
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
****
Malam itu, Rama mengantar Sinta untuk pulang. Rama menyetir mobil Sinta, sedangkan Sinta duduk di samping kursi kemudi.
Mereka masing saling diam, dengan memecah keheningan Rama memutar musik.
Rama tidak membawa Sinta untuk segera pulang. Namun, Rama menghentikan mobilnya di jembatan yang malam itu ramai untuk sekedar melepas penat, dengan melihat kota di malam hari.
Rama pun keluar lebih dulu dari mobil, Sinta pun mengikuti saja. Mereka lalu berdiri di dekat pembatas jembatan, mereka menatap lalu lalang kendaraan, dan lampu-lampu kota.
“Kamu kecewa nggak sama aku?” pertanyaan Rama memecah keheningan Sinta.
Sinta menoleh menatap Rama. “Kenapa aku harus kecewa? malahan aku yang selalu membuat kamu kecewa.”
“Mungkin saat ini belum, tapi besok mungkin.”
Sinta menghela napas sebelum berbicara. “Kamu tahu? kamu pasti akan kecewa, selama 6 bulan ini aku masih gagal membatalkan perjodohanku dengan, Kak Satria.”
“Aku nggak kecewa kok,” ucap Rama dengan mengadahkan kepalanya, menatap gemerlap bintang dengan bulan yang berada di langit malam itu.
“Bagaimana bisa kamu tidak kecewa? usahaku sia-sia,” Sinta membuang napasnya kasar.
“Tidak apa-apa, Tuhan belum mengizinkan kita berhasil. Di ujian berikutnya nanti, mungkin akan lebih berat dari ini.”
“Kamu tetap akan mencintaiku, Rama?”
Rama menoleh ke kiri menghadap Sinta, di tatapnya dalam wajah gadis yang sangat Rama cintai.
“Sampai kapan pun!”
Sinta menatap sendu Rama, Rama pun membalas tatapan Sinta. “Tidak perlu takut, aku tidak akan meninggalkanmu, Sinta. Sekali ku genggam tidak akan ku lepaskan,” Rama berucap seolah tahu dengan ketakutan Sinta.
Air mata Sinta tiba-tiba menetes tanpa izin, Sinta pun langsung memeluk erat Rama. Sinta memeluk Rama dengan erat, seolah takut untuk kehilangan pria yang saat ini mengobrak-abrik jiwanya.
Rama dengan lembut mengusap kepala Sinta.
CUP
Rama lalu mencium pucuk kepala Sinta lama dengan memejamkan mata
“Jangan lelah berdoa, Sinta. Berdoalah agar kamu dan aku menjadi kita!”
Sinta lalu melepaskan pelukannya, Sinta menatap sendu Rama yang wajahnya tersinari oleh sinar bulan.
“Aku tidak akan lelah berdoa, aku akan selalu berdoa agar Tuhan merestui kita!” ucap Sinta dengan yakin. Rama tersenyum lebar mendengarnya, dengan lembut Rama kembali mengusap kepala Sinta.
Diraihnya tangan Sinta, di genggamnya kuat tangan Sinta. “Ayo kita taklukan tantangan ini!”
Sinta yang mendengar ucapan Rama, hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun kembali lagi ke mobil, karna hari pun juga mulai larut.
Sepanjang perjalanan Sinta terus berceloteh, menceritakan bagaimana sedihnya dia tanpa Rama. Rama pun juga menceritakan, bagaimana tersiksanya dia tanpa Sinta.
__ADS_1
Namun, waktu seolah berputar dengan cepat. Tanpa sadar mereka sudah sampai di komplek kemiliteran.
Rama pun dengan sengaja memarkirkan mobil Sinta sampai dalam. Rama ingin langsung menemui Kevin.
Dan benar saja, Kevin menghampiri Rama dan Sinta yang hendak berjalan menuju pintu utama.
“Maaf, sebelum Om marah-marah. Saya disini hanya mengantar Sinta, saya tidak ada maksud apa-apa,” Rama menyela Kevin yang sepertinya hendak mengomeli Sinta.
“Ini bukan salah Rama, Pa. Tadi, Sinta nggak sengaja nabrak, Rama. Sinta obatin Rama, Sinta juga anterin Rama pulang, Sinta juga kangen sama Bunda. Sinta ngobrol-ngobrol doang kok sama Bunda!” Sinta pun juga menyahuti ucapan Rama. Kevin pun hanya bisa menghela napas mendengar seluruh ucapan Rama dan Sinta.
“Baiklah hari ini, Papa maafkan kalian!”
Rama dan Sinta saling berpandang mendengar ucapan Kevin. Mereka tentu tidak menyangka jika Kevin dengan mudah memaafkan, padahal yang Rama ketahui Kevin tidak menyukainya, tanpa mengetahui alasannya.
“Terimakasih, Om. Saya pamit pulang!” Rama pun mencium punggung tangan Kevin.
Setelah perginya Rama, Sinta langsung masuk kerumah disusul Kevin di belakang.
“Papa udah sukakan sama, Rama?” Sinta tiba-tiba menghentikan langkahnya dan bertanya kepada Kevin.
