakarta. Setelah lamanya perjalanan Sinta dan Rita pun tiba di Jakarta.


Sinta dan Rita, lalu turun dari Pesawat. Sinta pun kembali, menapakan kakinya di Ibu kota. Setelah berbulan-bulan tidak berada di Jakarta, kini Sinta kembali.


Ternyata sudah ada supir yang menjemput, Sinta dan Rita. Tak menunggu lama, Sinta dan Rita langsung masuk ke mobil.


Selama 40 menit, Sinta tiba di perumahan mewah. Sinta pun turun dari mobil, menatap rumah tempat tinggalnya.


Senyumnya mengembang mendapati, Mamanya sudah berdiri di ambang pintu.


“Mama..!!” Sinta langsung berhambur memeluk, Mamanya. Tari membalas pelukan anaknya dengan penuh hangat.


“Mama, kangen banget sama kamu sayang” Tari langsung menciumi wajah Sinta. Sinta pun sama, saling menyalurkan rindunya kepada wanita yang melahirkannya.


Tari pun menggandeng, Sinta untuk masuk. Mata Sinta langsung menangkap kedua pria yang duduk berhadapan di sofa. Salah satunya adalah, Papanya.


Sinta langsung berhambur di pelukan, Papanya. “Papa...!!” Sinta langsung memeluk, Papanya. Kevin pun menerima pelukan putrinya.


“Gimana hukuman, Papa?”


Sinta tersenyum tipis mendengar pertanyaan, Papanya. “Asik kok, Pa”


Pandangan, Sinta kini beralih kepada pria yang duduk di hadapan, Papanya. Bola mata Sinta melebar mendapati pria tersebut.


Pria yang sungguh tidak ingin dia temui! dan saat ini berada di hadapannya.


“Hallo, Sin! Apa kabar?” sapa Bima dengan senyum manisnya.


“Baik” Sinta hanya memandang datar dan membalas datar pertanyaan, Bima.


Bima yang melihat perubahan sikap, Sinta hanya bisa tersenyum kecut. Sinta yang tak ingin melihat wajah, Bima itu langsung masuk ke kamarnya.


Sinta langsung menyambar telponnya, untuk menghubungi Eve sahabatnya.


Tak lama sambungan telpon ke Eve tersambung. “Hallo Ve?”


“Eh-- Sinta?” suara Eve terdengar terkejut.

__ADS_1


“Iya ini gue, besok gue mulai praktik di rumah sakit lagi ya”


“Oh oke, Sin. Lo udah balik ya?”


“Iya ini! Tapi lo tahu gak sih, Ve?” Sinta pun memelankan nada bicaranya.


“Kenapa sih?”


Sinta mendengus sebelum menceritakannya. “Lu tahu gak? gue pulang-pulang udah di sambut sama mantan gak tahu diri! udah nyakitin, masih aja punya muka kesini”


Eve yang mendengar penuturan, Sinta terdiam lama. Sinta terus saja menyeloteh. “Gak tahu malu banget sumpah, suka kesel gue Ve. Andai saja, Bima nikahnya bukan sama Clara. Gue gak akam sekesel ini,” kini suara Sinta melemas.


“Ve, Lo dengerin gue gak sih?!”


“Hah? I--Iya, Sin gue denger”


Sinta hanya bisa menghembuskan napas kasar. “Yaudah, Ve. Gue tutup ya telponnya, besok jangan lupa gue udah mulai kerja lagi”


“Oke siap bos”


Tutt


Tutt


Tutt


“Kaya ada yang aneh”


****


Setelah makan malam bersama. Sinta dan, Mama, Papanya duduk bersama di ruang keluarga. Sembari menonton televisi mereka saling bercengkrama.


Namun, Sinta tetap saja bolak-balik mengecek ponselnya. “Katanya mau nelpon, mana udah dari tadi di tunggu” Sinta terus menggerutu menunggu panggilan dari, Rama.


lamun, Sinta buyar karna pertanyaan, Papanya. “Eh, Iya Pa”


Kevin hanya mengangguk mendengarnya. “Kamu kenapa sayang? buka-buka hp terus, katanya mau QTime sama keluarga” ujar Tari yang sedari tadi memperhatikan Sinta.


“Eh--- Itu Ma. Sinta nungg---”


Kring Kring Kring


Bunyi dering ponsel mengalihkan perhatian, Sinta. Senyumnya mengembang tak kala melihat nama siapa yang tertera.


