
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Saat ini semua orang berada dirumah sakit. Karna Satria tiba-tiba pingsan saat mengetahui keadaan Ayahnya, beberapa tamu pun sampai ada yang terluka.
Rama saat ini duduk di samping Bundanya. Aletha sangat mengkhawatirkan putranya, meskipun kemarin Aletha sudah di pertemukan dengan Rama.
“Bunda, aku kekamar mandi dulu ya! Rama mau ganti baju,” ucap Rama seraya bangkit dari duduknya.
Aletha mengadahkan kepalanya. “Kamu beneran gak mau di periksa? takutnya nanti ada apa-apa lagi.”
Rama hanya menggeleng dan tersenyum, melihat kekhawatiran di wajah Bundanya.
“Rama, gakpapaka kok!”
Aletha pun hanya bisa mengangguk pasrah. Setelah mendapat izin dari sang, Bunda. Rama langsung kekamar mandi, Rama langsung mencopot pakaiaan anti pelurunya. Tersisakan kaos kutang berwarna abu, yang memperlihatkan lengan berotot Rama.
Rama membasuh wajahnya, matanya menatap pantulan dicermin.
Ceklek
Tiba-tiba pintu kamar mandi di buka, menampakan Kevin yang menatap Rama. Rama langsung membalikan badannya melihat Kevin.
Namun, sekarang pandangan Kevin jatuh di lengan Rama. Terdapat tanda lahir, yang sangat Kevin kenal.
Ingatan 8 tahun yang lalu, memutar di otak Kevin. Kevin langsung mendekati Rama.
“Ra...rama? Kamu?” Kevin terbata tak percaya dengan yang dia lihat.
Rama begitu bingung dengan tingkah Kevin. “Kenapa, Om?”
“Rama, jawab jujur pertanyaan, Om!” ucap Kevin dengan wajah yang serius. Rama mengangguk mantap.
“Dimana kamu 8 tahun yang lalu?”
Deg!
Rama langsung terdiam mendengarnya. 8 tahun yang lalu, Rama kembali mengingat, kejadian berdarah di Irak.
“Jawab, Om. Rama!” Kevin sampai mengguncang tubuh Rama.
__ADS_1
Rama menghela napas sebelum menjawab. “Kenapa, Om bertanya demikian? memang ada apa, Om?”
“Ka..kamu membohongi, Bunda dan Ayahmu! 8 Tahun yang lalu kamu tidak pergi kuliah, kamu pergi menjadi anak buah Blackwater kan?! Dan, kamu...kamu yang menyelamatkan saya, saat camp di Irak di serang!”
Rama terdiam mematung, Rama tak menyangka jika Kevin mengetahui hal itu. “Ba..bagaimana, Om yakin jika itu saya?”
“Meskipun kamu menggunakan topeng, saya mengenal kamu, Rama! Tanda lahir ini!” Kevin menunjuk tanda lahir di lengan kanan Rama. “Saat kamu lahir, Om yang menggendong kamu! Saya mengenal kamu, Rama!”
“Jika anda mengenal saya, kenapa anda tidak percaya jika saya bisa menjaga anak, Om?” pertanyaan Rama membuat Kevin menghela napas frustasi. Kevin mengusap wajahnya kasar, terlihat jelas penyesalan.
“Maafkan, Om! Saya terlalu gila materi dan kekuasaan. Sampai saya telah mengkorbankan kebahagiaan, Sinta. Maafkan saya, Rama!” Tak disangka Kevin menangis. Seorang Ayah yang menangis karna penyesalan, Kevin tak menyangka jika Pak Adji bekerjasama dengan dunia hitam.
Kevin tiba-tiba memeluk, Rama. Menangis di dalam pelukan Rama, Rama dengan pelan mengusap punggung Kevin. Merasakan kembali pelukan hangat seorang, Ayah.
“Rama memaafkan, Om. Dan sepertinya, Om harus meminta maaf pula kepada, Sinta.”
Kevin pun melepaskan pelukannya. “Kenapa kamu sangat baik, Rama? Kamu sama seperti, Ayahmu. Meskipun kamu seorang Tentara, hatimu selembut kapas. Saya sangat merasa bersalah, Rama!”
Rama tersenyum tipis mendengarnya, Rama pun mengusap kedua bahu Kevin. “Mari perbaiki semua, Om! Lebih baik telat. Dari pada tidak sama sekali,” ucap Rama dengan yakin. Kevin pun mengangguk setuju.
Rama dan Kevin lalu keluar dari kamar mandi. Mereka berjalan beriringan.
Sesampainya di tempat tunggu. Sinta dan Tari tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, mereka tahu jika Kevin tidak menyukai, Rama. Namun, saat ini? bahkan Kevin merangkul pundak Rama, bagaikan Ayah dan Anak yang sedang berjalan bersama.
“Papa?” Sinta melebarkan matanya, menatap bingung kedua pria yang berarti penting untuknya.
Kevin lalu mendekat kearah Sinta. “Maafkan, Papa! Papa terlalu buta oleh kekuasaan dan materi, Sinta. Papa telah mengkorbankan kebahagiaanmu,” Kevin kembali menangis memeluk anak gadisnya. Sinta pun juga tak kuasa menahan air matanya, Sinta membalas pelukan Papanya.
