
Budayakan Like Sebelum Baca😘
The Last Mission (Kisah Rednan)
****
Sinta lalu masuk ke gedung Rumah sakit tersebut. Sesampainya di ruang kerja, sudah ada Rita yang membantu membersih-bersihkan.
“Pagi, Mbak Rita!”
“Pagi, Sin!” Rita pun membalas salam Sinta dengan senyum yang tak kalah merekah.
Sinta lalu duduk di kursinya. Membaca laporan-laporan, saat jam sudah menunjuk 09.00 ke atas maka Rumah sakit mulai ramai.
Jadwal Sinta pagi ini mengecek pasien-pasien yang hendak kontrol. Sinta sudah menunggu pasiennya di ruang medis.
Tok... tok... tok
“Ya, masuk!”
Ceklek (Pintu ruang medis terbuka)
“Sinta?”
“Nana?”
Sinta begitu terkejut dengan kedatangan Nana. Nana datang bersama pria tua yang tampak tak sehat.
“Lo mau kontrolin kakek lo?” tanya Sinta kepada temannya tersebut.
“Iya, Sin. Kakek gue minta kontrol di Rumah sakit ini aja, dan gue gak nyangka lo ternyata kerja disini.” Nana dan Sinta kini lekih akrab, tidak ada benci lagi. Karna penyebab permusuhan mereka berdua sudah menikah.
Sinta dengan ramah membantu Kakek Nana untuk berbaring di ranjang. “Namanya siapa, Kek?”
“Adam, Nak.” jawab Kakek Nana dengan lembut.
Sinta tersenyum sembari mengecek suhu badan Kakek Nana, tak hanya itu Sinta juga mengecek laporan tentang kesehatan Kakek Nana.
“Kakek lo punya riwayat jantung, Na?”
Nana yang berdiri di samping Kakeknya itu menganggukan kepala. “Iya, makanya Kakek rutin kontrol.”
Sinta mengangguk, lalu tersenyum ramah ke arah Adam. “Kakek jangan banyak pikiran ya, dan jangan lupa Istirahat yang cukup. Untuk obat-obatannya masih sama kok, sama tempat kontrol Kakek sebelumnya, mungkin kalau obatnya habis kakek bisa menebus di apotik, nanti Sinta kasih resepnya.”
Adam tampak mangut-mangut mendengarkan penuturan Sinta. “Makasih ya, Sin. Kalau begitu, gue sama Kakek gue duluan ya!” sahut Nana lalu membantu Kakeknya untuk turun dari ranjang.
Sinta tak sengaja melihat cincin di jari Nana. “Lo udah tunangan, Na?”
Nana tersenyum mendengarnya. “Iya.”
Tebakan Sinta ternyata benar, mantan musuhnya itu sudah tunangan. “Wih, Selamat ya! Semoga lancar sampai hari H.” Sinta turut senang dengan kabar bahwa Nana tunangan. Jika begitu tidak ada yang akan menganggu Rama, pikir Sinta.
“Iya, Sin. Doain aja lah. Gue pamit ya, Sin.”
“Oh iya, Na. Hati-hati, Kakek jangan lupa minum obatnya ya!”
Nana pun pergi meninggalkan ruangan Sinta. Sinta kembali sibuk dengan pasien-pasien yang ingin kontrol. Kebanyakan adalah Pria dan Ibu paruhbaya, yang mengidap darah tinggi.
“Ibu jangan banyak pikiran ya! Rileks saja, jangan lupa minum obatnya rutin.”
“Iya, Bu Dokter. Terimakasih!”
“Panggil saya, Dokter Sinta saja. Tidak usah pake Bu.” ujar Sinta dengan senyumnya. Pasien itu hanya mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
Pasien berikutnya adalah pria remaja. Pria itu mengidap insomia berkepanjangan.
“Sejak kapan kamu mengalami ini?” tanya Sinta kepada remaja yang duduk di hadapannya.
“Sejak saya kelas 11, saya mengalami Insom yang parah.”
Sinta mengecek mata pria tersebut. “Mata kamu kemerahan, kantung matanya juga sangat jelas. Gimana pun itu kamu harus melawan penyakit kamu, manusia itu harus punya waktu Istirahat yang cukup.”
“Tapi, Dok. Insom ini juga menguntungkan bagi saya, saya bisa menulis cerita di malam hari. Imajinasi saya menjadi lebih luas jika menulis di malam hari.”
Sinta tersenyum tipis mendengarnya. “Tetap saja, Insomia itu harus di lawan. Semangat ya, kamu pasti bisa tidur di bawah jam 11!”
“Baik, Dok. Terimakasih!”
Tak terasa ini sudah jam makan siang. Sinta kembali ke ruangannya, Rita tidak ada di ruangannya. Biasanya Rita akan pergi makan siang terlebih dahulu, atau menyelesaikan laporan Sinta.
Kring... Kring... Kring
Dering panggilan mengalihkan perhatian Sinta. Senyumnya mengembang, mendapati nama Rama tertera.
Sinta langsung menggeser imoticon hijau.
“Hallo, Sinta?”
“Hallo?”
“Kamu udah makan siang belum?” tanya Rama di sebrang telpon
“Belum sih.”
