
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Sinta saat ini masih merenung di mobil. Dia belum beranjak pergi dari rumah, Rama. Sinta menyesal! Sinta menyesal karna mengatakan hal yang seharusnya, tidak dia katakan.
Kenangan-kenangan dimana dirinya tertawa dengan, Rama berputar di otaknya. Sinta merindukan semua itu, merindukan saat dia di goda Rama, merindukan saat Rama bersikap manja, saat Rama yang galak, dan lain-lain.
Dari balkon Rama juga mengamati mobil Sinta. Rama tidak menyangka hubungannya akan hancur, semua ini hanya karna permintaan konyol kakek sialan tersebut!
Rama sangat sedih melihat Sinta yang terus menangis. Rama tidak ingin ini semua berakhir, Rama pun tidak ingin bersanding dengan wanita selain Sinta. Baginya saat ini hanya Sintalah satu-satunya.
Mungkin dulu, Nana adalah gadis yang paling menarik untuk Rama. Namun, saat ini gadis yang paling dicintai Rama hanyalah Sinta.
Tak lama kemudian, mobil Sinta berjalan. Di susul datangnya mobil BMW Hitam keluaran terbaru.
Rama mengernyitkan dahi melihat mobil tersebut. Rama langsung keluar dari kamarnya.
Saat sampai di bawah, Rama tidak bisa menyembunyikan keterjutannya.
“MARCUS?!”
“Hay Rama!”
Rama langsung memeluk Marcus. Pria berdarah Italia tersebut adalah sahabat Rama selama menjadi Tentara bayaran Blackwater.
Selama 6 tahun Rama dan Marcus terpisah. Dan saat ini tiba-tiba datang tamu tak di undang.
“Marcus!! Astaga... Where have you been?”
Marcus tampak tertawa kecil dengan keantusiasan sahabatnya tersebut. “Aku? Ya, aku meneruskan pendidikanku. Kau tahu? Aku harus menjadi penerus Keluarga, dan kau? Wow! Letnan Rama hahaha,” ujar Marcus dengan tawanya yang lebar. Rama hanya kembali memeluk sahabatnya yang dia rindukan, baginya hidup di pertempuran itu adalah sebuah tantangan. Dimana tidak ada orang yang bisa di percayai, dan hanya Marcuslah yang Rama percayai.
Rama langsung mengajak Marcus untuk duduk bersama. Mereka berbicara dengan bahasa inggris, karna Marcus pun belum handal dalam bahasa Indonesia.
“Bagaimana kau tahu rumahku, Marcus?” tanya Rama yang merasa heran.
Marcus tersenyum tipis mendengarnya. “Siapa yang tidak tahu kediaman, Keluarga Zalora Group. Ayahmu terkenal di Eropa.”
Rama tertawa mendegar ucapan Marcus. Rama bercerita dan tertawa, Rama bahkan melupakan masalahnya dengan Sinta.
Tak lama Aletha tiba, Aletha yang merasa asing dengan Marcus langsung di perkenalkan oleh Rama.
“Introducing, this is my mother. Mother Aletha,” ujar Rama memperkenalkan Aletha. Aletha hanya memberi senyuman tipisnya
__ADS_1
“Wow! I am Marcus, Rama's best freind!” Marcus juga memperkenalkan dirinya.
Marcus adalah pria tampan, dengan wajah Italia yang kental. Pria berbadan tinggi itu membungkuk hormat kepada Aletha.
Aletha membalasnya, Aletha lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan makanan ringan sebelum makan malam.
Rama mengajak Marcus berkeliling rumahnya. “Ini sangat memukau! Gucci ini sangat langka di Italia,” Marcus menunjuk salah satu Vas Gucci berwarna biru laut yang berada di atas meja.
“Rumah ini penuh dengan barang-barang kuno yang antik! Apa kau suka mengkoleksinya, Asof?” tanya Marcus kepada Rama.
Rama menggelengkan kepalanya menanggapinya. “Tidak! Benda-benda ini sudah ada sejak zaman nenek ku dulu. Bundaku bilang ini peninggalan, Nenek dan Kakek. Namun, sayangnya mereka sudah meninggal, Huh... Padahal mereka mempunyai cucu yang sangat tampan.”
Marcus tertawa mendengar celoteh Rama. Mereka pun pergi ke dapur dan duduk di meja makan.
Tak lama Yusuf tiba dari bekerja. Mereka lalu duduk bersama bersiap makan malam. Sesaat, Rama mengingat Sinta yang pernah berada di posisi Marcus, namun Rama menggelengkan kepalanya agar lupa.
“Ayo dimakan, Marcus!” ujar Yusuf dengan senyum hangatnya.
Mereka lalu makan dan tertawa. Namun, entah apa! Marcus tersenyum, dengan senyuman yang tidak bisa di artikan!
****
Malam ini adalah malam kepatah hatian Sinta. Malam dimana air mata tumpah berkali-kali, sebagian orang pasti pun aku menangis seperti Sinta.
