
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
.
****
Hari ini adalah yang paling dinanti. Yaitu, hari pernikahan Rama dan Sinta. Semua sudah diatur dengan rapi, meskipun membutuhkan perjuangan. Menjadi, Istri seorang Tentara tidak semudah yang dipikirkan Sinta.
Banyak syarat dan ketentuan yang harus dilengkapi. Namun, karna keyakinan dan kegigihan, Sinta. Semua syarat sudah dipenuhi. Hanya tinggal mengucap ijab qabul saja.
Pernikahan, Rama dan Sinta digelar dipuncak. Dengan tema outdoor kejawa-jawaan. Janur kuning sudah melengkung, suara musik langgam jawa sudah terdengar.
Beberapa tamu undangan berdatangan. Mulai dari kalangan-kalangan macam-macam.
Rama, pria itu sudah menggunakan pakaiaan adat jawanya. Pria yang saat ini sedang berkirangat dingin itu masih menenangkan detak jantungnya.
“Ram, lu kenapa masih bengong? acara bentar lagi nih,” ucapan Rednan rupanya membuyarkan lamun pria tersebut.
Rama lalu menatap Rednan. “Gu...gue deg-degan, Red. Gue takut kalau nanti salah nyebutin ijab qabulnya.”
Rednan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya. “Rileks aja, tenang kalau udah jodoh tetep bakal sah kok.”
Tok... Tok... Tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiaan kedua pria itu. Rednan lalu mendekat kepintu dan membuka pintu tersebut perlahan.
Ceklek
“Eh, Bunda?” dan nampaklah Aletha. Wanita paruhbaya yang sudah menggunakan kebayanya.
“Rednan, boleh Bunda bicara dengan Rama?” tanya Aletha dengan suaranya halus dan lembut. Rednan pun mengangguk setuju tanpa menolak.
“Silahkan, Bun. Rednan juga mau keluar.”
“Makasih ya, Red!” Setelah memberi usapan dibahu Rednan, Wanita paruhbaya itu segera mendekati Putranya.
Aletha dan Rama lalu duduk berdua disofa ruangan tersebut. Aletha tersenyum dan tanpa sadar, air mata menetes karna memperhatikan Putranya.
“Bunda, kok nangis?” Rama dengan sigap mengusap lembut pipi Bundanya, wanita yang telah melahirkannya.
“Nak, Ayahmu sudah pergi. Bunda sekarang hanya punya kamu, dan Bunda sadar, kamu bukanlah anak kecil lagi. Kamu pria dewasa yang siap menikah dengan wanita pilihanmu. Nak, Bunda sangat bahagia melihatmu. Bahagiakan Istrimu, sayangilah Istrimu, perlakukan Istrimu sebagaimana kamu memperlakukan, Bunda.”
Air mata Aletha sudah tak tertahan, kini pipi itu sudah terurai deras oleh air mata. Begitupula, Rama. Pria itu tak menyangka jika air matanya menetes.
Rama, tiba-tiba berdiri. Dan bersujud dikaki, Bundanya. “Maafkan aku yang belum bisa membuat Bunda bangga. Bunda, Rama sangat minta maaf. Rama tidak bisa menjadi seperti, Ayah. Maafkan, Rama yang hanya menjadi beban, Bunda.”
Aletha menangis sembari mengusap kepala putranya. “Kamu sudah membuat Bunda sangat bangga, Rama. Saat ini kamu punya tanggung jawab, kamu dipercayai Keluarga Winata untuk menjaga, Sinta. Apapun masalah Keluargamu kelak, jangan kamu menyakiti Istrimu.”
tok... tok... tok
__ADS_1
Ceklek.
“Maaf menganggu, ijab qabul akan segera dimulai.”
Ucapan, dari anggota WO menghentikan tangisan Rama dan Aletha. Rama langsung bangkit dari duduknya.
