RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 30


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca🍻


Ikuti terus adegan Action dan Romantis di kisah Rama & Sinta


****


Keadaan, Rama sudah berangsur membaik. Rama pun bisa kembali bertugas, seperti saat ini. Rama di tugaskan menjadi penyeleksi calon Tentara-Tentara baru.


Calon-calon baru itu pasti adalah anak-anak lulusan SMK/SMA, Yang bercita-cita menjadi Abdi Negara.


Rama menatap tegas, deretan barisan-barisan rapi tersebut. Berkisaran ada 20 pria, dan 6 perempuan. Calon Abdi Negara itu harus bersiap, menerima pelatihan-pelatihan keras.


"ISTRITAHAT DI TEMPAT......GRAK!!"


Mendengar ucapan Rama yang lantang, Calon Abdi Negara itu langsung mengikuti perintah dengan rapi dan cepat.


Rama berdehem terlebih dahulu, lalu mengangkat suara dengan keras. "Perkenalkan, Nama saya Ramadhani Asof. Pangkat saya adalah Letnan Kolonel disini, Kalian bisa memanggil saya Letnan Rama."


Setelah itu di susul perkenalan dari, Tentara-tentara lainnya. Selanjutnya adalah kerapian, Rama menatap tajam satu persatu murid yang akan mengikuti pembelajaran kemiliteran.


Rama menatap tajam, salah satu murid militer yang tampak tenang. Rama pun mendekatinya. Jika di lihat cukup tampan, pikir Rama.


"Siapa nama mu?"


"Rendra, Pak" jawabnya tegas


"Berapa usiamu?"


"20 tahun, Pak"


"Seumuran dengan, Sinta" batin Rama


"Apa tujuanmu mengikuti, Tes kemiliteran ini?" tanya Rama kembali.


"Saya ingin mewujudkan cita-cita saya, dan melanjutkan tradisi keluarga saya. Saya ingin menjadi salah satu pembela tanah air, dan saya akan mengabdi kepada negara ini"


Rama tersenyum tipis mendengar jawaban, Rendra yang memuaskan. "Baiklah, Semoga kamu lolos seleksi"


"Siap, Pak!"


Rama lalu beralih ke barisan para gadis-gadis. Kedatangan Rama membuat para gadis-gadis itu salah tingkah, hanya salah satu yang diam, tenang, dan tetap tegap. Rama mendekati gadis itu


"Siapa nama mu?"


"Karina, Pak" jawabnya datar


"Berapa usiamu?"


"20 tahun, Pak"


"Apa tujuanmu masuk di Tes militer ini?" tanya Rama kembali.


"Saya hanya ingin mewujudkan cita-cita saya. Dan saya juga kesusahan mencari pekerjaan, saya tidak memiliki biaya untuk kuliah, saya hanya ingin menjadi salah satu garda depan Indonesia!"


Rama kembali tersenyum tipis, "Baik semoga kamu lolos di Tes"


"Siap, Pak!"


Rama kembali ke depan. Lalu kembali menatap tajam barisan-barisan tersebut. Rama meminta Ryan untuk mengambil alih barisan.


"Instruksi saya ambil alih. SIAP....... GRAK!!" suara Ryan yang lantang langsung membuat barisan-barisan itu bergerka cepat.

__ADS_1


Tes kemiliteran pun di mulai. Tidak hanya Tes fisik. Namun, juga Tes mental. Calon Abdi negara itu harus kuat batin jika mendapat suara galak dari Tentara senior.


"Lari 50×!!!" seru Ryan


"Laksanakan!!!"


Calon Abdi negara itu langsung mengikuti instruksi. "JANGAN BANYAK BERHENTI, NANTI CEPAT LELAH!!!"


Mendapatkan teriakan lantang dari Ryan, membuat calon abdi negara itu langsung melajukan larinya dengan semangat.


Tak lama mereka telah selesai menyelesaikan Tes pertama, beberapa ada yang ngos-ngosan, beberapa ada yang bisa mengatur napas dengan tenang. Rama menatap Rendra dan Karin. Rendra dan Karin tetap tenang, mereka bisa mengatur napas dengan teratur


"BAIK KALIAN BISA ISTIRAHAT!!"


"SIAP NDAN!"


Rama duduk di bawah pohon yang lumayan rindang, Rama melihat jam tangannya. Pukul 11.30 siang berada di bawah Matahari langsung, untuk Rama itu sudah biasa.


Dor


Rama terpenjat kaget, karna ulah kekasihnya yang tiba-tiba datang. "Kalau datang itu kasih salam, kamu mau aku jantungan,"


Sinta tidak menjawab dan malah terkekeh, Sinta lalu duduk di sebelah Rama. "Aku bawain kamu air,"


Rama tersenyum, lalu menerima sebotol air dingin pemberian Sinta. Sinta menatap sekeliling, dirinya merasa asing dengan orang-orang baru tersebut.


"Mereka, Tentara baru?" tanya Sinta.


