RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 60


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Sudah selama 1 jam Sinta menonton film hollywood yang di putar di laptop Rama. Sinta saat ini merasakan surga dunia!


Hanya rebahan di ranjang, dengan camilan banyak, free wifi, dan menonton film kesukaan.


“Rama bodoh banget sih! punya rumah dinas nyaman kaya gini malah gak pernah di pake,” Sinta sedari tadi menggerutu, karna merasa heran dengan pacarnya tersebut. “Besok kalau udah nikah, gue tinggal disini aja lah! Astaga...Hahaha!” Sinta lalu mengerutuki dirinya sendiri, dengan ucapannya.


Sinta lalu melanjutkan menonton film hollywood, bergenre Action dan Romantis. Yang berkisah tentang Agent rahasia dan mafia.


“Cuma di film sama novel doang mafia wajahnya ganteng!” Sinta lalu mengomentari, pemeran pria yang berperan menjadi mafia berdarah dingin.


Tiba-tiba saja, Sinta merasa perutnya kembali kram. Sinta lalu mematikan laptopnya


“Aduh... Rama lama banget sih!”


Sinta lalu keluar dari kamar Rama, Sinta berjalan menuju dapur. Sinta lalu meneguk segelas air dingin, namun ternyata hal itu tidak mengurangi rasa sakit di perut Sinta.


Sinta lalu keluar dari rumah dinas Rama. Beberapa tetangga, Rama tengah menjemur pakaiaan, ada yang saling mengobrol satu sama lain.


Sinta lalu duduk di kursi yang ada di depan rumah Rama. Sayup-sayup Sinta mendengar desas desus Ibu-ibu, istri-istri Tentara itu.


“Kayanya sih, calonya Pak Rama.”


“Hah?! Masa iya, cantik banget calon istrinya, Pak Rama.”


“Iya bener tadi, Pak Rama bilang suruh nyamperin dia kalau butuh apa-apa gitu!” lanjut si mama muda lainnya.


Sinta yang merasa jadi bahan omongan itu, mendekati sekumpulan Ibu-ibu muda itu.


“Kakak-kakak ngomongin saya ya?”


Sekumpulan mama-mama muda itu terkejut mendengar suara Sinta. “Eh— kamu Sinta ya? Kenalin, saya Mbak Naila. Tadi Rama nyuruh saya untuk jagain kamu,” ucap seorang wanita muda yang perutnya sudah mulai membuncit.


“Ohh iya saya, Sinta. Salam kenal, Mbak!” Sinta pun mulai berkenalan dengan Ibu-ibu tersebut.


Sinta yang memang orangnya supel itu, menjadi mudah bergaul. Sinta lalu ikut bergabung untuk cerita-cerita.


“Kamu calon istrinya, Pak Rama yaaaa?” goda Bu Nia yang paling tua.


Sinta tertawa kecil mendengar ucapannya. “Ahh belum, Bu. Saya masih lanjutin pendidikan saya,” jawab Sinta malu-malu. Bu Nia dan lainnya hanya tertawa kecil melihat tingkah Sinta.


“Tapi tadi, Rama pesennya suruh jagain Calon istri gitu!” Mbak Naila lalu menambahi, mereka pun gencar menggoda Sinta.


Namun, tiba-tiba perut Sinta kembali kram. Sinta pun memegangi perutnya, Sinta juga memeremas bajunya.

__ADS_1


“Kenapa, Sinta?”


Ibu-ibu mulai panik dengan Sinta, karna tiba-tiba keringat dingin pun muncul di dahi Sinta.


“Saya gakpapa kok, cuma lagi PMS aja, jadi begini,” ucap Sinta yang masih meringis, menahan sakit di perutnya.


“Kamu suruh beliin jamu, Rama aja! Di dekat kantor ada kok yang jual jamu untuk datang bulan,” Mbak Yeni pun ikut menyarankan jamu untuk Sinta. Sinta hanya mengangguk-anggukan kepala.


“Saya tadi udah telpon, Mbak. Nanti 1 jam lagi, Rama juga udah pulang. Makasih ya!”


Setelah merasa perut Sinta sudah agak enakan, mereka melanjutkan acara ngobrol ngalur ngidul. Biasalah ibu-ibu, kalau pagi sarapannya nggibah


“Eh, Teh Nia! Itu siapa cantik banget?” tiba-tiba datang beberapa pria berperawakan tinggi, pria-pria itu menunjuk Sinta yang memang paling muda.


“Ini adekku, kalian mau apa?!” Bu Nia langsung memasang wajah galaknya.


Para pria tadi yang umurnya tak jauh beda dari Sinta cekikikan. “Galak bener deh, Teh! Kalau punya adek cantik, ya kenalin lah sama saya. Saya udah umur 25 masih jomblo nih!”


“Yaudah nih adekku, calon istrinya Letnan Rama!”


Glek!


“Ng—gak jadi, Teh!”


****


“Marcus?”


“Ya, Rama ini nomerku!” seru Marcus diujung telpon.