“Pesan terkahir, Bunda. Jagalah hati dan mata. Jaga hati Istrimu, janganlah engkau mengeluarkan kata-kata menyakitkan. Jagalah mata Istrimu, agar tak meneteskan air mata terluka. Kamu sekarang punya tanggung jawab yang besar, Rama!” Tutur Aletha kembali dengan tangisan yang semakin deras. Rama lalu memeluk Bundanya dengan air mata yang menetes.
“Rama, akan berusaha menjadi yang terbaik, Bunda!”
Rama pun menghentikan tangisnya. Pria itu lalu menggandeng Bundanya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Perjalanan menuju tempat Ijab qabul terasa panjang untuk, Rama. Pria itu masih merasa deg-degan dengan apa yang akan dia hadapi.
“Huhh. Ternyata Tes mental pas pendaftaran Tentara lebih mendingan dari pada mau nikah,” ucap Rama didalam hati.
Sampailah Rama ditempat ijab qabul. Tempat yang sudah dihiasi oleh bunga-bunga yang cantik, segala hiasan telah dipasang.
Kini, Rama duduk berhadapan dengan penghulu dan wali Sinta, Papanya sendiri.
Kevin dengan tegas menjabat tangan, Rama. Rama pun membalas jabatan tangan tersebut.
****
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Deswina Sinta Winata binti Kevin Winata alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq,” dengan satu tarikan napas Rama berhasil mengucap ijab qabul.
“Bagaimana para saksi, sah?”
“Sah!”
“Allhamdulilah!” Semua saksi mengucapkan serentak puji syukur, dengan mengusapkan telapak tangan mereka kemuka.
Hal itu tentu mengundang gelak tawa yang melihat. Kini, Rama menjadi salah tingkah dengan perbuatannya. Pria itu lalu kembali duduk dikursinya.
Tak lama datanglah siapa yang ditunggu.
Gadis yang dulunya adalah musuh, Rama. Gadis yang sangat dia klaim bukan tipenya. Saat ini sangat cantik dengan kebaya putih, make up natural, serta sanggul adat jawa.
Kedatangan, Sinta menghipnotis beberapa pasang mata. Termasuk, Rama. Pria itu terbengong, melihat bidadari cantik yang menapakan kakinya.
Sinta lalu duduk disebelah, Rama. Dengan malu-malu, Sinta mencium punggung tangan, Rama. Dan dengan lembut Rama mengecup kepala, Sinta.
“Mulai saat ini, kamu adalah tanggung jawabku. Kamu adalah lentera hidupku, kamu saat ini Sah milikku. Sinta izinkan aku untuk selalu disisimu!” Tutur Rama lirih dengan sangat yakin. Sinta yang mendengar sampai meneteskan air mata haru.
Setelah acara ijab qabul. Rama dan Sinta meminta restu kepada orang tua masing-masing.
Rama dengan tegas menjabat tangan, Kevin. Pria paruhbaya itu menatap tajam mata Rama.
“Saya menitipkan, Sinta kepada kamu! Jangan kamu kecewakan saya dan Putri saya!” ucap Kevin dengan tegas. Rama pun dengan yakin mengangguk.
“Saya akan berusaha menjadi yang terbaik!”
Kini acara selanjutnya resepsi pernikahan. Kini tema resepsi pernikahan menggunakan seragam dinas.
Tempatnya pun berbeda. Resepsi pernikahan akan dilaksanakan digedung putih yang berada dipuncak itu.
Membutuhkan waktu 15 menit untuk sampai digedung tersebut. Sesampainya disana Rama dan Sinta sudah disambut janur kuning yang melengkung digapura, serta karpet merah yang ditaburi bunga.
Sepanjang perjalanan sudah berjajar rapi para prajurit-prajurit, dengan pedang yang masih berada disarung tangan kanan mereka. Dari luar Rama bisa melihat Satria sendiri yang menjadi inspektur.
__ADS_1
Rama dengan sigap menggandeng tangan Istri sahnya. Runtutan ucapara telah diselesaikan. Sampilah dipuncaknya, yaitu pesta pedang pora!