Rama hanya menganggukan kepala, karna mulutnya masih di penuhi air menyegarkan. Sinta menatap salah satu calon abdi negara, melihat kakinya terluka. Sinta langsung bangkit menghampirinya


"Awhh..." rintihnya.


"Hey kaki mu terluka" Sinta menatap garis kaki milik pria tersebut.


"Ini pasti sangat sakit, saya akan mengobatimu" Sinta dengan telaten membersihkan luka pria itu, Sinta selalu membawa obat-obatan di tas selempangnya.


"Nah sudah sembuh," Sinta tersenyum puas melihatnya.


Pria itu tersenyum. "Nama kamu siapa?" tanyanya


"Sinta, Kamu calon Tentara baru ya? Nama mu siapa?"


"Rendra"


"Ekhmmm!!"


Deg


****


"Rama... Kamu kok marah sih?"


Sinta terus menguntit, Rama yang saat ini berjalan menuju kamarnya. Rama kesal karna Sinta sangat mudah akrab dengan, Rendra Calon abdi negara baru tersebut.


"Dia kan cuma terluka, aku juga cuma mau nolongin. Masa kamu marah sih," Sinta terus berceloteh. Namun, Rama tidak menggubrisnya.


"Oke dalam hitungan ketiga, Kamu gak mau ngomong. Aku gak akan pernah ajak kamu ngomong,"


Rama berdecak kesal mendengar ancaman, Sinta. Padahal Rama suka saat Sinta berusaha membujukannya. Namun, itulah Sinta jika pasangannya marah dia akan ikutan marah.


"Ck. Kok jadi kamu ikutan kesel sih?" Rama pun berbalik badan menatap, Sinta.

__ADS_1


"Habisnya, Kamu cemburuan banget. Dia kan cuma terluka, aku nolongin" balas Sinta dengan nada ketus.


"Ya, gak usah sok deket gitu juga,"


Sinta mendelik mendengar ucapan Rama. "Deket gimana? Itu hanya sebatas pasien dan dokter kan? Kamu sih cemburuan,"


"Aku cemburuan juga karna sayang sama kamu!"


Sinta tidak menjawab, dan langsung memalingkan wajah. Jujur saja perkataan Rama membuat hatinya menghangat. Rama yang tidak mendapatkan respon dari Sinta, hanya bisa menghela napas.


"Yaudah, Maafin aku. Aku gak akan kaya gitu lagi," Dan akhirnya Rama yang lagi-lagi harus mengalah. Mengingat usia Rama yang lebih tua dari Sinta, Rama pun harus banyak-banyak mengalah.


Sinta masih diam, Rama pun membalikan tubuh Sinta. Saat ini Sinta berhadapan langsung dengan kekasihnya, Rama mencekal kedua bahu Sinta.


"Kalau aku, kamu ngambekin terus. Aku harus ke kelurahan dulu, bikin surat tidak mampu!"


blushh


Ucapan Rama yang manis itu membuat pipi Sinta langsung merah. Sinta pun tidak dapat menahan senyumannya, Rama tersenyum melihat Sinta kembali tersenyum.


"Nah, Gitu dong kan kalau senyum jadi manis,"


Sinta berdecak karna termakan godaan Rama. "Ck. Sok-sokan banget sih kamu, bisanya gombal!"


Rama hanya terkekeh mendengarnya. "Loh, Aku ini gak gombal, Sinta. Aku memang tidak mampu kalau kamu ngambek terus begini, bisaku hanya mencintaimu,"


Blushh


Sinta langsung memalingkan wajah untuk menutupi pipinya yang memerah. Sinta tidak menyangka, pria yang dirinya pikir cowok kaku, dingin, dan cuek akan semanis ini jika sudah pacaran.


"Pipi kamu kok merah gitu," dengan jahil Rama mencubit pipi Sinta. Hal itu tentu membuat Sinta sangat kesal.


Dengan kesal, Sinta memukul tangan Rama. "Sakit tahu!"


"Ada satu hal yang perlu kamu tahu,"


"Apa?" tanya Sinta, sembari mengelus pipinya yang sehabis di cubit Rama.


"Muka kamu jelek, kalau lagi marah wlekkk!!"


"Rama!!"


Sinta langsung mengejar Rama yang berlari. Pemandangan manis itu, sudah hampir setiap hari di lihat orang-orang barak. Mereka pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rama dan Sinta..


Sinta berhenti berlari, karna napasnya yang ngos-ngosan. Berbeda dengan Rama, yang bisa mengatur napasnya.


"Ka--Kamu kok g--gak capek sih?," Suara Sinta tersendat-sendat karna lelah.


Rama hanya berkacak pinggang, menatap kekasihnya. "Kamu gitu aja capek,"


"Ini salah kamu bikin aku capek!" ujar Sinta sembari menatap Rama tajam.


"Kok jadi aku yang salah?" Rama menujuk dirinya sendiri, dengan jari telunjukannya.


"Kamu yang salah! Pokoknya kamu!!!"


Rama hanya bisa menghembuskan napas lesu. "Cowok dimata cewek emang selalu salah ya?"


TBC🍻


Follow ig author:

__ADS_1


@yesitree_


__ADS_2