RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 6


__ADS_3

*Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Tekan tombol like dan vote kalian.


Ikuti terus kisah kucing-kucingan Rama & Sinta


****


Masalah, Nana ternyata masih menjadi topik perdebatan antara Rama dan Sinta. Karna tidak ingin mengambil resiko, Rednan yang menyetir mobil jeep tersebut. Di belakang, Rama dan Sinta tak henti-hentinya memperdebatakan masalah sepele


"Lo itu jadi dokter songong amat. Lo gak seharusnya tadi menghina banget sama Tim medis.”


"Dih, lo ternyata jadi Tentara bodoh ya, Namanya garda depan itu apapun rintangan harus di lewati."


"Ya, lo mikir dong merekakan perempuan. Ya kali mau nyetir mobil jeep, terus ngelewatin jalanan kaya gini."


"Terus selama ini lo sebagai laki ngapain?! Kok gak ngambil obat?!!"


"Itukan bukan tugas gue, tugas Tim medis pria!"


"Sama aja emang lo semua, lo mau nunggu mereka sekarat?! Di ambang kematian."


"Ngg---"


"STOP!!! CUKUP!" seketika Rama dan Sinta bungkam karna bentakan Rednan. "Sumpah gue pusing tahu gak denger kalian debat terus, sekali aja lo berdua akur bisa gak sih?!!"


"Komandan lo nih, yang gak mau ngalah sama cewek!" sahut Sinta ketus


"Cowok itu gak selalunya harus ngalah, kalo ceweknya bar-bar kaya gini gak ada namanya kalah-kalahan." lagi dan lagi Rednan dan Meyga harus mendengar perdebatan Rama dan Sinta


"Sin, lo gak capek apa debat terus sama, Pak Rama? Lama-lama kalian berdua gue daftarin jadi pengacara deh." suara Meyga terdengar pasrah


Lucu, memang jika Rama dan Sinta di daftarkan menjadi pengacara. Mengingat, jika mereka berdua adalah kedua insan yang tidak pernah akur, jika sudah berdebat tidak akan ada ujungnya. Jika, menjadi pengacara mungkin lawan bicaranya akan kalah telak!


"Enggak!" jawab serempak Rama dan Sinta


Kemudian, kedua insan tak pernah akur itu membuang muka sembarang arah. Hari sudah semakin sore, dan mereka harus cepat. Mengingat, bagaimana keadaan orang-orang yang sedang sakit


"Masih, lama ya?" suara Sinta memecah keheningan


"Bentar, lagi sampe kok sin. Kalo lo ngantuk tidur aja." Rednan menjawab dengan pandangan tetap fokus dengan jalanan


Sinta, mengangguk lalu terlelap. Karna, mengantuk yang menggerogoti membuat Rama juga memejamkan mata


Meyga, terkejut melihat pemandangan langka. Bagaimana, bisa Sinta tertidur dengan bersandar di bahu, Rama. Sedangkan Rama menyandarkan kepalanya di kepala Sinta


"Kalo, di lihat-lihat mereka cocok gak sih?" Rednan mengikuti pandangan Meyga

__ADS_1


Sama dengan Meyga, Rednan tidak bisa menyembunyikan keterjutannya. "Gue yakin, setelah salah satu mereka sadar ada War lagi." ujar Rednan dengan kekehan


Dan, benar saja 30 menit Rednan mengatakan hal itu. Sinta, membuka matanya secara perlahan


"Aaaaa!!! Lo ngapain nempel-nempel ke gue?!!" karna teriakan Sinta membuat Rama terpenjat kagat, sepontan membuka mata


"Buset, nenek lampir. Telinga gue sakit kalo lo teriak-teriak gitu?" Rama menjawab dengan santai, sedangkan Meyga dan Rednan hanya menahan tawa. Mereka harus melihat drama pertengkaran kucing dan tikus kembali


"Lo ya ! emang bener-bener. Lo nyari kesempatan banget nempel-nempel ke gue?!!!" Rama melebarkan matanya mendengar tudingan Sinta


"Enak aja kalo ngomong, kepedean banget gue nempel-nempel ke lo. Bisa-bisa gue alergi hih" Rama berbicara sembari bergidik


Sinta, yang kesal menjambak rambut Rama. "Awhh lepasin!!!" Rama memberontak. Namun, Sinta enggan melepas tarikan rambutnya


Karna geram, Rama pun mencekal tangan Sinta. Setelah berhasil lepas dari jambakan Sinta, kini pandangan mereka terkunci. Rama dan Sinta bersitatap lama


"Ekhm, kita udah nyampe" seketika-seketika. Kedua insan tersebut langsung membuang muka mendengar suara Rednan


"Apa lo lihat-lihat!" ketus Sinta yang dibalas juluran lidah dari Rama


Jujur saja kini jantung kedua insan itu sedang tidak tak karuan, di tambah pipi mereka yang mirip dengan tomat


"Sial kenapa sih dengan jantung gue?!"


