
Budayakan Like Sebelum Baca🍻
Sebelumnya minta maaf, karna author upnya lama. Author juga tidak tahu akhir-akhir ini mengalami riview lama. Mohon di mengerti, dan jangan bosan menunggu. Ikuti terus kisah kucing-kucingan Rama & Sinta❤
****
"Ram...?"
"Hmm"
"Ram...?!"
"Hm?"
"Rama...!!!"
"Apaan sih?!" Rama menatap jengkel, Sinta sedangkan yang di tatap tak kalah jengkel. "Kenapa sih? Kalo mau ngomong ya ngomong aja, jangan cuma manggil nama doang!" imbuh Rama
"Lagian lo, gue panggil cuma di bales hmm, hmm, hmm. Apaan tuh hmm?" Rama yang mendengar gerutu Sinta hanya memutar bola mata malas
"Udah sekarang kenapa?" Sinta terdiam lalu bersuara
"Lo gak capek?" Rama terdiam mendengar pertanyaan, Sinta dan hal selanjutnya Rama malah tertawa.
"Capek? Hahaha, gue lo itu gak ada apa-apanya. Gue udah pernah ngangkat beban yang lebih berat dari lo, udah lo diem aja jalanan masih jauh, kaki lo juga masih sakit kan" Sinta tertegun mendengar penuturan Rama
"Baik juga nih, Tentara songong," batin Sinta
Rama, yang sadar Sinta hanya diam mendongak kebelakang. Matanya langsung menatap manik milik, Sinta
"Kenapa kok diem? Kalo mau muji baik gak usah di batin, omongin langsung aja orangnya ada di depan" Sontak saja perkataan, Rama membuat Sinta kesal. Sinta pun menoyor jidat Rama agar menjauh
Sedangkan, Rama hanya terkekeh melihat respon Sinta. "Lo itu bisa gak sih menurunkan kadar kepercayaan diri lo?"
Rama, hanya tersenyum mendengar ucapan Sinta, "Udah akuin aja kalo gue emang baik seperti malaikat"
Sinta yang mendengar hanya memutar bola mata jengah. "Kalo lo malaikat gue udah pastiin, lo malaikat pencabut nyawa!" ketus Sinta
Rama, yang mendengar lagi-lagi tertawa, "Boleh juga tuh, entar gue jemput lo duluan deh" mata Sinta mendelik mendengar balasan Rama. Sinta pun menarik rambut Rama karna kesal
"Awwwhh, lepasin sakit tahu!" bohong Rama. Padahal jambakan Sinta tidaklah beneran
"Lebay banget sih lo, orang gue nariknya gak kenceng!" Rama masih berpura-pura dengan menahan rasa sakit
"Gue laporin lo nanti, dengan kasus penganiayaan!" Sinta melebarkan matanya mendengar ucapan Rama
"Emang dasar lebay lu"
Rama, tidak menjawab dan malah tersenyum. Perjalanan kini hening, Sinta sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Sinta, akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di bahu kiri, Rama
__ADS_1
Rama, yang sadar Sinta tak bersuara itu menoleh ke kiri. Kali ini Rama dapat melihat wajah, Sinta sangat dekat. Matanya tertutup, dan terlihat tenang
Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibir, Rama. "Cantik juga kalo lagi tidur," Rama yang sadar dengan gumamnya itu lansung menggelengkan kepala pelan
Lalu, Rama kembali melakukan perjalanan. Jalanan semakin susah, harus menaiki bebatuan yang licin. Sinta membuka matanya perlahan karna meras ada guncangan
Sinta, bisa mendengar napas Rama ngos-ngosan. Sinta masih diam, tiba-tiba saja Rama menoleh kebelakang, matanya bersitatap langsung dengan mata hitam Sinta. Hal, itu membuat jantung Sinta tak karuan
"Kok lo bangun?" suara Rama membuyarkan lamun, Sinta
"Emm, A--apa?" Sinta, malah tergagap karna jujur saja dia sangat gugup
"Emmm, kalo capek kita istirahat aja" Rama mengangguk, lalu menurunkan Sinta
Mereka duduk di batu besar. Sinta, mencoba mengelus kakinya yang sakit. Bayangkan saja, mata kaki kalian tersandung. Rasanya hiks hiks sakit, author sendiri pernah mengalami. Jadi jangan maido Sinta!
"Masih sakit?" Sinta mendongak menatap asal suara
Rama, menatap Sinta. Lalu, tangannya meraih kaki Sinta. Di letakanlah kaki, Sinta di paha Rama
"Eh, kaki gue mau lo apaain?" nada Sinta kian meninggi
Sedangkan, Rama hanya berekpreksi datar. "Udah diem aja, gue mau coba urutin"
Sinta, langsung menggeleng kuat, "Enggak kalo lo yang urutin bisa-bisa nambah sakit lagi"
Rama tidak memperdulikannya, dan tetap mengurut kaki Sinta secara perlahan-lahan
"Berisik!"
