
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta
****
Perlahan matahari mulai menyinari, cahayanya membuat mata seorang pria yang terpejam perlahan terbuka. Mata tajam itu terbuka perlahan, menatap sekeliling
"Awhhh" Rama meringis menahan sakit di lengannya. "Sial, kenapa tembakannya bisa sama persis disini." gerutunya
Tak lama gorden ruangan itu terbuka, menampakan dokter cantik yang menatap Rama. "Morning!" sapa Sinta
Rama mengernyitkan dahinya. tumben sekali dia lembut, pikir Rama. Rama mengingat jika semalam Darwin terluka, Rama hendak turun dari ranjang. Namun, punggungnya masih nyeri
"Awwhhh...."
Sinta langsung membantu, Rama. "Lo itu masih sakit, jangan banyak bergerak!"
Rama kembali duduk di ranjangnya, "Bagaimana keadaan, Darwin?"
Sinta terdiam, membuat Rama kesal. "Lo gak denger gue tanya?"
Sinta pun menghembuskan napas berat, "Mayor Darwin, tidak bisa di selamatkan. Peluru berhasil keluar. Namun, kondisinya sangat lemah."
Napas, Rama seakan tercekat, jantungnya berdetak kencang. Sesaat dirinya mengerutuki kesalahannya, jika saja dirinya menurut untuk kembali mungkin, Mayor Darwin tidak akan mati, itulah pikir Rama
Rama frustasi, di landa rasa bersalah. Rama dengan emosi memukuli kepalanya. "Bodoh, Rama!!! Kenapa lo bodoh!! Lo pembunuh!!!"
Sinta terkejut dengan apa yang di lakukan, Rama. Sinta pun berusaha menghentikan apa yang di lakukan, Rama.
"Rama apa yang lo lakuin?" Sinta terus berusaha. Namun, Rama terus mengerutuki kesalahannya
"Ini semua salah gue!!!Gue salah!!! Gue pembunuh!!!" Sinta yang tidak tega langsung mendekap, Rama
Membawa kepala, Rama di ceruk lehernya. Sinta mengelus punggung, Rama dengan lembut. "Ini bukan salah lo, jangan menyalahkan diri sendiri. Lo gak salah ini sudah takdir tuhan."
Rama masih diam di dekapan, Sinta. Bibirnya bergumam lirih. "Gue salah!! Darwin mempunyai anak balita, dan gue udah bikin dia meninggal!!! gue jahat."
Sinta kembali mengelus punggung, Rama. "Lo gak salah, Rama. Mayor Darwin adalah hal yang sama dengan senja, bukannya lo yang bilang ciptaan tuhan gak ada yang abadi."
Rama hanya diam, merasa nyaman dengan perlakuan Sinta. Rama pun melepaskan pelukannya, saat ini dirinya malah menjadi canggung dengan Sinta
"Mmm--- Makasih, sin. Jam berapa pemakamannya?"
"Jam 2 sore." jawab Sinta canggung sembari menunduk
Rama melirik jam dinding, jam sudah menunjukan pukul 1:55. "Gue mau ke pemakaman."
Sinta pun membantu, Rama. Di Pemakaman warga sekitar, ternyata sudah banyak Tentara yang berbaris di sana
Perlahan jenazah para Tentara itu di masukan liang lahat. Lalu, di rutuki tanah dan di taburi bunga
Para Tentara itu memberikan penghormatan terakhir untuk para abdi negara yang telah gugur. Rama memberikan penghormatan. Namun, matanya tertuju di nisan Darwin
__ADS_1
Rama mendekat di nisan, Darwin. Terdapat bendera merah putih di sampingnya. Usia Darwin yang hanya lebih tua 1 tahun dengan Rama membuat mereka akrab
"Andai waktu itu gue gak ngeyel, mungkin kita semua selamat," Rama mengelus nisan milik Darwin. "Selamat jalan, Mayor Darwin" Rama pun memberikan penghormatan terakhir
Rednan memeluk sahabatnya. "Akhirnya lo sadar bro"
Rama membalas pelukan, Rednan. "Kepala gue pusing kalo tidur kelamaan"
Rednan terkekeh kecil mendengarnya, Rama ikut tersenyum. Sudah biasa bagi mereka jika kehilangan salah satu teman di kemiliteran. Entah itu gugur karna perang atau apa. Namun, mereka akan tetap menghormati para pejuang negara
Terpuruk di dalam kesedihan bukanlah tipe, Rama. Rama tetap akan berusaha ikhlas karna ini memang takdir. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan, Rama pun mengatakan 'Jangan terlalu berharap kepada ciptaan tuhan, mereka tidak abadi pasti akan pergi'
Rama berjalan bersama Rednan sesekali bercanda. Ingatan, Rama berputar saat dirinya di dekap oleh Sinta. Hal, itu membuat Rama tersenyum kecil
"Pelukan yang nyaman."
