RAMA & SINTA

RAMA & SINTA
Chapter 76


__ADS_3

Budayakan Like Sebelum Baca😘


.


.


.


.


.


****


Kebanyakan orang pasti mengharapkan pernikahan yang tidak akan bisa lupakan. Contohnya berdiri dengan pasangan yang kita cintai, itu semua impian para pasangan-pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan.


Mungkin jika hari ini adalah hari pernikahan kita, kebanyakan pasangan pasti akan gugup dan bahagia. Tapi, tidak untuk Sinta dan Satria.


Mereka terpaksa harus mengikuti ritual-ritual sebelum akad nikah. Karna, Keluarga Satria dari Sumatera, maka pernikahan menggunakan tema Sumatera.


Tidak ada senyuman yang terbit di bibir Sinta. Gadis yang masih di make up itu hanya memandang datar, pantulan dirinya di kaca besar.


Sinta benar-benar tidak bahagia. Dia mengharapkan pernikahan istimewa, dengan orang yang dia cintai, pastinya.


Untuk baju akad nikah, Sinta menggunakan pakaiaan adat Sumatera. Pakaiaan berwarna hijau, senada dengan yang di pakai Satria.


Para MUA yang merias Sinta hanya diam, seolah mereka sadar jika calon pengantin yang mereka rias tidak bahagia.


Sedangkan, ditempat lain. Satria dan Rednan diam-diam mematikan CCTV. Gedung pernikahan itu sudah berada dibawah kuasa Rednan dan Satria.


Satria sudah komplit dengan pakaiaan adat Sumateranya. “Pokoknya rencana ini harus berhasil!”


“Tenang aja, Sat. Tim Alpha turun tangan untuk bantu, Rama.”


Satria yang mendengar ucapan, Rednan. Langsung menoleh kearah pria yang memakai jas hitam itu.


“A...alpha? bagaimana mungkin, Red. Bukannya Tim itu sudah di larang beroperasi, apalagi ini menyangkut Rama,” ucap Satria merasa tak yakin. Tim Alpha yang di maksud, ialah Tim bawah tanah, yang digunakan situasi darurat. Dulu Tim itu pernah menyelamatkan Rama saat bertugas menyerang di perbatasan, namun karna keteledoran Tim membuat banyaknya, jatuhnya korban jiwa. Sejak saat itu Tim Alpha harus dihentikan, karna merasa Tim itu Ilegal.


“Santuy, ini gak ada urusannya sama, Tugas operasi Militer. Bukannya kita mau basmi Mafia?”


Satria menghela napasnya lega. Tinggal beberapa jam lagi, Akad nikah akan dimulai. Tamu belum ada yang datang, hal ini di gunakan Satria dan Rednan untuk merentes CCTV.


“Kita cek keatas, Red! Gue yakin Rama sama Timnya nanti lewat atas!” Rednan menurut saja.


Mereka pun menggunakan lift, untuk ke gedung paling atas. Diatas gedung itu hanya di gunakan untuk menjemur pakaiaan, mungkin.


Matahari belum sepenuhnya naik, karna ini pun masih sangat pagi. “Sat, lo udah urus bodyguard bokap lo kan?” tanya Rednan memastikan jika Bodyguard, Pak Adji belum ada yang datang.


“Tenang aja, bokap gue masih di Salon. Gue juga nyuruh bodyguard bokap gue ke salon, sengaja gue suruh mereka rapi. Kasihan nanti kalo ketemu malaikat pencabut nyawa, malah gak jadi di ambil nyawanya, karna mukanya terlalu jelek. Hahahaha....”


Tawa Satria dan Rednan pecah begitu saja. “Hahaha... Sialan lo, mentang-mentang muka lo ganteng, yang masih gantengan gue!” sahut Rednan dengan pedenya, yang langsung mendapat cibiran dari Satria.


“Mana si Jullie? nggak lu ajak?” tanya Satria mengalihkan pembicaraan.


“Ajak dong, masih pagi ini nanti aja gue jemput. Udah ayo kita pasang-pasang alat petunjuk!” Rednan kemudian membuat alat petunjuk, untuk memudakan Tim Rama nanti.


Rednan dan Satria mencarikan jalan-jalan yang aman. Mereka yakin, pasti Bodyguard Pak Adji akan berpatroli, agar pernikahan berjalan lancar.


Mereka juga mencari-cari CCTV, takut jika ada yang terlewatkan. Dan benar saja, di tangga darurat masih ada CCTV.


Rednan mengecek CCTV tersebut. “Kayanya ini rusak deh!” ucap Rednan sembari mengotak-ngatik CCTV tersebut.


“Yakin lo?”


Rednan mengangguk mantap, dengan mengacungkan jari jempolnya. “Yaudah ayo, bentar lagi Akad nikah nih!” Satria lalu segera mengajak Rednan untuk kembali. Takut-takut jika Ayahnya sudah datang.


Waktu berputar begitu cepat. Kini Sinta sudah duduk di samping Satria, dengan penghulu di hadapannya.

__ADS_1


“Ayo, Pak penghulu. Bisa kita mulai?” tanya Pak Adji yang tampak semangat.


“Baik mari kita mulai!” Penghulu itu langsung menjabat tangan Satria. Satria ketar ketir, keringat dingin menetes dia takut jika Rama tidak datang.


Satria terpaksa mengucapkan ijab khabul. Dan tertinggal kata terkahir, yang membuat Sinta dan Satria semakin panik.


“Bagaimana para saksi, Sah?”