Sejak pulang dari rumah Aletha. Sinta belum makan malam, jika di tanya Mamanya, Sinta akan menjawab “Sinta sudah makan di cafe.”
Sinta memilih mengurung diri di kamarnya. Sinta bahkan menyetel musik menggunakan Soundnya. Lagu-lagu patah hati Sinta putar.
Tissue-tissue berserakan, sedangkan Sinta terus saja menggeser-geser foto-fotonya dengan Rama.
Sinta bahkan ikut bernyanyi, dengan air mata yang terus menetes. Jika di lihat, Sinta lebih mirip anak ABG yang di putuskan pacarnya, untuk gadis 20 tahun seperti Sinta, pasti dia akan di tertawakan teman sebayanya.
Tok... Tok... Tok..
“Sinta...!!! Buka pintunya!!”
“Musiknya kecilin!!!”
Tok... Tok.... Tok
Ketukan pintu berulang kali terdengar. Dengan terpaksa Sinta mematikan musiknya, Sinta lalu mencuci wajahnya. Sinta juga membungkus tubuhnya di selimut.
Ceklek
Sinta lalu membuka pintunya, ternyata Papa dan Mamanya berada di depan kamarnya.
“Sinta, Kamu sakit?” tanya Kevin yang merasa khawatir.
Sinta hanya menggelengkan kepalanya lemas. Sinta lalu kembali ke ranjangnya dan merebahkan kembali tubuhnya.
Kevin dan Tari melongo melihat keadaan kamar anak gadisnya. Sinta yang bernotabane seorang Dokter itu tahu betul tentang kerapian, namun saat ini. Kamar Sinta lebih mirip kapal pecah.
“Astaga, Sinta...!! Ini kamar, apa kapal pecah?” omel Tari yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Sedangkan Kevin lebih memilih duduk di samping Sinta. Kevin juga menyetuh dahi Sinta.
“Kamu kenapa, Nak? Kamu sakit?”
Sinta lagi-lagi menggeleng. “Ak–ku gakpapa, Pa. Cuma sedikit pusing, tadi juga udah minum obat,” jawab Sinta berbohong, padahal saat ini kepalanya begitu pusing karna kebanyakan menangis.
Tari lalu ikut mendekat ke arah Sinta. “Kamu sudah makan beneran?” tanya Tari mengintimindasi.
Sinta menganggukan kepalanya sembari menunduk. Namun, batin sang Ibu tetaplah kuat. Tari tahu jika putrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
Tari lalu pergi untuk ke dapur. Tinggal Kevin dan Sinta.
“Cerita sama, Papa. Kamu ada masalah apa?”
Sinta menghela napas kasar, “Sinta patah hati, Pa!” akhirnya bibir Sinta mengeluarkan suara.
“Patah hati terus kamu ini. Cerita sama, Papa. Siapa yang udah bikin anak, Papa sampai galau parah kaya begini.”
“Ini juga karna Sinta, Pa. Sinta yang udah sakitin, Rama.” ujar Sinta yang belum sadar telah menyebut nama kekasihnya itu.
“Rama? Kamu jadi beneran suka sama anak itu” Kevin langsung mengeluarkan suaranya dengan antusias.
Sinta menepuk bibirnya, padahal rencananya dia ingin memperkenalkan Rama langsung kepada, Papanya. Meskipun sudah saling mengenal.
“I—Iya, Pa. Sinta udah nyakitin, Rama.” Sinta mulai curhat dengan, Papanya tersebut. Karna sangat jarang bagi Sinta, mengingat Papanya yang selalu sibuk.
Kevin tidak banyak berkomentar kali ini. Jika mendengar cerita Sinta, Rama sangat mencintai Sinta, pikir Kevin.
“Hiks... Hiks... Si—sinta udah ngomong putus, Pa.”
Kevin tersenyum dan mengusap rambut putrinya tersebut, “Sudah gakpapa! Masih banyak laki-laki yang lebih tampan dan mapan dari, Rama. Besok, Papa kenalin sama anak tema—”
“Tidak! Sinta gak mau di kenalin. Sinta cuma mau cinta sama, Rama. Ya, meskipun Sinta besok ujungnya gak nikah sama Rama,” Sinta tiba-tiba memotong pembicaraan Kevin. Karna, Sinta pun tak mau jika harus mengenal orang baru. Pikir Sinta pun, Sinta hanya ingin Rama menjadi yang terakhir.
“Tap—”
“Makan malam sudah datang!” dari arah pintu. Tari datang dengan makanan yang selurugnya kesukaan Sinta.
Tiba-tiba saja perut Sinta merasa lapar, karna makan hati pun tidak membuat kenyang.
.
.
.
.
.
.
“Aku tetap aku akan mencintaimu, biarlah aku yang tersakiti, melihatmu bahagia itu sudah cukup bagiku.” — Deswina Sinta Winata
__ADS_1
TBC😘