****


Ternyata, hari sudah malam. Jika dilihat di jam dinding rumah sakit, kini sudah pukul 8 malam. Mereka terpaksa melaksanakan solat magrib dan isya di mushola kelinik yang buka 24 jam tersebut


Rednan dan Rama tampak menunggu di mobil, Tak lama Sinta dan Meyga tiba dengan beberapa camilan. Mumpung di kota belanja dikitlah, itulah yang di pikirkan Sinta


Kota yang mereka datangi cukup ramai, Papua memiliki kota yang indah. Lampu-lampu kota dan beberapa gedung menghiasi. Namun, kini mereka harus kembali ke barak, tempat antah berantah yang terpencil


Yang mereka nikmati bukan lagi keramaiaan kota. Namun, kesunyian malam yang dingin. Sinta memilih diam saat mereka melewati hutan yang sangat gelap, di tambah jalanan yang sangat tidak bersahabat. Jalanan sangat licin membuat pengemudinya memang harus benar-benar handal


Kini, Sinta memilih diam tidak mengajak Rama berdebat. Karna, sekarang Rama tengah berkonsentrasi menyetir


Dor!!


Tiba-tiba saja ada suara tembakan, sepontan Rama menginjak remnya. Rama menatap sekeliling dengan waspada


"Ada apa?" Rama tidak menjawab pertanyaan Sinta, dan kembali melajukan mobilnya


Entahlah, ada rasa was-was saat mendengar suara tembakan tadi. Rama, pikir itu adalah anak-anak militer, tapi untuk apa berlatih di malam hari. Kini yang Rama curigai adalah pemburu liar !


"Rednan coba hubungi, Komandan Satria. Minta mereka jemput kita, gue ngerasa bakal ada bahaya" Rednan menangguk cepat dan langsung menghubungi Satria


"Disini, Mayor Rednan. Lapor ndan, Letnan kolonel Rama meminta untuk menjemput tim kami, ganti"

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang mana membuat Rednan dan Rama kesal.


Dor!!


Kini, Sinta semakin panik karna suara tembakan terdengar kembali. "Ada apa sih ini?" tanya Sinta dengan ketakutan


"Gue gak bisa pastiin, kalo di pikiran positif gue suara tembakan itu dari anak-anak Militer yang berlatih. Tapi, kalo negatifnya gue pikir suara tembakan itu dari pemburu liar !"


Deg!


Penjelasan, Rama membuat Sinta ketakutan. Rama memacu mobilnya lebih cepat kali ini


Dor!!


Sial, tembakan itu mengenai ban belakang mobil dengan terpaksa Rama memperhentikan mobilnya


"Ish, kok berhenti sih?" Rama tidak memperdulikan gerutu Sinta


Yang dirinya lihat dari kaca spion sekarang adalah para pria berkepala plontos berjumlah 4 orang, dan mereka mendekat !


Rama, pun turun dari mobil di ikuti Rednan


"Ah, maaf membuat mobil kalian terhenti. Sepertinya temanku salah sasaran" salah satu pria berkepala plontos itu berbicara


"Bagaimana sekarang? Peluru kalian mengenai ban mobil kami" jawab Rednan dengan tenang


Rama, masih memandang datar orang-orang itu, ada yang aneh. Mereka bau darah !


Sekarang, Rama semakin yakin jika mereka adalah pemburu liar. Mereka juga membawa dua karung yang cukup besar


"Maaf, Pak. Kebetulan kami TNI AD yang sedang bertugas di kawasan ini, boleh kami bertanya apa yang kau lakukan dengan senjata api mu?" kali ini Rama bersuara. "Dan apa yang ada di dalam karungmu? Mereka bergerak" imbuh Rama menatap curiga


"Bukan apa-apa, kami hanya sedang berlatih saja"


Rama, mengkerutkan keningnya mendengar jawaban salah satu pria berkepala plontos. "Berlatih? Semalam ini, kalian pasti bercanda"


Rama, memberi isyarat kepada Rednan untuk waspada


"Angkat tangan!" seru Rama dan Rednan bebarengan mereka menodongkan senjata


Pria berkepala plontos itu malah tertawa, "Haha apa kau lupa jika kami juga memiliki senjata?"


Rama, hanya menatap tajam pria-pria itu. Salah satu pria melepaskan sesuatu yang berada di karung, dan betapa terkejutnya Rama itu adalah **** hutan. **** hutan itu tampak liar, mungkin dia marah karna terluka


Reflek, Rama menarik tangan Sinta yang berada di mobil. Dan Rednan menarik tangan Meyga


Mereka terpisah ! dengan kejaran **** hutan dan pria berkepala plontos

__ADS_1


TBC🍻


__ADS_2