RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 15


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


"Sinta?"


Sinta melotot menatap tajam, Rama. Rama hanya bisa melebarkan matanya, di liriknya Satria, Satria malah ketawa ketiwi


"Apa, lo mau bilang suara gue cempreng?"


"Iya, emang suara lo itu cempreng!" balas Rama dengan menjulurkan lidahnya


Sontak saja Sinta kesal, Sinta sudah melempar tatapan membunuh ke arah, Rama. "Heh, suara gue itu bagus ya. Lo aja gak pernah denger gue nyanyi"


"Dih, dengerin lo nyanyi? Bisa-bisa sakit telinga gue!"


Sinta pun sangat kesal, Sinta mendekat ke Rama. Lalu, menarik rambut Rama, Mungkin sudah menjadi kebiasaan. Mengingat rambut Rama yang lebat, memudahkan Sinta untuk menarik


"Awh awh, Lepasin Sinta!!"


Sinta seolah tuli dan tetap menarik rambut, Rama. Satria pun berusaha memisah. Namun, dengan ketawa ketiwi. Meyga yang melihat kejadian tersebut ikut berusaha memisah


Rama yang jengkel mencekal tangan, Sinta napas Sinta dan Rama tampak ngos-ngosan. Rama malah tertawa


"Sumpah wajah lo jelek banget kalo marah,"


Sinta yang kesal hendak menarik rambut kembali. Namun, tangannya di cekal oleh Rama


"Ihhh, ngeselin banget sih lo. Tentara songong!!" Sinta hanya bisa menggerutu karna kedua tangannya di cekal oleh, Rama


Dan tanpa sadar, Rama sangat nyaman memegang tangan, Sinta. "Ekhm-ekhm, Nyaman banget tuh tangan" goda Rednan yang baru datang


Rama langsung melepaskan cekalan dari, Sinta. Kedua insan itu langsung buang muka, Pipi Sinta pun kini memerah, jantung Rama yang tak beraturan


"Hahaha, Kalian ini bertengkar terus. Gue gak bisa bayangin kalo kalian pacaran!"


Rama dan Sinta langsung melemparkan tatapan membunuh kepada, Rednan.


"Dih, amit-amit. Siapa juga yang mau pacaran sama Tentara songong ini!"


Rama langsung menatap Sinta sinis, "Gue juga ogah punya cewek dokter bar-bar kaya gini"


Rednan dan Satria hanya tertawa melihat keduanya, Tak mau kalah Satria ikut menggoda Rama dan Sinta


"Ati-ati bro. Biasanya kalo orang suka bertengkar bisa-bisa jadi suka!" Rama dan Sinta yang mendengar ucapan Satria langsung mendelik


"What? Suka?! Gak mungkin, bisa-bisa gue mati berdiri jadi pacar Tentara songong ini!"


Rama merasa kesal karna ledekan, Sinta. "Gue juga gak akan suka sama Dokter bar-bar kaya gini"


"Oke, stop! Jangan bicara seperti itu, gue gak mau kalo kalian berdua jilat ludah sendiri" Rednan menaik turunkan alisnya, menatap Rama dan Satria


"Idih, gue juga gak mau kali jilat ludah sendiri, gue itu udah suka sama cewek lain!" Sinta terdiam mendengar ujaran, Rama

__ADS_1


Lalu, Sinta bersuara. "What? Ternyata ada ya cewek yang mau sama, Tentara songong!"


"Eh, jangan ngremehin lo, gue ganteng ati-ati lo suka entar!" Sinta hanya memutar bola mata jengah mendengar jawaban, Rama


"Gue gak suka sama cowok super narsis kaya lo!"


"Gue juga gak akan suka sama, Dokter bar-bae kaya lo!"


Setelah mengucapka hal itu Rama dan Sinta pergi ke kamar mereka masing-masing. Satria dan Rednan hanya geleng-geleng kepala


Sedangkan, Sinta merebahkan diri di kasur. Menatap langit-langit


"Apaan sih? Siapa juga yang suka sama, Tentara songong! Gue juga gak peduli kalo dia suka cewek lain, Bodoamat!!"


Sinta terus menggerutu di dalam pikirannya, sama halnya Rama. Rama belum terlelap, Matanya menatap langit-langit


"Huh, Kok gue jadi mikirin dokter bar-bar sih? Gak gue gak boleh suka sama, Sinta. Ya kali gue suka sama cewek cerewet kaya dia? Bukan tipe gue banget"


Rama terus menggerutu di dalam pikirannya. Rama mencoba menutup matanya. Namun, pikirannya di penuhi satu orang 'Sinta'


Sama halnya, Sinta mencoba terlelap. Namun, selalu saja pikirannya melayang memikir satu orang 'Rama'


"Stop! Gue gak suka sama, Rama!!"


"Enggak, gue gak suka sama, Sinta!!"