Rama menghela napas lega mendengarnya. “Oh astaga, kita lupa bertukar nomor!”


“Ya aku sedang berada di Kantor, apa kau butuh bantuan?”


Marcus yang berada di sebrang telpon menggelengkan kepala. “No, aku hanya ingin kau menyimpan nomorku. Oh ya sudah aku tutup telponnya, bye!”


“Oke, bye!”


Tutt... Tutt... Tutt..


Rama lalu memasukan ponselnya di saku, namun sejenak Rama berdiam. “Kenapa gue kaya pernah denger suara itu? sebenarnya apa tujuan Marcus kembali,” batin Rama.


Rama lalu melanjutkan perjalanannya menuju ruangan rapat


tok... tok... tok..


Setelah mengetuk pintu, Rama lalu masuk ke ruangan rapat. Beberapa orang sudah berada di ruangan rapat.


Rapat pun di mulai sebagaimana mestinya, Rapat yang berlangsung selama 1 jam itu pun ditutup dengan ngobrol-ngobrol ringan.


Sampai tinggalah Rama, Satria, dan Ryan. Rama pun menceritakan, apa yang terjadi dengan dirinya semalam.


Teman-teman, Rama terkejut mendengar cerita itu. “Huh! Gue kira tuh mafia gak bakalan nongol lagi, ternyata mereka masih ngincer lu!” sahut Ryan dengan antusias.


“Mereka sekarang makin kuat aja, noh liat! Dagu sama jidat Rama udah dibuat lebam-lebam,” imbuh Satria yang ikut mengomentari keadaan Rama.


Rama berdecak kesal mendengarnya. “Sialan!” umpatnya.

__ADS_1


Satria dan Ryan terkekeh melihat Rama yang kesal. “Bro gue juga mau cerita nih!” ucap Satria dengan wajah yang mulai serius.


Rama menaikan satu alisnya, menunggu cerita Satria. Sebelum bercerita Satria menarik napas terlebih dahulu.


“Gue di jodohin!” akhirnya kata-kata yang Satria tahan, terucap di depan teman-temannya.


Sedangkan, Rama dan Ryan tidak bisa menyembunyikan keterjutannya.


“HAH?!”


Dan, selanjutnya Rama dan Ryan menertawai Satria, yang sudah memasang wajah kesal.


“Hahaha... What?! Di jodohin? jaman sekarang masih aja jodoh-jodohan, Haha... lo sih, Sat! Makanya cari cewek,” sahut Ryan dengan tawanya yang keras. Memang Ryan sudah mempunyai Istri, diusianya yang menginjak 32 tahun.


“Wah gakpapa sih, Bro! Lu juga gak punya pacar, gakpapa deh terima aja perjodohannya. Gue tahu bokap lo itu udah milih orang yang tepat, dan juga bukan orang sembarangan!” imbuh Rama, yang ikut meledek Satria.


Sedangkan, Satria hanya bisa menghela napas lesu. “Tapi gimana yah... gue kan belum tahu siapa yang bakal di jodohin sama gue, gue heran deh sama bokap gue, masih aja gitu ngikutin jaman siti nurbaya.”


Rama dan Ryan hanya terus tertawa, mendengar gerutu Satria. tertawalah, Rama dan nanti kamu akan menyesal! Hahaha


“Lah emang kenapa sih, Sat? Udah percaya sama gue, cewek yang bakal jadi istri lo ntar cantik! Percaya sama gue, bokap lu gak mungkin milih orang sembarangan!” ucap Ryan yang ingin meyakinkan sahabatnya itu, yang aslinya, Ryan tak ingin Satria terus saja melajang.


“Iya deh gue mau!”


Rama dan Ryan terkekeh kembali melihat wajah Satria yang tampak kesal.


Kring... kring... kring...


Dering ponsel menghentikan tawa mereka. Rama lalu merogoh handphonenya di saku, sebuah panggilan via telpon dari Sinta.


“Hallo, sayangku?” sapa Rama yang memang sengaja ingin menggoda Sinta dan Satria.


Satria yang mendengar bergidik seolah jijik, sedangkan Sinta yang di sebrang telpon melotot mendengarnya.


“Udah deh gak usah bercanda! ini udah 2 jam, cepet pulang! jangan lupa pesanan aku!”


Rama menelan ludah mendengar suara Sinta yang galak. “Iya honey! Aku beliin kamu jamu, mau ras—”


“CEPET PULANG!”


tutt... tutt... tutt...


Belum sempat Rama menyelesaikan ucapannya, telpon pun sudah di tutup sepihak. Satria dan Ryan yang memang mendengar percakapan itu tertawa mengejek Rama.


“Jiahhh, ada yang dicariin bininya nih,” sindir Ryan kepada Rama, yang masih kesal karna panggilannya di tutup Sinta sepihak.


“Sinta lagi PMS aja udah nyeremin kaya gini, gimana besok kalau jadi bini gue? bisa-bisa gue mati sebelum perang. Fyuhhhh...”


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC😘


__ADS_2