RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 47


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


The Last Mission Love (Kisah Rednan)


****


Rama memparkirkan mulus motornya di garasi rumahnya. Rumah besar, peninggalan kakeknya Bram, yang saat ini di tempati Yusuf dan Aletha.


Rama memang tidak memberitahu siapapun jika dirinya pulang. Rama langsung nyelonong masuk saja, karna pintu utama pun tidak di kunci, gayanya sudah seperti maling profesional yang merencanakan perampokannya.


Rama mengendap-endap, melihat Bundanya sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Dor


Camilan yang di pangku Aletha langsung berserakan. Rama yang melihat Bundanya sangat terkejut itu tertawa keras.


“Assalamualaikum, Bunda.” tanpa rasa bersalah Rama langsung duduk di samping Aletha.


Rama tidak sadar, jika sudah ada tanduk tak kasat mata yang muncul. Dengan geram, Aletha menjewer telinga Rama.


“Dasar bocah nakal! kalau pulang itu kabarin, Bunda. Terus kalau pulang ketuk pintu, kamu mau maling di rumah sendiri?”


“Aduh… Aduh... Bunda,” Rama meringis karna Aletha memang menarik telinga Rama. “Aduh, Bunda. Ini kalau kuping Rama putus gimana, nanti aku gak ganteng lagi. Terus masa iya Rama mau maling di rumah sendiri.”


Aletha yang mendengar celoteh putranya itu semakin menguatkan tarikan di telinga Rama. “Heh! kamu lihat camilan, Bunda! mereka kotor dan jatuh gara-gara kamu.”


Rama hanya nyengir, setelah jeweran di akhiri. “Bunda, marah-marah terus ih. Ini anaknya pulang juga.”


Aletha masih kesal dengan putranya, acara nyemil dan nontonnya jadi berantakan. “Bun, Ayah kemana?” tanya Rama melihat sekitar.


“Ayahmu belum pulang, kenapa kamu nyari Ayah? mau minta duit?”


Rama menelan ludahnya mendengar ucapan Bundanya. “Enak aja, Rama udah besar sekarang, udah punya penghasilan sendiri. Tuh Vespa matic hasil keringat Rama.” Dengan bangga Rama memperkenalkan motor barunya kepada Bundanya.


Tak... Tak... Tak


Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar, Rama mengalihkan pandangannya. Mendapati Pamannya yang masih sangat tampan.


“Loh, Rama? kapan pulang?” Adnan terkejut dengan kedatangan Rama.


“Besok, Paman. Ya kemarinlah.” canda Rama dengan memperlihatkan gigi putihnya.


Adnan berdecak kesal melihat keponakannya yang menyebalkan tersebut. Jika Rama sudah berada di rumah, maka rumah itu akan hidup.


“Di tanya beneran malah bercanda, kapan mau serius kamu?” Adnan lalu duduk di salah satu sofa.


“Paman mau Rama seriusin? mau serius sampai apa? jenjang pernikahan? kayanya jangan deh, Paman. Rama laki-laki normal,” Rama berceloteh dengan senyum jahilnya, Adnan berdecak kesal.


“Heh yang nyuruh nikahin, Kak Adnan itu siapa?! kamu kenapa deh, Ram? pulang bukannya sembuh kek, malah tambah gesrek.” Aletha hanya bisa geleng-geleng kepala dengan polah putra tunggalnya.


“Bunda, anakmu yang tampan, gagah, dan seksi ini bukannya gesrek. Rama sedang di mabuk cinta saja.”


Aletha dan Adnan sontak melotot mendengarnya. Ini hal mengejutkan!


Di usia Rama yang sudah menginjak 30 tahun, tentu Bundanya ingin putranya menikah dan memberikan keturunan. Namun, Rama masih saja menolak untuk menikah, dan sekarang tiba-tiba saja, Rama mengatakan sedang di mabuk cinta!

__ADS_1


“Cewek apa cowok?”


Rama berdecak kesal kepada Pamannya tersebut. “Pake di tanya lagi, aku ini masih cowok normal. Rama masih doyan cewek.”


Adnan tertawa melihat wajah kesal Rama. “Siapa ceweknya? kenalin sini!” ujar Adnan dengan nada serius


“Besok aja deh, kalian juga udah kenal. Oh iya, Paman Adnan ngapain disini? udah miskin ya? makanya gak bisa beli rumah.” celoteh Rama yang tentu membuat kedua kakak beradik itu kesal.


“Kak Adnan lagi nginep, Ram. Sama Kak Hana juga kok, tapi Kak Hana lagi keluar sama, Bibi.” sahut Aletha mencoba menjelaskan, kepada putra tunggalnya yang rada gesrek tersebut.


“Oh kalau tidur disini gak geratis loh. Ya mentok-mentok bersihin kamar mandi, Rama.”


Buk


Satu bantal sofa melayang tepat, mengenai kepala Rama. Pelakunya adalah pria dua anak tersebut.