Rama dan Aletha tersenyum melihatnya. Tak mau kalah, Rama juga memeluk Bundanya.
“Mari kita buat awal yang baru!”
****
2 Tahun kemudian
2 Tahun kini berlalu, setelah kejadian berdarah di masalalu. Kini semuanya mereka lupakan.
Semua kini banyak yang berubah. Mulai dari Satria, pria itu menikah dengan Rita, Assiten Sinta, yang seorang janda. Rednan dan Jullie sudah melanjutkan pula kejenjang serius. Kevin sekarang masih menjabat sebagai, Jendral. Dan hubungan Kevin dan Rama, semakin membaik.
Rama dan Sinta? Tidak ada perubahan. Semua masih sama, Sinta yang masih menjadi Dokter galak dan cerewet. Sedangkan, Rama yang masih menjadi Tentara.
Seperti saat ini, Rama dan Timnya sedang menghentikan aksi Demo dari para Mahasiswa.
Gas air mata tidak memundurkan tekat para Mahasiswa. Tak hanya Militer, Polisi pun ikut andil, bahkan yang paling serin dicaci maki.
Dengan menggunakan tameng, Rama mencoba melindungi dirinya dari amukan para orang-orang yang berdemo. Tentara dan Polisi pun tidak bisa membalas, mereka disini hanya mencegah agar orang-orang yang berdemo tak sampai masuk ke Gedung putih, namun Tentara dan Polisi juga tidak bisa terus menahan lemparan-lemparan benda-benda, dan caci maki.
Tak sengaja ekor mata, Rama melihat ambulance berhenti. Dan, Rama membulatkan mata melihat itu adalah mobil ambulance rumah sakit, Sinta.
Mobil ambulance dilempari berbagai macam-macam benda dari para aksi demo. Rama keluar barisan, dan mendekati mobil ambulance.
__ADS_1
Tak salah pula rakyat mengamuk, kadang Rakyat kecil pun bisa saja anarkis, karna suaranya tak di dengar oleh Pemerintah. Aksi demo ini di lakukan karna sebuah keputusan yang tak di setujuhi, Rakyat.
Rama mengendap-endap dengan tamengnya. Sesampainya didekat mobil ambulance, Rama melihat Sinta dan para orang-orang medis menunduk.
Beberapa, Tentara pun ikut mengamankan mobil ambulance yang terkena amukan.
Setelah pintu ambulance dibuka. Rama langsung merangkul, Sinta. Tangan kokohnya digunakan untuk melindungi kepala, Sinta. Badan Rama yang besar di gunakan untuk melindungi tubuh, Sinta.
“Aduh...” Sinta meringis karna kepalanya tak sengaja terlempari. Rama mencoba menahan emosi, dia tidak bisa melukai rakyat.
Rama langsung memeluk Sinta yang meringkuk. Tamengnya di gunakan untuk melindungi kepala, Sinta. Badannya yang tinggi tegap membuat Rama mudah, mencari jalan.
Sampailah, Sinta di depan Gedung putih. Rama mengajak Sinta untuk kebelakang gedung yang aman dari amukan rakyat.
“Mana yang sakit? Ha sebelah mana?" tanya Rama begitu khawatir dengan Sinta. Sinta mengelus keningnya yang membenjol, karna lemparan batu.
Rama langsung membuka kotak obat yang ada ditas Sinta. Rama lalu memberikan obat di kening, Sinta.
“Kamu kok kesini sih? disini lagi bahaya juga!”
“Ya, maaf. Aku gak tahu bakal separah ini, tadi tiba-tiba rumah sakit nugasin aku kesini. Katanya banyak anggota Polisi sama Tentara yang terluka,” ucap Sinta melemah. Rama menghela napasnya kasar.
CUP
Rama lalu mencium kening Sinta yang terluka. “Kamu disini aja, ya? disini aman, aku harus balik ke barisan, Oke?” Rama yang hendak bangkit langsung dicegah oleh Sinta.
“Dagu kamu berdarah!” Sinta hendak menyentuh luka, Rama. Namun, Rama malah menggenggam tangan Sinta.
“Aku gakpapa, aku harus kembali kebarisan. Nanti kalau Tim kamu mau kembali, kamu lewat jalan belakang. Disana aman.”
Sinta mengangguk pasrah. Dari tempat Sinta duduk, Sinta bisa mendengar teriakan-teriakan, amukan dari rakyat-rakyat yang berdemo.
Tak lama datang pula, Tim medis yang lainnya. Sinta pun ikut bertugas, mengobati Polisi dan Tentara yang terluka.
Sesekali Sinta celingak-celinguk mencari, Rama. Sampai mata Sinta menangkap Rama, yang berlindung dibalik tamengnya, mencegah amukan-amukan.
Meski dicaci, di pukul. Namun, Rama tak membalas. Dia pasrah, menjadikan tubuhnya tameng untuk para Pemerintah!
.
.
.
.
.
.
TBC😘
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan, Like, Vote, Rat bintang 5, dan komentar kalian. Thanks😘