****
"Banyak, Tentara yang gugur hari ini. Cosa Nostra Sisilia bukanlah hal sepele!"
Semua yang berada di ruangan itu hanya diam, mendengarkan penuturan Satria. Begitupula, Rama dan Rednan.
Salah satu kursi kosong, biasanya kursi itu adalah tempat Darwin. Tak ingin larut di kesedihan Rama pun bersuara
"Mereka tahu jika kita mengawasi, atau jangan-jangan mereka lah yang mengawasi kita!"
Satria menoleh ke arah, Rama. "Bisa jadi."
"Namun, siapa ndan? Tempat ini sangat ketat, untuk masuk saja harus memperlihatkan KTP." celetuk Ryan
"Apa kamu melihat, Tara semalam?" tanya Satria kepada Rama
Rama hanya menggelengkan kepala. "Saya tidak tahu, saya tidak bisa melihat semalam hujan sangat deras."
"Saya dengar di kota ini baru di dirikan club malam, apa mungkin Cosa Nostra ada yang beroperasi disana?"
Semua orang kini menatap, Rednan yang berbicara. Rama tampak berpikir
"Club malam?"
"Ya, Rama. Club malam, Club itu sudah berdiri beberapa minggu ini. Pemiliknya orang luar, kalo tidak salah Namanya Jimmy." jawab Rednan menanggapi pertanyaan Rama
"Kita bisa lakukan pengintaiaan di club itu. Apa nama Club itu, Rednan?"
"The Nigth Club." jawab Rednan menanggapi pertanyaan, Satria
"Besok kita bisa lakukan pengintaiaan, T4 dan K2 akan bertugas kesana. Kalian setuju?"
"Setuju, Ndan!"
"Rama bagaimana keadaanmu?"
Rama tersenyum mendengar pertanyaan, Satria. "Saya tidak apa-apa, Ndan"
__ADS_1
Satria pun mengangguk, "Rapat sore ini selesai!"
Rama dan Rednan pun keluar terlebih dahulu. Ekor mata, Rama menangkap seorang gadis yang berjinjit mengambil layang-layang yang tersangkut di pohon
"Uhh, susah banget sih!!!" gerutu Sinta
Ya, gadis itu adalah Sinta. Tidak sengaja, Sinta melihat layang-layang yang tersangkut di pohon dekat kamarnya. Sinta pikir itu milik anak-anak warga sekitar barak
Namun, dirinya mendapati problem, Sinta tidak bisa memanjat dan pohon terlalu tinggi. Meski tinggi badannya proposal. Namun, tetap saja dia tidak bisa menyampai
Tiba-tiba ada tangan besar yang dengan mudah meraih layang-layang tersebut. Sinta melihat ke sampingnya, pria itu memberikan layang-layang itu kepada Sinta
"Makasih"
Rama hanya tersenyum menanggapinya. "Dasar pendek!!"
Sinta langsung menatap tajam, Rama. Merasa tidak terima dengan ledekannya. "Apa lo bilang gue pendek? 163 cm tinggi ya untuk cewek Indonesia!!"
"Buktinya lo ambil layangan aja kesusahan," Sinta hanya mencibikan bibirnya, membuat Rama gencar meledeknya
"Lo ngapain ambil ini layang-layang?" Rama pun menghentikan tawanya, dan bertanya ke Sinta
"Layang-layang kaya gini pasti punya anak sekitar, kasian kan kalo layang-layangnya kesangkut. Nanti kalo mereka nyariin tinggal di kasih." Rama tersenyum mendengar jawaban, Sinta
"Tapi sayang lo pendek jadi susah ambilnya," Sinta langsung menatap sinis, Rama. Sedangkan Rama hanya menjulurkan lidahnya
"Ekhmm" Rama berdehem, lalu mengangkat suara. "Sebelumbnya, Thanks. Lo udah nyelamatin nyawa gue."
"Sama-sama" jawab Sinta ketus
"Mas Rama..." sapa Nana dengan membawa tas besar
Rama menoleh ke sumber suara mendapati, Nana. "Nana?"
"Aku kesini cuma mau pamit, Mas. Aku harus balik ke Jakarta. Aku pamit ya, Mas" Rama hanya diam mendengar ucapan Nana
"Gue pamit ya, Sin." Nana hendak melangkah. Namun, tangannya di cekal oleh Rama
Sinta menatap tangan Rama yang mencekal tangan, Nana. Dalam hatinya merasa sangat panas dan kesal
"A--Ada apa mas?"
Rama menghembuskan napas kasar, "Biar s
aku antar kamu ke bandara"
"Ha? Gak usah mas. Mas Jojo mau antar aku" tolak Nana halus
Namun, Rama tetap bersikeras. "Biar aku aja ayo!" Rama langsung menarik tangan, Nana ke mobil jeepnya
Sinta hanya menatap Rama dan Nana. Dalam hatinya merasa sangat panas, dadanya bergemuruh
"Kok gue kesel sih!!?"
__ADS_1
TBC🍻