RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 66


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Rama hanya diam, duduk di atas motornya. Sore ini Rama berada di Danau XXX, tempat dimana Rama diminta mendatanginya, kemarin.


Rama berulang kali mengirim pesan dan mencoba menghubungi penelfon misterius kemarin, namun lagi dan lagi, hanya operator yang membalas suara Rama.


Rama kembali diam, pikirannya kembali berputar kepada Sinta. Malam tadi, Rama meninggalkan Sinta di caffe, Rama berencana akan menemui Sinta, besok.


“Hyuhh... Baiklah ini hanya main-main!” Rama menghela napasnya kasar, Rama pun menghidupkan mesin motornya.


Rama pun melaju untuk pulang, karna hari sudah petang. Hampir 1 jam Rama berkendara, sampailah Rama di depan Pos komplek.


Rama mengernyitkan dahi heran, karna tak biasanya komplek perumahannya sangat ramai. Beberapa ambulance dan mobil polisi masuk ke perumahan Rama.


Rama langsung melaju menuju rumahnya, jantungnya berdetak kencang melihat orang-orang berkerumun di depan pagar rumah Rama.


Rama semakin mendekat, dan...


Rama melihat rumahnya hancur!


Rama menerobos masuk melewati garis pembatas polisi. Jantungnya berpacu tak karuan, mata Rama langsung memerah melihat Ayah, Bunda, dan para pembantunya di gotong menuju ambulance.


Rama langsung memeluk, tubuh kedua orang tuanya yang tak sadarkan diri, dengan luka-luka yang parah.


“Ayah....!! Bunda...!! Hiks... hiks!!” Rama terisak, melihat keadaan Ayah dan Bundanya yang mengenaskan.


Aletha dan Yusuf langsung dilarikan kerumah sakit secepatnya. Rama pun juga berada di dalam ambulance itu, berulang kali Rama mencium tangan kedua orang tuanya.


Berharap jika ini hanyalah mimpi buruk saja.


Sesampai dirumah sakit terdekat, Yusuf, Aletha, dan ART yang terluka parah langsung dimasuka ke UGD.


Rama hanya berdiri di depan pintu UGD. Tiba-tiba, Rama teringat oleh Sinta. Nama yang terpintas di kepalanya, Sinta.


Rama langsung menelpon, Sinta. Namun, panggilannya berulang kali di tolak, bahkan di abaikan.


“Plasee angkat, Sinta!!”


Rama terus-terusan menghubungi, Sinta. Namun, hasilnya sama saja, nihil!


Berulang kali panggilan Rama di tolak oleh, Sinta. Rama mencoba mengirim pesan ke Sinta.


Namun, ternyata pesan dari Rama pun diabaikan oleh Sinta. Rama benar-benar frustasi dengan keadaan ini!


Ceklek.


Ruangan UGD tiba-tiba terbuka, Rama langsung menghamiri Dokter yang menangani keluarganya.


“Dokter, bagaimana keadaan Ayah dan Bunda saya?” Rama langsung bertanya dengan tak sabaran dan penuh kekhawatiran.


“Ibunda anda masih di dalam kondisi koma,” ucap Dokter itu dengan pelan. “Dan, Ayah anda....” Dokter itu menghentikan ucapannya.

__ADS_1


“Ayah saya kenapa, Dok?!! Apa yang terjadi dengan Ayah saya?!!” kecemasan terlihat jelas dari mata merah Rama. Tiba-tiba jantung Rama berpacu begitu kencang menunggu penjelasan sang Dokter.


“Maaf! Kami sudah berusaha sebaik mungkin, namun Ayah anda telah kembali ke rahmat Allah.”


Deg!


Rama langsung terduduk lemas mendengar ucapan Dokter itu. Rama benar-benar tidak menyangka jika hari ini adalah mimpi terburuk di hidupnya!


“Mohon yang ikhlas dan sabar ya, Mas!”


Ucapan, Dokter itu seolah seperti angin lalu untuk Rama. Tatapan, Rama menjadi kosong!


Rama langsung berlari menorobos masuk keruangan Ayahnya. Terlihat, Yusuf sudah memejamkan matanya, wajahnya pucat bersih.


Rama yang bernotabane Tentara itu malam ini menjadi orang terlemah!


Rama menangis memeluk Ayahnya!


“Ayah....!!! Jangan tinggalin Rama, yah....!! AYAHHH!!!!” Rama terus menangis memeluk tubuh Yusuf. “Rama mohon, Ayah!! Jangan pergi, ku mohon!! Siapa yang akan menemani, Bunda jika Ayah pergi?!”


Ingatan-ingatan semasa kecilnya dengan Yusuf, berputar di otak Rama. Dimana seorang pria menggendong pria kecil dengan penuh kasih sayang, menyanyikan lagu-lagu sholawat yang begitu disukai pria kecil itu.


Rama... Ya, malam ini adalah kepergian, Ayahnya.


Rama mencoba menghubungi, Sinta kembali. Namun, panggilannya di tolak.


PYAR


Dengan kasar, Rama membanting handphone mahalnya hingga hancur lebur.


“Brengsekk!! Sialan!! Andai saja kemarin aku tidak menuruti, Sinta dan pergi ke danau, pasti Ayah tidak akan meninggal!! Arghhh!! Aku benci kamu Sinta!! Gadis sialan!!” Rama terus mengumpat dan membenci Sinta.