****


Malam kini kian berganti, Matahari pun mulai memunculkan jati dirinya. Siluet pagi terlihat jelas dari balik pepohonan, udara segar dan suara burung, serta aktivitas di pagi hari


Beberapa, Tentara hari ini Free. Beberapa pun libur, yang seharusnya hari ini, Rama libur menjadi batal karna misi penting.


Pagi-pagi, Rama sudah push up, dan shut up. Hal, itu membuat perawat wanita semakin tergila-gila dengan, Rama. Tak hanya Rama, kharisma Rednan sangat memancar. Sudah tampan dan berpangkat, Siapa yang tidak mau menjadi pendampingnya


Dari kejauhan, seorang gadis cantik mendekat ke arah, Rama. Gadis cantik itu tengah membawa sebotol air minum


"Pagi, Mas Rama!"


Rama, menghentika aktivitas push upnya. Rama berdiri tersenyum ke arah, Nana. "Pagi, Nana!"


"Mas Rama, ini Nana bawain air" Nana menyodorkan sebotol air putih, Rama menerimanya dengan senang hati


"Makasih, Na" Nana hanya mengangguk dan tersenyum


Rama, meneguknya. Jakunnya naik turun, di tambah keringat yang bercucuran di leher. Siapa pun yang melihat pasti terpesona


"Mas Rama, capek?"


Rama mengembalikan botol air itu kepada, Nana. Lalu menjawab, "Enggak aku gak capek"


Nana hanya tersenyum. "Aku duluan, Mas"


"Semangat, bertugas!!" Mungkin hati, Nana saat ini berbunga-bunga karna diberikan semangat oleh, Rama


Rama, pun bergegas ke kamar mandi. Meski hari ini Free, dia harus tetap siap. Ekor matanya menangkap, gadis cantik dengan jas putih yang berdiri di depan kaca kamar mandi perempuan

__ADS_1


Rama berusaha acuh, berlalu masuk ke kamar mandi. Rama hendak masuk ke kamar mandi, yang pintunya tidak tertutup. Namun...


"Heh, Tentara songong!!" suara Sinta menghentikan niat, Rama


Rama tidak memperdulikannya dan malah celingak celinguk, Hal itu membuat Sinta kesal. Sinta, pun mendekat ke Rama


"Lo taruh telinga dimana sih?" Rama hanya menatap heran, Sinta


"Ini telinga gue!" dengan polos, Rama menyetuh kedua daun telinganya


Sinta berdecak kesal. "Ck, gue manggil lo dari tadi,"


"Oh, gue gak denger nama gue di panggil"


Sinta hanya bisa menggeram menahan kesal, "Gue cuma mau bilang, cepet lo mandi. Tadi, Komandan Satria bilang, T4 ada tugas di desa sebelah"


Rama hanya mendengar mengernyitkan dahinya, "Loh kok malah lo sih yang di kasih tahu?"


Sinta hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. Sinta pun berlalu pergi meninggalkan, Rama. Rama pun bergegas membersihkan diri, Tidak butuh waktu lama Rama sudah siap


Rama bergegas mencari, Sinta. Bagaimana bisa Komandannya malah memberi tahu, Sinta?


Ekor mata, Rama menangkap Sinta yang masih duduk bersantai dengan memainkan ponselnya. "Heh, dokter bar-bar! Lo bilang ada tugas ngapain lo malah santai duduk disini"


Sinta menoleh ke sumber suara, mendapati Rama yang sudah menatapnya datar. Sinta menahan tawanya melihat ekpreksi, Rama


"Malah diem, kita gak ada waktu ayo buruan!!!"


Saat ini Sinta tidak bisa menahan tawanya, Sinta tertawa terbahak-bahak melihat tingkah, Rama. Rama mengernyitkan dahinya, beberapa saat dia sadar jika sudah di kerjai Sinta


"Lo ngeprank gue ya?"


Sinta masih tertawa terbahak-bahak, "Hahaha. Lo lucu banget sih? Wajahnya serius banget!"


Rama hanya bisa mendengus kesal melihat Sinta yang tertawa. "Lo seharusnya gak ngeprank kaya gini,"


Sinta menghentikan tawanya karna mendengar suara, Rama yang datar. "Gitu aja ngambek!"


"Gue gak marah, tapi lo gak bisa main-main dengan tugas negara!!"


Sinta terdiam, "Yaudah sory!"


Rama masih diam, Hal itu membuat Sinta merasa bersalah. "Ihh, Lo jadi tentara baperan banget sih!"


Rama menahan tawa melihat Sinta yang cemberut, "Hahaha muka lo jelek banget sih!"


Sinta mendelik melihat Rama yang tertawa, "Oh jadi sekarang lo yang kerjain gue?"


Seperti biasa Sinta menarik rambut Rama. Bahkan, Sinta tertawa melihat Rama yang berusaha melepaskan tarikan rambut


"Lapor, Ndan. Terjadi kebakaran di rumah warga, Huh huh huh!!"


Tawa, Rama dan Sinta lansung berhenti mendengar laporan Rednan yang datang


"Kita kesana sekarang!"

__ADS_1


TBC🍻


__ADS_2