
Budayakan Like Sebelum Baca😘
.
.
.
.
.
.
****
Setelah mengantarkan Sinta ke rumah sakit, Rama langsung melesat menuju Kantor TNI AD. Sepanjang perjalanan sudah ada gejolak yang Rama rasakan.
Ya, cerita Sinta pagi ini sudah membuat Rama sangat kepikiran. Jadi inikah yang dimaksud rintangan? Apa ini yang dimaksud tantangan?
Rama terus bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Tak lama, Rama tiba di Kantor TNI AD, hari ini banyak beberapa Tentara sedang bersih-bersih, desas desus mengatakan jika mantan Jendral akan berkunjung.
Rama langsung berjalan menuju ruangan, Satria. Rama ingin mendengarnya pula dari Satria, walaupun kenyataannya memang seperti itu.
tok... tok... tok
“Masuk!”
Ceklek
Setelah mendapat sahutan, Rama langsung membuka pintu. Satria langsung melebarkan matanya melihat Rama.
“Ra—ma?” saat ini malah Satria menjadi canggung.
Rama menghela napas, sebelum menarik kursi dan duduk di hadapan Satria.
“Sinta udah cerita,” akhirnya Rama mengeluarkan suara dengan pelan. Satria hanya bisa menelan ludahnya kasar.
“Gu—e juga gak tahu ini sebelumnya, Ram. Sumpah! Gue gak bermaksud buat nikung lo!“ Satria mencoba menjelaskan isi hatinya kepada Rama, karna Satria pun memang tak berniat apapun, sampai saat ini pun belum ada perempuan yang mampir dihatinya.
Rama hanya terkekeh kecil mendengarnya. “Gue percaya sama lo kok, Sat. Yang gue maksud, apa rencana bokap lo sama bokapnya, Sinta.”
Ucapan, Rama membuat Satria terdiam dan berpikir. Sampai saat ini pun, Satria tidak tahu rencana perjodohan ini, tidak mungkin jika hanya ingin mempererat persahabatan, pasti ada maksud lain, pikir Satria menerka-nerka.
“Ekhmm... Di depan tadi, anak-anak pada bersih-bersih, emang ada apa?” Rama pun berdehem mencoba memecah keheningan.
Dan benar saja, deheman Rama membuyarkan lamun Satria. Satria mengerjapkan mata sebelum bersuara.
“Gue juga gak tahu, coba lo tanya Ryan!”
Rama hanya diam mendengar jawaban Satria. Ruangan kembali hening, dengan pikiran masing-masing.
“Sinta pasti gak mood-moodan, pas cerita ke lo!” ucapan Satria pun memecah lamun dan keheningan Rama.
__ADS_1
Rama menoleh sekilas ke arah Satria, sebelum dirinya menghembuskan napas kasar.
“Lu kaya gak tahu aja! Yang pasti gue di ngambekin tanpa gue tahu alesannya, pas gue tanya-tanyain, Eh malah di bilang gak peka. Gue jadi bingung sama cewek.”
Satria yang mendengar gerutu Rama, hanya ingin mencoba menahan tawanya yang sebentar lagi lepas. Rama melirik sinis, Satria yang sedang menahan tawa.
“Kalo mau ketawa, ketawa aja! Gue orangnya ikhlasan...”
“HAHAHAHAHAHAHA....” Tawa Satria langsung pecah begitu saja, dan hal itu membuat Rama begitu kesal.
“Sialan!”
Satria pun menghentikan tawanya dan menatap mengejek sahabatnya itu. “Pfffftt... Gue gak tahu gimana bisa lo sesabar itu?! Cewek itu emang rumit, Ram. Mereka ingin menang sendiri, contohnya ingin di mengerti, tapi tidak mau mengerti,” ucap Satria dengan gayanya sok bijak yang aslinya tidak tahu apa-apa tentang percintaan.
Rama tidak menjawab dan lebih memilih mencibirkan bibirnya.
tok... tok... tok
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Rama dan Satria. “Masuk!” teriak Satria.
Ceklek
Pintu pun dibuka, menampakan Rednan dengan pakaiaan yang rapi.
“Ealah dua cunguk!! Bukannya bantuin bersih-bersih malah pada arisan!!” omel Rednan keada dua sohibnya yang masih santai.
“Lu kenapa, Red? Dateng-dateng udah ngomel,” Rama pun menyahuti omelan Rednan. Rednan pun hanya bisa menghembuskan napas kasarnya.
“Ck. Bapak lo mampir kesini, Sat!! Cepet lo temuin, dia lagi salam-salaman.”
Rama pun tak kalah terkejut mendengarnya. Yang, Rama ketahui Satria adalah anak non publik mantan Jendral itu, dan apakah Pak Adji akan mengakui Satria sebagai anak di depan umum?
“Eh soang!! Malah teriak-teriak lu, buruan temuin! Lu kan disini Kolonelnya,” ucap Rednan dengan nada jengkelnya.