“Sinta angkat telpon dulu ya” Sinta pun beranjak menjauh dari, Mama dan Papannya.


Sinta pun mengangkat panggilan telpon dari, Rama.


“Selamat malam, cantik”


Sinta tersenyum kecil mendengar ujaran, Rama. “Selamat malam juga jelek”


“Oh jadi aku jelek nih?”


Sinta hanya tertawa kecil. “Iya kamu jelek!”


“Yaudah deh, aku cari cewek yang mau sama orang jelek aja,” Sinta yang mendengar godaan Rama langsung tidak terima.


“Eh enggak boleh!” Sinta langsung mengeluarkan suara tegasnya. “Aku mau kok sama cowok jelek, yang saking jeleknya bikin aku jatuh cinta” imbuh Sinta.


Dari sebrang telpon, Rama terdengar tertawa. “Hahaha, kamu lagi apa?”

__ADS_1


“Tadinya sih ngobrol-ngobrol sama Mama, Papa. Terus dapet telpon dari kamu, aku pergi” jawab Sinta


“Titip salam buat, Tante Tari”


Sinta yang mendengar mengkerutkan keningnya. “Salam apa?”


“Nitip salam, Terimakasih. Sudah melahirkan anak secantik Sinta dan Terimakasih sudah mengizinkan saya mencintai kamu”


Blushh


Sinta yang mendengar jawaban, Rama langsung tersipu. Pipinya pun turut bersemu. “Apaan sih, masa salamnya kaya gitu”


“Salam juga, untuk Nona Cantik bernama Deswina Sinta Winata. Di harapkan memimpikan, Ramadhani Asof”


Tawa Sinta langsung pecah mendengar ucapan, Rama. “Loh, kamu kok ngatur-ngatur mimpi orang sih!”


Rama yang berada di sebrang telpon hanya terkekeh. “Iya karna mimpiku hanyalah ingin selalu bersamamu, Sinta”


Sinta hanya tersenyum-senyum mendengarnya. “Ganti, Vidio Call aja ih. Aku pengen lihat kamu”


“Enggak mau” tolak Rama cepat.


Sinta langsung mengerucutkan bibirnya. “Ih, kenapa aku pengen lihat kamu, Rama!!”


“Kamu tahu enggak hal yang paling bikin aku seneng?”


Sinta terdiam mendengarnya. “Enggak emang apa?”


“Hal yang paling bikin aku seneng, adalah saat kita berjauhan, dan hanya saling bertukar suara. membuat aku rindu, dan saat itu pula aku berjuang untuk segera pulang”


Blushh


Pipi Sinta kembali memerah mendengarnya. “Yaudah cepet sini kamu pulang!!”


Rama terkekeh mendengar rengekan, Sinta. “Baiklah, aku akan segera kembali. Jangan lupa jaga hatimu, rinduku masih sama”


Sinta tersenyum mendengarnya. “Aku tunggu” ujarnya lirih.


“Selamat malam”


“Selamat malam kembali”


Tutt


Tutt


Tutt


Panggilan pun berakhir. Namun, Sinta masih saja tersenyum-senyum sendiri, Sinta pun tidak sadar jika kedua orang tuanya mengamati dirinya.


“Kamu kenapa senyum-senyum begitu pas telponan?” tanya Tari yang tiba-tiba berada di belakang, Sinta.


“Eh-- Mama” Sinta terpenjat kaget dibuatnya. “Ah-- Ini Ma, cuma telponan biasa terus ada yang lucu” imbuh Sinta dengan gugup.


“Mmm-- Yaudah Ma, Sinta balik ke kamar ya” tak ingin di introgasi, Sinta langsung berlari ke kamarnya.


Sinta pun menjatuhkan tubuhnya di kasur, di tatapnya foto wallpaper handphonenya. Senyum manis terukir di bibir, Sinta.


“Aku rindu...”


TBC😘

__ADS_1


“Apapun yang menjadi penghalang, mari kita lewati. Sekalipun itu adalah jarak. Percayalah aku, kamu, dan jarak akan menjadi satu. Dimana pun dirimu pergi, ku harap rindumu dan rinduku masih sama, dan aku pun tak akan menyerah. Semangat sayang, perjuangkan negeri ini, jagalah negeri ini. Aku masih mencintaimu, sampai kapan pun” (Sinta 2020)


__ADS_2