“Yaudah aku bawain ya?”
Sinta yang mendengar langsung berbinar. “Yaudah aku tunggu!”
“Yaudah, aku tutup telponnya. Soalnya aku belum beli pulsa, ini pulsa aku mau habis.” ujar Rama yang sedikit kesal.
“Gakpapalah kartu operatornya beda, yang penting besok nama kita di kartu keluarga yang sama.”
****
“Huwek... huwek... huwek”
Clara yang saat itu mempersiapkan makan siang untuk Bima, langsung berlari ke kamar mandi, lantaran rasa mual.
Bima yang baru saja tiba dari kantor terkejut melihat Clara berada di kamar mandi dan mual-mual.
Bima dengan lembut membantu memijat tengkuk Clara. “Apa jangan-jangan Clara hamil? apa aku bawa ke Rumah sakit saja?” pikir Bima
“Kamu sudah pulang, Bim?” Clara yang sudah mendingan itu lalu berbalik badan dan mendapati Bima.
“Kamu kenapa? ayo ke Rumah sakit!”
Clara bisa melihat jika Bima khawatir, Clara tak ingin membuat Bima khawatir. “Enggak usah, Bim. Aku gakpapa.”
Brak
Baru saja Clara melangkah keluar, dia sudah jatuh pingsan. Dengan cemas Bima menggendong Clara.
Bima mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bima pikir Clara hamil, jadilah Bima membawa Clara ke Dokter Kandungan.
Dokter kandungan itu langsung mengecek Clara. Bima hanya bisa menunggu, dia sangat khawatir sekaligus berharap jika itu benar terjadi.
“Dengan, Pak Bima?”
__ADS_1
Lamun Bima buyar mendengar suara Dokter paruhbaya tersebut. “Iya, Dok. Saya suaminya, Dok.” Bima langsung bangkit dari duduknya.
“Mari bicara di ruangan saya!”
Bima menurut saja, mengikuti langkah wanita paruhbaya tersebut. Setelah sampai, Bima langsung duduk di hadapan wanita paruhbaya tersebut.
“Gimana keadaan istri saya, Dok? apa dia positif hamil?” Bima sudah sangat yakin jika Clara mengandung.
Namun, berbeda dengan Dokter kandungan itu. Dokter kandungan tersebut malah dibuat bingung dengan Bima.
“Bagaimana kamu yakin jika istri kamu hamil?”
Bima sedikit terkejut dengan pertanyaan Dokter kandungan tersebut. “Dia sering muntah-muntah, dan bukankah itu tanda-tanda kehamilan?”
Dokter kandungan itu menghela napas. “Pak Bima, maaf jika ini menyinggung anda. Istri bapak ini tidak hamil, dia hanya kelelahan, dan istri bapak ini masih virgin, bagaimana mau hamil?”
Deg!
Mata Bima langsung membulat mendengar ucapan Dokter tersebut. Dadanya merasakan sebuah hantaman besar, mengetahui sebuah kenyataan.
“S–Selama ini, Istri saya masih virgin?”
Dokter itu merasa heran dengan Bima. Bima pun langsung pergi meninggalkan Rumah sakit itu tanpa Clara.
Bima mengirim pesan kepada Clara.
“Aku ada miting penting, di parkiran sudah ada supir yang menjemputmu.”
Bima telah di landa emosi. Bima mencekram kuat setir mobil miliknya. “J—Jadi? ma–lam itu, tidak terjadi apa-apa? T–Tapi, kenapa Clara tidak menyatakan sebenarnya?”
“Argh!! Sialan! dasar wanita licik!” Bima dengan emosi memukuli setir mobil miliknya. “Sial! sial! persetan pernikahan sialan! semua ini karna Clara wanita sialan! aku harus kehilangan Sinta!!!”
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Bima membawa mobilnya menuju Rumah sakit tempat bekerja Sinta. Sepanjang perjalanan Bima sudah di sulut emosi, mengingat dia harus terpisah dengan Sinta, hanya karna Clara!
“Wanita rubah! apa dia tidak memikirkan sahabatnya?! Argh!! aku tak sudi melihat kamu lagi Clara!!! Aku membencimu!!!”
Bima tidak lagi memikirkan Clara. Yang Bima pikirkan saat ini, hanya ingin menemui Sinta.
Saat sampai Bima pun langsung berlari ke ruangan Sinta.
Tok... tok... tok
“Masuk!”
Ceklek
Bima langsung membuka pintu, tatapannya terpaku kepada gadis cantik dengan jas putihnya. Sinta sangat terkejut dengan kedatangan Bima, Sinta pikir itu adalah Rama yang akan membawakan makan siang
Bima langsung menarik Sinta di pelukannya. Sinta sangat terkejut dengan perkaluan Bima.
“Sinta! Ini Mak–an siangnya!” Rama memotong perkataannya saat melihat kekasihnya di peluk oleh pria lain.
*
*
*
*
Jangan lupa Like, Vote, dan Rat bintang 5nya ya...
Dari awal nih hubungan manis mulu, kasih bumbu-bumbu konflik lah ya. Jangan kaget, episode-episode selanjutnya Rama dan Sinta akan di uji.
__ADS_1
Stay tune gusy!😘
TBC😘