Satria dan Rama pun berjalan beriringan menemui Pak Adji. Dan benar saja, disana Pak Adji sudah mengobrol-ngobrol dengan beberapa Tentara di Lobby.
“Selamat pagi, Pak Adji!” Rama memberikan salam dengan formal. Namun, Pak Adji hanya menatap Rama datar dan dingin.
Kali ini giliran Satria yang hendak memberi salam. “Selamat pagi, Pak Adji!” Satria pun sama, berpura-pura berbicara formal dengan Ayahnya.
“Hahahahaha... SELAMAT PAGI JUGA, PUTRAKU!”
DEG!!
****
Perubahan mood, Sinta membuat Sinta uring-uringan. Alhasil, perawat dan assitennyalah yang menjadi kena imbasnya. Seperti saat ini Sinta sedang marah besar kepada salah satu perawat yang bertugas di perobatan.
“KOK BISA SALAH SIH?! HARUSNYA KAMU BACA BERULANG-ULANG!” Sinta yang di rumah sakit terkenal ramah dan suka bercanda itu, hari ini berubah menjadi penyirih pemarah.
Alhasil, perawat perempuan yang kena marah hanya karna masalah sepele itu menjadi kena imbasnya.
“I—Iya, Maafkan saya, Bu Sinta.”
__ADS_1
“SUDAH SAYA KATAKAN, JANGAN PANGGIL SAYA BU!! SAYA INI MASIH MUDA, BAHKAN LEBIH MUDA DARI KAMU!!” lagi dan lagi suara Sinta kian meninggi, tidak ada yang berani menegur, termasuk Mbak Rita yang mengetahui jika atasannya sedang tidak di dalam mood yang baik.
Ceklek
Tiba-tiba pintu ruangan Sinta terbuka, dan yang membuka adalah Eve yang tak sengaja mendengar keributan.
“Jangan mentang-mentang lo sahabat gue, buka pintu tanpa mengetuk!” Eve yang baru datang pun juga mendapat semprot dari Sinta. Eve menelan ludahnya kasar, karna tak biasa Sinta bersikap galak, kecuali sedang datang bulan.
“Why? Ada masalah?” Eve mencoba bertanya dan menenangkan Sinta yang sedang mode badmood.
“Mbak Rita, dan kamu keluar dulu yaa! Saya mau bicara dengan Sinta,” imbuh Eve karna tak ada sahutan dari Sinta.
Mbak Rita dan Perawat itu setuju, mereka langsung pergi dari ruangan Sinta. Tinggalah, Eve dan Sinta yang masih saling diam.
Sinta mendudukan dirinya di kursinya, wajahnya masih ditekuk dan terlihat sangat kesal. Eve pun menarik kursi, dan duduk di depan Sinta.
“Lo ada masalah, Sin? Lo bisa cerita kok, ke gue!” Eve mencoba menanyakan kembali kepada Sinta.
Sinta menghembuskan napas kasar, mendengar ucapan Eve. “Mau apa sih lo, Ev? Kalo gue udah cerita, lo pikir lo bisa bantu gue, Hah?!”
“Ya, gue gak tahu masalah apa yang sedang lo hadapi, dan gue juga gak tahu punya saran atau enggak. But, siapa tahu dengan lo cerita beban lo bisa sedikit berkurang,” tutur Eve dengan nada yang masih sangat sabar.
Sinta kembali menghela napas kasar, dengan ogah-ogahan, Sinta pun menceritakan masalahnya kepada Eve.
Hal itu cukup membuat Eve terkejut, karna yang Eve tahupun. Keluarga, Sinta berhubungan baik dengan Keluarga, Rama. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?
“Hiks....Hiks... gue benci sama bokap gue!!! Egois!!!” Eve pun hanya diam mendengar Sinta yang terisak.
“Tuhkan lo cuma diem, Ev!! Lo cuma penasaran doang sama gue... lo juga gak membantu sama sekali!” gerutu Sinta mengomentari sikap Eve yang masih diam.
“Emmm... Lo mau saran gue? Kalau lo minta itu, gue juga bingung mau ngasih lo saran apa, Sin. Ini lebih tepat ke masalah keluarga, tapi kalo butuh apa-apa gue pasti bantuin lo kok!” Eve yang sedaritadi diam pun bersuara. Sinta kembali menghela napasnya lesu.
“Yaudah, Makasih deh Ev, lo udah mau dengerin cerita gue. Maafin sikap gue juga, gue jadi gak mood kaya gini.”
Eve tersenyum melihat tingkah Sinta, Eve pun memberikan pelukan kepada Sinta.
“Sabar yaaa... Kalo kata orang jawa sih, Nek wes jodoh, ono sewu dalan di nggo bebarengan (Kalau sudah jodoh, ada seribu jalan untuk bersama)”
Sinta melepaskan pelukannya dan menatap Eve nanar.
“Sialan gue gak tahu artinya, Ev!!!”
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC😘