Dan, malam itu ruangan itu menjadi saksi bisu, dimana kerapuhan Rama terlihat. Suara tangisan Rama memenuhi ruangan itu.


****


Kring... Kring... Kring...


Alram jam berulang kali berbunyi, memenuhi ruangan bernuansa putih dan biru itu. Sinta membuka matanya secara perlahan, Sinta lalu meraih jam waker yang berada di meja samping ranjang.


Dan, yeah...


Sinta bangun kesiangan, Sinta menguap dan mencuci wajahnya di kamar mandi, setelah itu Sinta berjalan menuruni tangga.


Sinta masih sangat mengantuk, semalam Sinta dan teman-teman kuliahnya pergi ke caffe dan club malam. Sinta pun bahkan mengabaikan panggilan, Rama. Yang, Sinta pikirkan pasti Rama akan memohon-mohon untuk meminta maaf.


Sesampainya dibawah, Sinta melihat Rednan berada di ruang tamu. Sinta langsung menghampiri Rednan, yang sedang menatap Sinta dingin.


“Loh... Mas Rednan, tumben kesini?” ucap Sinta dengan santainya.


PLAK


“Awwww... Mas Rednan apa-apaan sih?!” Sinta meringis kesal, memegangi pipinya yang baru saja di tampar Rednan.


“Keterlaluan lo, Sin!!” bentak Rednan dengan keras.


Sinta terkejut mendengar bentakan Rednan. “Apa-apan sih, Mas? Dateng-dateng marah-marah, pake nampar lagi! Salah gue apa, Ha?”


“Tamparan yang gue kasih, itu gak seberapa sama yang Rama rasain!”


Mendengar nama, Rama membuat Sinta memutar bola matanya malas. “Ck. Jangan bahas, Rama dulu Mas, gue lagi mal—”


PLAK

__ADS_1


Satu tamparan kembali mendarat di pipi Sinta. “Keterlaluan lo, Sinta!! Semenyebal-nyebalkannya, Rama. Setidaknya dia selalu ada disaat lo susah! Lo tahu apa yang sedang terjadi dengan Rama?”


Sinta menatap Rednan dengan kebingungan, Sinta hanya menggelengkan kepalanya.


“Lo tahu Sinta? semalam ada pria yang berusaha menghubungi lo!! Berharap lo mengangkat telponnya!! Dan lo? Hah, dengan jahatnya lo mengabaikan panggilan Rama! Lo tahu apa yang terjadi? Ayahnya, Rama meninggal semalam Sinta!”


Deg!


Sinta terduduk lemas di sofa, setelah mendengar ucapan Rednan. Tak sampai disitu, Rednan kembali mengomeli Sinta.


“Gue gak nyangka lo sejahat itu sama Rama! lo emang egois, lo memikirkan diri lo sendiri! Lo pikir, cuma lo doang yang punya masalah? Lo pikir cuma lo doang yang paling sedih disini, Hah?! Lo emang gak pernah dewasa, Sin. Gue salut sama, Rama yang masih mau bertahan sama cewek seribet lo!”


Setelah mengucapkan hal tersebut, Rednan berlalu pergi meninggalkan Sinta yang menangis merutuki kesalahannya.


“Sinta...?”


Sinta mengalihkan pandangannya, kepada Rita yang baru datang. “Mb—ak Rita? Dimana, Papa sama Mama?” tanya Sinta dengan terbata-bata.


“Tuan dan Nyonya sudah kepemakaman P,” jawab Rita pelan.


Sinta langsung meraih kunci mobilnya, Sinta juga tidak memperdulikan piyamanya.


Sinta langsung melaju kencang, menuju pemakaman Ayah, Rama. Namun, sialnya jalanan padat dan macat.


Sinta berulang kali menekan klakson mobilnya, dan yang ternyata jalanan sedang terjadi kecelakaan membuat kemacetan jalan.


Sinta langsung keluar dari mobil, Sinta berlari tanpa memperdulikan panas matahari.


Sinta menghentikan langkahnya di depan pangkalan ojek. Sinta langsung melaju bersama tukang ojek, setelah menyelap-nyelip Sinta akhirnya sampai di pemakaman.


Pelayat sudah berhamburan pulang. Sinta langsung berlari menuju nisan, Alm. Yusuf.


Disitu sudah ada Rama yang duduk di samping nisan Ayahnya.


“Rama...”


Rama membalikan badannya, menatap benci kepada Sinta. “Aku pikir kamu tidak akan pernah datang!” ucap Rama dengan dingin.


Sinta tidak kuasa menahan air matanya.


“Ma—afkan aku, Rama...”


Rama tersenyum sinis mendengar ucapan Sinta. “Ucapan maaf tidak membuat Ayahku hidupku kembali!” Rama hendak pergi, namun tangannya di cekal oleh Sinta.


“Oke aku salah Rama! Aku terlalu egois, jika kata maaf tidak membuat kamu puas. Apa yang harus aku lakukan Rama?”


Rama menghela napas lalu menatap Sinta.


“Jangan temui aku!”


.


.


.


.


.


.


TBC😘

__ADS_1


__ADS_2