“Keponakan gak ada akhlak lu! kamu kira aku pembantu?” sungut Adnan kesal


Rama hanya cekikikan dibuatnya. Aletha hanya bisa menahan tawanya dengan tingkah Paman dan Ponakan tersebut.


“Udah gak usah marah-marah terus. Nanti cepet mati, kalau mau cepet tua, kan emang udah tua.”


“RAAAMMMMAAAAAA!!!!”


****


“Bunda, Ayah. Rama berangkat ya, Assalamualaikum.” Dengan sopan Rama, meraih tangan Ayah dan Bundanya.


Yusuf semalam pun tampak terkejut dengan adanya Rama. Dan pagi ini Rama harus pergi ke kantor, plus menjemput sang pujangga.


Rama hanya memberi isyarat tangan, berbentuk O. Motor yang di kendarai Rama melaju, melewati perumahan-perumahan mewah lainnya.


Rama pagi ini sangat tampan, dengan balutan seragam Letnan Kolonelnya menambah nilai plus ketampanannya.


Setelah 25 menit Rama tiba di komplek militer tempat tinggal Sinta. Ternyata Sinta sudah menunggu di depan gerbang.


“Ojek mbak?”


Sinta hanya tersenyum melihat Rama yang menggodanya, dengan berpura-pura menjadi tukang ojek.


“Iya, Bang!” jawab Sinta dengan senyum yang di tahan.


Rama lalu menyodorkan helm kepada Sinta. “Tujuannya sesuai hati kita kan, Mbak?”


Blush


Sinta tidak bisa menutupi rona di pipinya. Ucapan sederhana, namun manis itu membuat Sinta tersipu.


Sinta yang menahan malu itu langsung naik ke Jok belakang. Rama pun melajukan motornya, sepanjang jalan Rama masih saja menggoda Sinta.


“Mbak, emang pacarnya gak marah, kalau boncengan sama tukang ojek, tapi meluk begini?”


“Enggak pacar saya gak baperan orangnya.” Sinta menjawab dengan santai, kepalanya di letakan di bahu Rama.


“Mbak cantik banget sih, mau gak jadi jodoh saya?”

__ADS_1


“Jodoh itu Tuhan yang menentukan, saya bingung mau jawab mau apa enggak. Soalnya kalau pun aku jawab enggak, terus nanti jodoh gimana dong?”


“Ya, gakpapa dong mbak. Namanya rezeki saya itu!”


tawa Rama dan Sinta langsung pecah. Sepanjang perjalanan, hanya dihiasi oleh tawa. Tanpa sadar, mereka sudah sampai di rumah sakit.


Sinta turun dari montor, Sinta hendak melepas helmnya. Namun, susah


“Buka sendiri, kita pacaran nggak kaya di novel-novel biasanya,” ujar Rama yang melihat Sinta kesusahan saat membuka helm.


Sinta berdecak kesal dibuatnya. “Hih, kamu kok gak ada romantis-romantisnya sih? bukain kek, biar kaya di novel-novel, terus nanti kita tatapan, jantung kamu berasa mau liburan!”


Sontak Rama tertawa dengan celoteh Sinta. Dengan gemas Rama pun akhirnya membantu membuka helm Sinta.


“Kok kita gak tatapan sih?” tanya Sinta sedikit kesal.


“Enggak ah nanti jantung aku liburan lagi, masa iya aku belum bikin kamu bahagia, jantung aku udah hollyday sana sini.”


Sinta terkekeh mendengar jawaban Rama. “Apaan sih! udah ah aku masuk dulu ya!”


Sinta hendak melangkah, namun tangannya di cekal oleh Rama. Sinta membalikan badannya, menatap sang kekasihnya.


“Ada apa lagi, Rama?”


“Kamu lupa cium tangan!” Rama lalu menyodorkan punggung tangannya.


Sinta terkekeh dibuatnya, sekilas mereka terlihat seperti suami mengantar istrinya bekerja. Sinta pun akhirnya mengecup punggung tangan Rama.


Rama tersenyum melihatnya, dengan gemas Rama mengusap kepala Sinta. Hal itu membuat Sinta kesal, rambutnya menjadi berantakan.


“Kamu kok kebiasain sih?! rambut aku jadi berantakan nih.” bibirnya pun sudah mengerucut, namun hal itu malah membuat Sinta terlihat imut.


“Kamu mau gimana pun tetap cantik, Sinta. Kecuali kalau lagi ngambek, jeleknya berpangkat-pangkat.”


Sinta melotot mendengar ujaran Rama. Dengan kesal Sinta menarik rambut Rama.


“Aduh... aduh... Sinta lepasin! aku mau berangkat ke kantor.”


Dengan dongkol, Sinta melepas tarikan rambutnya kepada Rama. Rama tersenyum melihat kekasihnya yang nampak galak.


“Semangat sayang! Tentara tampanmu ini pun tengah berusaha mencari uang.”


*


*


*


*


*


“Izinkan aku memperjuangkanmu, izinkan aku berusaha. Agar nanti aku dan kamu menjadi kita” – Ramadhani Asof


TBC😘

__ADS_1


__ADS_2