****
Pasukan yang dibawa, Satria masih sibuk untuk mencari keberadaan Rama dan Sinta.
Saat, ini mungkin harga diri Satria sebagai laki-laki tengah di pertaruhkan. Satria, sudah terlanjur berjanji kepada Jendral Kevin winata, untuk mengawasi Sinta dan menjaganya. Menurut, Satria laki-laki yang di pegang itu omongannya, hanya laki-laki banci yang memberikan embel-embel janji. Namun, esoknya pura-pura lupa dengan omongannya sendiri
Jika tidak yakin tidak usah mengucap janji, ketahuilah kecewa itu lebih menyakitkan - author
"Tetap telusuri sungai! pasti Rama mengikuti aliran sungai!" para prajurit hanya patuh mendengar teriakan, Satria
"Sat, kok lo yakin banget Rama bakal ngelewatin sungai? Dia kan gak pernah tugas di hutan ini" Satria menoleh ke kiri mendengar ucapan Rednan
"Rama, itu orang yang cerdas. Dia tahu di dekat barak ada sungai, jika Rama mengikuti aliran sungai dia pasti akan sampai ke barak!" Rednan mengangguk menanggapi jawaban tegas Satria
"Kenapa lo khawatir banget pas tahu, Sinta ilang?" tanya Rednan kembali
Satria, hanya bisa mengusap wajah kasar. "Gue udah terlanjur janji sama, Pak Jendral. Gue udah janji untuk menjaga dan mengawasi, Sinta. Tapi sekarang? gue udah kehilangan orang yang harus gue awasi"
"Yaudah, kita cari aja. Semoga, Rama emang mengikuti aliran sungai" Rednan menepuk pundak Satria lalu melanjutkan pencarian
__ADS_1
Dan, benar saja setelah lamanya mereka berjalan. Para prajurit itu dapat melihat lampu-lampu yang berasal dari barak
Pandangan, Rednan dan Satria jatuh kepada ketiga gadis, salah satu gadis sedang terluka dan kedua gadis tengah panik
Satria langsung berlari mengarah ketiga gadis itu, "Sinta kamu gakpapa?" napas Satria ngos-ngosan. Namun, dirinya lega melihat Sinta kembali
"Gakpapa kok" jawab Sinta cuek
"Huh, syukurlah" Satria hanya bisa mengucap puji syukurnya. Setidaknya, Namanya tidak buruk di mata, Pak Jendral
"Sin, lo gakpapakan? ada yang luka?" Rednan langsung mengecek setiap inci tubuh, Sinta
"Gue gakp--"
"Gakpapa kok, cuma kakinya keseleo" celetuk Rama yang tiba-tiba datang. Dengan, santai Rama menyeduh wedang jahe hangat yang dirinya buat
"Rama, lo gakpapa?" tanya Satria khawatir
Rama, tersenyum tipis. "Gue sih gakpapa, cuma ya punggung sedikit pegel. Makhlum habis gendong karus beras"
Sontak saja jawaban, Rama membuat Sinta kesal. Sinta, pun langsung menatap tajam Rama
"Heh, siapa yang lo maksud karung beras?!!" Rama malah mengangkat bahunya menanggapi pertanyaan ketus Sinta
"Mas rama..." Sapa, Nana mendekat
"Loh, Nana. Kamu belum tidur?" Rama kini bertanya dengan, Nana
Gadis itu hanya tersenyum, "Nana gak bisa tidur, pas tahu kabar Mas rama hilang dihutan"
Sinta yang mendengar terasa ingin muntah. "Tentara hilang dihutan wajar kale, gak usah lebay deh!" Nana menatap sinis Sinta yang bersuara
"Nana, denger tadi. Mas rama sakit punggung ya? Andai aja, Mas rama gak ikut ke kelinik, mungkin Mas rama gak akan sakit punggung" Nana mengelus lembut punggung Rama
"Gakpapa kok cuma pegel aja" jawab Rama dengan senyum manis
"Gak usah lebay, katanya Tentara. Masak ngangkat karung beras aja pegel, dan meskipun kaki gue sakit seenggaknya gue balik membuahkan hasil dengan membawa obat-obatan!" Nana menggeram menahan marah mendengar sindiran Sinta
"Balik ke kamar yuk, mey!" Assiten pribadi Sinta itu mengangguk, dengan sigap membantu Sinta bangkit
Sinta, berdiri di depan Rama. "Thanks" ucapan singkat itu terlontar dibibir, Sinta setelah itu Sinta pergi bersama Meyga
Rama, terdiam menatap punggung Sinta yang menjauh, "Udah mending lo istirahat, ram" lamun Rama buyar karna tepukan di pundak. Rama, menoleh ternyata itu adalah Satria
"Soal pemburu liar it--?"
"Besok aja!" potong Satria
Mereka pun berpisah kembali ke kamar masing-masing
__ADS_1
TBC🍻