Gedung pun riuh dengan suara terompet dan drum-drum yang mengikuti melodi-melodi simponi.
Langkah demi langkah, Rama dan Sinta lewati. Melewati gerbang pedang yang menjulang tinggi, para prajurit menyibak pedang mereka dari sarungnya. Mengangkatnya tinggi hingga pedang itu bersatu membentuk gapura.
Rama terus menggandeng Sinta, melewati lorong panjang pedang tersebut. Sampailah mereka diujung lorong, para prajurit masih mengangkat tinggi pedang mereka. Para prajurit mengitari Rama dan Sinta, membentuk sebuah pola yang menyatukan mata pedang diatas kepala Rama dan Sinta.
Setelah memenuhi satu putaran, para prajurit itu berbalik membentuk pola bunga Matahari, dengan berlutut menghunus pedangnya kedepan.
Rama dan Sinta kini menjadi pusat dari semua perhatian. Dengan hati-hati, Rama memasangkan cincin dijari manis, Sinta. Begitupula Sinta sebaliknya. Dengan diringi lantunan musik dari marching band besut taruna, kini Rama dan Sinta telah sah menjadi Suami dan Istri.
Prosesi pun dilanjutkan, dengan Komandan Rama memberikan sebuah bunga yang dikalungkan dileher Rama. Begitupula Istri dari Komandan Rama, memberikan kotak persit untuk Sinta, pertanda bahwa kini Sinta sudah menjadi salah satu organisasi dari mereka.
Acara pedang pora ini diakhiri, dengan satu tangan hormat dari Rama. Menghormati Negaranya dan Istri tercintanya.
Tak sampai disitu, Rama langsung membawa Sinta pergi dari acara. Entah kemana pria itu akan membawa, Sinta.
Kini Rama sampai diujung puncak. Langit sore terlihat jelas begitu indah, hangatnya senja membuat kedua pasangan suami dan istri itu mecetak jelas senyumannya.
“Rama, ngapain kesini?” tanya Sinta dengan bingung. Rama hanya tersenyum tipis mendengarnya.
“Bukannya kamu ngomong sendiri, kalau kita udah sah aku bebas ajak kamu kemana pun,” ucap Rama dengan nada menggoda membuat Sinta tersipu malu.
“Kamu tahu sejak kapan aku mempunyai perasaan sama kamu?” tanya Rama kembali kepada Sinta. Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
“Sejak pertama aku merasakan ada hal aneh, saat kita berdua menikmati senja ditebing tinggi. Sejak saat itu aku menyadari jika aku sudah jatuh cinta, namun ego menyuruhku untuk menyangkal perasaan itu. Tapi Tuhan menghukumku dengan tetap mempertahakan perasaan itu, sekarang aku tahu kenapa Tuhan menghukumku. Karna kamu....”
“Takdirku.” Potong Sinta dengan mata yang terus menatap Rama. Rama tersenyum mendengarnya.
“Aku bersumpah atas nama senja dan seluruh ciptaan, Tuhan. Aku Ramadhani asof, bersumpah mencintai Deswina Sinta Winata sepenuh hati. Sampai kita menutup mata.”
DOR
Ucapan, Rama diakhiri dengan pistol Rama yang dia tembakan kelangit. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari.
Pria itu kembali menatap Sinta dengan dalam.
“Aku mencintaimu saat ini, besok, dan selamanya.”
“Aku pun mencintaimu, detik ini sampai Takdir menutup mata.”
______TAMAT_______
****
Yeayyy!!!
Akhirnya Rama dan Sinta tamat juga. Maaf ya Novelnya gak panjang, author terpaksa tamatin Novelnya karna kalau mau lanjut pun pasti akan lama update.
Tapi, tenang saja. Kalau ada waktu Author akan kasih extra part, bahkan S2 nya.
Good bye readers Rama dan Sinta.
Saya:
Yesi Tree Yuliananta, mengucapkan Terimakasih karna sudah membaca karya gabut Author.
See you next time guys😘
__ADS_1