“Sa....”


****


“Ayo kita naik!”


Rama, Marcus, Tim Alpha, dan para orang buangan langsung naik menggunakan tali. Mereka memanjat gedung tinggi tersebut.


Untuk sampai di belakang gedung, mereka butuh perjuangan. Dengan melewati Bodyguard-bodyguard Pak Adji yang berpatroli. Dan sialnya, mereka harus menggunakan tangan kosong, jika menggunakan tembakan, pasti suara tembakan menarik perhatian orang-orang.


Beberapa luka tercipta di wajah Rama. Namun, pria itu tetap terus memanjat gedung tinggi itu, sampailah dia dan Marcus di gedung paling atas.


Sebelumnya, Tim Alpha mengecek kondisi. Takut-takut jika terdapat jebakan, namun tempat itu bersih dan aman.


Terdapat pintu untuk menuju kedalam, terdapat gambar abstrak di pintu kayu itu. Rama tersenyum melihatnya.


“Ini Rednan,” gumamnya merasa senang. Rednan sangat suka menggambar pola abstrak, dan Rama mengatahui hal itu.


Rama dan lainnya mengikuti arah gambar abstrak. Rednan dan Satria benar-benar memberikan tempat aman.


Sampailah mereka di ruangan kosong yang luas, terdapat tali panjang disana. Rama mengernyitkan dahinya, Rama sayup-sayup mendengar suara orang yang hendak mengucapkan ijab khabul.


“Sinta ada dibawah!”


“Hei, lihat disini ada lubang!” Marcus menunjuk lubang kecil. Rama menyipitkan mata untuk melihat keadaan dibawah, menggunakan lubang kecil itu.


Rama menginsyaratkan Timnya untuk mengikuti arah gambaran abstrak. Rama tahu jika dua sahabatnya itu menyiapkan jalan lain.


“Tim sudah menyebar, siap menyerang!” ucap Marcus memberikan info kepada Rama.


Rama mengangguka kepala. Rama lalu bersiap dengan tali miliknya, dia juga siap dengan senjata apinya.


“Bagaimana para saksi?” Rama bisa mendengar penghulu itu sudah siap mengesahkan Sinta dan Satria.


Rama memejamkan matanya. “Aku datang Sinta.”


Brak


Dor


Dor


Dor


Dor


Satria dan Sinta begitu terkejut, Rama langsung mendarat tepat di meja dimana tempat Satria dan Sinta melangsungkan pernikahan.


Rama langsung menembaki bodyguard-bodyguard Pak Adji. Tamu-tamu berteriak histeris, mereka berlarian keluar. Pak Adji terlihat marah, dan siap mengeluarkan pistolnya.


Rama berayun menggunakan talinya. Tim Alpha dan lainnya langsung keluar, mereka menembak bodyguard Pak Adji.


Sinta langsung di lindungi oleh Rednan, mereka berada dibawah meja. Sedangkan, Tari dan Aletha berlari entah kemana, Aletha tak menyangka putranya akan membatalkan pernikahan Sinta dengan cara seperti ini.


Dor


Dor


Dor

__ADS_1


Rama berayun ketempat lainnya. Meja dan kursi sudah berporak-poranda. Marcus pun menembaki, matanya terpancar jelas dendam.


Marcus mengincar Tara, yang bersembunyi di balik meja. “Keluar kau dasar brengsek!” teriak Marcus penuh emosi.


Tara pun keluar, dia merangkak mendekati kaki Marcus. “Ampuni saya, Tuan. Ampun!”


“Cihhh. Kau tahu, Tara? Apa peraturan di Cosa Nostra siapapun yang berkhianat maka akan di siksa! Dan kau... kau membunuh, Ayahku dasar b*jingan!”


Dor


Satu tembakan terkena di punggung, Tara. Pria itu mengerang kesakitan. “Jace, bawa dia. Dia tidak boleh mati dengan mudah,” ucap Marcus lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sedangkan, Rama masih sibuk menembaki bodyguard-bodyguard tersebut.


Dor


Dor


Dor


Dor


Rama dengan gesit menghindar. Tak sengaja Rama melihat Sinta yang bersembunyi di bawah meja.


“Rama... Awass!” Sinta berteriak, melihat Pak Adji menarik pelatuk kearah Rama.


Dor


Dor


Bukan, Rama yang tumbang. Melainkan Pak Adjilah yang tumbang, Rama menggunakan pakaain anti peluru, sedangkan Pak Adji sudah terkapar karna tembakan tepat di belakang kepala.


Rama membalikan badannya, Rama terkejut melihat Satria menatap Ayahnya yang tak berdaya, Satria hanya menatap Ayahnya dengan penuh kebencian.


“Kau pantas mati! Kau bukan, Ayahku!”


Dor


Satu tembakan lagi, mengenai perut Pak Adji. Hingga darah mengalir, memwarnai lantai itu.


.


.


.


.


.


TBC😘


Behin Author dan Rama & Sinta.


Rama: Thorr gue mau ngomong makasih nih


Author: makasih ngapa?


Rama: Lu baik banget, makekin gue baju anti peluru


Author: Kalo gue bikin lo ketembak, nanti jadi kepanjangan ceritanya


Sinta: Thorr, Rama gakpapa kan?


Author: Santuy ae sin, pacar lo itu kaya gatot kaca. Otot kawat balung besi


Rama: Ya dong gue kan idaman (idaman othorrr jugaa😂)

__ADS_1


__ADS_2