“Papa cuma mau ngasih keringanan aja. Tapi perjodohan kamu dan Satria akan tetap terjadi!”
Sinta yang mendengar hanya bisa memutar bola mata malas, Sinta pun pergi meninggalkan Kevin. Kevin pun hanya bisa menghela napas melihat tingkah putrinya.
“Maafkan, Papa! Ini semua salah Papa, Sinta. Semoga Rama masih mau memperjuangkanmu.”
****
Hari ini Rama dan beberapa Tentara lainnya sedang melakukan rapat. Mereka semua memasang wajah serius saat membahas topik rapat kali ini.
“Baiklah penyerangan akan kita lakukan malam jumat!” Rama pun memfinal rapat sore itu.
Semua yang berada diruangan itu setuju. Rama dan Rednan lalu pergi keruangan persenjataan, mereka menyiap-nyiapkan segala kebutuhan untuk penyerangan.
Rama bahkan menyiapkan dengan matang, rencana-rencana untuk melumpuhkan mafia-mafia itu.
TING
Satu pesan masuk kehandphone Rama, Rama pun membaca pesan dari Sinta.
📩 Sinta
“Temui aku selepas kerja di Caffe X. Ada yang ingin aku bicarakan.”
📩 Rama
“Baiklah, aku akan telat 10 menit.”
Rama dan Rednan memfokuskan untuk melanjutkan merakit Bom, selama 5 bulan Rama berlatih hanya untuk menciptakan Bom yang bisa aja menghancurkan siapa pun!
Tak terasa jam sudah menunjukan waktu pulang.
“Gue duluan ya, Red!” Rama pun segera meninggalkan Kantor TNI AD.
Rama mendatangi Caffe tempat janjianya dengan Sinta. Sesampainya disana Rama langsung mencari Sinta, tak butuh waktu lama Rama menemukan Sinta yang duduk di meja pojok dekat jendela.
“Maaf aku lama!” Rama lalu menarik kursi dan duduk di depan Sinta.
“Aku juga baru nyampe kok, gimana hari ini?”
Rama menghela napas sebelum menjawab. “Seperti biasa misi-misi rahasia, rapat, pelatihan. Intinya melelahkan, bagaimana hari mu hari ini, Sinta?”
“Ya sama kaya kamu, melelahkan!” jawab Sinta dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
Rama lalu memesan makanan, mereka pun memakan, makanan ringan. Sembari bertukar-tukar cerita, mereka berdua menikmati sore di Caffe.
Kring... Kring... Kring
Dering ponsel mengalihkan perhatian Rama, Rama lalu melihat layar ponselnya. Nomer tak di kenal telah menghubungi Rama.
“Aku angkat telpon dulu, Ya!” Rama pun pergi ke kamar mandi untuk mengangkat telpon dari nomer tak di kenal itu.
Rama pun mengangkat panggilan telpon itu.
“Hallo, Rama?”
Deg!
Rama kembali mendengar suara itu, suara seseorang yang 6 bulan yang lalu dia dengar!
“K—kau? Apa yang kau mau?”
Terdengar suara tawa dari ujung telpon. “Hahahaha.... Ternyata kau memiliki ingatan yang kuat! Temui aku di Gedung XZ malam jumat besok, jika kau ingin melihat siapa lah dalang dari hancurnya hidupmu Hahahaha....”
Tuttt.... Tuttt.... tuttt
Panggilan tiba-tiba terputus. Rama berdecak kesal dibuatnya, namun sesaat Rama mengingat!
Malam jumat besok adalah penyerangan Cosa Nostra di gedung XZ.
“B—bagaimana ini bisa sangat kebetulan? Jangan-jangan? Ya ini pasti Cosa Nostra!!” Rama mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal kuat.
Tiba-tiba, Rama menyeringai sinis. “Ini akan menarik, hutang 1 nyawa akan dibalas 1000 nyawa!!”
Setelah lama berada di toilet Rama lalu kembali untuk menemui Sinta.
“Siapa yang nelpon?” tanya Sinta sembari meminum jus anggurnya.
“Rahasia dong!”
“Ck. Mainnya rahasia-rahasiaan!” Sinta pun berpura-pura kesal dengan mencibirkan bibirnya.
Dengan gemas Rama mengusap rambut Sinta, dan tentu kejadian itu membuat iri beberapa pengunjung Caffe yang memperhatikan ke uwuan tersebut.
“Udah ayo pulang!”
Sinta kembali berdecak kesal. “Ck. Ngapain ajak-ajak aku pulang, ujung-ujungnya kita pisah, aku naik mobil kamu motor!”
Rama menghela napas, Rama pun bangkit dari duduknya. Rama lalu mencari manager Caffe itu, Rama pun menitipkan mobil Sinta kepada pihak Caffe.
Dan, saat ini Rama dan Sinta kembali menikmati senja di kota.
“Aku tidak tahu ternyata bahagiaku begitu sederhana. Menikmati saat-saat seperti ini, dan terulang kembali cukup membuatku merasa bahagia, Terimakasih Rama!”
.
.
.
.
.
.
TBC😘
__ADS_1